Search the web
Sign In
New User? Sign Up
ac4x3 · Manajemen Cinta Islami
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Langkah Strategis Agar Tak Cemas   Message List  
Reply | Forward Message #733 of 1372 |

Dik Ayu... Disamping menempuh langkah2 praktis seperti dalam emailku terdahulu, “Kiat Praktis Agar Tak Cemas”, kiranya kita jangan mengabaikan LANGKAH2 STRATEGIS untuk mengatasi tantangan rasa cemas kita, antara lain sebagai berikut.

1. Tumbuhkan Sifat Khasy-yah (Waspada) sebagai Pengganti Rasa Cemas. Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin, orang yang penakut itu “lebih suka melarikan diri atau menahan diri, sedangkan orang yang memiliki sifat khasyyah lebih suka berlindung kepada ilmu.” Dalam hal topik pembicaraan kita sekarang, si penakut memilih ‘netral’ (tak memilih apakah jadian ataukah tidak jadian) dengan bersandar kepada omongan orang2 yang berpengaruh kepadanya. Kalau didorong-dorong “jadian aja”, maka ia ‘berani’ jadian. Jika dituntut-tuntut “jangan jadian”, maka ia ‘berani’ tidak jadian.

Sebaliknya, orang yang bersifat waspada cenderung menentukan pilihan sendiri berdasarkan ilmunya yang senantiasa ia usahakan kecukupannya. Umpamanya, disamping merumuskan solusi terhadap aneka tantangan yang mencemaskan, ia tak segan2 memperhitungkan rumusan peluang2 yang menenteramkan, beserta langkah untuk mencapainya. Semua ini dilakukannya dengan tingkat kehati-hatian yang secukupnya. “Sungguh mereka yang waspada akan [keberadaan] Tuhan itu berhati-hati.” (al-Mu’minűn [23]: 57) Apabila dia dapati bahwa di jalan pacaran ada hal-hal yang syubhat (belum jelas apakah halal ataukah haram) baginya, maka “seraya menghindari yang syubhat ia terus-menerus mencari tahu kejelasan, sehingga yang tampak jelas (halal atau haram) semakin banyak dan yang syubhat semakin sedikit”. (WPPI:  93-94. Lihat Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 3, terj. Chairul Halim (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), hlm. 229.)

2. Bertawakal Seraya Berikhtiar. Bertawakal adalah bersandar kepada Allah, pasrah atau berserah diri kepada-Nya.  ... Jika kamu sudah mengambil keputusan [sesudah bermusyawarah dengan orang yang terlibat dalam urusanmu], maka bertawakallah kepada Allah, karena Allah mencintai orang yang tawakal. Jika Allah menolong kamu, maka tak ada yang dapat mengalahkan kamu. ...” (Âli ‘Imrân [3]: 159-160)

Syetan pun pasti kalah bila berupaya menyusupkan kecemasan ke dalam hati kita. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengucap ‘Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah; tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah’, maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu dibimbing, dilindungi, dan dicukupi’. Lalu syetan berkata kepada sesama syetan, ‘Bagaimana mungkin kamu bisa memperdayai orang yang telah dibimbing, dilindungi, dan dicukupi [oleh Allah]?’” (HR Abu Daud)

Bertawakal itu bukanlah kesantaian atau pun penyia-nyiaan. Sikap pasrah kepada Allah harus disertai dengan ikhtiar. Orang yang dengan santainya, tanpa pertimbangan matang, memutuskan jadian (atau memutuskan tidak jadian) lalu pasrah kepada takdir-Nya, ia belum tergolong bertawakal. Begitu pula, orang yang menyia-nyiakan peluang ‘emas’ lalu pasrah kepada takdir-Nya, ia pun belum bisa dikatakan bertawakal.

Diriwayatkan orang bahwa Khalifah Umar bin Khaththab r.a. ditanyai oleh beberapa shahabat, “Bolehkah kita lari dari takdir Allah?” Umar menjawab, “Ya, kita lari dari takdir Allah, [tetapi] menuju takdir Allah [lainnya].” Lalu beliau membuat perumpamaan: “Bagaimana pendapat kalian kalau kalian mempunyai kambing yang digembala menuju dua lembah, yang satu banyak rumputnya, yang lainnya gersang? Bukankah jika kambing itu digembalakan di padang yang subur itu, juga berada di bawah kudrat Allah?” Mereka menjawab, “Memang kedua-duanya di bawah kudrat Allah!” “Jadi,” tanya beliau, “di mana kamu gembalakan?” “Tentu di padang rumput yang subur!” jawab mereka. (Lihat Hamka, Tasauf Modern (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2003), hlm. 234-235.)

3. Takut kepada Allah seraya Mengharap Rahmat-Nya. Takut kepada Allah membuat kita tidak cemas, tidak khawatir, tidak takut kepada selain Allah. Kita takut melanggar  petunjuk-Nya dan tidak cemas untuk mengikuti petunjuk-Nya. Kalau dengan shalat istikharah kita diberi petunjuk bahwa jadian diridhai-Nya, kita tidak cemas lagi bila jadian. Begitu pula sebaliknya. Kalau dengan shalat istikharah kita diberi petunjuk bahwa tidak jadianlah opsi yang diridhai-Nya, kita tidak cemas lagi bila tidak jadian.

Mengharap rahmat Allah membuat kita optimis menghadapi masa depan. Apalagi, bersangka baik kepada-Nya akan dibalas dengan kebaikan sesuai persangkaan kita. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, “Aku berada pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku besertanya. ...” (HR Bukhari & Muslim) Jika berdasarkan ikhtiar pertimbangan kita secermat-cermatnya, kita menjadi yakin bahwa Allah memberi kita masa depan yang gemilang bila kita jadian, maka kita takkan cemas untuk jadian. Sebaliknya pula, kalau kita yakin bahwa Allah memberi kita masa depan yang cerah bila kita tidak jadian, maka kita pun takkan cemas andai mengambil keputusan tidak jadian.

4. Mendekat kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “... Sungguh Allah ... membimbing orang yang tenteram karena ingat kepada Allah. Sungguh dengan mengingat Allah, hati merasa tenteram.” (ar-Ra’du [13]: 27-28) Dalam lanjutan hadits qudsi tadi Allah berfirman, “... Jika dia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku mengingatnya di dalam Diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di dalam keramaian orang, maka Aku mengingatnya di dalam keramaian orang yang lebih baik daripada mereka. Jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku mendatanginya dengan berlari-lari.

Jadi, kalau jadian itu membuat kita dapat mendekat kepada Allah, tentu kita tak usah cemas dengan mengambil keputusan jadian. Sebaliknya juga, andai tidak jadian pun kita bisa pula mendekat kepada-Nya, tentu kita tak usah cemas pula dengan mengambil keputusan tidak jadian.



Aisha Chuang <http://groups.yahoo.com/group/ac4x3>, penulis buku Manajemen Cinta Musim Dingin (2003) dan Nikmatnya Asmara Islami (2004).


Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now

Fri May 13, 2005 7:49 am

ac4x3
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #733 of 1372 |
Expand Messages Author Sort by Date

Dik Ayu... Disamping menempuh langkah2 praktis seperti dalam emailku terdahulu, “Kiat Praktis Agar Tak Cemas”, kiranya kita jangan mengabaikan LANGKAH2...
Aisha Chuang
ac4x3
Offline Send Email
May 13, 2005
7:49 am

Orang tuaku sangat keras mendidikku. Ayah tak segan memukul dan menyakitiku secara fisik. Ayahku keras kepala, ibukupun sama kerasnya. tak jarang mereka...
Nara Mansoura
nara_mansoura
Offline Send Email
May 14, 2005
3:05 am

Nara Mansoura <nara_mansoura@...> wrote: Bagaimana caranya agar aku bisa menghilangkan dendam dalam diriku ini? Bagaimana agar aku bisa mencintai...
dany wicaksono
dany_wicaksono
Offline Send Email
May 16, 2005
1:00 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help