10 NOVEMBER 1945 LATAR BELAKANG, AKIBAT DAN PENGARUHNYA Oleh
Batara R. Hutagalung Pendahuluan Setiap tahun pada tanggal 10 November bangsa Indonsia memperingati
tanggal tersebut sebagai Hari Pahlawan. Namun nampaknya tidak banyak yang
mengetahui penyebabnya, mengapa Inggris yang ditugaskan oleh Tentara Sekutu (Allied Forces), pemenang perang dunia
kedua untuk melucuti tentara Jepang dan memulhkan keamanan, ternyata mengerahkan
pasukan terbesarnya setelah usai perang dunia kedua. Dua alasan yang dikemukakan oleh Mayjen R. Mansergh, Panglima Divisi 5
Inggris dalam ultimatumnya tertanggal 9 November 1945 ternyata tidak benar. Kalau
begitu apa alasan yang sebenarnya, sehingga tentara Inggris selama tiga minggu
membom kota Surabaya secara membabi-buta, yang mengakibatkan tewasnya sekitar
20.000 penduduk, sebagian terbesar adalah penduduk sipil, termasuk wanita dan
anak-anak, 150 ribu penduduk mengungsi ke luar kota. Yang juga tidak pernah dibahas adalah, dampak dari pemboman tersebut,
di mana terjadi kejahatan perang (war
crimes) dan kejahatan atas kemanusiaan (crimes
against humanity) yang telah dilakukan oleh tentara Inggris. Selain itu, apa pengaruh pertempuran Oktober-November 1945 di Surabaya
terhadap perjuangan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang
telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945? Pertempuran 28 – 30 Oktober 1945 Brigade 49 dari Divisi 23 Tentara Inggris di bawah pimpinan Brigadir
Jenderal A.W.S. Mallaby tiba di Secara
resmi, tugas pokok yang diberikan oleh pimpinan Allied Forces kepada Supreme
Commander Allied Forces South East Easia Command (Panglima Tertinggi
Tentara Sekutu Komando Asia Tenggara), Vice Admiral Lord Louis Mountbatten
adalah: 1.
melucuti tentara Jepang serta mengatur kepulangan kembali ke negaranya (The disarmament and removal of the Japanese
Imperial Forces), 2.
membebaskan para tawanan serta
interniran Sekutu yang ditahan oleh Jepang di Asia Tenggara (RAPWI - Rehabilitation of Allied Prisoners of War
and Internees), termasuk di 3.
menciptakan keamanan dan ketertiban (Establishment of law and
order). Namun ternyata ada tugas rahasia yang dilakukan oleh tentara Inggris
-dengan mengatasnamakan Sekutu- yaitu mengembalikan Di
Surabaya, setelah dilakukan perundingan yang panjang dan alot, akhirnya pada
tanggal 26 Oktober 1945 dicapai kesepakatan yang isinya: 1.
Yang
dilucuti senjata-senjatanya hanya tentara Jepang. (The disarmament shall be carried out only in the Japanese forces). 2.
Tentara
Inggris selaku wakil Sekutu akan membantu 3.
Setelah
semua tentara Jepang dilucuti, maka mereka akan diangkut melalui laut. (The Japanese forces after being disarmed
shall be transported by sea). Agar kerjasama dapat dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya, maka segera akan dibentuk suatu “Contact Bureau”. Selain itu tentara Sekutu berjanji tidak membawa
tentara Belanda dan juga mengatakan bahwa di dalam tentara Sekutu tidak
terdapat tentara Belanda. Pada 27 Oktober 1945
sekitar pukul 11.00, satu pesawat terbang Dakota yang datang dari Jakarta,
menyebarkan pamflet di atas kota Surabaya. Isi pamflet -atas instruksi langsung dari Mayor Jenderal Hawthorn,
panglima Divisi 23- yang disebarkan di seluruh Jawa, memerintahkan kepada seluruh penduduk untuk
dalam waktu 2 x 24 jam menyerahkan semua senjata yang mereka miliki kepada
Perwakilan sekutu di Surabaya, yang praktis ketika itu hanya diwakili tentara
Inggris. Dalam seruan tersebut tercantum a.l.: “Supaya semua penduduk Dikabarkan,
bahwa Mallaby sendiri terkejut dengan isi pamflet, karena jelas bertentangan
dengan kesepakatan antara pihak Inggris dan “… Diminta kebijaksanaan Pemerintah Jawa Timur setempat agar
pihak ketentaraan dan para pemuda-pemudanya tidak melakukan perlawanan terhadap
tentara Sekutu…” Gubernur
Suryo tidak berhasil menemui Mayor Jenderal drg. Mustopo, lalu menyerahkan
kawat tersebut kepada Residen Sudirman. Tepat pukul 17.00, Residen Sudirman
tiba di markas TKR Surabaya di Jalan Embong Sawo dan menyerahkan kawat tersebut
kepada komandan Divisi, Mayor Jenderal Yonosewoyo. Tak
lama kemudian datang Kolonel Pugh yang menyampaikan pendirian Brigjen Mallaby
mengenai seruan dalam pamflet terrsebut, bahwa Mallaby akan melaksanakan tugas
sesuai perintah dari Setelah
kepergian Kolonel Pugh, dilakukan perundingan sekitar setengah jam antara
Residen Sudirman dan Panglima Divisi Yonosewoyo, dengan keputusan: “Komando
Divisi Surabaya akan segera memberikan jawaban terhadap ultimatum tersebut
secara militer.” Dalam
pertemuan kilat pimpinan TKR Surabaya, dibahas berbagai pertimbangan dan
diperhitungkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Apabila mereka
menyerahkan senjata kepada Sekutu, berarti pihak Kubu
Sesuai
dengan strategi Carl von Clausewitz, pakar teori militer Prusia, bahwa: ”Angriff ist die beste Verteidigung”
(Menyerang adalah pertahanan yang terbaik), maka dengan suara bulat diputuskan:
“Menyerang Inggris!”. Perintah
diberikan langsung oleh Komandan TKR Surabaya, Mayor Jenderal Yonosewoyo. Subuh
baru merekah. Serangan besar-besaran pun mulai dilancarkan pada hari Minggu, 28
Oktober pukul 4.30 dengan satu tekad, tentara Inggris yang membantu Belanda,
harus dihalau dari Hal ini benar-benar di luar perhitungan Inggris, terutama
mereka tidak mengetahui kekuatan dan persenjataan pihak Indonesia. Selama ini,
informasi yang mereka peroleh mengenai Indonesia, hanya dari pihak Belanda,
sedangkan Belanda sendiri diperkirakan tidak mengetahui perkembangan yang
terjadi di Surabaya –di Indonesia pada umumnya- sejak Belanda menyerah kepada
Jepang tanggal 8 Maret 1942. Sebagian terbesar dari mereka diinternir oleh
Jepang, dan baru dibebaskan pada akhir Agustus 1945. Nampaknya, informasi yang
diberikan oleh Belanda kepada Inggris sangat minim, atau salah. Di samping BKR/TKR yang menjadi cikalbakal TNI, juga
tercatat sekitar 60 pasukan dan laskar yang didirikan oleh para pemuda atau
karyawan berbagai profesi, Pasukan Pelajar (TRIP), Pasukan BKR Tanjung Perak,
Pasukan Kimia TKR, Pasukan Genie
Tempur (Genie Don Bosco), Pasukan BKR
Kereta Api, Pasukan BKR Pekerjaan Umum, Pasukan Sriwijaya, Pasukan Buruh
Laut, Pasukan Sawunggaling, TKR Laut,
Barisan Hizbullah, Lasykar Minyak,
TKR Mojokerto, TKR Gresik, Pasukan Jarot Subiantoro, Pasukan Magenda Bondowoso,
Pasukan Sadeli Bandung. Selain itu ada
pula pasukan-pasukan pembantu seperti Corps
Palang Merah, Corps Kesehatan, Corps PTT, Corps Pegadaian, bahkan ada juga Pasukan Narapidana Kalisosok, dll.
Puluhan kelompok pemuda yang berasal dari suku tertentu membentuk pasukan
sendiri, seperti misalnya Pasukan Pemuda Sulawesi (KRIS-Kebaktian Rakyat Indonesia
Sulawesi), Pasukan Pemuda Kalimantan, Pemuda Ponorogo, dan juga ada Pasukan
Sriwijaya, yang sebagian terbesar terdiri dari pemuda mantan Gyugun (sebutan
Heiho di Sumatera) dari Batak dan ada juga yang dari Aceh. Pasukan Sriwijaya
ini telah mempunyai pengalaman bertempur melawan tentara Sekutu di Morotai,
Halmahera Utara. Bukan saja BKR/TKR yang menjadi cikalbakal Angkatan
Darat, melainkan dibentuk juga pasukan Laut dan Udara. Tercatat a.l. Pasukan
BKR Laut/TKR Laut Tanjung Perak, Pasukan Angkatan Muda Penataran Angkatan Laut,
Pasukan BKR/TKR Udara di Morokrembangan. Selain pasukan-pasukan yang bersenjata, diperkirakan
lebih dari 100.000 pemuda dari Surabaya dan sekitarnya, hanya dengan
bersenjatakan bambu runcing dan clurit ikut dalam pertempuran selama tiga hari.
Kebanyakan dari mereka yang belum memiliki senjata, bertekad untuk merebut
senjata dari tangan tentara Inggris. Selain para wanita yang rela berkorban sebagai anggota
Palang Merah, juga tak dapat diabaikan peran serta ibu-ibu juru masak dan yang
membantu di dapur umum yang didirikan untuk kepentingan para pejuang Republik
Indonesia. Para pejuang dan sukarelawan itu bukan hanya penduduk Surabaya,
melainkan berdatangan dari kota-kota lain di sekitar Surabaya, seperti Gresik,
Jombang, Sidoarjo, Pasuruan, Bondowoso, Ponorogo bahkan dari Mojokerto, Malang,
pulau Madura, dan Bandung. Inggris
Mengibarkan Bendera Putih Serbuan ke delapan pos pertahanan Inggris di tengah kota
dilengkapi dengan blokade total: Aliran listrik dan air di wilayah pos
pertahanan Inggris dimatikan. Truk-truk yang mengangkut logistik untuk pasukan
Inggris, terutama yang akan mengantarkan makanan dan minuman bisa dicegah.
Kekacauan demi kekacauan menyebabkan suplai yang dijatuhkan pesawat Inggris dari udara, ikut pula terganggu.
Tidak sedikit yang meleset dari sasaran, bahkan boleh dikatakan hampir semua
jatuh ke tangan pihak Indonesia. Dalam penyerbuan itu, korban di pihak Indonesia tidak
sedikit, sebab berbagai pasukan –khususnya laskar pemuda- tanpa pendidikan
militer dan pengalaman tempur, hanya bermodalkan semangat dan banyak yang hanya
bersenjatakan clurit atau bambu runcing, begitu bersemangat maju menggempur
musuh yang notabene tentara
profesional. Dengan bermodalkan keberanian serta semangat ingin
mempertahankan kemerdekaan dan tak mau dijajah lagi, para pejuang Indonesia
akhirnya mampu memporak-porandakan kubu Inggris. Satu hari satu malam tidak
menerima kiriman makanan dan minuman, serta korban yang jatuh di pihak mereka
sangat besar, pasukan Inggris akhirnya mengibarkan bendera putih, meminta berunding. Mallaby
menyadari, bila pertempuran dilanjutkan, tentara Inggris akan disapu bersih,
seperti tertulis dalam kesaksian Capt.
R.C. Smith: “…….. on further
consideration, he (Mallaby, red.) decided that the company had been in so bad a position
before, that any further fighting would lead to their being wiped out. Walaupun
ia sadari tidak ada pilihan lain, tetapi ketika persyaratan yang diajukan
Indonesia antara lain Inggris harus
angkat kaki dari Surabaya dan meninggalkan persenjataan yang ada di pos-pos
pertahanan yang telah dikepung, Mallaby menilai tampaknya terlalu berat baginya sebagai pimpinan tentara yang baru
memenangkan Perang Dunia II untuk melakukan hal itu. Presiden Sukarno Diminta Melerai
“Insiden Ternyata
pada hari pertama penyerbuan rakyat Indonesia terhadap pos-pos pertahanan
tentara Inggris di Surabaya, pimpinan tentara Inggris menyadari, bahwa mereka
tidak akan kuat menghadapi gempuran rakyat Indonesia di Surabaya. Mallaby
(lihat kesaksian Kapten R.C. Smith) memperhitungkan, bahwa Brigade 49 ini akan “wiped
out” (disapu bersih), sehingga pada malam hari tanggal 28 Oktober 1945,
mereka segera menghubungi pimpinan tertinggi tentara Inggris di Jakarta untuk
meminta bantuan. Menurut penilaian pimpinan tertinggi tentara Inggris, hanya
Presiden Sukarno yang sanggup mengatasi situasi seperti ini di ”The heroic
resistance of the british troops could only end in the extermination of the 49th
Brigade, unless somebody could quell the passion of the mob. There was no such
person in Panglima
Tertinggi Tentara Sekutu untuk Asia Timur, Letnan Jenderal Sir Philip Christison meminta Presiden Sukarno untuk melerai “incident” di Surabaya. Pimpinan tentara
Inggris menilai, situasi di “Tukimin yang setia
berbisik-bisik. Itu ada seorang yang menamakan dirinya Pembantu Khusus (ADC - aide-de-camp
= perwira pembantu –pen.) dari komandan
Tentara Inggris. Ia menyatakan, bahwa ada persoalan yang amat penting.
Kepadanya telah saya jawab, bahwa Bapak sedang tidur, tetapi ia mendesak agar
supaya saya membangunkan Bapak. Akhirnya setelah saya
bangun, selama 30 menit terpaksa berbicara melalui telepon. Tetapi tidak
sepatah kata pun apa yang sedang menggelisahkan perasaan saya dari pembicaraan
telepon itu saya ungkapkan kepada intern keluarga saya, baik Fatmawati maupun
kepada Tukimin. Saya hanya menyatakan bahwa besok pagi saya akan ke Saya dengan Hatta, yang baru saja dipilih menjadi Wakil Presiden, selama
lebih kurang 2 jam berbicara dengan pihak Sekutu Inggris, tetapi pihak Inggris
mengharapkan saya, sebab saya dibutuhkan. Dan saya tahu, bahwa tidak akan ada
sesuatu pun yang akan dapat menghentikan persoalan ini. Di Surabaya, ternyata Inggris telah menempatkan markasnya di gedung-gedung
di tengah kota Surabaya sebagai pusatnya….” Pada 29 Oktober 1949 di Kompleks Darmo, Kapten Flower
yang telah mengibarkan bendera putih, masih ditembaki oleh pihak Indonesia;
untung dia selamat, tidak terkena tembakan. Kapten Flower, yang
ternyata berkebangsaan “We accept your
unconditional surrender!”, dan
mengatakan, bahwa pihak Pimpinan
Republik Indonesia di Jakarta pada waktu itu tidak menghendaki adanya
konfrontasi bersenjata melawan Inggris, apalagi melawan Sekutu. Pada 29 Oktober
sore hari, Presiden Sukarno beserta Wakil Presiden M. Hatta dan Menteri
Penerangan Amir Syarifuddin Harahap, tiba di ·
Perjanjian diadakan antara Panglima Tentara Pendudukan Surabaya dengan
PYM Ir. Sukarno, Presiden Republik ·
Untuk menenteramkan, diadakan perdamaian: ialah tembakan-tembakan dari
kedua pihak harus diberhentikan. ·
Syarat-syarat termasuk dalam surat selebaran yang disebarkan oleh sebuah
pesawat terbang tempo hari (yang dimaksud adalah pada tanggal 27 Oktober 1945)
akan diperundingkan antara PYM Ir Sukarno dengan Panglima Tertinggi Tentara
pendudukan seluruh Jawa pada tanggal 30 Oktober besok. Mayjen Hawthorn, Panglima Divisi 23, tiba tanggal 30
Oktober pagi hari. Perundingan yang juga dilakukan di
gubernuran segera dimulai antara Presiden Sukarno dengan Hawthorn. Dari pihak Indonesia, tuntutan utama adalah pencabutan
butir dalam ultimatum/pamflet tanggal 27 Oktober, yaitu penyerahan senjata
kepada tentara Sekutu; sedangkan tentara Sekutu menolak memberikan senjata
mereka kepada pihak Indonesia. Perundingan alot yang dimulai sejak pagi hari
baru berakhir sekitar pukul13.00, menghasilkan kesepakatan, yang kemudian
dikenal sebagai kesepakatan Sukarno – Hawthorn. Isi kesepakatan antara lain: ·
The Proclamation previously
scatttered by aircraft shall be annulled; that is to say, the disarmament of the TKR and the Pemudas shall not be
carried out. ·
The Allied forces shall not guard
the city.
Yang
terpenting bagi pihak Brigadir Jenderal Mallaby Tewas Setelah
disepakati truce (gencatan senjata)
tanggal 30 Oktober, pimpinan sipil dan militer pihak Indonesia, serta pimpinan
militer Inggris bersama-sama keliling kota dengan iring-iringan mobil, untuk
menyebarluaskan kesepakatan tersebut. Dari 8 pos pertahanan Inggris, 6 di
antaranya tidak ada masalah, hanya di dua tempat, yakni di Gedung Lindeteves dan Gedung Internatio yang masih ada
permasalahan/tembak-menembak. Setelah
berhasil mengatasi kesulitan di Gedung Lindeteves,
rombongan Indonesia-Inggris segera menuju Gedung Internatio, pos pertahanan Inggris terakhir yang bermasalah. Ketika
rombongan tiba di lokasi tersebut pada petang hari, nampak bahwa gedung
tersebut dikepung oleh ratusan pemuda Kapten Shaw, Mohammad Mangundiprojo dan T.D. Kundan
ditugaskan masuk ke gedung untuk menyampaikan kepada tentara Inggris yang
bertahan di dalam gedung, hasil perundingan antara Inggris dengan Indonesia. Mallaby
ada di dalam mobil yang diparkir di depan Gedung Internatio. Beberapa saat setelah rombongan masuk, terlihat T.D.
Kundan bergegas keluar dari gedung, dan tak lama kemudian, terdengar bunyi
tembakan dari arah gedung. Tembakan ini langsung dibalas oleh pihak Ada
dua kejadian pada tanggal 30 Oktober 1945, yang pada waktu itu dilemparkan oleh
Inggris ke pihak Indonesia, sebagai yang bertanggung jawab, dan kemudian
dijadikan alasan Mansergh untuk “menghukum para ekstremis” dengan mengeluarkan
ultimatum tanggal 9 November 1945: 1.
2.
Tewasnya
Mallaby memang sangat kontroversial, tetapi mengenai siapa yang memulai
menembak, di kemudian hari cukup jelas. Kesaksian tersebut justru datangnya
dari pihak Inggris. Ini berdasarkan keterangan beberapa perwira Inggris yang
diberikan kepada beberapa pihak. Yang paling menarik adalah yang disampaikan
kepada Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh (Labour). Pada 20 Februari 1946, dalam
perdebatan di Parlemen (House of Commons)
Tom Driberg, menyampaikan: “….. some of the press reports from About 20 Indians, in a building
on the other side of the square, had been cut off from telephonic communication
and did not know about the truce. They were firing sporadically on the mob.
Brigadier Mallaby came out from the discussions, walked straight into the
crowd, with great courage, and shouted to the Indians to cease fire. They
obeyed him. Possibly half an hour later, the mob in the square became turbulent
again. Brigadier Mallaby, at a
certain point in the proceedings, ordered the Indians to open fire again.
They opened fire with two Bren Guns and the mob dispersed and went to cover;
then fighting broke out again in good earnest. It is apparent that when
Brigadier Mallaby gave the order to open fire again, the truce was in fact
broken, at any rate locally. Twenty minutes
to half an hour after that, he was unfortunately killed in his car
–although it is not absolutely certain whether he was killed by Indonesians who
were approaching his car; which exploded simultaneously with the attack on him. I do not think this amounts to charge of foul murder …..because my
information came absolutely at first hand from a British officer who was
actually on the spot at the moment, whose bona fides I have no reason to
question…..” Di sini Tom Driberg meragukan, bahwa Mallaby terbunuh oleh orang “….it is
not absolutely certain whether he was killed by Indonesians who were
approaching his car; which exploded simultaneously with the attack on him.”
Selanjutnya dia juga membantah, bahwa tewasnya Mallaby akibat “dibunuh
secara licik” (foully murdered).
Kelihatannya pihak pimpinan tentara Inggris -untuk membangkitkan/ memperkuat
rasa antipati terhadap Indonesia- rela mendegradasi kematian seorang perwira
tinggi menjadi “dibunuh secara licik” daripada menyatakan “killed in action” –tewas dalam pertempuran- yang menjadi
kehormatan bagi setiap prajurit. Juga
penuturan Venu K. Gopal, waktu itu berpangkat Mayor, yang adalah Komandan Kompi
D, Batalion 6, Mahratta. Kompi D ini mengambil tempat pertahanan di Gedung Internatio. Tanggal 8 Agustus 1974, dia
menulis kepada J.G.A. Parrot antara lain : “Let me first give
you some background. “D” Coy had been under fire off and on and had already
casualties. The firing came from other buildings on the square and by and large
we were able to contain it. We could, however, see that armed men barred all
the exits from the square. Meanwhile armed
Indonesians swarmed over to the veranda of the building and I had to bluntly
tell them that I would fire if they started pressing into the building. By this
time I could not see Brigade Mallaby or the LOs (Liaison Officers) because of
the crowds on the veranda. Just then Capt. Shaw
and Kundan ( I did not know their names at that time) tried to get into the
building but were prevented. Kundan then shouted to the crowd that he would get
us surrender and he and Capt.Shaw were then allowed to go into the building if
they took an Indonesian officer with them. I allowed them in hoping to play for
time. After a little time Kundan went out of the building, leaving Capt. Shaw
and the Indonesian Officer behind. Soon thereafter the
armed men started pushing in and I was left with no option but to open fire. The
Decision was mine and mine alone. Capt. Smith is correct when he says that
BM (Mallaby-pen.) did not
give any orders to Capt. Shaw..” Dengan
pengakuan Mayor Gopal, Komandan Kompi D yang bertahan di Gedung Internatio, sekarang terbukti, bahwa
yang memulai menembak adalah pihak Inggris; tetapi kelihatannya dia masih ingin
melindungi bekas atasannya dengan menggarisbawahi, bahwa perintah menembak
tersebut adalah keputusannya sendiri. Ini jelas bertentangan dengan kesaksian T.D. Kundan, yang diperkuat dengan
kesaksian seorang perwira Inggris melalui Tom Driberg. Dengan pengakuan ini
terlihat jelas, bahwa Inggris pada waktu itu memutar balikkan fakta dan menuduh
bahwa gencatan senjata telah dilanggar pihak Indonesia (the truce which had been broken). Di dalam situasi tegang bunyi ledakan
ataupun tembakan akan menimbulkan kepanikan pada kelompok-kelompok yang masih
diliputi suasana tempur, sehingga tembakan tersebut segera dibalas; maka
pertempuran di seputar Gedung Internatio
pun pecah lagi. Dari pengakuan kedua perwira Inggris tersebut telah
jelas, bahwa pemicu terjadinya tembak-menembak adalah pihak Inggris sendiri. Dugaan
ini sebenarnya tepat, bila disimak jalan pikiran Mallaby, seperti dituliskan
oleh Capt. Smith: “…He (Mallaby,
red.) did not believe in the safe-conducts in so
far as it applied to us, but thought that some at least of the Company might
get away. Accordingly Capt. Shaw was sent into the building to give the
necessary orders…..” Sebelum itu, menurut Smith, telah terjadi perbedaan pendapat
antara Kapten Shaw dan Mallaby mengenai
permintaan para pemuda Indonesia, agar tentara Inggris meninggalkan
persenjataan mereka di dalam gedung. Awalnya, Kapten Shaw menyetujui permintaan
ini, tetapi Mallaby kemudian membatalkannya. Smith : “…Eventually,
the mob demanded that the troops in the building laid (sic) down their arms and
marched (sic) out: they and us (sic) guaranteed a safeconduct back to the air
field. The Brigadier flatly refused to consider this proposal. After further
pressure, however, Capt.Shaw, who was well known to some of the indonesians
through his job as FSO, and who had been a considerable strain since our
arrival in Uraian
Tom Driberg di Parlemen Inggris (House of
Commons) kelihatannya keterangannya diperoleh dari Kapten Shaw, ajudan
Mallaby pada waktu itu. Kemudian
tuduhan kedua, bahwa orang Dari
berbagai penuturan, memang benar adanya penembakan dengan menggunakan pistol
oleh seorang pemuda Indonesia ke arah Mallaby, tetapi tidak ada seorang pun
yang dapat memastikan, bahwa Mallaby memang tewas akibat tembakan tersebut.
Yang menarik untuk dicermati adalah pengakuan Kapten R.C. Smith dari Batalyon
6, Resimen Mahratta, yang pada waktu itu menjabat sebagai Liaison Officer Brigade 49. Tanggal 31 Oktober, dia memberikan
laporannya yang pertama, kemudian pada bulan Februari, sehubungan dengan
keterangan Tom Driberg di House of
Commons. Laporan Smith dimuat oleh J.G.A. Parrot, dalam analisisnya, Who Killed Brigadier Mallaby? Kapten R.C. Smith menulis: “The Report by Capt. R.C. Smith. At approximately 1230
hrs. on 30th October, Capt T.L. Laughland and I were ordered by Col.
L.H.O.Pugh, DSO, 2i/c (Second in Command) of the Bde., to proceed to the
Government offices, where we were each to collect an Indonesian representative.
From there one of us was to go north, and the other south, through the town,
and try to persuade the mobs to go back to their barracks. Brigadier Mallaby
was at this time in conference with the Governor in the Government Offices. On
arrival there, we were told by the Brigadier that the Indonesians had refused
to treat with anyone except him. Accordingly we set off with the Brigadier and
the FSO (Field Security Officer), Capt. Shaw, plus the leaders of the various
parties, in several cars, the foremost of which was flying the white flag. The
first place to which we went was a large building about 150 yards west of the
Kali Mas River, which runs north and south through the town. One Coy of the 6
Mahrattas had been having a very stiff fight in this building against about
five hundred Indonesians, and had been in considerable difficulties. On
our arrival there, the mob was collected round the cars, and the various party
leaders made speeches to them, in an attempt to persuade them to return to
their barracks. The speeches were at first quite well received, and the
necessary promises given. We
then got into our cars and set off for the next position. We had only gone
about 100 yards when we were stopped by the mob aproximately 20 yards from the
Kali Mas. From then on the situation rapidly deteriorated. The mob leaders
began to incite the mob, and the party leaders gradually lost control. The mob,
which up to that time had seemed fairly friendly towards us, became distinctly
menacing: swords were waved, and pistols pointed at us and we were left with
very little doubt as to their intentions. Eventually,
the mob demanded that the troops in the building laid (sic) down their arms and
marched (sic) out: they and us (sic)
guaranteed a safe-conduct back to the air field. The Brigadier flatly refused
to consider this proposal. After further pressure, however, Capt.Shaw, who was
well known to some of the indonesians through his job as FSO, and who had been
under a considerable strain since our arrival in He
did not believe in the safe-conduct in so far as it applied to us, but thought
that some at least of the company might get away. Accordingly Capt. Shaw was
sent into the building to give the necessary orders. The
rest of us were disarmed – except for a grenade which Capt. Laughland managed
to keep concealed – and made to sit in one of the cars. The Brigadier was on
the side nearest to the Kali Mas, Capt. Laughland in the middle, and myself on
the outside nearest to the building in which our troops were. When Capt. Shaw got
into the building, the Indonesians brought up a machine gun to cover the
entrance. He and the company commander decided that any attempt to walk out
unarmed would lead to a massacre and so the order to open fire was given. As soon as the firing
started, the three of us who were in the car crouched down on the floor as far
as possible. An Indonesian came up to the Brigadier’s window with a rifle. He
fired four shots at three of us, all of which missed. He went away while we
shammed dead. The battle went on for about two and a half hours, to about 2030
hrs, by which time it was dark. At the end of that time, the firing died down
to some extent, and we could hear shouting as though the Indonesians were being
collected. Two of them came up to the car and attempted to drive it away. That
failed and one of them opened the back door on the Brigadier’s side. The
Brigadier moved, and as they saw from that, that he was still alive, he spoke
to them and asked to be taken to one of the party leaders. The two Indonesians
went away to discuss this, and one of them came back to the front door on the
Brigadier’s side. The Brigadier spoke to him again, the Indonesian answered,
and then suddenly reached his hand in through the front window, and shot the
Brigadier. It took from fifteen seconds to half-a-minute for the Brigadier to
die, but from the noise he made at the end, there was absolutely no doubt that
he was dead. (Notes from Parrot: This was the first
time that these details of the final moments of Brigadier Mallaby had been made
public. In this second report Smith offered the following explanation:”In the
report made by Capt.Laughland and myself the following morning we stated that
the Brigadier was killed instantly. This was done in order to spare the
feelings of the family.”) As soon as he had
fired, the Indonesian ducked down beside the car, and remained there until
after the Brigadier was dead. I took the pin out of the grenade which
Capt.Laughland had previously passed to me, and waited. The Indonesian appeared
again, and fired another shot which grazed Capt. Laughland’s shoulder. I let go
the lever of the grenade, held it for two seconds to make sure it was not
returned and threw it out of the open door by Brigadier’s body. As soon as it
had exploded, Capt. Laughland and I went out of the door on my side of the car,
waited for a short time, then ran around the car and dived into the Kali Mas.
As the two Indonesians by the side of the car did not attemp to interfere with
us it is presumed that they were killed by the grenade—which also set the back
seat of the car on fire. After five hours in the Kali Mas, we managed to reach
our troops in the Dock area.” Keterangan Smith ini a.l. menguatkan penjelasan Gopal, bahwa memang
benar pihak Inggris yang memulai penembakan. Kesaksian Smith ini mirip dengan
keterangan Abdul Azis; dan ternyata dia tidak mati seperti dugaan Smith. Sehubungan dengan penembakan dengan senapan yang terjadi sebelum
penembakan terhadap Mallaby, dalam “I
have no idea what hapenned to the four shots from the rifleman. He approached
the car from the left (the Brigadiers side) with the rifle at the ready, and
looking at the three of us. I am not ashamed to say at this point I shut my
eyes and started counting the shots! I
think all three of us were equally surprised at finding both ourselves and the
others alive afterwards!” Tentu sangat luar biasa, bahwa menembak tiga orang yang sedang duduk di
dalam mobil yang sempit dengan empat tembakan, namun tak satupun yang mengena.
Hal ini menunjukkan, bahwa dapat dipastikan, pemilik senapan itu baru pertama
kali menembak, sehingga menembak tiga orang dengan jarak mungkin paling tinggi
2 meter, empat tembakan meleset semua. Mengenai ciri-ciri penembak Mallaby, dalam “…
the indonesian who killed the Brigadier was a young lad around 16 or 17
approximately, but it was too dark to see whether he was wearing any sort of
uniform. The weapon was an automatic pistol …” Kemudian pada 20 Februari 1974, Smith menulis kepada Parrot yang isinya
antara lain: “I
have no recollection of the conversation that the Indian interpreter reported
and while I certainly could not state that I heard everything that happenned, I
think I should have remembered this, if not now after 30 years, certainly at
the time when I wrote my report. However, in all fairness, I must say that
there were moments when my attention was distracted from the Brigadier myself.
For instance, I can remember spending some time trying to convince a very angry
young Indonesian that I had not personally be responsible for his brother’s
death. Going
back to my report, the position of all of us was very closely gouped around one
car so that there was only a matter of a very few feet between us. Therefore,
Brigadier Mallaby was certainly able to hear when Captain Shaw agreed to the
demands of the mob, which was why he was able to countermand it immediately. As
I said, he then changed his mind in the hope that some of the men at least
might reach safety, but the orders that he gave Captain Shaw were that the
troops in the building should lay down their arms and come out unarmed, in the
hope of safe-conduct. I
definitely did not hear any suggestion that they should be ordered to open fire
after a certain length of time had elapsed. The one thing that has always been
quite firmly established in my memory is that the orders to fire were given by
Captain Shaw once he had got into the building.” Yang perlu diragukan di sini adalah dugaan Smith, bahwa Mallaby tewas
sebagai akibat tembakan pistol pemuda “…berdasarkan suara yang didengar dari arah
Mallaby, dia yakin bahwa Mallaby telah tewas 15 – 30 detik setelah ditembak
dengan pistol…” Selain itu dia juga mengakui, bahwa granat yang dilemparkannya melewati
tubuh Mallaby telah mengakibatkan terbakarnya jok belakang mobil mereka,
artinya tempat Mallaby duduk. Menurut pemeriksaan di rumah sakit, jenazah Mallaby sangat sulit
dikenali, karena hangus dan hancur. Dia dikenali melalui tanda bekas jam tangan
di kedua lengannya, karena Mallaby dikenal dengan kebiasaannya untuk memakai
dua jam tangan; jadi bukan identifikasi wajah atau ciri-ciri tubuh lain. Hal
ini disampaikan oleh dr. Sugiri, kepada Kolonel dr. W. Hutagalung. Seandainya keterangan Smith benar, bahwa Mallaby tidak memberikan
perintah untuk memulai menembak, bahkan sebaliknya, yaitu menginstruksikan
Kapten Shaw untuk memerintahkan tentara Inggris yang di dalam gedung agar
mereka meletakkan senjata dan ke luar gedung tanpa senjata, maka telah terjadi
pembangkangan yang berakibat fatal, yaitu perintah dari komandan kompi, Mayor
Gopal, untuk memulai menembak. Dilihat dari sudut mana pun, timbulnya
tembak-menembak yang berakibat tewasnya Mallaby, adalah kesalahan tentara
Inggris. Mengenai tuduhan bahwa Mallaby tewas akibat tembakan pistol, sangat
diragukan. Jelas untuk membela diri, Smith dan Laughland harus menyatakan
dahulu bahwa Mallaby telah tewas ketika Smith melemparkan granat, yang kemudian
justru membakar bagian belakang mobil yang mereka dan Mallaby tumpangi.
Beberapa saksi mata di pihak Yang sangat menarik untuk dicermati sehubungan dengan pelemparan granat
oleh Kapten Smith, adalah kesaksian Imam Sutrisno Trisnaningprojo, seorang
pemuda berpangkat kapten, mantan anggota PETA. Trisnaningprojo ikut dalam
iring-iringan mobil dalam rangka penyebarluasan hasil kesepakatan
Sukarno-Hawthorn. Bahwa Smith adalah orang yang melemparkan granat yang
mengakibatkan mobil yang ditumpangi Mallaby terbakar, diakui oleh Smith
sendiri, tetapi Trisnaningprodjo menuturkan, bahwa Smith tidak berada di dalam
mobil bersama Mallaby, melainkan bersama Laughland di luar mobil ketika terjadi
penembakan terhadap Mallaby. Trisnaningprojo melihat, Smith berada di dekat gedung
dan melemparkan granat ke arah pemuda yang menembak Mallaby, tetapi granat
meledak di sebelah mobil Mallaby yang pintu belakangnya terbuka. Jadi, Captain
Smith melempar granat tidak dari dalam
mobil, melainkan dari luar mobil. Ini berarti bahwa tidak ada yang
mengetahui kondisi Mallaby setelah penembakan dari pemuda Baik dari kesaksian Smith, maupun keterangan Trisnaningprojo yang
dilengkapi sketsa lokasi pada saat kejadian, pemuda Di samping itu, juga tidak ada yang bisa memastikan, bahwa tembakan
pemuda tersebut benar mengenai sasaran karena sebelumnya -juga menurut Smith-
ketika bertiga masih duduk di bagian belakang mobil, ada yang menembak ke arah
mereka dengan senapan sebanyak empat kali, namun tak satu peluru pun yang
mengenai mereka. Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pemuda yang menembak dengan
pistol, juga baru pertama kali memegang pistol, sehingga belum mahir
menggunakannya. Ketika diwawancarai oleh Ben Anderson pada tanggal 13 Agustus 1962, Dul
Arnowo menyatakan, bahwa dia yakin Mallaby secara tidak sengaja, telah terbunuh
oleh anak buahnya sendiri. Dalam laporan rahasia kepada atasannya, Kolonel Laurens van der Post
mantan Gubernur Militer Inggris di Batavia/Jakarta tahun 1945, menuliskan (Sir Laurens van der Post, The Admiral’s Baby, John Murray, London,
1996): “The
detail of what happenned at Sourabaya is not really relevant to this review but
it is interresting that the very latest evidence suggests that the Mallaby murder,
far from being premiditatet or a
deliberate breach of faith, was caused more by the indescribable confusion and
nervous excitement of everyone in the town. Had General Hawthorn, the General
Officer Commanding Java at the same time, had proper Civil Affairs and
political officers on his staff to draft his unfortunate proclamations for him
and to keep [in] continuous and informed contact with population, the story of
Sourabaya may well have been different.” Pemboman Surabaya, 10 November 1945 Setelah
Letnan Jenderal Sir Phillip Christison mengeluarkan ancamannya, dalam waktu
singkat Inggris menambah kekuatan mereka di Surabaya dalam jumlah sangat besar,
mobilisasi militer Inggris terbesar setelah Perang Dunia II usai. Pada 1
November, Laksamana Muda Sir. W.
Patterson, berangkat dari Rincian pasukan
Divisi 5: 4th Indian Field
Regiment. 5th Field Regiment. 24th 5th (Mahratta)
Anti-Tank Regiment (artileri). 17th Dogra Machine-Gun
Battalion. 1/3rd 3/9th Regiment
(reconnaissance battalion) (infanteri,
di bawah komando Brigadir Jenderal Robert Guy Loder-Symonds) 9th Indian Infantry
Brigade. 2nd 3/2nd 1st (infanteri,
di bawah komando Brigadir Jenderal H.G.L. Brain) 123rd Indian Infantry
Brigade. 2/1st 1/17th Dogra Regiment. 3/9th Gurkha Rifles. (infanteri,
di bawah komando Brigadir Jenderal E.J.
Denholm Young) 161st Indian Infantry
Brigade. I/1st 4/7th Rajput Regiment. 3/4th Gurkha Rifles. (infanteri,
di bawah komando Brigadir Jenderal E.H.W. Grimshaw) Armada
di bawah komando Captain R.C.S.
Carwood a.l. terdiri dari: Fregat HMS Loch Green dan HMS Loch Glendhu; kapal
penjelajah HMS Sussex serta sejumlah kapal pengangkut pasukan dan kapal
pendarat (landing boot). Persenjataan
yang dibawa adalah skuadron kavaleri yang semula terdiri dari tank kelas Stuart, kemudian diperkuat dengan 21
tank kelas Sherman, sejumlah Brenncarrier dan satuan artileri dengan
meriam 15 pon dan Howitzer kaliber
3,7 cm. Tentara Inggris juga dipekuat dengan squadron pesawat tempur yang
terdiri dari 12 Mosquito dan 8
pesawat pemburu P-4 Thunderbolt, yang
dapat membawa bom seberat 250 kilo. Jumlah pesawat terbang kemudian ditambah
dengan 4 Thunderbolt dan 8 Mosquito. Tanggal
9 November 1945, Mansergh menyerahkan 2 Bunyi ultimatum yang
disebarkan sebagai pamflet melalui pesawat udara pada 9 November pukul 14.00.
adalah : “November, 9th. 1945. TO ALL INDONESIANS OF SOERABAYA. On October 28th, the
Indonesians of Soerabaya treacherously and without provocation, suddenly
attacked the british Forces who came for the purpose of disarming and
concentrating the Japanese Forces, of bringing relief to Allied prisoners of
war and internees, and of maintaining law and order. In the fighting which
ensued British personel were killed or wounded, some are missing, interned
women and children were massacred, and finally Brigadier Mallaby was foully
murdered when trying to implement the truce which had been broken in spite of
Indonesian undertakings. The above crimes against
civilization cannot go unpunished. Unless therefore, the following ordes are
obeyed without fail by 06.00 hours on 10th.November at the latest, I
shall enforce them with all the sea, land and air forces at my disposal, and
those Indonesians who have failed to obey my orders will be solely responsible
for the bloodshed which must inevitably ensue. (Signed) Maj.Gen.R.C.Mansergh Commander
Allied Land Forces, Instructions
My orders are: 1. All hostages held by the
Indonesians will be returned in good condition by 10.00 hours 9th.
November. 2. All Indonesian leaders, including
the leaders of the Youth Movements, the Chief Police and the the Chief Official
of the Soerabaya Radio will report at Bataviaweg by 18.00 hours, 9th
November. They will approach in single file carrying any arms they possess.
These arms will be laid down at a point 100 yards from the rendezvous, after
which the Indonesians will approached with their hands above their heads and
will taken into custody, and must be prepared to sign a document of
unconditional surrender. 3. (a) All Indonesians unauthorized to carry arms and who are in
possession of same will report either to the roadside Westerbuitenweg between
South of the railway
and North of the Mosque or to the junction of Darmo Boulevard and Coen
Boulevard by 18.00 hours 9 th November, carrying a white flag and proceeding in
single file. They will lay down their arms in the same manner as prescribed in
the preceeding paragraphs. After laying down their arms they will be permitted
to return to their homes. Arms and equipment so dumped will taken over by the
uniformed police and regular T.K.R. and guarded untill dumps are later taken
over by Allied Forces from the uniformed police and regular T.K.R. (b) Those authorises to carry arms are only the uniformed
police and the regular T.K.R. 4. These will thereafter be a search
of the city by Allied Forces and anyone found in possession of firearms of
conealing them will be liable to sentence of death. 5. Any attemp to attack or molest
the Allied internees will be punishable by death. 6. Any Indonesian women and children
who wish to leave the city may do so provided that they leave by 19.00 hours on
9th November and go only towards Modjokerto or Sidoardjo by road. (Signed) Maj.Gen.R.C.Mansergh Commander
Allied Land Forces,
|