Apakah Landasan Syar'i Kita Boleh
Berpolitik?Asaalaamu'alaiku, Ustadz.
Saya mau tanya, apakah ada dalil yang menyatakan kita
boleh berpolitik? Jika ada, apakah ada adab-adab yang
harus dipenuhi. Jazakallah.
Wassalaamu'alaikum,
NANIK SUGIYANI
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebelum menjawab pertanyaan ini, seharusnya dijawab
dulu pertanyaan yang sebelumnya, "Adakah landasan
syar'i dari haramnya berpolitik?"
Mungkin titik pangkalnya adalah dalam batasan istilah
politik itu sendiri. Di mana sebagian orang memandang
politik dalam arti yang terlalu sempit serta cenderung
menampilkan politik dalam wajah negatifnya. Seperti
keculasan, penindasan, perebutan kekuasaan,
pembunuhan, perang dan ceceran darah.
Politik dalam arti sempit dan wajah negatif ini
seringkali muncul menjadi icon yang mewakili
pengertian kata istilah politik. Padahal ini hanyalah
sebuah aliran dan pemahaman subjektif dari Machiavelli
yang termasyhur dengan nasihatnya, bahwa seorang
penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat
kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik
dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman
penggunaan kekuatan.
Tentu saja politik dalam konsep si Machivelli itu
bukan sekedar diharamkan dalam syariat Islam, tetapi
juga dikutuk. Bahkan turunnya syariat Islam itu salah
satu perannya untuk membasmi konsep politik si
terkutuk dariItalia itu.
Politik dalam pengertian si pembuat onar ini juga
dikutuk oleh semua orang dan dianggap selaku bajingan
tak bermoral. Hanya para bajingan yang tak bermoral
saja yang memuji konsepnya itu. Para diktator dunia
seperti Hitler, Musolini, Lenin, Stalin, Bush, Blair
dan orang-orang sejenisnya, bisa dimasukkan dalam
kelompok para pemuja ide-ide syetan muntahan dari
mulut Machiavelli.
Para Nabi dan Shahabat Adalah Politikus yang Benar
Namun kalau kita kembalikan pengertian politik dalam
arti luas dan positif, di mana politik pada dasarnya
adalah sebuah sistem untuk mengatur masyarakat atau
negara dengan tujuan demi kemashlahatan umat manusia,
tentu saja politik itu mulia.
Bahkan sejak masa awal manusia diturunkan ke muka bumi
dengan dikawal oleh para nabi dan rasul, tugas utama
syariah adalah mengatur kehidupan masyarakat dan
negara. Dan itu adalah politik. Tapi bukan versi
Machiavelli, melainkan versi langit alias versi
syariah.
Maka bisa kita sebutkan bahwa menjalankan politik yang
benar itu bukan hanya boleh, tetapi wajib bahkan
menjadi inti tujuan risalah. Untuk mengatur
politik-lah para nabi dan rasul diutus ke muka bumi,
selain mengajarkan ritual peribadatan.
Diplomasi dengan Penguasa Zalim
Dalam realitasnya, ternyata para nabi dan Rasul pun
bukan hidup di dalam hutan jauh dari politik kotor.
Justru mereka berhadapan langsung -face to face-
dengan para pelaku politik jahat. Bukankah Allah SWT
memerintahkan kepada Musa untuk mendatangi Fir'aun?
Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya ia telah
melampaui batas.(QS. Thaha: 24)
Bahkan Nabi Musa as. sendiri lahir di dalam istana
Fir'aun yang sedang aktif berpolitik kotor. Dan Musa
ikut masuk dalam gelanggang politik berhadapan dengan
Fir'aun, namun membawa konsep politk langit. Maka
begitulah, sebagian besar isi Al-Quran yang bercerita
tentang Nabi Musa as, lebihbesar porsinya tentang
kisah politik Nabi Musa versus Fir'aun.
Datangnya Musa as berdebat dan berdiplomasi langsung
ke istana Fir'aun, bukankah itu tindakan politik?
Perang
Selain Musa as., nyaris semua nabi memang menjadi
pimpinan politik umatnya. Mereka tidak mengurung diri
di dalam mihrab meninggalkan urusan duniawi, melainkan
mereka ikut dalam semua aktifitas membangun bangsa.
Bahkan tidak sedikit di antara para nabi itu yang mati
lantaran perjuangan mereka dalam masalah politik. Dan
berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama
mereka sejumlah besar dari pengikut yang bertakwa.
Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa
mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak
menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar.(QS.
Ali Imran: 146)
Apakah perang bukan urusan politik?
Mengatur Kekayaan Negara
Nabi Yusuf as. juga seorang politkus yang handal dan
sukses menyelamatkan negaranya dari berbagai krisis
ekonomi. Bahkan Al-Quran secara nyata mengisahkan
bagaimana deal-deal politik Nabi Yusuf as. untuk
mengincar jabatan sebagai penguasa masalah logistik
negara.
Berkata Yusuf, "Jadikanlah aku bendaharawan negara;
sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga,
lagi berpengetahuan." (QS. Yusuf: 55)
Apakah mengatur logistik dan kekayaan negara bukan
urusan politik?
Maka berpolitk yang tujuan dan caranya sesuai dengan
misi ilahi, tentu saja hukumnya boleh dan bahkan
wajib. Sedangkan berpolitik yang tujuan dan caranya
bagai si Machiavelli durjana itu, jelas haram bahkan
dilaknat.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com