| Harian SIWALIMA Tuesday, 14 February 2012 Takut Bentrok Susulan di Pelauw Kapolda Instruksikan Aparat Waspada Ambon - Situasi keamanan di Negeri Pelauw Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) mulai kondusif. Meski demikian, aparat kepolisian yang masih berada di sana diinstruksikan untuk tetap waspada. Kepada Siwalima, Senin (13/2), Kapolda Maluku, Brigjen Polisi Syarief Gunawan mengatakan, pihaknya tetap waspada, karena ditakutkan terjadi konflik susulan. “Saya sudah perintahkan personil di lapangan untuk tetap waspada sambil terus tingkatkan komunikasi dengan masyarakat dan membangun hubungan untuk menyadarkan masyarakat hentikan pertikaian,” tandas Kapolda. Kapolda mengatakan, pihaknya tetap menempatkan personilnya di Pelauw sambil menunggu situasi benar-benar pulih. Menanggapi penilain Komnas HAM, kalau pihak kepolisian terkesan membiarkan bentrokan terjadi di Pelauw, Kapolda mengaku, pihaknya sudah bekerja keras menangani bentrok di Pelauw. “Topografi dan kondisi negeri itu dengan berbagai adat istiadat yang ada di sana prinsipnya kami selalu menghargai. Akan tetapi polisi sekarang ini dalam rangka mengedepankan Kamtibmas, lebih mengutamakan pendekatan persuasif. Bagaimana nanti kalau kita menggunakan kekerasan, bisa-bisa dibilang pelanggaran HAM. Kalau dibilang ada pembiaran, saya kira kita sudah maksimal bekerja,” ujarnya. Kapolda meminta agar, jangan selalu menyalahkan polisi. Namun bagaimana peran pihak-pihak lainnya juga harus dipertanyakan. “Jangan menyalahkan polisi tapi bagaimana peran pihak-pihak lain dalam hal ini tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat utamanya dari Pelauw. Kalau ini semua kita menyatu dan mau bekerja, konflik apapun dapat kita atasi,” tukasnya. Sebelum bentrokan terjadi kembali pada Jumat (10/2), yang merenggut enam nyawa, enam orang luka-luka serta kurang lebih 300 rumah terbakar, pihaknya sudah mengambil langkah-langkah strategis hingga mengutus perwira menengah berpangkat Komisaris Besar (Kombes) turun menangani konflik di Pelauw. “Bicara intelijen lemah, saya tidak mau menanggapinya, sebab kami sudah mendahuluinya dengan langsung menurunkan kekuatan yang dipimpin perwira menengah berpangkat Kombes. Lagipula konflik tidak hanya di Pelauw saja, tapi di Saparua, yakni di Porto dan Haria ada juga di negeri-negeri lainnya,” ungkap Kapolda. Menurutnya, bentrok yang kerap terjadi di Maluku maupun di Ambon dan Lease secara khusus, dapat dituntaskan, jika ada peran semua komponen masyarakat. Sekuat apapun polisi bekerja, kalau tidak ada peran dari tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan komponen lainnya maka konflik akan terus terjadi. Tidak hanya itu, harus ada kesadaran masyarakat. Kalau masyarakat sadar bahwa konflik tidak membawa keuntungan, maka harus menghindari itu dan jangan masuk ke wilayah konflik. “Di Pelauw ini kan tidak semua orang berkonflik, tapi karena topografi seperti itu, terpaksa yang tidak berkonflik masuk dalam wilayah konflik dan menjadi korban. Inilah peran dan kesadaran masyarakat harus kuat,” beber Kapolda. Ditanya kemungkinan ada yang ingin “bermain” dan mengambil keuntungan dalam konflik Pelauw maupun konflik di kawasan lainnya di Kabupaten Malteng, jenderal bintang satu ini enggan mengomentarinya. “Saya belum bisa ngomong ya soal yang itu. Tapi saya lebih fokus kepada bagaimana konflik yang terjadi ini dapat kita selesaikan demi kedamaian dan kesejahteraan masyarakat lebih baik lagi,” ujar Kapolda. Terus Lakukan Mediasi Di tempat terpisah, Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, AKBP Suharwiyono mengaku, pihaknya terus melakukan mediasi dengan melibatkan tokoh-tokoh adat di Pelauw. “Mediasi terus kita lakukan dengan melakukan pendekatan-pendekatan dengan orang-orang yang dituakan,” kata Suharwiyono kepada wartawan di Mapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Senin (13/2). Suharwiyono menambahkan, aparat keamanan di Pelauw tetap disiagakan. “Untuk tetap menjaga situasi disana tetap aman, pasukan kita juga terus melakukan patroli selama 24 jam dan kita berharap agar kondisi disana bisa tetap aman,” ujarnya. Polisi Sudah Maksimal Menanggapi penilaian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Maluku bahwa aparat kepolisian melakukan pembiaran, sehingga konflik antar kelompok warga di Negeri Pelauw terus berlanjut, Suharwiyono menepisnya. Ia mengaku, aparat kepolisian sudah bekerja maksimal. “Untuk pengamanan saya pikir sudah seimbang sejak awal. Yang jelas eskalasi penggunaan kekuatan sudah kita luncurkan sesuai dengan tahapan,” ujarnya. Kendati begitu Suharwiyono mengakui, pihaknya terkendala kondisi geografis, sehingga pasukan yang diturunkan ke Pelauw, tidak tepat waktu. “Kita ke sana juga tidak tepat waktu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Wilayah Haruku ini kan harus melalui lautan dan mobilisasi untuk kesana juga kurang transportasi saat malam hari,” jelasnya. MUI Keluarkan Himbau Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku turut prihatin dengan bentrok berdarah antar kelompok masyarakat di Pelauw. “Kita sudah koordinasi dengan tokoh-tokoh adat di Negeri Pelauw dan kita telah keluarkan himbauan,” jelas Ketua MUI Maluku, Idrus Toekan kepada Siwalima di ruang kerjanya, Senin (13/2). Menyikapi bentrok berdarah antar kelompok masyarakat di Pelauw, MUI Maluku menghimbau kedua belah pihak yang bertikai untuk menahan diri dan jangan mudah terprovokasi. Kepada tokoh-tokoh masyarakat untuk mampu mengendalikan masyarakat agar bentrokan tidak berkembang lebih jauh. MUI juga menyampaikan bela sungkawa kepada para korban yang meninggal. MUI juga mengharapkan kepada aparat kepolisian untuk mengambil langkah-langkah tegas, agar kondisi keamanan dapat dipulihkan kembali “Kami sedang melakukan pendekatan secara persuasif dengan tokoh-tokoh masyarakat atau adat setempat, guna mencari solusi perdamaian,” ungkap Toekan. Sebagaimana diketahui, setelah kondusif, pasca bentrok pada Rabu (8/2) malam lalu, bentrok antar sesama kelompok warga Negeri Pelauw kembali pecah pada Jumat (10/2). Informasi yang dihimpun Siwalima, bentrok yang terjadi sekitar pukul 19.45 WIT antara warga kampung depan (pro raja) dengan warga kampung belakang (kontra raja) Negeri Pelauw itu, menyebabkan enam orang tewas, enam orang luka-luka serta ratusan rumah terbakar. Bentrokan berdarah itu berawal, ketika saat salah satu warga Pelauw bernama Hasan Ali Angkotasan dalam perjalanan pulang melihat sapinya di kampung belakang menuju rumahnya di kampung depan, tiba-tiba diserang dengan menggunakan panah dan batu oleh Orang Tak Dikenal (OTK). Korban kemudian meminta tolong kepada salah seorang tukang ojek di dekat daerah itu untuk mengantarnya menuju puskesmas guna dirawat. Akibat luka-luka yang dideritanya cukup serius, korban kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tulehu sekitar pukul 22.00 WIT untuk mendapatkan perawatan intensif. Peristiwa ini, kemudian berlanjut dengan saling serang antara kelompok warga kampung depan dan kampung belakang, dengan menggunakan bom rakitan, maupun senjata tajam lainnya. Akibat aksi saling serang itu, sedikitnya enam orang kehilangan nyawanya. Mereka yang tewas masing-masing, Saharaan Alim Sahubawa (60) dan Abdullah Rakib Latupono (69) yang berprofesi sebagai petani, Syarifudin Tualepe (48) yang merupakan dosen SPM Waiheru, Cumba Guru Tuelepe (22) yang sehari-hari sebagai tukang ojek, Bakri Talaohu (22) yang adalah pengangguran dan Hamin Nurlete (18) seorang siswa SMA. Sementara korban luka-luka masing-masing Hasan Ali Angkotasan (47) yang mengalami luka robek pada dahi sebelah kiri dan perut akibat terkena panah dan lemparan batu, Muhammadin Latuconsina (60) mengalami luka pada telapak kaki kanan yang hampir putus dan luka robek pada kaki kiri kena serpihan bom rakitan, Latif Latuconsina (25) mengalami luka robek pada paha sebelah kiri dan perut sebelah kiri kena bom. Kemudian Muhammad Jafnur Salampessy (18) mengalami luka robek pada paha sebelah kiri, lengan kanan, telapak kaki kanan, luka robek dada sebelah kiri akibat kena bom, serta Abdullah Tuankota (19) mengalami luka robek pada betis sebelah kiri juga karena bom. Sedangkan pada Sabtu (11/2) dinihari sekitar pukul 02.00 WIT, salah satu orang korban luka bernama Kaimudin Latupono (21), yang mengalami luka robek pada punggung sepanjang 10 cm dan dalam 3 cm akibat bacokan, di bawa ke RSU Tulehu. Selain itu, ribuan warga mengungsi ke Negeri Rohomoni, Dusun Ori, Negeri Kariu, dan Negeri Kailolo. Informasi dari kepolisian menyebutkan, warga yang mengungsi ke Kailolo berjumlah 1.053 orang. Sedangkan di Rohomoni berjumlah 628 orang. Sementara yang mengungsi di Dusun Ori dan Negeri Kariu belum diketahui jumlah yang pasti. Kerugian materil juga belum bisa dipastikan nilainya, namun rumah yang terbakar mencapai kurang lebih 300 unit. Sementara Kepala Bidang Humas Polda Maluku, AKBP Johanes Huwae saat mendatangi Kantor Redaksi Siwalima, Sabtu (11/2), menyebutkan, bentrok yang terjadi antar warga di Negeri Pelauw dipicu oleh penentuan tanggal peresmian rumah adat Salampessy depan dan Salampessy belakang. Mengantisipasi melebarnya bentrok yang terjadi sekaligus mengamankan situasi di Pelauw, Polda Maluku telah mengirimkan personilnya sebanyak satu SSK dibantu Polair, ditambah lagi dua SSK Sabhara dan Brimob. (S-32/S-35/Mg-2) http://www.siwalimanews.com/post/kapolda_instruksikan_aparat_waspada Copyright © 2011 - 2012 siwalimanews.com |
