Canda-Canda Cinta Dua Sejoli
Mo tau contoh kisah nyata yang sangat bagus tentang pengakraban di dalam Pacaran Islami? Nih..! Kuambil dari Tabloid Wanita Indonesia (WI) No. 798 (7-13 Maret 2005), hlm. 4 & 6. Di situ istilah ‘pacaran’ tidak tercantum, tetapi telah tergambar adegan-adegan ‘pacaran’ yang sesuai dengan definisi baku, sebagaimana termaktub dalam KBBI, yaitu bercintaan antara sepasang ‘kekasih-tetap’ (yang saling cinta untuk selama-lamanya, bukan untuk sesaat). Gini critanya:
Berita kedekatan Che Che Kirani (26) dan H. Ahmad Hadi Wibawa, S.Ag. (31) yang akrab disapa Aa Hadi, menghembuskan keceriaan yang amat sangat di kantor WI. Kami pun mengundang keduanya [untuk diwawancarai] secara terpisah.
“Yang pasti, setelah saya salat Lohor di rumah, baru ke WI ya,” kata Che Che Kirani saat dikonfirmasi ulang. Sementara Aa Hadi yang semula akan diwawancara di Plaza Semanggi, mengalah diwawancara di kantor saja.
Che Che dan Aa Hadi datang di waktu bersamaan. Aa Hadi bersama Reza, orang terdekatnya, sedangkan Che Che menyetir sendiri mobil Mercynya. Mereka pun sama-sama turun dari mobil masing-masing, persis di depan kantor WI.
“Diundang juga Nèng ke sini?” tanya Aa Hadi kepada Che Che yang tersenyum.
“Lho, Aa kok ke sini juga?” tanya Che Che setelah [berjabat tangan dan] mencium tangan Aa Hadi, yang membuat kami salah tingkah.
Apa boleh buat, sekantor langsung heboh saat menyaksikan, karena kami pun tak menduga mereka akan tiba pada waktu yang benar-benar sama. Warna baju pun sama, putih, warna khas pengajian Baitul Akbar pimpinan Aa Hadi. [Selain di Baitul Akbar, Aa Hadi juga mengasuh majelis zikir Bengkel Akhlak.]
Di sela-sela pemotretan dan wawancara, kami semua ikut bahagia menyaksikan body language 2 sejoli ini. Ditambah canda ria mereka. Che Che Kirani yang cantik, ceria dan ringan hati, pasangan yang pas untuk mengisi hati Aa Hadi yang lebih sering tampil serius walau ia juga humoris.
Mereka sempat bersenda-gurau disaksikan kami. Sementara kami merencanakan mempertemukan mereka berdua, setelah Aa dan Che Che usai diwawancarai di ruangan berbeda.
Menjelang sesi pemotretan [seusai wawancara terprogram], “Béb,” panggilan mesra Che Che ke Aa Hadi, “Emang tadi ditanyai apa saja?”
“Wah, banyak sekali...,” jawab Aa Hadi.
“Iya nih, kita dijodoh-jodohin. Nggak sabaran amat.
Menjelang berganti baju untuk pemotretan sesi kedua, Che Che terkejut melihat Aa Hadi masuk ke studio. Ia pun tersenyum melihat Aa bergaya di depan kamera, sesekali turut menggoda gayanya. Tak kalah seru Aa Hadi menanggapi canda kekasihnya, hingga suasana studio penuh gelak tawa.
“Che, kalau Aa nanti dimunculkan WI, bakal banyak dikejar cewek nih,” canda Aa.
“Lho, bagaimana dong dengan nasib saya. Apalagi Aa sudah bilang Mei menikah,” balas Che Che.
“Kok nggak kompak sih? Tadi Che Che bilang Agustus. Jadi, mana yang bener nih? Kalau begitu, mumpung semua sudah komplet, panggil saja deh penghulu,” gurau Aa Hadi yang sangat bahagia, pada WI. “Bukankah begitu, istriku?” canda Aa Hadi seraya memandang Che Che. Si cantik ini malah balik bertanya, “Béb, tadi sempat ganti baju yang sudah disiapkan, nggak?”
Sampai di situ Che Che dan Aa Hadi belum tahu akan ada pemotretan bersama. Setelah puas bercanda, barulah mereka diminta berfoto berdua.
Che Che yang ceria, saat pemotretan sempat salah tingkah ketika diminta berfoto berdua. “Aduuuh, jangan doong, bukan muhrimnya. Udah deh, fotonya sendiri-sendiri saja,” pinta Che Che. Ia terus berdiri di depan pintu studio. Begitu pun dengan Aa yang serba salah.
Lama sekali keduanya dibujuk agar mau difoto bersama. “Aduh, saya nggak mau deh kalau foto berdua. Kalau pun perlu sekali, foto sendiri-sendiri saja. Terserah mau disatukan nantinya di cover. Yang penting jangan difoto berdua. Saya tidak ingin menimbulkan kesan negatif, terutama untuk diri Aa,” harap Che Che. Aa pun bilang, “Iya nih. Nanti saja deh kalau kita sudah resmi jadi suami-istri. Waktunya juga tidak lama lagi. Persisnya bulan Mei.”
Setengah jam lewat kami mencoba membujuk. Akhirnya Che Che minta pendapat Reza, asisten Aa Hadi. Sementara Aa Hadi menerima telepon dari Mbak Donna (
Sambil senyum-senyum malu, akhirnya Che Che berpose duduk, sementara Aa Hadi berdiri di belakang. Suasana yang sempat agak tegang, mencair cepat dengan tawa canda keduanya.
“Cukup-cukup,” pinta Che Che sambil berlari ingin melihat hasilnya.
“Ah, jangan foto ini deh. Tangan Aa nggak kelihatan. Kesannya seperti megang saya, padahal
“Saya ini hanya menjaga perasaan para jemaah saya. Mereka bilang, Aa jangan terlalu diekspos, tidak enak. Aa juga mikir, nanti gimana kata orang kalau Aa difoto sama Che Che. Dikirain Aa numpang popularitas. [Che Che adalah bintang sinetron yang sedang naik daun, melejit sejak membintangi sinetron Aku Ingin Pulang.] Aa hanya menghindari fitnah saja,” ujar Aa.
Namun, ketika orang-orang di sekitarnya menggoda, berkali-kali pula Aa dan Che Che mengatakan, “Emang iya, kita mau nikah.
Pada Didi [penulis berita ini] dan Aien [staf redaksi WI], Che Che bilang sedang mereka-reka desain undangan pernikahan yang memenuhi syariat Islam.
“Benar ya, nanti didesainkan kartu undangannya,” kata Che Che.
“Memangnya mau buat acara di mana, istriku?” tanya Aa Hadi sambil tertawa pada Che Che.
“Seperti yang sudah kita bicarakan saja deh, Béb,“ balas Che Che.
Di akhir kunjungan mereka, usai Che Che buka puasa dan salat magrib, ia dan Aa Hadi berpandang-pandangan di teras kantor WI [seraya ngobrol berdua]. Kami pun tak kunjung menghindar [atau menjauh dari mereka] hingga Che Che menyerahkan kunci mobil Mercy yang semula disetirnya sendiri pada Aa Hadi.
Menuju mobil, Che Che dan Aa Hadi masih melanjutkan canda mereka.
“Mama langsung pulang ke rumah,
“Iya, dong. Gimana, sih. Itu
Jadilah Aa dan Che Che pulang berdua, di bawah seruan bahagia kami, para suporter yang penuh semangat, “Ayo, pulang berdua ya, sambil ngomongin pernikahan ya. Selamat ya, Aa, Che Che...”
Malam mulai temaram. Mercy hitam seri terbaru itu berbelok di tikungan, sementara sedan Honda merah hati milik Aa yang disetir Reza melaju ke arah lain.
Ah, seperti di sinetron saja. Indahnya...
Gimana? Ingat, berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, kita boleh berduaan bila ‘terawasi’ (lihat WPPI: 61-67). Bila kamu bepergian bersama pacarmu, pilihlah kendaraan yang ‘terang’ melewati jalan yang ‘ramai’. Maksudku, “seandainya di antara kalian terlihat tanda2 zina, yang ‘kecil’ sekalipun, maka akan ada orang lain yang menaruh perhatian dan cenderung mencegah perbuatan ini.” (MCMD: 130)
Aisha Chuang <http://groups.yahoo.com/group/ac4x3>, penulis buku Manajemen Cinta Musim Dingin (2003) dan Nikmatnya Asmara Islami (2004).
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now