|
|
|
RE: [Salafi-Indonesia] Siapakah Wahhabi?
Tuduhan:
Muhammad
bin Abdul Wahhab itu bukanlah seorang yang berilmu. Dia belum pernah belajar
dari para syaikh, dan mungkin saja ilmunya dari setan!9
Jawaban:
Pernyataan iniq
menunjukkan butanya tentang biografi Asy-Syaikh, atau pura-pura buta dalam rangka
penipuan intelektual terhadap umat.
Bila ditengokq
sejarahnya, ternyata beliau sudah hafal Al-Qur`an sebelum berusia 10 tahun.
Belum genap 12 tahun dari usianya, sudah ditunjuk sebagai imam shalat
berjamaah. Dan pada usia 20 tahun sudah dikenal mempunyai banyak ilmu. Setelah
itu rihlah (pergi) menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, Bashrah, Ahsa`, Bashrah
(yang kedua kalinya), Zubair, kemudian kembali ke Makkah dan Madinah. Gurunya
pun banyak,10 di antaranya adalah:
Di Najd: Asy-Syaikh
Abdul Wahhab bin Sulaiman11 dan Asy-Syaikh Ibrahim bin Sulaiman.12
Di Makkah: Asy-Syaikh
Abdullah bin Salim bin Muhammad Al-Bashri Al-Makki Asy-Syafi’i.13
Di Madinah: Asy-Syaikh
Abdullah bin Ibrahim bin Saif.14 Asy-Syaikh Muhammad Hayat bin Ibrahim
As-Sindi Al-Madani,15 Asy-Syaikh Isma’il bin Muhammad Al-Ajluni
Asy-Syafi’i,16 Asy- Syaikh ‘Ali Afandi bin Shadiq Al-Hanafi Ad-Daghistani,17
Asy-Syaikh Abdul Karim Afandi, Asy- Syaikh Muhammad Al Burhani, dan
Asy-Syaikh ‘Utsman Ad-Diyarbakri.
Di Bashrah: Asy-Syaikh
Muhammad
Al-Majmu’i.18
Di Ahsa`: Asy-Syaikh
Abdullah bin Muhammad
bin Abdul Lathif Asy-Syafi’i.
8. Tuduhan: Tidak
menghormati para wali Allah, dan hobinya menghancurkan kubah/ bangunan yang
dibangun di atas makam mereka.
Maraji’
9 Tuduhan Sulaiman bin Muhammad bin Suhaim, Qadhi
Manfuhah.
10 Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
As-Salafiyyah, 1/143-171.
11 Ayah beliau, dan seorang ulama Najd
yang terpandang di masanya dan hakim di ‘Uyainah.
12 Paman beliau, dan sebagai hakim negeri Usyaiqir.
13 Hafizh negeri Hijaz di masanya.
14 Seorang faqih terpandang, murid para ulama Madinah
sekaligus murid Abul Mawahib (ulama besar negeri Syam). Asy-Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab mendapatkan ijazah dari guru beliau ini untuk meriwayatkan,
mempelajari dan mengajarkan Shahih Al-Bukhari dengan sanadnya sampai kepada
Al-Imam Al-Bukhari serta syarah-syarahnya, Shahih Muslim serta
syarah-syarahnya, Sunan At-Tirmidzi dengan sanadnya, Sunan Abi Dawud dengan
sanadnya, Sunan Ibnu Majah dengan sanadnya, Sunan An-Nasa‘i Al-Kubra dengan
sanadnya, Sunan Ad- Darimi dan semua karya tulis Al-Imam Ad-Darimi dengan
sanadnya, Silsilah Al-‘Arabiyyah dengan sanadnya dari Abul Aswad dari ‘Ali bin
Abi Thalib, semua buku Al-Imam An-Nawawi, Alfiyah Al- ’Iraqi, At-Targhib Wat
Tarhib, Al-Khulashah karya Ibnu Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan seluruh karya
tulis Ibnu Hisyam, semua karya tulis Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani,
buku-buku Al-Qadhi ‘Iyadh, buku-buku qira’at, kitab Al-Qamus dengan sanadnya,
Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i, Muwaththa’ Al-Imam Malik, Musnad Al-Imam Ahmad,
Mu’jam Ath-Thabrani, buku-buku As- Suyuthi dsb.
15 Ulama besar Madinah di masanya.
16 Penulis kitab Kasyful Khafa‘ Wa Muzilul Ilbas ‘Amma
Isytahara ‘Ala Alsinatin Nas.
17 Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bertemu dengannya
di kota Madinah
dan mendapatkan ijazah darinya seperti yang didapat dari Asy-Syaikh Abdullah
bin Ibrahim bin Saif.
18 Ulama terkemuka daerah Majmu’ah, Bashrah.
From:
Salafi-Indonesia@yahoogroups.com [mailto:Salafi-Indonesia@yahoogroups.com] On Behalf Of Abu Kusno
Sent: Tuesday, July 14, 2009 2:11
PM
To:
Salafi-Indonesia@yahoogroups.com
Subject: Bls: [Salafi-Indonesia]
Siapakah Wahhabi?
Yang mau saya tanyakan...
Asy-Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab itu gurunya siapa ?????
Dari:
www.Darussalaf.Or.iD <darussalaf@yahoo.co.id>
Kepada: salafi-indonesia@yahoogroups.com;
thullabul-ilmiy@yahoogroups.com;
artikel_salafy@yahoogroups.com
Terkirim: Kamis, 2 Juli, 2009
09:26:27
Judul: [Salafi-Indonesia] Siapakah
Wahhabi?
Penulis:
Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc
Selubung
Makar di Balik Julukan Wahhabi
Di negeri kita bahkan hampir di seluruh dunia Islam,
ada sebuah fenomena ‘timpang’ dan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah tauhid
yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi
rahimahullahu1. Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah
untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya?
Dan apa rahasia di balik itu semua …?
Para pembaca, dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia. Pembaharuan, dari
syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju As-Sunnah. Demikianlah misi para Orang-orang
yang takut kehilangan kedudukan dan jabatannya. (Lihat Tash-hihu Khatha`in
Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir
hal.90-91, ringkasan keterangan Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz) 2. Di dunia
secara umum: Mereka adalah kaum kafir Eropa; Inggris, Prancis dan lain-lain,
Daulahq Orang-orang yang dikenal sebagai ulama namun tidak
mengerti tentang hakekat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. q Para ulama suu` yang memandang al-haq sebagai kebatilan
dan kebatilan sebagai al-haq. qpembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak titian
jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Fenomena
ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga berbagai macam cara pun
ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang diemban Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Musuh-musuh tersebut dapat
diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Di Najd dan sekitarnya: Utsmaniyyah,
kaum Shufi, Syi’ah Rafidhah, Hizbiyyun dan pergerakan Islam; Al-Ikhwanul
Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, dan para kaki tangannya. (Untuk lebih
rincinya lihat kajian utama edisi ini/ Musuh-Musuh Dakwah Tauhid) Bentuk
permusuhan mereka beragam. Terkadang dengan fisik (senjata) dan terkadang
dengan fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya. Adapun fisik
(senjata), maka banyak diperankan oleh Dinasti Utsmani yang bersekongkol
dengan barat (baca: kafir Eropa) –sebelum keruntuhannya–. Demikian pula
Syi’ah Rafidhah dan para hizbiyyun. Sedangkan fitnah, tuduhan dusta, isu
negatif dan sejenisnya, banyak dimainkan oleh kafir Eropa melalui para
missionarisnya, kaum shufi, dan tak ketinggalan pula Syi’ah Rafidhah dan
hizbiyyun.2 Dan ternyata, memunculkan istilah ‘Wahhabi’ sebagai julukan bagi
pengikut dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, merupakan trik sukses
mereka untuk menghempaskan kepercayaan umat kepada dakwah tauhid tersebut.
Padahal, istilah ‘Wahhabi’ itu sendiri merupakan penisbatan yang tidak sesuai
dengan kaidah bahasa Arab. Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz berkata:
“Penisbatan (Wahhabi -pen) tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab.
Semestinya bentuk penisbatannya adalah ‘Muhammadiyyah’, karena sang pengemban
dan pelaku dakwah tersebut adalah Muhammad, bukan ayahnya yang bernama Abdul
Wahhab.” (Lihat Imam wa Amir wa Da’watun Likullil ‘Ushur, hal. 162) Tak cukup
sampai di situ. Fitnah, tuduhan dusta, isu negatif dan sejenisnya menjadi
sejoli bagi julukan keji tersebut. Tak ayal, yang lahir adalah ‘potret’ buruk
dan keji tentang dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang tak sesuai
dengan realitanya. Sehingga istilah Wahhabi nyaris menjadi momok dan monster
yang mengerikan bagi umat. Fenomena timpang ini, menuntut kita untuk jeli
dalam menerima informasi. Terlebih ketika narasumbernya adalah orang kafir,
munafik, atau Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang yang
sangat mencintai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal ini terbukti dengan
adanya karya tulis beliau tentang sirah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
baik Mukhtashar Siratir Rasul, Mukhtashar Zadil Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad
atau pun yang terkandung dalam kitab beliau Al-Ushul Ats-Tsalatsah.qahlul
bid’ah. Agar kita tidak dijadikan bulan-bulanan oleh kejamnya informasi
orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu. Meluruskan Tuduhan Miring
tentang Wahhabi 1. Tuduhan: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah
seorang yang mengaku sebagai Nabi3, ingkar terhadap Hadits nabi4, merendahkan
posisi Nabi, dan tidak mempercayai syafaat beliau. Bantahan:
Beliau berkata: “Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi
wa sallam telah wafat –semoga shalawat dan salam-Nya selalu tercurahkan
kepada beliau–, namun agamanya tetap kekal. Dan inilah agamanya; yang tidaklah
ada kebaikan kecuali pastiq beliau tunjukkan kepada umatnya, dan tidak ada
kejelekan kecuali pasti beliau peringatkan. Kebaikan yang telah beliau
sampaikan itu adalah tauhid dan segala sesuatu yang dicintai dan diridhai
Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedangkan kejelekan yang beliau peringatkan adalah
kesyirikan dan segala sesuatu yang dibenci dan dimurkai Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus beliau kepada seluruh umat
manusia, dan mewajibkan atas tsaqalain; jin dan manusia untuk menaatinya.”
(Al-Ushul Ats-Tsalatsah)
Beliau juga berkata: “Dan jika kebahagiaan umat
terdahulu dan yang akan datang karena mengikuti para Rasul, maka dapatlah
diketahui bahwa orang yang paling berbahagia adalah yang paling berilmu
tentang ajaran para Rasul dan paling mengikutinya. Maka dari itu, orang yang
paling mengerti tentang sabda para Rasul dan amalan-amalan mereka serta
benar-benar mengikutinya, mereka itulah sesungguhnya orang yang paling
berbahagia di setiap masaq dan tempat. Dan merekalah golongan yang selamat dalam
setiap agama. Dan dari umat ini adalah Ahlus Sunnah wal Hadits.” (Ad-Durar
As-Saniyyah, 2/21)
Adapun tentang syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam, maka beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku
beriman dengan syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliaulah
orang pertama yang bisa memberi syafaat dan juga orang pertama yang diberi
syafaat. Tidaklah mengingkari syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini
kecuali ahlul bid’ah lagi sesat.” (Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula
Al-Wahhabiyyah, hal. 118)q
2. Tuduhan: Melecehkan Ahlul Bait
Bantahan:
Beliau berkata dalam Mukhtashar Minhajis Sunnah:
“Ahlul Bait Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mempunyai hak atas umat
ini yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Mereka berhak mendapatkan
kecintaan dan loyalitas yang lebih besar dari seluruh kaum Quraisy…” (Lihat
‘Aqidah Asy-Syaikhq Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah, 1/446)
Di antara bukti kecintaan beliau kepada Ahlul Bait
adalah dinamainya putra-putra beliau dengan nama-nama Ahlul Bait: ‘Ali,
Hasan, Husain, Ibrahim dan Abdullah.q
3. Tuduhan: Bahwa beliau sebagai Khawarij, karena
telah memberontak terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah. Al-Imam Al-Lakhmi telah
berfatwa bahwa Al-Wahhabiyyah adalah salah satu dari kelompok sesat Khawarij
‘Ibadhiyyah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mu’rib Fi Fatawa Ahlil
Maghrib, karya Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi, juz 11.
Bantahan:
Adapun pernyataan bahwa Asy-Syaikh telah memberontak
terhadap Daulah Utsmaniyyah, maka ini sangat keliru. Karena Najd kala itu
tidak termasuk wilayah teritorial kekuasaan Daulah Utsmaniyyah5. Demikian
pula sejarah mencatat bahwa kerajaan Dir’iyyah belum pernah melakukan upaya
pemberontakan terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah. Justru merekalah yang berulang
kali diserang oleh pasukan Dinastiq
Utsmani.
Lebih dari itu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
mengatakan –dalam kitabnya Al-Ushulus Sittah–: “Prinsip ketiga: Sesungguhnya
di antara (faktor penyebab) sempurnanya persatuan umat adalah mendengar lagi
taat kepada pemimpin (pemerintah) , walaupun pemimpin tersebut seorang budak
dari negeri Habasyah.”
Dari sini nampak jelas, bahwa sikap Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap waliyyul amri (penguasa) sesuai dengan
ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bukan ajaran Khawarij.
Mengenai fatwa Al-Lakhmi, maka yang dia maksudkan
adalah Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum dan kelompoknya, bukan
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. Hal ini karena
tahun wafatnya Al-Lakhmi adalah 478 H, sedangkan Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab wafat pada tahun 1206 H /Juni atau Juli 1792 M. Amatlah janggal
bila ada orang yang telah wafat, namun berfatwa tentang seseorang yang hidup
berabad-abadq setelahnya. Adapun Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin
Rustum, maka dia meninggal pada tahun 211 H. Sehingga amatlah tepat bila
fatwa Al-Lakhmi tertuju kepadanya. Berikutnya, Al-Lakhmi merupakan mufti Andalusia dan Afrika Utara, dan fitnah Wahhabiyyah
Rustumiyyah ini terjadi di Afrika Utara. Sementara di masa Al-Lakhmi,
hubungan antara Najd dengan Andalusia dan
Afrika Utara amatlah jauh. Sehingga bukti sejarah ini semakin menguatkan
bahwa Wahhabiyyah Khawarij yang diperingatkan Al-Lakhmi adalah Wahhabiyyah
Rustumiyyah, bukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para
pengikutnya6.
Lebih dari itu, sikap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab terhadap kelompok Khawarij sangatlah tegas. Beliau berkata –dalam
suratnya untuk penduduk Qashim–: “Golongan yang selamat itu adalah kelompok
pertengahan antara Qadariyyah dan Jabriyyah dalam perkara taqdir, pertengahan
antara Murji`ah dan Wa’idiyyah (Khawarij) dalam perkara ancaman Allah
Subhanahu waq Ta'ala, pertengahan antara Haruriyyah (Khawarij) dan
Mu’tazilah serta antara Murji`ah dan Jahmiyyah dalam perkara iman dan agama,
dan pertengahan antara Syi’ah Rafidhah dan Khawarij dalam menyikapi para
shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Lihat Tash-hihu
Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal 117). Dan masih banyak lagi
pernyataan tegas beliau tentang kelompok sesat Khawarij ini.
4. Tuduhan: Mengkafirkan kaum muslimin dan
menghalalkan darah mereka.7
Bantahan:
Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Asy-Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab, karena beliau pernah mengatakan: “Kalau kami tidak
(berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah
(kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi
dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang
mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak
melakukan kesyirikan atauq seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat
kami...?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang
besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi,
hal. 203)
5. Tuduhan: Wahhabiyyah adalah madzhab baru dan tidak
mau menggunakan kitab-kitab empat madzhab besar dalam Islam.8
Bantahan:
Hal ini sangat tidak realistis. Karena beliau
mengatakan –dalam suratnya kepada Abdurrahman As-Suwaidi–: “Aku kabarkan
kepadamu bahwa aku –alhamdulillah– adalah seorang yang berupaya mengikuti
jejak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan pembawa aqidah baru.
Dan agama yang aku peluk adalah madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang dianut
para ulama kaum muslimin semacam imam yang empat dan para pengikutnya.”
(Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, hal. 75)q
Beliau juga berkata –dalam suratnya kepada Al-Imam
Ash-Shan’ani–: “Perhatikanlah –semoga Allah Subhanahu waq
Ta'ala merahmatimu– apa yang ada pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, para shahabat sepeninggal beliau dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik hingga hari kiamat. Serta apa yang diyakini para imam
panutan dari kalangan ahli hadits dan fiqh, seperti Abu Hanifah, Malik,
Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal –semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai
mereka–, supaya engkau bisa mengikuti jalan/ ajaran mereka.” (Ad-Durar
As-Saniyyah 1/136)
Beliau juga berkata: “Menghormati ulama dan
memuliakan mereka meskipun terkadang (ulama tersebut) mengalami kekeliruan,
dengan tidak menjadikan mereka sekutu bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala,
merupakan jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Adapun mencemooh perkataan mereka dan tidak memuliakannya, maka ini
merupakan jalan orang-orang yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta'ala
(Yahudi).” (Majmu’ah Ar-Rasa`il An-Najdiyyah, 1/11-12. Dinukil dari Al-Iqna’,q
karya Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, hal.132-133)
6. Tuduhan: Keras dalam berdakwah (inkarul munkar)
Bantahan:
Tuduhan ini sangat tidak beralasan. Karena justru
beliaulah orang yang sangat perhatian dalam masalah ini. Sebagaimana nasehat
beliau kepada para pengikutnya dari penduduk daerah Sudair yang melakukan
dakwah (inkarul munkar) dengan cara keras. Beliau berkata: “Sesungguhnya
sebagian orang yang mengerti agama terkadang jatuh dalam kesalahan (teknis)
dalam mengingkari kemungkaran, padahal posisinya di atas kebenaran. Yaitu
mengingkari kemungkaran dengan sikap keras, sehingga menimbulkan perpecahan
di antara ikhwan… Ahlul ilmi berkata: ‘Seorang yang beramar ma’ruf dan nahi
mungkar membutuhkan tiga hal: berilmu tentang apa yang akan dia sampaikan,
bersifat belas kasihan ketika beramar ma’ruf dan nahi mungkar, serta bersabar
terhadap segala gangguan yang menimpanya.’ Maka kalian harus memahami hal ini
danq merealisasikannya. Sesungguhnya kelemahan akan selalu
ada pada orang yang mengerti agama, ketika tidak merealisasikannya atau tidak
memahaminya. Para ulama juga menyebutkan
bahwasanya jika inkarul munkar akan menyebabkan perpecahan, maka tidak boleh
dilakukan. Aku mewanti-wanti kalian agar melaksanakan apa yang telah
kusebutkan dan memahaminya dengan sebaik-baiknya. Karena, jika kalian tidak
melaksanakannya niscaya perbuatan inkarul munkar kalian akan merusak citra
agama. Dan seorang muslim tidaklah berbuat kecuali apa yang membuat baik
agama dan dunianya.”(Lihat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 176)
7. Tuduhan: Muhammad bin Abdul Wahhab itu bukanlah
seorang yang berilmu. Dia belum pernah belajar dari para syaikh, dan mungkin
saja ilmunya dari setan!9
Jawaban:
Pernyataan ini menunjukkan butanya tentang biografi
Asy-Syaikh, atau pura-pura buta dalam rangka penipuan intelektual terhadap
umat.q
Bila ditengok sejarahnya, ternyata beliauq
sudah hafal Al-Qur`an sebelum berusia 10 tahun. Belum genap 12 tahun dari
usianya, sudah ditunjuk sebagai imam shalat berjamaah. Dan pada usia 20 tahun
sudah dikenal mempunyai banyak ilmu. Setelah itu rihlah (pergi) menuntut ilmu
ke Makkah, Madinah, Bashrah, Ahsa`, Bashrah (yang kedua kalinya), Zubair,
kemudian kembali ke Makkah dan Madinah. Gurunya pun banyak,10 di antaranya
adalah:
Di Najd: Asy-Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman11 dan
Asy-Syaikh Ibrahim bin Sulaiman.12
Di Makkah: Asy-Syaikh Abdullah bin Salim bin Muhammad
Al-Bashri Al-Makki Asy-Syafi’i.13
Di Madinah: Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin
Saif.14 Asy-Syaikh Muhammad Hayat bin Ibrahim As-Sindi Al-Madani,15
Asy-Syaikh Isma’il bin Muhammad Al-Ajluni Asy-Syafi’i,16 Asy-Syaikh ‘Ali
Afandi bin Shadiq Al-Hanafi Ad-Daghistani, 17 Asy-Syaikh Abdul Karim Afandi,
Asy-Syaikh Muhammad Al Burhani, dan Asy-Syaikh ‘Utsman Ad-Diyarbakri.
Di Bashrah: Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i.18
Di Ahsa`: Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul
Lathif Asy-Syafi’i.
8. Tuduhan: Tidak menghormati para wali Allah, dan
hobinya menghancurkan kubah/ bangunan yang dibangun di atas makam mereka.
Jawaban:
Pernyataan bahwa Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab tidak menghormati para wali Allah Subhanahu wa Ta'ala, merupakan
tuduhan dusta. Beliau berkata –dalam suratnya kepada penduduk Qashim–: “Aku
menetapkan (meyakini) adanya karamah dan keluarbiasaan yang ada pada para wali
Allah Subhanahu wa Ta'ala, hanya saja mereka tidak berhak diibadahi dan tidak
berhak pula untuk diminta dari mereka sesuatu yang tidak dimampu kecuali oleh
Allah Subhanahu wa Ta'ala.”19q
Adapun penghancuran kubah/bangunan yang dibangun di
atas makam mereka, maka beliau mengakuinya –sebagaimana dalam suratnya kepada
para ulama Makkah–.20 Namun hal itu sangat beralasan sekali, karena kubah/
bangunan tersebut telah dijadikan sebagaiq
tempat berdoa, berkurban dan bernadzar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sementara Asy-Syaikh sudah mendakwahi mereka dengan segala cara, dan beliau
punya kekuatan (bersama waliyyul amri) untuk melakukannya, baik ketika masih
di ‘Uyainah ataupun di Dir’iyyah.
Hal ini pun telah difatwakan oleh para ulama dari
empat madzhab. Sebagaimana telah difatwakan oleh sekelompok ulama madzhab
Syafi’i seperti Ibnul Jummaizi, Azh-Zhahir At-Tazmanti dll, seputar
penghancuran bangunan yang ada di pekuburan Al-Qarrafah Mesir. Al-Imam
Asy-Syafi’i sendiri berkata: “Aku tidak menyukai (yakni mengharamkan)
pengagungan terhadap makhluk, sampai pada tingkatan makamnya dijadikan
sebagai masjid.” Al-Imam An-Nawawi dalam Syarhul Muhadzdzab dan Syarh Muslim
mengharamkam secara mutlak segala bentuk bangunan di atas makam. Adapun
Al-Imam Malik, maka beliau juga mengharamkannya, sebagaimana yang dinukilkan
oleh Ibnu Rusyd. Sedangkan Al-Imam Az-Zaila’iq
(madzhab Hanafi) dalam Syarh Al-Kanz mengatakan: “Diharamkan mendirikan
bangunan di atas makam.” Dan juga Al-Imam Ibnul Qayyim (madzhab Hanbali)
mengatakan: “Penghancuran kubah/ bangunan yang dibangun di atas kubur
hukumnya wajib, karena ia dibangun di atas kemaksiatan kepada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.” (Lihat Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid
karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh, hal.284-286)
Para pembaca, demikianlah bantahan ringkas terhadap beberapa
tuduhan miring yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Untuk mengetahui bantahan atas tuduhan-tuduhan miring lainnya, silahkan baca
karya-karya tulis Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, kemudian buku-buku
para ulama lainnya seperti:
Ad-Durar As-Saniyyah fil Ajwibah An-Najdiyyah,
disusun oleh Abdurrahman bin Qasim An-Najdiq
Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan,
karya Al-‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawaniq
Al-Hindi.
Raddu Auham Abi Zahrah, karya Asy-Syaikh Shalih bin
Fauzan Al-Fauzan, demikian pula buku bantahan beliau terhadap Abdul Karim
Al-Khathib.q
Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa
Muftara ‘Alaihi, karya Al-Ustadz Mas’ud An-Nadwi.q
‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As
Salafiyyah, karya Dr. Shalih bin Abdullah Al-’Ubud.q
Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Bainal
Mu’aridhin wal Munshifin wal Mu`ayyidin, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil
Zainu, dsb.q
Barakah Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan
dakwah yang penuh barakah. Buahnya pun bisa dirasakan hampir di setiap
penjuru dunia Islam, bahkan di dunia secara keseluruhan.
Di Jazirah Arabia21
Di Jazirah Arabia sendiri, pengaruhnya luar biasa.
Berkat dakwah tauhid ini mereka bersatu yang sebelumnya berpecah belah.
Mereka mengenal tauhid, ilmu dan ibadah yang sebelumnya tenggelam dalam
penyimpangan, kebodohan dan kemaksiatan. Dakwah tauhid juga mempunyai peran
besar dalam perbaikan akhlak dan muamalah yang membawa dampak positif bagi
Islam itu sendiri dan bagi kaum muslimin, baik dalam urusan agama ataupun
urusan dunia mereka. Berkat dakwah tauhid pula tegaklah Daulah Islamiyyah (di
Jazirah Arabia) yang cukup kuat dan disegani
musuh, serta mampu menyatukan negeri-negeri yang selama ini berseteru di
bawah satu bendera. Kekuasaan Daulah ini membentang dari Laut Merah (barat)
hingga Teluk Arab (timur), dan dari Syam (utara) hingga Yaman (selatan), daulah
ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan Daulah Su’udiyyah I. Pada tahun 1233
H/1818 M daulah ini diporak-porandakan oleh pasukan Dinasti Utsmani yang
dipimpin Muhammad ‘Ali Basya. Pada tahun 1238 H/1823 M berdiri kembali Daulah
Su’udiyyah II yang diprakarsai oleh Al-Imam Al-Mujahid Turki bin Abdullah bin
Muhammad bin Su’ud, dan runtuh pada tahun 1309 H/1891 M. Kemudian pada tahun
1319 H/1901 M berdiri kembali Daulah Su’udiyyah III yang diprakarsai oleh
Al-Imam Al-Mujahid Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal bin Turki Alu
Su’ud. Daulah Su’udiyyah III ini kemudian dikenal dengan nama Al-Mamlakah
Al-’Arabiyyah As-Su’udiyyah, yang dalam bahasa kita biasa disebut Kerajaan
Saudi Arabia. Ketiga daulah ini merupakan
daulah percontohan di masa ini dalam hal tauhid, penerapan Sunnah Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan syariat Islam, keamanan, kesejahteraan dan
perhatian terhadap urusan kaum muslimin dunia (terkhusus Daulah Su’udiyyah
III). Untuk mengetahui lebih jauh tentang perannya, lihatlah kajian utama
edisi ini/Barakah Dakwah Tauhid.
Di Dunia Islam22
Dakwah tauhid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
merambah dunia Islam, yang terwakili pada Benua Asia dan Afrika, barakah
Allah Subhanahu wa Ta'ala pun menyelimutinya. Di Benua Asia dakwah tersebar di Yaman, Qatar,
Bahrain, beberapa wilayah Oman, India,
Pakistan dan sekitarnya, Indonesia, Turkistan,
dan Cina. Adapun di Benua Afrika, dakwah Tauhid tersebar di
Mesir, Libya, Al-Jazair, Sudan, dan Afrika Barat. Dan
hingga saat ini dakwah terus berkembang ke penjuru dunia, bahkan merambah
pusat kekafiran Amerika dan Eropa.
Pujian Ulama Dunia terhadap
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Dakwah
Beliau
Pujian ulama dunia terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab dan dakwahnya amatlah banyak. Namun karena terbatasnya ruang
rubrik, cukuplah disebutkan sebagiannya saja.23
1. Al-Imam Ash-Shan’ani (Yaman).
Beliau kirimkan dari Shan’a bait-bait pujian untuk
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya. Bait syair yang diawali
dengan:
Salamku untuk Najd dan siapa saja yang tinggal sana
Walaupun salamku dari kejauhan belum mencukupinya
2. Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu (Yaman). Ketika
mendengar wafatnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau layangkan
bait-bait pujian terhadap Asy-Syaikh dan dakwahnya. Di antaranya:
Telah wafat tonggak ilmu dan pusat kemuliaan
Referensi utama para pahlawan dan orang-orang mulia
Dengan wafatnya, nyaris wafat pula ilmu-ilmu agama
Wajah kebenaran pun nyaris lenyap ditelan derasnya
arus sungai
3. Muhammad Hamid Al-Fiqi (Mesir). Beliau berkata:
“Sesungguhnya amalan dan usaha yang beliau lakukan adalah untuk menghidupkan
kembali semangat beramal dengan agama yang benar dan mengembalikan umat
manusia kepada apa yang telah ditetapkan dalam Al-Qur`an…. dan apa yang dibawa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta apa yang diyakini para
shahabat, para tabi’in dan para imam yang terbimbing.”
4. Dr. Taqiyuddin Al-Hilali (Irak). Beliau berkata:
“Tidak asing lagi bahwa Al-Imam Ar-Rabbani Al-Awwab Muhammad bin Abdul Wahhab,
benar-benar telah menegakkan dakwah tauhid yang lurus. Memperbaharui
(kehidupan umat manusia) seperti di masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan para shahabatnya. Dan mendirikan daulah yang mengingatkan umat
manusia kepada daulah di masa Al-Khulafa` Ar-Rasyidin.”
5. Asy-Syaikh Mulla ‘Umran bin ‘Ali Ridhwan (Linjah, Iran).
Beliau –ketika dicap sebagai Wahhabi– berkata:
Jikalau mengikuti Ahmad dicap sebagai Wahhabi
Maka kutegaskan bahwa aku adalah Wahhabi
Kubasmi segala kesyirikan dan tiadalah ada bagiku
Rabb selain Allah Dzat Yang Maha Tunggal lagi Maha
Pemberi
6. Asy-Syaikh Ahmad bin Hajar Al-Buthami (Qatar).
Beliau berkata: “Sesungguhnya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi
adalah seorang da’i tauhid, yang tergolong sebagai pembaharu yang adil dan
pembenah yang ikhlas bagi agama umat.”
7. Al ‘Allamah Muhammad Basyir As-Sahsawani (India). Kitab
beliau Shiyanatul Insan ‘An Waswasah Asy-Syaikh Dahlan, sarat akan pujian dan
pembelaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.
8. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani (Syam).
Beliau berkata: “Dari apa yang telah lalu, nampaklah kedengkian yang sangat,
kebencian durjana, dan tuduhan keji dari para penjahat (intelektual) terhadap
Al-Imam Al Mujaddid Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –semoga Allah
Subhanahu wa Ta'ala merahmatinya dan mengaruniainya pahala–, yang telah
mengeluarkan manusia dari gelapnya kesyirikan menuju cahaya tauhid yang
murni…”
9. Ulama Saudi Arabia. Tak terhitung
banyaknya pujian mereka terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan
dakwahnya, turun-temurun sejak Asy-Syaikh masih hidup hingga hari ini.
Penutup
Akhir kata, demikianlah sajian kami seputar Wahhabi
yang menjadi momok di Indonesia
pada khususnya dan di dunia Islam pada umumnya. Semoga sajian ini dapat
menjadi penerang di tengah gelapnya permasalahan, dan pembuka cakrawala
berfikir untuk tidak berbicara dan menilai kecuali di atas pijakan ilmu.
Wallahu a’lam bish-shawab.
1 Biografi beliau bisa dilihat pada Majalah Asy
Syari’ah, edisi 21, hal. 71.
2 Untuk lebih rincinya lihat kajian utama edisi
ini/Musuh-musuh Dakwah Tauhid.
3 Sebagaimana yang dinyatakan Ahmad Abdullah
Al-Haddad Baa ‘Alwi dalam kitabnya Mishbahul Anam, hal. 5-6 dan Ahmad Zaini
Dahlan dalam dua kitabnya Ad-Durar As-Saniyyah Firraddi ‘alal Wahhabiyyah,
hal. 46 dan Khulashatul Kalam, hal. 228-261.
4 Sebagaimana dalam Mishbahul Anam.
5 Sebagaimana yang diterangkan pada kajian utama
edisi ini/Hubungan Najd dengan Daulah
Utsmaniyyah.
6 Untuk lebih rincinya bacalah kitab Tash-hihu
Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad
Asy-Syuwai’ir.
7 Sebagaimana yang dinyatakan Ibnu ‘Abidin Asy-Syami
dalam kitabnya Raddul Muhtar, 3/3009.
8 Termaktub dalam risalah Sulaiman bin Suhaim.
9 Tuduhan Sulaiman bin Muhammad bin Suhaim, Qadhi
Manfuhah.
10 Lihat ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
As-Salafiyyah, 1/143-171.
11 Ayah beliau, dan seorang ulama Najd
yang terpandang di masanya dan hakim di ‘Uyainah.
12 Paman beliau, dan sebagai hakim negeri Usyaiqir.
13 Hafizh negeri Hijaz di masanya.
14 Seorang faqih terpandang, murid para ulama Madinah
sekaligus murid Abul Mawahib (ulama besar negeri Syam). Asy-Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab mendapatkan ijazah dari guru beliau ini untuk meriwayatkan,
mempelajari dan mengajarkan Shahih Al-Bukhari dengan sanadnya sampai kepada
Al-Imam Al-Bukhari serta syarah-syarahnya, Shahih Muslim serta
syarah-syarahnya, Sunan At-Tirmidzi dengan sanadnya, Sunan Abi Dawud dengan
sanadnya, Sunan Ibnu Majah dengan sanadnya, Sunan An-Nasa‘i Al-Kubra dengan
sanadnya, Sunan Ad-Darimi dan semua karya tulis Al-Imam Ad-Darimi dengan
sanadnya, Silsilah Al-‘Arabiyyah dengan sanadnya dari Abul Aswad dari ‘Ali
bin Abi Thalib, semua buku Al-Imam An-Nawawi, Alfiyah Al-’Iraqi, At-Targhib
Wat Tarhib, Al-Khulashah karya Ibnu Malik, Sirah Ibnu Hisyam dan seluruh
karya tulis Ibnu Hisyam, semua karya tulis Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani,
buku-buku Al-Qadhi ‘Iyadh, buku-buku qira’at, kitab Al-Qamus dengan sanadnya,
Musnad Al-Imam Asy-Syafi’i, Muwaththa’ Al-Imam Malik, Musnad Al-Imam Ahmad,
Mu’jam Ath-Thabrani, buku-buku As-Suyuthi dsb.
15 Ulama besar Madinah di masanya.
16 Penulis kitab Kasyful Khafa‘ Wa Muzilul Ilbas
‘Amma Isytahara ‘Ala Alsinatin Nas.
17 Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bertemu
dengannya di kota
Madinah dan mendapatkan ijazah darinya seperti yang didapat dari Asy-Syaikh
Abdullah bin Ibrahim bin Saif.
18 Ulama terkemuka daerah Majmu’ah, Bashrah.
19 Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al
Wahhabiyyah, hal. 119
20 Ibid, hal. 76.
21 Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad
bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin
Abdullah As-Salman, yang dimuat dalam Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah edisi.
21, hal. 140-145.
22 Diringkas dari Haqiqatu Da’wah Asy-Syaikh Muhammad
bin ‘Abdul Wahhab wa Atsaruha Fil ‘Alamil Islami, karya Dr. Muhammad bin
Abdullah As Salman, yang dimuat dalam Majallah Al-Buhuts Al-Islamiyyah edisi.
21, hal.146-149.
23 Untuk mengetahui lebih luas, lihatlah kitab
Da’watu Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Bainal Mu’aridhin wal Munshifin
wal Mu`ayyidin, hal. 82-90, dan ‘Aqidah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab
As-Salafiyyah, 2/371-474.
(http://asysyariah. com/print. php?id_online= 337)
|
Lebih aman saat online.
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan
untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!
Mulai
chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!!
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah
|
"Zambri" <zambri@...>
zambri@...
Send Email
|
|