Search the web
Sign In
New User? Sign Up
METAMORPHE · METAMORPHE
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Renungan Reformasi 2009: REFORMASI: Dulu dan Sekarang (Denny T. S.)   Message List  
Reply | Forward Message #9243 of 9372 |
Re: Renungan Reformasi 2009: REFORMASI: Dulu dan Sekarang (Denny T. S.)


Den,

Artikel dikau terpotong, bisa nggak dikirim lagi dalam 2 atau 3 bagian? Thanks

kusumo

--- In METAMORPHE@yahoogroups.com, Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
wrote:
>
> Renungan
> Reformasi 2009
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
> REFORMASI: Dulu
> dan Sekarang
>
> (Signifikansi
> Gerakan Reformasi dan Reformed di Era Postmodern)
>
>  
>
> oleh:
> Denny Teguh Sutandio
>
>  
>
>  
>
>  
>
> Nats: 2 Korintus 2:17; 2
> Timotius 4:2-4
>
>  
>
>  
>
>  
>
> “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari
> keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara
> sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di
> hadapan-Nya.”
>
> (2Kor.
> 2:17)
>
>  
>
>  
>
>  
>
> I.        
> PENDAHULUAN
>
> Surat Paulus kepada
> jemaat di Korintus yang kedua ini ditulis kira-kira pada tahun 55 Masehi. Ia
> menulis surat ini dari Makedonia untuk mengungkapkan rasa syukurnya atas
> pertobatan dan ketaatan yang diperbarui dari jemaat Korintus (7:5-16). NIV
> Spirit of the Reformation Study Bible memberikan catatan bahwa surat 2
Korintus
> ini adalah surat yang dipenuhi oleh ekspresi emosi yang mendalam dari Paulus.
> Misalnya, penghiburan dan kekuatan Tuhan di tengah penderitaan dan masalah
> (1:1-7:16; lihat khususnya 1:3-7; 7:4, 7, 13) dan kekuatan Tuhan yang
> dinyatakan di dalam kelemahan manusia (10:1-13:14; lihat khususnya
12:9-10).[1]
>
>  
>
> Seperti kebanyakan
> suratnya, Paulus memulai surat 2 Korintus ini dengan mengucap syukur (1:3-11).
> Kemudian, dilanjutkan perubahan rencana perjalanan Paulus di ayat 12-2:4.
> Perubahan rencana Paulus ini, yang unik, diawali dengan ayat 12, “Inilah
yang kami megahkan,
> yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di
> dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan
> dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih
> karunia Allah.”
> Di awal suratnya, ia menegaskan bahwa motivasi pelayanannya, khususnya untuk
> jemaat di Korintus dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah yang
> didapat dari kekuatan kasih karunia Allah. King James Version menerjemahkan
> “ketulusan dan kemurnian” sebagai simplicity and godly sincerity
(kesederhanaan dan ketulusan ilahi). New International Version (NIV)
> menerjemahkannya, the holiness and sincerity that are from God (kekudusan dan
> ketulusan yang dari Allah). Kata Yunani yang dipakai untuk kemurnian (NIV dan
> New American Standard Bible memakai kata kekudusan) adalah hagiotes
(kekudusan/kesucian). Teks Yunani yang lain ada yang
> menggunakan kata haplotes yang bisa
> berarti ketulusan/kemurnian (sincerity,
> simplicity, etc). Ayat 12 ini menjelaskan kepada kita tentang motivasi
> murni pelayanan Paulus, yaitu dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah (bdk.
Rm.
> 11:36). Ayat 12 ini menuntun kita untuk menyelidki lebih tajam motivasi
> pelayanan Paulus yaitu di pasal 2 ayat 17, “Sebab kami tidak sama dengan
banyak orang lain
> yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami
> berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah
> dan di hadapan-Nya.”
> Kemurnian motivasi pelayanan Paulus ditandai dengan keengganannya untuk
> memperdagangkan firman Allah. “Mencari keuntungan” di ayat ini di dalam
KJV
> diterjemahkan corrupt (merusak). NASB
> dan NIV menerjemahkannya peddling (menjajakan). Kata Yunani yang dipakai
adalah kapēleuō bisa berarti to
> be a retailer (menjadi pedagang) atau peddle
> (menjajakan/menjual barang dari suatu tempat ke tempat lain). Berarti, mencari
> keuntungan dari firman Allah identik dengan menjajakan firman Allah. Dengan
> kata lain, kebalikannya, seorang hamba Tuhan palsu adalah mereka yang
> memberitakan firman Allah dengan motivasi palsu, yaitu demi keuntungan diri
> sendiri. Sebaliknya, hamba Tuhan asli, seperti Paulus adalah seorang pemberita
> firman yang murni sesuai dengan maksud Allah dan di hadapan-Nya. Berarti,
> pemberita firman sejati adalah mereka yang sungguh-sungguh memberitakan firman
> Allah sesuai dengan maksud asali dari Allah dan mereka melakukannya dengan
> sungguh-sungguh di hadapan-Nya.
>
>  
>
> Dari renungan singkat ini, kita belajar bahwa ujian
> apakah seorang hamba Tuhan itu sejati atau palsu adalah ujian motivasi. Apakah
> si hamba Tuhan ini benar-benar melayani Tuhan atau pura-pura melayani Tuhan
> demi mencari keuntungan pribadi?
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
> II.      
> GERAKAN REFORMASI DAN PEMBERITAAN KEBENARAN FIRMAN
> TUHAN
>
> Pemberitaan kebenaran firman Tuhan sangat
> penting bagi Paulus. Paulus dengan berani mengutuk siapa pun yang memberitakan
> “injil” lain di luar Injil yang ia beritakan (Gal. 1:6-9). Ia juga
> memperingatkan Timotius, anak rohaninya untuk tetap memberitakan firman dalam
> segala situasi dan kondisi, mengingat bahaya penipuan di akhir zaman melalui
> para guru palsu yang akan menipu jemaat (2Tim. 4:2-4). Semangat Paulus inilah
> yang diteruskan oleh para bapa gereja, khususnya Augustinus. Namun, sayang,
> semangat mulia ini pelan-pelan dikikis zaman. Pemberitaan firman Tuhan mulai
> digeser dan diganti oleh tradisi gereja. Bukan hanya diganti oleh tradisi
> gereja, Kekristenan sudah mulai menjadi sekuler. Hal ini ditandai pada Abad
> Pertengahan, ketika dibuatnya Surat Pengampunan Dosa (Indulgensia) demi
> menyokong dana pembangunan untuk Gereja Basilea St. Petrus. Surat ini
> diperuntukkan bagi jemaat gereja pada waktu itu. Surat ini berfungsi sebagai
> tiket masuk Surga bagi mereka yang membelinya baik untuk dirinya maupun
anggota
> keluarganya. Gereja semakin menjauh dari Kebenaran firman Tuhan. Di tengah
> penyelewengan itu, seorang rahib ordo Augustinian, Dr. Martin Luther
(1483-1546)
> dipanggil Tuhan untuk mengadakan reformasi gereja. Pada tanggal 31 Oktober
> 1517, Dr. Luther menempelkan 95 dalilnya melawan Gereja Katolik Roma. Empat
> semboyannya yang terkenal sampai sekarang adalah: Sola Scriptura (hanya
Alkitab), Sola
> Gratia (hanya melalui anugerah), Sola
> Fide (hanya melalui iman), dan Soli
> Deo Gloria (kemuliaan hanya bagi Allah). Gerakan Reformasi ini mendapat
> tantangan yang sangat keras dari pihak Kepausan, bahkan Dr. Luther
> dikejar-kejar mau dibunuh mati oleh Paus. Suatu tragedi yang menyedihkan yang
> dilakukan oleh pemimpin gereja yang mengklaim sebagai penerus Petrus. Bukan
hanya
> dari Kepausan, Reformasi juga mendapat hambatan dari Reformasi Radikal
(Radical Reformation) yang mau
> mereformasi gereja dengan lebih ekstrim. Gerakan ini kemudian menghasilkan
> gerakan Anabaptis yang menolak baptisan anak.
>
>  
>
> Selain 4 semboyan di atas, Dr. Luther juga
> memiliki inti theologi, yaitu theologi salib. Artinya, pusat pemberitaan
firman
> yang ditekankan Luther adalah salib dan signifikansi pentingnya. Pertama,
tidak
> ada kemuliaan tanpa salib. Berarti salib mendahului kemuliaan akan datang.
Atau
> dengan kata lain, salib menjamin kemuliaan akan datang. Penderitaan sebesar
apa
> pun tidak menjadi masalah bagi umat-Nya, karena umat-Nya beriman akan
pemeliharaan
> Allah dan kemuliaan kelak bagi mereka yang tetap setia mengasihi-Nya.
>
>  
>
> Kedua, paradoks salib. Salib di mata manusia
> adalah suatu kehinaan, kebodohan, dan kelemahan, namun di mata Allah dan
> umat-Nya, salib adalah lambang kemuliaan, kebijaksanaan, dan kekuatan Allah.
> Prof. Mark Shaw, Th.D. di dalam bukunya Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah
> Gereja memaparkan, “Salib meninggikan Sang Raja ilahi yang telah bertindak
> bodoh agar dapat mengakhiri kebodohan dosa dan kematian.”[2]
> Ya, dunia menganggap Allah itu bodoh sekali dengan mengutus Anak-Nya untuk
> disalib, namun “kebodohan” Allah sebenarnya merupakan kebodohan manusia
yang
> TIDAK mengerti rencana agung Allah untuk mengakhiri kebodohan dosa dan
kematian
> itu. Jika Allah tidak menebus manusia melalui salib, dengan cara bagaimana
lagi
> dosa manusia diselesaikan? Ini yang tidak pernah dipikirkan manusia. Oleh
> karena itu, hanya umat pilihan-Nya sajalah yang bisa mengerti signifikansi
> penting dan keagungan salib.
>
>  
>
> Ketiga, mengenal Allah melalui salib. Salib
> bukan hanya sebuah paradoks dalam Kekristenan, namun juga sebagai sarana
> mengenal Allah. Tanpa salib, tak mungkin manusia mengenal Allah. Mengapa?
> Karena Kristus yang tersalib itu membukakan jalan bagi umat-Nya untuk mengenal
> Allah yang rela mati menebus dosa manusia. Kristus yang tersalib itu pula yang
> menyadarkan manusia akan kerusakan total manusia yang pasti mati jika tidak
> diselamatkan. Kembali, Dr. Mark Shaw memaparkan di dalam bukunya, “Mengenal
> Allah melalui kelemahan dan kebodohan salib akan menjadikan kita rendah hati,
> karena kelemahan, kebodohan, dan kehinaan kitalah yang sesungguhnya ditanggung
> oleh Allah ketika Ia naik ke atas kayu salib… Mengenal Allah melalui
salib-Nya
> berarti mengenal dosa kita beserta kasih penebusan-Nya.”[3]
> Biarlah ketika kita terus memandang salib, kita melihat betapa jorok, kotor,
> dan rusaknya kita di hadapan-Nya sambil menatap cahaya kemuliaan anugerah
Allah
> itu agar kita diselamatkan-Nya sesuai panggilan-Nya.
>
>  
>
> Dari sejarah singkat ini, kita belajar beberapa
> hal, yaitu
>
> A.       
> Tuhan Membangkitkan Hamba-Nya
> untuk Memberitakan Firman Tuhan
>
> Ketika Kekristenan
> tertidur karena arus zaman yang begitu mengenakkan dan menguntungkan, Tuhan
> TIDAK tinggal diam meninggalkan umat-Nya. Dr. Martin Luther dibangkitkan untuk
> membangkitkan dan menyadarkan zamannya. Semua ini dilakukan-Nya karena Ia
> mengasihi umat-Nya dan menginginkan umat-Nya terus hidup di dalam Dia dan
> firman-Nya. Bagaimana dengan kita? Tuhan sudah membangkitkan Luther di Abad
> Pertengahan yang sudah tertidur rohani dan menjadi sekuler, maka Tuhan yang
> sama akan terus membangkitkan kita dan hamba-hamba-Nya yang setia untuk
> memberitakan kebenaran firman Tuhan tanpa kompromi di tengah arus zaman
sekarang
> yang juga sama-sama tertidur dan menjadi atheis praktis. Bersediakah kita
> dipanggil-Nya menjadi hamba-Nya yang melayani-Nya di zaman kita? Kiranya Ia
> yang telah memanggil kita kepada Kristus dan untuk melayani-Nya, Ia jugalah
> yang akan memelihara panggilan kita dan memimpin kita terus-menerus untuk
> berada di jalan-Nya.
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
> B.       
> Tantangan/Kesulitan
> Dalam Memberitakan firman Tuhan
>
> Hal kedua yang bisa
> kita pelajari adalah panggilan Tuhan kepada hamba-Nya untuk memberitakan
firman
> Tuhan pasti mendapat banyak tantangan/kesulitan. Panggilan Tuhan TIDAK mungkin
> tanpa kesulitan. Mengapa? Karena: Pertama, Ia memanggil hamba-Nya melayani-Nya
> di tengah dunia yang rusak. Status hamba-Nya adalah status kudus (karena telah
> ditebus Kristus dan disucikan Roh Kudus), meskipun secara kondisi perlu
> terus-menerus dikuduskan oleh Roh Kudus; sedangkan status dunia berdosa adalah
> berdosa dan rusak total. Perbedaan tajam secara status ini mengakibatkan hamba
> Tuhan pasti menemui banyak kesulitan, misalnya godaan, dll. Kedua, Ia
memanggil
> hamba-Nya untuk menjadi garam dan terang bagi dunia. Menjadi garam dan terang
> dunia berarti kita memancarkan sinar kasih dan kemuliaan Kristus di tengah
> dunia. Dengan kata lain, kita dituntut BERBEDA dari konsep dunia. Atau lebih
> tajam, kita dituntut untuk berperang melawan dunia dengan segala konsepnya
yang
> diracuni iblis. Ketika kita dituntut untuk berperang, maka kita pasti harus
> melawan dunia. Dan ketika kita melawan dunia, maka dunia pasti memusuhi kita
> dan kita pasti dicap, “eksklusif”, “sombong”, “sok alim”, dll.
>
>  
>
> Meskipun hamba-Nya
> harus mengalami banyak tantangan, Tuhan tetap memelihara hamba-Nya. Ia pasti
> memberikan mahkota kemuliaan bagi hamba-Nya yang setia mengikut-Nya meskipun
> harus menanggung banyak kesulitan. Ia yang memanggil hamba-Nya, Ia jugalah
yang
> akan memelihara hamba-Nya sampai akhir. Inilah kekuatan dan penghiburan Allah
> bagi hamba-Nya. Bagaimana dengan kita? Sudah siapkah kita dipanggil untuk
> menjadi hamba-Nya mengikut dan melayani-Nya dengan sepenuh hati walaupun harus
> menanggung banyak kesulitan? Biarlah Tuhan menguatkan komitmen hati kita dalam
> melayani-Nya.
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
> III.    
> GERAKAN REFORMED: PENEGAKAN DAN PEMBERITAAN
> KEBENARAN FIRMAN TUHAN
>
> Gerakan Reformasi Luther mempengaruhi Philip
> Melanchton, Ulrich Zwingli, dan tentunya Dr. John Calvin. Di antara para
> reformator gereja, Dr. John Calvin yang paling berpengaruh dan dianggap
penerus
> Reformasi Luther. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengajar bahwa Luther dipakai
> Tuhan untuk merobohkan ajaran yang salah dan Calvin dipakai Tuhan untuk
> membangun ajaran yang benar. Mari kita mengenal sosok Calvin,
ajaran-ajarannya,
> dan signifikansinya bagi kita.
>
>  
>
> Dr. John Calvin (nama Latinnya: Jean Cauvin[4])
> lahir di Noyon, Prancis pada tanggal 10 Juli 1509 dari seorang ayah, Gérard
Cauvin dan ibu, Jeanne la
> France dari Cambrai. Karena ibunya meninggal di usia yang sangat muda (saat
itu
> Calvin masih berusia 5 tahun), maka ayah Calvinlah yang sangat dominan dalam
> awal kehidupan dan pendidikan Calvin. John Calvin adalah anak tengah dari
> sebuah keluarga dengan lima anak (tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan).
> Ayahnya adalah asisten administrasi di kompleks katedral dekat rumah.[5]
> Sumber Wikipedia menyebutkan kedua anak perempuan Gérard dan Jeanne telah
> meninggal pada waktu lahir, sehingga Gérard mengasuh tiga anak laki-lakinya:
Charles, Jean, dan Antoine.[6] Rev.
> David W. Hall, Ph.D. di dalam bukunya Warisan John Calvin: Pengaruhnya Di
Dunia
> Modern mengutip Prof. Theodore Beza, rekan dan penulis biografi Calvin yang
> pertama, menggambarkan sosok Calvin sebagai “orang yang berperawakan sedang,
> bermuka pucat, dan bermata tajam. Tatapannya yang hidup menyatakan bahwa ia
> memiliki otak yang luar biasa cerdas."[7]
>
>  
>
> Pada usia 12 tahun, Calvin sudah dipekerjakan
> oleh bishop setempat sebagai koster gereja (clerk).
> Calvin mendapat bantuan dari seorang keluarga yang berpengaruh, the
Montmors. Melalui bantuannya, Calvin dapat mengenyam
> pendidikan di Collège de la Marche di Paris, di mana dia diajar bahasa Latin
oleh
> salah satu guru Latin terbesar, Mathurin
> Cordier. Kemudian, dia
> meneruskan studinya di bidang philosophia arts di College
> de Montaigu di Paris.[8]
> Di tempat itu, Calvin belajar retorika, logika, dan seni (topik-topik umum
pada
> zaman itu) dan menerima pendidikan klasik. Asumsi-asumsi theologis utamanya
> mengikuti pandangan Augustinus mengenai natur manusia, dosa asal, dan
penolakan
> akan keselamatan karena perbuatan baik.
>
>  
>
> Karena ayahnya menginginkan anaknya untuk mendapatkan
> keuntungan lebih besar melalui karier sekular[9],
> maka pada tahun  1525 atau 1526, Gérard menarik anaknya dari Montaigu
> dan mendaftarkan anaknya di University of
> Orléans untuk
> belajar hukum. Setelah beberapa tahun masa studi yang tenang, Calvin
melanjutkan
> studi di University of
> Bourges pada tahun
> 1529 ketika ia mengetahui bahwa pengacara humanis Andreas Alciati ada di
sana. Calvin tinggal di Bourges selama 1.5 tahun (18
> bulan) dan selama dia tinggal di sana, dia mendapat banyak pengaruh khususnya
> di tempat tersebut, dia belajar bahasa Yunani sebagai komponen ilmiah yang
> penting dalam studi Perjanjian Baru.[10] Selama studi di tempat ini, Calvin
bertobat dan
> menerima iman Reformasi. Pada tahun 1532, dia telah menghasilkan karya
> pertamanya yaitu tafsiran atas karya Seneca, De Clementia yang menegaskan
gagasan radikal bahwa “Pangeran tidak
> berada di atas hukum, tetapi hukum berada di atas pangeran.”[11]
>
>  
>
> Pada Oktober 1533, Calvin
> kembali ke Paris. Pada waktu itu, University of Paris mengalami ketegangan
> antara humanis/reformator di Collège Royal (kemudian berubah menjadi
Collège de France) dan anggota staf pengajar
> senior yang konservatif. Salah satu reformator, Nicolas Cop adalah teman dekat
> Calvin. Cop dipilih pada musim gugur waktu itu sebagai rektor universitas dan
> pada tanggal 1 November 1533 pada upacara inagurasi/pelantikannya, Cop
> menyampaikan pidato yang berisikan perlunya reformasi dan pembaruan di dalam
> gereja. Hal ini menimbulkan reaksi yang keras dari staf pengajar dan mereka
> mencela pidato tersebut sebagai bidat. Cop dipaksa melarikan diri ke Basel.
Pada tahun berikutnya, Calvin juga pergi ke Basel
> untuk bersembunyi.
> Di Basel, mereka bertemu. Sebagian besar dari masa 1534-1535 didedikasikan
> untuk mencari suatu lingkungan di mana Reformasi akan diterima. Sejak tahun
> 1535, Calvin telah mengadakan hubungan dengan Jenewa. Setelah tahun 1536,
> Calvin tidak memandang dirinya warga Paris. Kemudian, dia berkelana di Jerman
> untuk menghindari perhatian public. Dalam waktu-waktu yang berbeda, Calvin
terpaksa
> menggunakan alias-alias, termasuk: Charles d’Espeville, Martianus Lucanius,
> Carolus Passelius, Alcuin, Depercan, dan Calpurnius. Dia sempat tinggal di
> Basel. Di Basel lah, Calvin memulai edisi pertama dari karyanya yang terkenal,
Institutio Christianae Religionis (Institutes of the Christian Religion) pada
Maret 1536 yang hanya
> terdiri dari 6 bab.[12]
>
>  
>
> Segera setelah penerbitan buku pertamanya, Calvin meninggalkan Basel dan
> pergi ke Ferrara di Italia di mana dia melayani sebagai sekretaris dari Ratu
Renée of
> France. Dia tidak tinggal
> lama di sana dan pada bulan Juni dia kembali ke Paris dengan saudaranya,
> Antoine yang sedang mengurus urusan ayahnya. Mengikuti Edict of Coucy yang
> memberikan waktu maksimal 6 bulan bagi kaum bidat untuk berdamai dengan iman
> Katolik, Calvin memutuskan bahwa tidak ada masa depan baginya di Prancis. Pada
> bulan Agustus, Calvin memulai perjalanannya ke Strasbourg, kota kerajaan yang
bebas dari Kekaisaran Roma (the Holy Roman Empire) dan tempat perlindungan bagi
para reformator. Karena
> manuver militer dari kekaisaran dan kekuatan militer Prancis, Calvin dipaksa
untuk
> memutar jalannya ke selatan dan ini membawanya ke Jenewa. Pada mulanya, Calvin
> hanya bermaksud tinggal di Jenewa satu malam, namun William Farel, rekan
> reformator dari Prancis yang tinggal di kota itu,  meminta Calvin untuk
melayani di Jenewa. Pada
> waktu itu, Calvin menolaknya. Sebagai reaksi atas tolakan Calvin, Farel
> langsung mengeluarkan kata-kata kutukan yang mengatakan bahwa Allah akan
> mengutuk Calvin jika Calvin tidak pergi ke Jenewa. Pada saat kata-kata Farel
> itu disampaikan, Calvin merasa seolah-olah Allah dari Sorga telah meletakkan
> tangan-Nya yang berkuasa ke atasnya untuk menangkapnya.[13]
>
>
>  
>
> Di Jenewa, Calvin melayani selama 2 tahun dan
> kemudian, ia diusir oleh pemerintah setempat yang pada waktu itu terdapat
> kombinasi kekuasaan dari beberapa keluarga bangsawan, sisa simpatisan Katolik,
> dan tekanan politik internal di Jenewa. Para pejabat di Jenewa tersebut tidak
> terlalu bersemangat tentang Reformasi, bahkan beberapa orang secara terbuka
> menentang usaha-usaha bersama Calvin dan Farel. Setelah perubahan
administrasi,
> Calvin dan banyak orang Jenewa menemukan diri mereka berselisih dengan
beberapa
> faksi (kelompok-kelompok kecil yang tidak akur) dan pemimpin di Jenewa. Karena
> terjadinya pertikaian yang luar biasa di antara orang-orang di kota Jenewa,
> maka Calvin menolak untuk memberikan Perjamuan Kudus kepada rakyat yang
> berseteru. Akibatnya, dua hari kemudian, pada tanggal 18 April 1538, Dewan
Kota
> mengasingkan keduanya dengan tuduhan pembangkangan terhadap pemerintah.
Kemudian,
> ia pindah ke Strasbourg. Pada tahun 1538-1541, ia melayani sebagai pendeta di
> gereja yang terdiri dari 400-500 orang pengungsi Protestan di Strasbourg. Di
> Strasbourg, Calvin mendapat bimbingan dan teladan dari para pendidik Reformasi
> yang terkemuka, seperti: Johann Sturm (1507-89) dan Martin Bucer. Ia menemani
> Bucer dalam misi-misi diplomatik, mengajar di Akademi Sturm yang baru saja
didirikan.
> Akademi ini nantinya menjadi model bagi Akademi Jenewa yang Calvin dirikan.
Pada
> tahun 1539, Calvin merevisi buku Institutesnya
> sehingga bukunya 3 kali lebih panjang dari edisi pertamanya.[14]
> Selama di Strasbourg, dua tindakan penting yang dilakukan Calvin. Pertama,
> menulis dan menerbitkan Commentary on Romans (tafsiran Surat Roma,
> tafsiran Alkitab pertamanya) pada bulan Maret 1540. Kedua, menikah dengan
> Idellette de Bure pada tahun 1940.[15]
>
>  
>
> Ketika segala sesuatu berjalan lancar, Martin
> Bucer tiba-tiba memanggil Calvin untuk mereformasi gereja di Jenewa, namun
> Calvin sempat menolak. Maka, Bucer persis melakukan seperti yang Farel
lakukan,
> yaitu mengingatkan akan kutukan Allah. Usaha memohon Calvin kembali ke Jenewa
> juga dilakukan oleh pejabat utama di Jenewa, Louis Dufour yang menyampaikan
> undangan yang ditandatangani bersama oleh tiga Dewan Jenewa yang terpilih.
> Bahkan Dufour pergi ke Strasbourg untuk membujuk Calvin yang dibuang. Sebagai
> tambahan, dewan berjanji akan membayar biaya-biaya perpindahan Calvin,
> penghargaan, gaji, dan sebuah rumah dekat Gereja St. Pierre. Akhirnya, Calvin
> menyanggupinya (tentu bukan karena alasan gaji dan iming-iming kedudukan
sosial
> lainnya"tambahan penulis) dan pada tanggal 13 September 1541, Calvin kembali
ke
> Jenewa. Pada tanggal 20 November 1541, Calvin membuat proposal untuk
> mereformasi Jenewa: Ordonnances ecclésiastiques (Ecclesiastical
> Ordinances).
> Di dalam proposal tersebut, Calvin mengklasifikasikan empat urutan pelayan di
> gereja: pendeta untuk berkhotbah dan menjalankan sakramen; doctor untuk
> mengajar orang-orang percaya di dalam iman; tua-tua untuk menetapkan atau
> memberikan disiplin gereja; dan diaken untuk mempedulikan orang yang miskin
dan
> membutuhkan. Pada tahun 1542, Calvin ditugaskan dalam sebuah komisi untuk
> merevisi Maklumat-maklumat Jenewa (Genevan
> Edicts). Sebagai hadiahnya, Philip Schaff, seperti dikutip oleh Rev. David
> W. Hall, Ph.D., mencatat bahwa Calvin dihadiahi satu tong anggur tua sebagai
> pembayaran untuk usaha-usahanya dalam merevisi undang-undang kota itu.[16]
> Pada tanggal 28 Juli 1542, anak laki-laki Calvin, Jacques, lahir, namun
> sayangnya hidup hanya 2 minggu. Pada 1542, Calvin
> juga mengadapsi buku kebaktian yang digunakan di Strasbourg dan dia
menerbitkan La Forme des Prières et Chants Ecclésiastiques (The Form of
Prayers and Church Hymns). Calvin mengakui kekuatan musik
> dan dia bermaksud bahwa musik ini digunakan untuk mendukung pembacaan
Alkitab.[17] Pada tahun 1543, Calvin merevisi kembali buku Institutes-nya dan
menambahkan satu bab
> mengenai Pengakuan Iman Rasuli (the Apostles' Creed).
>
>  
>
> Agar gagasan-gagasannya tersebar luas, maka Calvin menggunakan metode
> khotbah sebagai metode yang paling luas dalam menyampaikan gagasan-gagasannya
> kepada masyarakat pada masanya. Di dalam khotbahnya, Calvin menggunakan bahasa
> yang jelas dan kuat dalam menjangkau pikiran-pikiran orang-orang terkemuka
pada
> zamannya. Dan lagi yang lebih mengagetkan kita adalah khotbah-khotbah Calvin
> jauh dari kesan membosankan atau tidak menarik, melainkan menarik
> pendengar-pendengar yang tersebar luas dan konsisten. Bahkan Rev. Dr. David W.
> Hall mengutip surat Prof. Theodore Beza kepada William Farel yang menyebutkan
> bahwa ceramah-ceramah Calvin didengar oleh lebih dari 1000 orang " suatu
> prestasi yang tinggi untuk zamannya. Di dalam berkhotbah, ia menyukai gaya
> khotbah tanpa catatan (extempore).
> Untuk itulah, pada tahun 1549, terutama atas dorongan para pengungsi Prancis
di
> Jenewa, diangkatlah seorang sekretaris untuk mencatat khotbah-khotbah
Calvin.[18]
>
>  
>
> Selama masa tinggalnya yang terakhir di Jenewa, Calvin secara teratur
> mengkhotbahkan eksposisi-eksposisi dalam tiga ibadah Minggu. Pada tahun 1549,
> khotbah-khotbah itu begitu terkenal, sehingga khotbah-khotbah itu meningkat
> menjadi eksposisi-eksposisi sehari-hari. Rotasi Calvin mengizinkan dia
> berkhotbah dua kali pada hari Minggu dan setiap hari dalam minggu yang
> berselang-seling. Pada tahun itu jugalah, istrinya, Idellete de Bure
meninggal.
>
>  
>
> Pada tahun 1558, Calvin mendirikan Akademi Jenewa di mana Calvin dan
> Beza adalah pemimpin fakultas theologinya. Ibadah peresmiannya dilakukan pada
tanggal
> 5 Juni 1559 di mana 600 orang hadir di Katedral St. Pierre. Akademi yang
> berdekatan dengan Katedral St. Pierre tersebut memiliki dua level kurikulum:
satu
> untuk pendidikan umum bagi para pemuda Jenewa (kolese atau schola private) dan
sebuah seminari untuk mendidik para hamba Tuhan
> (schola publica). Pendidikan di
> Akademi ini menyiapkan banyak mahasiswa untuk pelayanan professional, termasuk
pekerjaan-pekerjaan
> dalam bidang hukum, kedokteran, politik, pendidikan, dan pelayanan.[19]
Melihat usaha Calvin
> mereformasi Jenewa, maka John Knox, seorang reformator, menyebut Jenewa
> sebagai, “sekolah Kristus yang paling sempurna yang pernah ada semenjak
zaman
> para rasul.”[20]
>
>  
>
> Pada tahun 1559, Calvin terakhir merevisi dan
> menyelesaikan edisi terakhir dari buku Institutes-nya,
> sehingga bukunya terdiri dari 4 buku yang terbagi menjadi 80 bab dan setiap
> buku diberi judul sesuai pernyataan kredo: Buku 1 diberi judul God
> the Creator (Allah, Pencipta), Buku 2 diberi judul the Redeemer in Christ
(Penebus di dalam Kristus), Buku 3 diberi
> judul receiving the Grace of Christ through the Holy Spirit (Menerima Anugerah
> Kristus melalui Roh Kudus), dan Buku 4 diberi judul the Society of Christ or
the church (Perkumpulan Kristus atau
> gereja).[21]
>
>  
>
> Dari sejarah Gerakan Reformed yang ditegakkan oleh Dr. John
> Calvin, kita belajar beberapa hal:
>
> A.       
> Gerakan Reformed:
> Menegakkan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Pertama, gerakan Reformed dari Dr. John Calvin dipanggil
> pertama-tama untuk menegakkan kebenaran firman Tuhan. Pdt. Dr. Stephen Tong
> pernah mengatakan bahwa Tuhan memakai Dr. Martin Luther untuk merobohkan
ajaran
> yang salah dan memakai Dr. John Calvin untuk membangun ajaran yang benar.
Berarti,
> Tuhan memakai Calvin untuk membangun ulang atau menegakkan Kekristenan yang
> bersumber pada Alkitab. Melalui bukunya Institutes
> of the Christian Religion yang menurut Calvin tidak boleh dipisahkan dari
> tafsiran-tafsiran Alkitab yang ditulisnya, Calvin menegakkan prinsip-prinsip
> iman Kristen yang berdasarkan Alkitab tentang: Allah, Pemeliharaan Allah,
> Pemilihan Allah, Anugerah, Kristus, Roh Kudus, Manusia, Gereja, dll. Penegakan
> kebenaran firman Tuhan ini memberikan dasar dan arah yang jelas bagi
> Kekristenan pada zamannya dan juga pada zaman sesudah Calvin. Ketika arus
> modernisme melanda dunia dan Kekristenan, bahkan meracuni beberapa seminari
> theologi Reformed, seperti Princeton Theological Seminary, maka para theolog
> Reformed yang setia kembali menegakkan kebenaran firman Tuhan dan mendirikan
> seminari theologi Reformed yang lebih setia. Pada saat itu, Dr. J. Gresham
> Machen, Dr. Robert D. Wilson, Dr. Oswald T. Allis; dkk keluar dari Princeton
> Theological Seminary yang sudah mulai liberal dan mendirikan Westminster
> Theological Seminary.[22] Abad modern sudah berganti dan menjadi
> abad postmodern dengan ide postmodernisme dan merasuk ke berbagai bidang
> kehidupan (postmodernitas). Ketiga istilah ini saya pinjam dari penjelasan
> pembedaan yang dikemukakan oleh Ev. Jimmy Setiawan pada acara Seminar Ibadah
di
> GKA Elyon Pregolan, Surabaya pada tanggal 22 Juni 2009. Di tengah abad yang
> tidak mengakui kebenaran universal/metanarasi, mementingkan pengalaman
> subyektif, dan toleran terhadap berbagai perbedaan, maka theologi Reformed
> kembali menegakkan kebenaran firman Tuhan bahwa ada Kebenaran obyektif dan
> universal yang harus ditaati oleh semua manusia. Perbedaan tidak menjadi
> masalah, asalkan dibangun di atas dasar Alkitab dan doktrin Kristen orthodoks.
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
> B.       
> Gerakan Reformed:
> Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Bukan hanya menegakkan Kebenaran Firman
> Tuhan, gerakan Reformed juga dipanggil untuk memberitakan Kebenaran Firman
> Tuhan. Berarti, gerakan Reformed dipanggil bukan untuk pasif menerima dan
> menegakkan doktrin yang benar, namun juga dipanggil aktif menyuarakan
kebenaran
> itu kepada semua orang. Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan ini saya bagi
> menjadi dua: memberitakan ajaran yang benar sesuai dengan Alkitab beserta
> aplikasinya di dalam kehidupan sehari-hari dan memberitakan Injil Kristus
> kepada mereka yang belum mendengar Injil. Apa yang Calvin lakukan pada
zamannya
> yaitu mereformasi Strasbourg dan khususnya Jenewa yang terkenal itu merupakan
> bentuk pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan kepada orang-orang di zamannya
> sebagai wujud pemberitaan ajaran yang benar sesuai Alkitab beserta aplikasinya
> di dalam kehidupan sehari-hari, yaitu di bidang politik, hukum, seni,
pendidikan,
> dll (mandat doktrin dan mandat budaya). Begitu juga yang dilakukan oleh para
> theolog Reformed di sepanjang zaman. Hal ini juga seharusnya menjadi perhatian
> dan panggilan kita sebagai anak-anak-Nya dan hamba-hamba-Nya penuh waktu untuk
> memberitakan ajaran yang benar sesuai dengan Alkitab. Di tengah arus
> pemberitaan ajaran yang tidak bertanggungjawab, maka kita perlu mendengarkan
> nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya, “Beritakanlah firman,
siap
> sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah
> dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim. 4:2)
>
>  
>
> Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan
> juga bisa berupa memberitakan Injil Kristus kepada mereka yang belum mendengar
> Injil. Tidak sering kita mengetahui misi penginjilan yang Calvin lakukan.
Namun
> Rev. Dr. David W. Hall mengemukakan bahwa Akademi Jenewa mengekspor lebih dari
> 100 misionaris ke Prancis, Brazil, Italia, Belanda, dan Inggris sebelum tahun
> 1562.[23] Inilah bukti Calvin tidak
> mengesampingkan mandat penginjilan.
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
> IV.    
> GERAKAN REFORMED DI ZAMAN SEKARANG DAN PANGGILAN
> UNTUK MENEGAKKAN DAN MEMBERITAKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN DENGAN BIJAKSANA
>
> Setelah kita membaca riwayat gerakan Reformasi
> dan Reformed di abad lalu, maka mari kita merefleksi realitas Gerakan
Reformasi
> dan Reformed di zaman sekarang dan apa yang harus kita lakukan untuk
menegakkan
> dan memberitakan Kebenaran Firman Tuhan.
>
>  
>
> A.       
> Realitas Gerakan
> Reformed Di Zaman Sekarang
>
> Jika gerakan Reformasi dan Reformed di zaman
> dahulu memiliki motivasi dan panggilan yang murni yaitu ingin menegakkan
> Kebenaran dan memberitakan Kebenaran Firman Tuhan tersebut, maka benarkah
> spirit yang sama ini menjiwai para penerusnya? Ternyata kita menjumpai adanya
> kejanggalan ekstrim di kubu Reformasi dan Reformed sendiri. Saya mengamati ada
> dua realitas ekstrim Gerakan Reformed di zaman sekarang:
>
> 1.            
> Terlalu
> Kompromi
>
> Realitas ekstrim gerakan Reformasi/Reformed di
> zaman sekarang yang pertama adalah terlalu kompromi. Artinya, gerakan Reformed
> tidak lagi setia menegakkan Kebenaran dan memberitakan Kebenaran, namun sudah
> menyeleweng, bahkan sampai menyeleweng terlalu jauh. Sebenarnya tindakan
kompromi
> ini bisa dilihat dari bibit liberalisme yang mulai meracuni kubu Princeton
> Theological Seminary, U.S.A. Prof. John M. Frame, D.D. di dalam bukunya
> Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya menjelaskan bahwa Dr.
> Cornelius Van Til telah mengajar di Princeton Seminary sejak tahun 1928-1929.
> Princeton Seminary menawarkan posisi di bidang apologetika kepada Dr. Van Til
> di akhir periode, namun Dr. Van Til menolak, karena Dr. Van Til tidak
berhasrat
> untuk ikut dalam reorganisasi Princeton Seminary yang dimandatkan dari General
> Assembly of the Presbyterian Church, U.S.A. Mengapa Dr. Van Til menolak? Dr.
> John M. Frame memberikan alasannya yang begitu mengerikan,
>
> “Reorganisasi ini
> bertujuan untuk menyingkirkan pendirian historis Calvinisme orthodoks yang
> dipegang seminari tersebut dan menjadikannya lebih representatif bagi “semua
> pandangan yang ditemukan di dalam gereja.” Pandangan-pandangan ini mencakup
> sekitar 1300 hamba Tuhan yang pada tahun 1924 menandatangani Auburn
Affirmation yang terkenal buruk
> itu, yang menyatakan bahwa doktrin-doktrin seperti pengilhaman Alkitab,
> kelahiran Kristus dari perawan, penebusan-Nya yang menggantikan, kebangkitan
> Kristus secara badan, dan kedatangan-Nya yang kedua kali dalam pengertian
> literal, merupakan “teori-teori” buatan manusia sendiri dan tidak
diwajibkan
> sebagai keyakinan bagi calon hamba Tuhan.”[24]
>
> Jika calon hamba Tuhan saja sudah tidak lagi
> mengakui dasar-dasar doktrin orthodoks, bagaimana hamba Tuhan tersebut
nantinya
> bisa mengajar jemaat di dalam khotbah? Jika demikian, apa yang para hamba
Tuhan
> khotbahkan di atas mimbar? Tidak heran, gejala kompromi di dalam kubu
Princeton
> Seminary ini telah merusak dan meracuni Kekristenan khususnya mayoritas gereja
> Kristen/Protestan arus utama di zaman sekarang. Jangan heran, di beberapa
(atau
> mungkin mayoritas?) gereja-gereja Protestan arus utama yang mengklaim diri
> beriman (lebih tepatnya: bertradisi) Reformasi/Reformed/Calvinis, kita
> mendapati khotbah-khotbah yang disampaikan pada waktu hari Natal dan Paskah
TIDAK
> lagi membicarakan Kristus, namun hal-hal yang kurang penting, misalnya bencana
> alam, aksi sosial, dll. Coba Anda baca surat kabar, misalnya Jawa Pos,
> khususnya renungan-renungan di hari Natal, Paskah, dll. Lalu, perhatikan,
siapa
> penulis renungan itu. Kalau si penulis dari kalangan Protestan arus utama,
> sudah bisa ditebak, apa yang mereka utarakan tidak lagi bersumber pada
Kristus,
> namun pada hal-hal sosial, dll. Tidak salah jika kita menyinggung hal-hal
> sosial, namun fokusnya bukan hal-hal tersebut. Yang lebih parah lagi, sudah
> bukan barang baru, jika di sebuah surat kabar, kita membaca tulisan seorang
> “pendeta” yang berasal dari gereja yang mengklaim bertradisi
Reformasi/Reformed
> yang meragukan kebangkitan Kristus. Lalu, si “pendeta” ditegur oleh sinode
> gereja di tempat dia melayani dan “terpaksa” sang “pendeta” mengakui
> kesalahannya. Inilah produk-produk gerakan Reformed yang mulai berkompromi.
>
>  
>
> Di sisi lain, gerakan Reformasi/Reformed
> diterpa oleh angin spiritualitas yang tanpa dasar, yaitu munculnya gerakan
> Pentakosta dan Karismatik. Gerakan yang dimulai oleh seorang yang bernama
Agnes
> Ozman tepat pada tanggal 1 Januari 1901 di Azusa Street yang mengutamakan
> pentingnya karunia-karunia Roh mulai merembes ke dalam gereja-gereja Protestan
> yang mengklaim bertradisi Reformed. Gerakan Karismatik tidak hanya dibatasi
> oleh  gerakan gelombang ketiga (third wave movement) yang mengajarkan
word-of-faith movement (gerakan
> kata-kata iman) dari Dr. C. Peter Wagner yang nantinya memengaruhi gerakan
Toronto Blessing yang terjadi di
> Toronto, Canada sekitar tahun 1994 (saat ini gejala Toronto Blessing sudah
reda), namun juga meluas sampai tidak bisa
> dibedakan jelas dengan gerakan Injili. Tidak heran, beberapa gereja Injili
yang
> lemah doktrinnya bisa dengan mudahnya menerima gerakan dan theologi
Karismatik.
> Sebuah fenomena yang cukup lama beredar, yaitu gerakan Doa Yabes dari Dr.
Bruce
> H. Wilkinson telah menarik banyak gereja termasuk salah satunya adalah sebuah
> gereja Injili Tionghoa di Surabaya yang mengklaim diri Presbyterian/Reformed.
> Gereja ini juga ikut-ikutan mendukung gerakan Doa Yabes tersebut. Doa Yabes
> mulai surut dan digantikan oleh gerakan The
> Purpose Driven, mulai dari The Purpose
> Driven Church, The Purpose Driven Life, dll. Gereja-gereja
> Reformasi/Reformed dengan mudahnya ikut arus. Seorang rekan pendeta mengatakan
> kepada saya bahwa ada seorang hamba Tuhan di sebuah gereja Protestan yang
> bertradisi Reformed rela menghabiskan uang demi mengadakan pembinaan bagi
> jemaatnya dengan memakai buku The Purpose
> Driven Life.
>
>  
>
> Itulah sekilas gambaran pudarnya semangat
> Reformasi/Reformed yang menegakkan Kebenaran Firman Tuhan dan memberitakannya.
> Namun, kita juga menghadapi realitas keekstriman model kedua dari gerakan
> Reformasi/Reformed di zaman sekarang.
>
>  
>
>  
>
> 2.          
> Terlalu
> Kaku
>
> Realitas keekstriman kedua dari gerakan
> Reformasi/Reformed zaman sekarang adalah terlalu kaku! Hal ini kebalikan dari
> realitas pertama. Jika di poin pertama, gerakan Reformed ada yang mulai
> berkompromi, maka di poin kedua ini, gerakan Reformed ada yang benar-benar
> ekstrim, yaitu terlalu kaku. Kekakuan ini dimulai dari sosok hamba Tuhannya.
> Hamba Tuhan ini kurang mengerti totalitas pengertian theologi Reformed, namun
> dengan beraninya berkoar-koar di atas mimbar, lalu menuding ajaran yang
berbeda
> sedikit dari theologi Reformed sebagai bidat. Saya pernah mendengar hamba
Tuhan
> ini berkhotbah di atas mimbar, lalu mengajar bahwa gereja yang tidak
> menjalankan baptisan anak itu sesat. Saya sampai terheran-heran mendengar
> pernyataan ini. Sebegitu beraninya si pendeta mengeluarkan pernyataan yang
> kurang bertanggungjawab ini? Saya menantang si pendeta yang mengaku Reformed,
> adakah ajaran Alkitab satu kali pun yang memutlakkan baptisan anak lalu
> mengutuk mereka yang tidak menjalankan baptisan anak itu bidat? Alkitab TIDAK
> pernah satu kali pun melarang baptisan anak dan juga TIDAK pernah satu kali
pun
> memutlakkan baptisan anak. Dengan kata lain, baptisan anak itu doktrin
sekunder
> yang tidak perlu diperdebatkan sampai dicap bidat.
>
>  
>
> Corak hamba Tuhan kaku yang saya sebutkan di
> atas ternyata memengaruhi banyak jemaatnya, khususnya para pemuda yang selalu
> mendengar khotbah dan pengajarannya. Saya sendiri menjumpai seorang pemudi
yang
> benar-benar sangat mengagumi si pendeta ini, lalu apa yang dikatakan si
pendeta
> ini ditelannya mentah-mentah sebagai “kebenaran”. Saya juga pernah bertemu
> dengan seorang pemudi di gereja yang sama yang saya dapati terlalu ekstrim.
> Pada waktu itu, saya baru selesai membaca buku When God Writes Your Love Story
dari Eric dan Leslie Ludy, kemudian
> saya sharing buku tersebut kepada
> salah seorang rekan pemuda di gereja tersebut dan betapa kagetnya saya, ketika
> dia bertanya kepada saya, “Apa buku itu Reformed?” Dieng… Saya langsung
kaget,
> ternyata didikan dari si hamba Tuhan kaku tersebut telah mengindoktrinasi
> pemudi ini, sehingga dalam alam pikiran si pemudi ini, di luar buku-buku
> Reformed, dia tidak mau membaca buku apa pun. Akibatnya, Reformed TIDAK lagi
> berpedoman Sola Scriptura (hanya
> Alkitab saja), tetapi mengarah kepada Sola
> Reformed, atau yang lebih parah lagi: Sola
> Pendeta X, seolah-olah jika pendeta X yang berkhotbah dan mengajar Alkitab,
> maka itu adalah kebenaran, padahal si pendeta X kadang-kadang pernah salah
> dalam mengajar Alkitab (meskipun kesalahan ini termasuk kesalahan paling
> sekunder). Reformed tidak lagi kritis dan menyukai kebenaran seperti pada
zaman
> Reformasi, Reformed Calvin, dan Puritan, namun beberapa Reformed secara tidak
> sadar telah kembali kepada semangat Katolik Roma yang mengaminkan semua
> perkataan Paus.
>
>  
>
> Reformed yang terlalu kaku mengakibatkan para
> penganut Reformed TIDAK lagi kritis dan bahayanya bisa mengakibatkan
> penganutnya menjadi: FANATIK. Tidak heran, beberapa orang Kristen dan hamba
> Tuhan non-Reformed mencap Reformed sebagai Fundamentalisme[25].
> Reformed SEBENARNYA memang TIDAK sama dengan Fundamentalisme, namun melihat
> beberapa (atau bahkan banyak) orang Reformed yang hanya menyetujui semua
> khotbah di mimbar tanpa benar-benar belajar dari banyak buku dan KRITIS
> mengakibatkan Reformed dicap Fundamentalisme! Nah, panggilan Reformed BUKAN
> untuk menjadi Reformed yang serba kompromi sini sana, namun juga BUKAN untuk
> kaku dan kolot lalu mencap theologi non-Reformed atau bahkan yang tidak
sejalan
> dengan pendeta Reformed tertentu sebagai bidat! Jika ada orang atau bahkan
> hamba Tuhan Reformed masih bersikap demikian, maafkan, saya mengatakan bahwa
> orang atau hamba Tuhan Reformed tersebut masih kekanak-kanakan (childish)!
Rev. Prof. Joseph Tong, Ph.D.
> di dalam Seminar di Universitas Pelita Harapan, Surabaya pernah mengatakan
> bahwa Kekristenan harus kritis, namun jangan terlalu kritis! Dr. Joseph
> Tong mengemukakan bahwa orang Kristen yang terlalu kritis itu persis
> seperti anak kecil yang tidak mau melihat orang lain berbeda darinya. Melihat
> orang lain berbeda sedikit darinya, anak kecil langsung marah dan menangis.
> Yang lebih celakanya, jika konsep ini diimpor di dalam dunia theologi.
> Akibatnya, theologi tidak menjadi theologi yang dewasa, namun theologi yang
> kekanak-kanakan! Biarlah orang Reformed bertobat dari kebiasaan buruk ini! Ada
> hal-hal prinsipil yang harus kita tegakkan dan beritakan, namun ada hal-hal
> sekunder yang tidak perlu kita pertahankan dengan kaku. Hal ini akan saya
bahas
> pada bagian C.
>
>  
>
>  
>
>  
>
>  
>
> B.       
> Penyebabnya
>
> Lalu, apa yang menyebabkan gerakan Reformed
> dewasa ini seekstrim di atas? Saya mengamati ada dua penyebab utama:
>
> 1.            
> Modernisme
> dan Postmodernisme
>
> Gerakan Reformed ada yang sampai ekstrim
> mengkompromikan semua doktrin penting dari theologi Reformed karena adanya
> faktor filsafat dunia di dalamnya. Saya menyoroti adanya pengaruh dua filsafat
> dunia tersebut, yaitu: modernisme dan postmodernisme. Modernisme adalah suatu
> filsafat yang menekankan pentingnya rasio dan pengetahuan manusia sebagai
dasar
> kebenaran. Segala sesuatu harus diuji berdasarkan rasio manusia. Modernisme
ini
> nantinya meracuni Kekristenan dengan munculnya “theologi” liberal yang
mempengaruhi
> metode kritik Alkitab. Metode Kritik Alkitab adalah cara yang dipakai oleh
para
> “theolog” liberal yang menekankan superioritas rasio dan penyelidikan
> ilmiah/historis di atas segalanya, bahkan termasuk di atas Alkitab. “Iman”
> mereka dibangun di atas rasio dan pengalaman empiris manusia berdosa. Tidak
> heran, kalau kita kembali melihat sejarah mengapa Dr. J. Gresham Machen, dkk
> keluar dari Princeton Theological Seminary dan mendirikan Westminster
> Theological Seminary yang lebih setia kepada Alkitab adalah karena Princeton
> Seminary sudah diracuni oleh “theologi” liberal.
>
>  
>
>  
>
> Zaman modern sudah berhenti dan diganti dengan
> zaman postmodern. Pdt. Dr. Stephen Tong mengajarkan bahwa setiap zaman
memiliki
> semangat zaman (Jerman: zeitgeist;
> Inggris: spirit of the age). Nah,
> zaman postmodern pun memiliki semangat zaman postmodern yang berbeda bahkan
> melawan semangat zaman modern. Jika modernisme menitikberatkan pada
> superioritas rasio, maka postmodernisme tampil melawan modernisme. Apa yang
> postmodernisme ajarkan? Saya meringkaskan dan menjabarkan ide-ide
> postmodernisme dari buku Prof. Stanley J. Grenz, Th.D., A Primer on
Postmodernism: Pengantar untuk Memahami Postmodernisme
> dan Peluang Penginjilan Atasnya[26]:
>
> a)        
> Makna
> tidak terdapat di dalam teks, tetapi di dalam para penafsir.
>
> Ide utama postmodernisme adalah ide
> dekonstruksi. Ide ini sebenarnya berkebalikan dari ide strukturalisme.
> Strukturalisme mengajarkan, “bahasa adalah sebuah produk sosial dan manusia
> mengembangkan tulisan-tulisan " teks " sebagai usaha menyusun struktur
makna
> yang dapat menolong memberikan makna dalam pengalaman mereka yang tidak
> bermakna.” Selain itu, strukturalisme juga mengajarkan bahwa semua
masyarakat
> dan kebudayaan memiliki sebuah struktur yang sama. Nah, postmodernisme dengan
> ide dekonstruksi mengajarkan bahwa makna TIDAK terletak pada teks, tetapi pada
> penafsir. Dengan kata lain, “makna sebuah teks bergantung kepada sudut
pandang
> setiap penafsir yang berbeda-beda, maka maknanya juga berbeda-beda dan
beraneka
> ragam.” Pikiran ini diperkuat oleh pemikiran Jacques Derrida yang mengajak
> manusia untuk melenyapkan: onto-teologi (usaha untuk mencari hakikat/esensi
> realitas) dan metafisika kehadiran (konsep mengenai adanya sesuatu yang
> transenden dalam realitas). Karena tidak ada sesuatu yang transenden, maka
> manusia lebih mudah menafsirkan segala sesuatu sesuai dengan pandangannya
> sendiri. Kita mengenal istilahnya: the
> death of the author (kematian si penulis). Tidak heran, akibatnya, di zaman
> postmodern, penafsiran (hermeneutika) menjadi tidak karuan dan kacau balau.
> Banyak orang seenaknya sendiri menafsirkan teks atau perkataan orang lain
> dengan sudut pandangnya sendiri, tanpa mau melihat makna asli dari teks atau
> perkataan orang lain tersebut. Di situlah sebenarnya masalah munculnya
misunderstanding di dalam sebuah
> komunikasi dan tafsiran.
>
>  
>
> b)        
> Pesimis
> akan pengetahuan
>
> Jika orang modern lebih optimis mengatakan
> bahwa pengetahuan itu baik, maka orang postmodern tidak lagi percaya akan hal
> itu. Dengan kata lain, orang postmodern pesimis bahwa pengetahuan itu baik.
> Mereka sendiri percaya bahwa dunia bukan lebih baik, tetapi lebih buruk. Oleh
> karena itu, jika ingin bertahan di dalamnya, maka manusia harus bekerja sama,
> bukan saling menaklukkan. Konsep postmodernisme ini sedikit mengandung
> kebenaran, yaitu mengajarkan bahwa dunia bukan semakin lebih baik, tetapi
makin
> buruk. Kekristenan yang Alkitabiah jauh lebih dahulu mengajar hal demikian.
> Namun, kelemahan konsep postmodernisme ini adalah kehilangan harapan dan arah
> tujuan hidup di dalam dunia yang makin buruk ini, sedangkan Kekristenan
> menyediakan jalan keluarnya yaitu melalui Tuhan Yesus Kristus: kematian,
> kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke Sorga.
>
>  
>
> c)        
> Penekanan
> pada keutuhan
>
> Jika orang modern HANYA mengandalkan fungsi
> rasio sebagai jalan menuju pengetahuan, maka orang postmodern mengajarkan
bahwa
> selain rasio, jalan menuju pengetahuan bisa berupa emosi dan intuisi. Tidak
> heran, kita sering mendengar istilah-istilah seperti: SQ, EQ, dll, selain IQ.
> Hal ini ada benarnya, yaitu menyadarkan kita bahwa pintar itu bukan hanya
> masalah otak saja, tetapi juga masalah emosi, spiritual, dll.
>
>  
>
> d)        
> Pengetahuan
> itu TIDAK obyektif
>
> Jika orang modern percaya bahwa pengetahuan
> itu obyektif, maka orang postmodern percaya bahwa pengetahuan itu TIDAK
> obyektif karena dunia ini bagi mereka: historis, relatif, tidak tetap, dan
> personal. Konsep ini memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah
> memang benar bahwa dunia kita ini relatif dan tidak tetap karena dunia kita
> adalah dunia berdosa. Oleh karena itu jangan terlalu berpaut pada dunia ini.
> Namun, sisi negatif konsep ini adalah ketidakpercayaan orang-orang postmodern
akan
> pengetahuan obyektif. Meskipun dunia kita ini historis dan tidak tetap, kita
> harus tetap percaya akan pengetahuan obyektif entah itu berasal dari Allah
> maupun manusia. Setiap kita pasti memiliki pengetahuan obyektif, misalnya:
> 1+1=2. Jika orang postmodern menyangkali pengetahuan obyektif, bagaimana
mereka
> menjawab pertanyaan 1+1? Lebih tajam lagi, jika orang postmodern menyangkali
> pengetahuan obyektif, maka saya yang adalah seorang Kristen TIDAK perlu
> memercayai orang-orang postmodern dan pandangannya, karena pandangannya itu
> hanya bersifat subyektif dan berlaku benar bagi mereka sendiri. Jika demikian,
untuk
> apa mereka mengajar orang bahwa pengetahuan itu tidak obyektif, jika mereka
> sendiri tidak mengakui adanya kebenaran/pengetahuan obyektif? Inilah
kekontradiksian
> konsep postmodernisme ini.
>
>  
>
> e)        
> Karya
> para ilmuwan terbatas pada sejarah dan budaya
>
> Jika orang modern yang dipengaruhi oleh Abad
> Pencerahan memercayai bahwa ada seorang pengamat yang otonom dan tidak
> dipengaruhi oleh apa dan siapa pun, maka orang postmodern menyangkal ide
> tersebut dan mengatakan bahwa hasil karya para ilmuwan bersifat terbatas oleh
> sejarah dan budaya, sehingga pengetahuan kita selalu bersifat tidak lengkap
(incomplete). Konsep postmodernisme ini
> ada benarnya. Sains/ilmu pengetahuan meskipun diberi nama ilmu pasti, tetapi
> tetap saja TIDAK pernah pasti, karena sains tetap adalah produk manusia
> berdosa. Oleh karena itu, setiap produk sains itu tidak pernah lengkap karena
> terbatas oleh sejarah dan budaya. Jika teori sains di zaman dahulu dibuktikan
> benar, maka teori sains di zaman sekarang membuktikan bahwa teori sains zaman
> dahulu itu salah. Begitu juga dengan peran budaya dalam membatasi sains. Pdt.
> Sutjipto Subeno, M.Div. pernah mengatakan bahwa ada penemuan yang mengatakan
> bahwa minum kopi itu berbahaya, namun penemuan berikutnya mengatakan hal yang
> sebaliknya yaitu minum kopi itu baik bagi kesehatan. Inilah keterbatasan
sains,
> selalu berubah-ubah. Oleh karena itu, jangan pernah menaruh iman Anda pada
> sains karena sains itu terbatas.
>
>  
>
> f)         
> Komunitas
> sebagai dasar pemahaman kebenaran.
>
> Terakhir, dunia postmodern ditandai dengan
> semangat komunitas. Bagi orang postmodern, komunitas adalah dasar pemahaman
> kebenaran. Apa yang kita anggap benar dan cara kita mengatakan kebenaran
> tersebut sangat bergantung pada komunitas kita. Atau kalau boleh, saya
meminjam
> istilah gaulnya: geng. Kita memiliki
> geng sendiri untuk melampiaskan apa yang kita percayai sebagai
“kebenaran.”
> Jika kita terus berjuang bagi geng kita, maka kita berpikiran sempit dan tidak
> bisa menjadi berkat bagi orang di luar geng kita. Kekristenan dipanggil BUKAN
> untuk membentuk geng sendiri dengan ciri khas yang berbeda total dari dunia
> lalu mengasingkan diri dari dunia, namun Kekristenan dipanggil untuk menjadi
> garam dan terang bagi dunia dengan prinsip-prinsip Kebenaran Allah. Dengan
kata
> lain, mengutip perkataan Ev. Ivan Kristiono, M.Div. di dalam Seminar:
> Panggilan, Waktu Luang, dan Gaya Hidup di Gereja Reformed Injili Indonesia
> (GRII) Ngagel, Surabaya, Kekristenan seharusnya GAUL!
>
>  
>
>  
>
> 2.            
> Traumatik
>
> Realitas ekstrim kedua dari gerakan Reformed
> di zaman sekarang yang terlalu kaku tersebut disebabkan oleh gejala traumatik.
> Saya menyebut hal ini sebagai traumatik, karena orang-orang ini benar-benar
> trauma dengan dunia berdosa dan filsafatnya, lalu orang-orang ini menyuruh
> orang lain untuk tidak membaca buku-buku dunia, sebaliknya orang-orang ini
> mengajarkan pengikutnya/orang lain untuk hanya mendengar tafsiran si pendeta
> tentang buku-buku dunia. Mengapa mereka bisa trauma? Karena diinspirasi dari
> Roma 12:1-2 yang mengajarkan bahwa ibadah Kristen mencakup pembaharuan akal
> budi. Maka rasio Kristen harus benar-benar diperbaharui sesuai kehendak-Nya
dan
> tidak menuruti konsep dunia. Konsep Roma 12:1-2 itu TIDAK salah, karena itu
> konsep dasar yang penting dan mutlak. Namun jika ada orang Kristen/Reformed
> yang mengEKSRIMkan Roma 12:1-2 lalu mengajar bahwa jangan melihat film ini
itu,
> jangan membaca buku X, dll, maka orang Kristen/Reformed lama-kelamaan akan
> menjadi orang Kristen fanatik yang percaya 100% pada perkataan si pendeta dan
> tafsirannya baik tafsiran akan Alkitab maupun tafsiran akan hal-hal duniawi
> (yang belum tentu 100% bisa dipertanggungjawabkan secara akademis)!
>
>  
>
> Bukan hanya menyangkut dunia, untuk urusan
> Kekristenan pun, orang-orang Reformed yang kaku ini juga melakukan hal yang
> sama. Apalagi kalau orang Reformed itu pendeta, bahkan gembala sidang, ia akan
> dengan ketat bahkan dapat dikatakan EKSTRIM mengindoktrinasi dan mengimun
> jemaatnya (eksplisit maupun implisit) agar tidak pergi ke gereja lain (bahkan
> ke gereja yang bertheologi Reformed namun tidak berplang/bernama Reformed).
Pergi
> ke gereja lain dianggap murtad, dll. Bahkan ada seorang pendeta Reformed yang
memblacklist sebuah sekolah theologi awam
> yang juga bertheologi Reformed dikarenakan pimpinan sekolah theologi awam itu
> mengundang pembicara dari golongan Orthodoks Syria yang dianggap oleh si
> pendeta sebagai bidat. Saya pribadi menyelidiki tokoh Orthodoks Syria ini
> ketika orang ini diundang di Universitas Kristen Petra, Surabaya dan saya
> menemukan bahwa tokoh Orthodoks Syria ini TIDAK SESAT secara doktrin dasar
> Kristen (meskipun saya tetap tidak setuju dengan beberapa konsepnya tentang
metode
> penginjilan kepada orang non-Kristen"ini bukan hal mutlak/esensial).
Bukankah
> gejala-gejala ini kalau diperhatikan mirip dengan idenya Katolik Roma dahulu?
Dahulu,
> Dr. Martin Luther dikejar-kejar oleh paus dan mau dibunuh mati karena
> mengadakan reformasi, nah, sekarang, hal serupa bakal terjadi, namun tidak
> secara langsung. Di dalam kubu Reformed, kalau ada orang yang mereformasi,
> nanti orang ini dicap pengacau, pemfitnah, dan orang yang tidak mengerti visi,
> dll. Mengapa beberapa (atau mungkin banyak?) Reformed yang melawan Katolik
> Roma, akhirnya terakhir mengadopsi pandangan Katolik Roma? Mengapa Reformed
> jadi kekanak-kanakan seperti ini? Ah, sungguh mengerikan jika Reformed seperti
> ini. Reformed tidak lagi berjuang menegakkan dan memberitakan Kebenaran sesuai
> misi dan visi John Calvin dan Puritan yang berdasarkan Alkitab, namun sudah
> menyeleweng jadi menegakkan dan memberitakan misi dan visi si gembala sidang
> yang dibalut dengan bungkus “Reformed” di dalamnya.
>
>  
>
>  
>
>  
>
> C.      
> Gerakan Reformed:
> Panggilan Untuk Menegakkan dan Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan Dengan
> Bijaksana
>
> Jika gerakan Reformed di zaman ini sudah
> bergerak ke arah ekstrim di atas, maka bagaimana kita bersikap sebagai orang
> Reformed yang bijaksana dalam menegakkan dan memberitakan Kebenaran Firman
> Tuhan bagi zaman kita?
>
> 1.            
> Menegakkan
> Kebenaran Firman Tuhan Dengan Bijaksana
>
> Orang Reformed dipanggil pertama-tama untuk
> menegakkan Kebenaran Firman Tuhan dengan bijaksana. Saya menggabungkan dua
> pernyataan, “menegakkan Kebenaran Firman Tuhan” dan “dengan
bijaksana.” Apa
> maksudnya? Maksudnya adalah kita harus menegakkan Kebenaran Firman Tuhan
karena
> kita adalah orang yang beriman kepada Kristus dengan sungguh-sungguh. Iman
> Kristen tanpa dibangun di atas dasar doktrin/pengajaran yang benar
> mengakibatkan iman Kristen itu akan luntur diterpa oleh arus zaman. Namun,
kita
> juga harus menegakkan Kebenaran Firman Tuhan DENGAN BIJAKSANA. Artinya, di
> dalam menegakkan Kebenaran Firman Tuhan, kita harus bijaksana menegakkannya
> sesuai dengan maksud asli Firman Tuhan, tanpa ditambah-tambahi. Pdt. Dr.
> Stephen Tong pernah mengajar satu prinsip bagus: apa yang mutlak jangan
> direlatifkan dan apa yang relatif jangan dimutlakkan! Kecenderungan beberapa
> Reformed yang terlalu kaku seperti yang telah saya kemukakan di atas adalah
> menambahi ajaran Alkitab dan bahkan memutlakkannya (bahkan mencap bidat bagi
> mereka yang tidak berkeyakinan Reformed atau tidak melakukan apa yang
dilakukan
> oleh Reformed), seperti doktrin baptisan anak. Alkitab TIDAK pernah satu kali
> pun melarang baptisan anak dan juga TIDAK pernah satu kali pun memutlakkan
> baptisan anak. Doktrin baptisan anak di dalam theologi Reformed didasarkan
pada
> theologi kovenan/perjanjian yang ditandai dengan sunat di dalam Perjanjian
Lama
> dan baptisan di dalam Perjanjian Baru. Dengan kata lain, doktrin ini dibangun
> di atas theologi sistematika, bukan di atas dasar penggalian Alkitab yang
> eksplisit dan teliti! Dengan demikian, baptisan anak BUKAN hal mutlak!
> Memutlakkan sesuatu yang TIDAK MUTLAK, bagi saya, adalah tindakan yang tidak
> bijaksana!
>
>  
>
>  
>
> 2.            
> Memberitakan
> Kebenaran Firman Tuhan Dengan Bijaksana
>
> a)        
> Definisi
> Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Kita bukan hanya dipanggil menegakkan
> Kebenaran Firman Tuhan, namun juga memberitakan Kebenaran Firman Tuhan
> tersebut. Saya mendefinisikan memberitakan Kebenaran Firman Tuhan itu sebagai
> tindakan menyatakan doktrin yang telah kita tegakkan kepada orang lain melalui
> perkataan dan perbuatan. Berarti, memberitakan Kebenaran adalah
reaksi/aplikasi
> dari tindakan menegakkan Kebenaran. Menegakkan Kebenaran tanpa mau
memberitakan
> Kebenaran adalah tindakan sia-sia dan konyol, karena Kebenaran itu meskipun
> ditegakkan tidak berdampak apa pun! Oleh karena itu, Reformed dipanggil juga
> untuk memberitakan Kebenaran Firman Tuhan.
>
>  
>
> b)        
> Isi
> Pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Lalu, apa yang kita beritakan?
>
> (1)       Ajaran Alkitab yang
> terintegrasi
>
> Isi berita yang kita sampaikan adalah tentunya
> ajaran Alkitab yang terintegrasi. Kita dipanggil untuk memberitakan Firman
> Tuhan secara utuh, bukan sebagian (parsial). Pemberitaan firman Tuhan secara
> utuh dilakukan dengan mengajar Alkitab ayat per ayat, pasal per pasal, beserta
> aplikasinya di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, khotbah
eksposisi
> lah yang tepat menunjukkan deskripsi di atas. Khotbah eksposisi adalah ciri
> khas Reformed dimulai dari Dr. John Calvin. Melalui khotbah eksposisi, jemaat
> dituntut untuk mengerti Alkitab secara menyeluruh. Khotbah eksposisi dilakukan
> dengan menafsirkan Alkitab secara eksegese
> (dari dalam ke luar). Dengan kata lain, khotbah eksposisi tidak bisa
dilepaskan
> dari eksegese. Namun, ada juga pendeta Reformed yang ikut-ikutan mempopulerkan
> khotbah eksposisi, tetapi menggunakan pendekatan filsafat. Meskipun ini hanya
> menyangkut metode berkhotbah, namun jelas metode seperti itu tidak konsisten
> dengan makna aslinya (yaitu EKSPOSISI; artinya: penjelasan/menjelaskan). Jika
> khotbah itu eksposisi, maka tugas si pengkhotbah adalah benar-benar menggali
> kedalaman ayat Alkitab secara eksegese, bukan dengan pendekatan filsafat
> apalagi pendekatan melankolis, heheheJ.
>
> Saya pribadi menemukan adanya perbedaan pendekatan khotbah eksposisi antara
> pendekatan Biblika/eksegese dengan pendekatan filsafat. Jika khotbah eksposisi
> didekati dengan metode filsafat, percayalah, khotbah eksposisi itu pasti
> membosankan, karena yang ditekankan selalu hal-hal yang sudah dikatakan si
> pengkhotbah beberapa waktu lalu. Atau dengan kata lain, repetisi/pengulangan
> pasti muncul di dalam khotbah eksposisi dengan pendekatan filsafat. Namun jika
> khotbah eksposisi dengan pendekatan eksegese yang teliti dan cermat mungkin
> mengakibatkan si jemaat pertama-tama bosan, namun jika jemaat itu adalah
jemaat
> yang rajin belajar Alkitab, maka jemaat itu akan menemukan kelimpahan firman
> Tuhan yang tidak habis untuk digali.
>
>  
>
> (2)       Ajaran primer/mutlak
> vs ajaran sekunder/relatif
>
> Kedua, kita perlu
> membedakan mana ajaran yang primer dan sekunder yang perlu kita beritakan.
Ajaran
> yang primer/mutlak harus kita beritakan dengan bertanggungjawab, tegas, dan
> jelas, tanpa kompromi. Misalnya, Allah Tritunggal, finalitas karya Kristus
> sebagai Juruselamat, kelahiran, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke
> Sorga, otoritas Alkitab, dll. Semua doktrin dasar ini harus kita beritakan
> dengan tegas dan tanpa kompromi. Namun, jika menyangkut doktrin/ajaran
> sekunder/relatif, kita tetap memberitakannya dengan jelas, namun tidak boleh
> terlalu tegas! Artinya, kita boleh memberitakan ajaran sekunder itu dengan
> jelas dengan penguraian ayat Alkitab, namun kita harus tetap menghormati
mereka
> yang pandangannya berbeda dari kita. Misalnya, sebagai seorang Reformed, kita
> memegang mayoritas doktrin akhir zaman: Amillenialisme (meskipun ada juga
orang
> Reformed yang memercayai Premillenialisme dan Postmillenialisme). Nah, kalau
> kita memegang doktrin Amillenialisme, maka kita tetap perlu menjelaskan
doktrin
> tersebut disertai ayat-ayat Alkitab, namun kita TIDAK perlu mencap bidat bagi
> mereka yang berkeyakinan Premillenialisme dan Postmillenialisme. Meskipun kita
> menemukan kelemahan-kelemahan pada ajaran Premillenialisme, Postmillenialisme,
> bahkan Dispensasionalisme, kita tetap harus menghormati pandangan mereka TANPA
mencap
> mereka sebagai bidat.
>
>  
>
> c)        
> Unsur-unsur
> Pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Lalu, apa saja unsur-unsur yang ada di dalam pemberitaan
> firman Tuhan tersebut?
>
> (1)       Didactive (mengajar)
>
> Pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan harus
> mengajar/didactive. Artinya, di dalam
> memberitakan Firman Tuhan, kita harus mengajar Firman Tuhan itu. Mari kita
> perhatikan nasihat Rasul Paulus kepada Timotius ini, “Beritakanlah firman,
siap
> sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah
> dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim. 4:2) Bagi
> Paulus, memberitakan Firman dibarengi dengan tindakan mengajar dan secara
> otomatis menegur. Mengapa? Karena di dalam pemberitaan firman, si
pemberita/pengkhotbah
> mendapat mandat dari Tuhan untuk mengajar jemaat akan Allah dan firman-Nya.
> Misalnya, ketika si pengkhotbah memberitakan murka Allah bagi dosa manusia,
> maka di saat yang sama, si pengkhotbah mengajar jemaatnya tentang murka Allah.
>
>  
>
> (2)       Applicative and affective
>
> Selain mengajar, di
> dalam pemberitaan Firman Tuhan juga harus ada unsur aplikatif dan afektif.
Saya
> pikir, beberapa Reformed kurang menekankan hal ini. Saya menjumpai ada pendeta
> Reformed yang berkhotbah selalu ujung-ujungnya filsafat, antitesis Kristen vs
> dunia, dll, namun sayang KURANG menekankan sisi aplikasi yang praktis dan
> afektif. Bagi si pendeta, khotbah yang terlalu menekankan aplikasi praktis
akan
> berbahaya bagi jemaat. Hal ini memang BENAR, tetapi hal ini TIDAK boleh
> diekstrimkan. Hal-hal praktis jika ditekankan terlalu berlebihan memang
> berbahaya, tetapi tidak berarti tidak perlu ada hal-hal praktisnya. Alkitab
> sendiri penuh dengan konsep-konsep yang jelas, namun juga penuh dengan
aplikasi
> praktisnya, khususnya dari Tuhan Yesus dan para rasul Kristus. Justru dari
> hal-hal praktis yang keluar sebagai reaksi/aplikasi dari doktrin/konsep
> tertentu memberikan teladan bagi si pendengar/penerima untuk mencontoh hal-hal
> praktis tersebut.
>
>  
>
> Selain itu,
> pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan juga mengandung unsur afektif. Berarti,
> pemberitaan Firman Tuhan menyentuh afeksi manusia. Pdt. Billy Kristanto, Ph.D.
> (Cand.) menjelaskan afeksi sebagai suatu “perasaan” yang berlangsung lama.
> Afeksi lebih berkaitan dengan urusan hati. Pdt. Joshua Lie, Ph.D. (Cand.) di
> dalam khotbahnya Jonathan Edwards and John Calvin: TRUE AFFECTIONS and
EMBODIED
> DOCTRINE memaparkan bahwa salah satu ciri khas khotbah Calvin adalah afektif,
> di mana Firman membawa hati manusia kepada Allah. Berarti, Firman menyentuh
> kedalaman hati manusia dan membawanya kepada Allah untuk terus-menerus
dimurnikan.
> Khotbah-khotbah seperti ini JARANG kita temui di dalam khotbah-khotbah para
> hamba Tuhan Reformed (khususnya di Indonesia). Mengapa? Karena yang sering
kita
> jumpai di dalam khotbah Reformed adalah khotbah-khotbah doktrinal yang sering
> melupakan aspek afeksi. Tidak heran, banyak orang Reformed menjadi sombong dan
> tidak mau dikoreksi kesalahannya. Atau mungkin sekali kita menemukan khotbah
> Reformed yang seolah-olah afektif, namun sayangnya, si pengkhotbah sendiri
(“Reformed”)
> TIDAK menjalankan apa yang dikhotbahkan bahkan si pengkhotbah (“Reformed”)
dengan
> berani mengatakan, “Siapa yang berani menegur saya?” Semua ini TIDAK
sesuai
> dengan spirit John Calvin. Kembali, khotbah-khotbah afektif ini (yang
mengikuti
> jejak Calvin) saya jumpai ada pada dua orang hamba Tuhan Reformed: Pdt. Yohan
> Candawasa, S.Th. dan Pdt. Billy Kristanto, Ph.D. (Cand.)
>
>  
>
> d)        
> Cara
> Pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Terakhir, jika kita
> sudah mengerti definisi, isi, dan unsur pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan,
> maka kita perlu mengerti caranya memberitakan kebenaran tersebut dengan benar:
>
> (1)       Tulus
>
> Cara pertama memberitakan Firman Tuhan adalah
> tulus. Tulus artinya tidak berpura-pura. Di dalam seluruh motivasi, cara, dan
> tujuan, si pemberita Firman harus benar-benar tulus, benar-benar ingin
> memberitakan Firman, bukan dengan maksud lain, misalnya ada perasaan khusus
> (menaksir) terhadap seseorang yang kita injili/beritakan Firman. Tulus juga
> harus secara cara kita menyampaikan Firman Tuhan tersebut. Ketika kita
> memberitakan Firman, benarkah cara kita tulus? Ataukah cara kita busuk dengan
> mendiskreditkan gereja/aliran lain demi menonjolkan superioritas aliran kita
> sendiri? Secara tujuan pun kita harus tulus. Apa yang kita mau capai melalui
> pemberitaan Firman Tuhan? Untuk kepentingan diri atau memuliakan Tuhan?
Biarlah
> kita mengintrospeksi diri kita masing-masing baik kita sebagai orang Kristen
> Reformed maupun hamba Tuhan Reformed.
>
>  
>
> (2)       Jujur
>
> Selain tulus, kita dituntut untuk jujur di
> dalam memberitakan Firman. Jujur berarti terus terang, tidak ada tedeng
> aling-aling. Biasakanlah diri kita memberitakan Firman dengan sejujur mungkin,
> tanpa menggunakan topeng tertentu untuk berkompromi dengan orang lain. Pdt.
> Thomy Job Matakupan, M.Div. mengaitkan kompromi dengan ketaatan. Jika taat
> adalah 100% kebenaran, maka kompromi adalah separuh kebenaran. Saya mengaitkan
> kompromi dengan kejujuran. Seorang yang jujur adalah seorang yang terus terang
> dan tentunya tidak berkompromi sedikit pun untuk hal-hal penting/mutlak.
Misalnya,
> ketika hendak mengeksposisi Alkitab dan pas pada waktu hari Minggu itu, nats
> Alkitab yang dikhotbahkan adalah berkaitan dengan predestinasi, maka si
> pengkhotbah Reformed harus jujur/terus terang mengungkapkan doktrin
> predestinasi dengan jelas. Bedanya dengan pengkhotbah yang tidak
> bertanggungjawab adalah pengkhotbah yang tidak bertanggungjawab tidak berani
> mengeksposisi Alkitab dan ketika menjumpai ayat-ayat Alkitab yang jelas
mengajarkan
> predestinasi, mereka akan melewatinya untuk “menghindari konflik” atau
> istilahnya: “mencari aman” agar tidak menyinggung golongan Kristen lain
yang
> tidak memercayai predestinasi. Itulah jiwa ekumenisme (oikumene) “Kristen”
yang
> sedang didengungkan di zaman postmodern ini dan itulah jiwa kompromi yang
> bertolak belakang dengan kejujuran yang telah saya paparkan di atas.
>
>  
>
> (3)       Kasih
>
> Terakhir, tulus dan jujur mengarahkan kita
> untuk memberitakan Firman dengan kasih. Kejujuran HARUS disertai dengan kasih.
Kita
> memang harus berterus terang di dalam memberitakan Firman, tetapi sampai di
> mana batas kita berterus terang? Apakah kita berterus terang sampai kita
> menyinggung orang lain? Jelas TIDAK! Kita perlu berterus terang sejauh itu
> dilandasi KASIH! Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. di dalam salah satu khotbahnya
> yang pernah saya dengar ketika mengeksposisi 1 Korintus 8:1-3 di Gereja
Kristus
> Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya pernah menyatakan bahwa orang
> Reformed terlalu banyak menekankan pengetahuan dan kurang menekankan kasih.
> Saya mengaminkan pernyataan ini. Sering kali orang Reformed ribut berdebat dan
> mengkritik ajaran yang salah, namun sayang tidak didasari oleh kasih, tetapi
> kebencian terselubung. Baginya, orang non-Reformed dianggap “musuh” yang
harus
> disikat bahkan dikalahkan. Model Reformed seperti ini, saya percaya, bukan
spiritnya John Calvin dan Puritan. Lalu,
> bagaimana sikap kita seharusnya? Kita harus mengasihi orang lain, namun kasih
> ini harus didasarkan pada Kebenaran Firman. Kepada orang yang berpandangan
> Arminian, Baptis, Methodis, Pentakosta, Karismatik, dan bahkan Katolik, kita
> harus mengasihi saudara seiman kita di dalam Kristus, meskipun berbeda
> pandangan. Wujud kasih kita itu ditandai BUKAN dengan mengkompromikan iman
kita,
> tetapi justru dengan memberitakan kebenaran Firman Tuhan agar mereka juga
boleh
> dicerahkan hati dan pikirannya seperti kita. Inilah yang saya terus jalankan.
> Ketika kita mau berbagi pandangan doktrin dengan orang-orang non-Reformed,
> pandanglah orang non-Reformed itu sebagai saudara seiman kita yang perlu
> dikasihi, bukan sebagai “musuh.”
>
>  
>
> Bagaimana dengan kita yang mengaku diri
> Reformed? Apakah kita masih memiliki kasih di dalam memberitakan Firman Tuhan?
> Ataukah kasih kita telah menjadi pudar karena kesombongan pengetahuan
doktrinal
> yang kita pelajari? Berhati-hatilah, jangan sampai iblis memakai pengetahuan
> yang kita miliki untuk menyombongkan diri!
>
>  
>
>  
>
> Setelah kita merenungkan gerakan Reformasi dan
> Reformed baik di zaman dahulu maupun di zaman sekarang, apa yang menjadi
> respons kita? Apakah kita mengikuti jejak Reformed di zaman dahulu yang setia
> kepada Kebenaran ataukah kita mengikuti jejak beberapa “Reformed” di zaman
> sekarang yang terlalu ekstrim: kompromi dan kaku? Biarlah Tuhan sendiri
> mencerahkan hati dan pikiran kita agar kita makin mencintai firman-Nya
> sungguh-sungguh lebih dari mencintai golongan/theologi apa pun. Amin. Soli Deo
> Gloria.
>
>  
>
> Ecclesia Reformata Semper Reformanda
>
> (gereja-gereja Reformed harus terus-menerus
> di-Reformed-kan)
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> [1] New
> International Version Spirit of the Reformation Study Bible (U.S.A.:
> Zondervan, 2003), hlm. 1870.
>
>
>
>
>
> [2] Mark Shaw, Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja, terj. The Boen
Giok
> (Surabaya: Momentum, 2003), hlm. 25
>
>
>
>
>
> [3] Ibid., hlm. 24.
>
>
>
>
>
> [4]
> http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [5] David W. Hall, Warisan John Calvin: Pengaruhnya Di Dunia Modern, terj.
Lanna Wahyuni
> (Surabaya: Momentum, 2009), hlm. 43-44.
>
>
>
>
>
> [6]
> http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [7] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 44.
>
>
>
>
>
> [8]
> http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [9] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 46.
>
>
>
>
>
> [10] http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [11] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 45.
>
>
>
>
>
> [12]
> http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [13] http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin dan David W. Hall, Warisan John
Calvin: …, hlm. 51.
>
>
>
>
>
> [14] http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [15] Mark Shaw, Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja, hlm. 51-52 dan
David
> W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm.
> ix, 53-54, 56.
>
>
>
>
>
> [16] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 61.
>
>
>
>
>
> [17] http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin dan David W. Hall, Warisan John
Calvin: …, hlm. ix, 54.
>
>
>
>
>
> [18] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 63.
>
>
>
>
>
> [19] Ibid., hlm. 4-5, 66.
>
>
>
>
>
> [20] Mark Shaw, Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja, hlm. 52.
>
>
>
>
>
> [21] http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [22] John M. Frame, Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya
(Surabaya:
> Momentum, 2002), hlm. 24-25.
>
>
>
>
>
> [23] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 66.
>
>
>
>
>
> [24] John M. Frame, Cornelius Van Til: …, hlm. 24-25.
>
>
>
>
>
> [25] Fundamentalisme sebagai sebuah gejala
> historis adalah suatu ekspresi Kekristenan secara unik pada abad ke-20 di
> Amerika sebagai reaksi terhadap serangan “theologi” liberal yang meracuni
> Kekristenan pada waktu itu dan juga ilmu pengetahuan (yaitu teori evolusi dari
> Charles Darwin). Keunikan Fundamentalisme ini adalah kesatuan Kekristenan dari
> berbagai aliran theologi, yaitu: Calvinis, Arminian, Baptis, dan Presbyterian
> dalam memerangi “theologi” liberal dengan menetapkan dasar-dasar iman
Kristen
> melalui satu seri buku yang terdiri dari 12 jilid yang berjudul The
Fundamentals pada tahun 1909.
> Dasar-dasar iman Kristen yang ditekankan tersebut di antaranya: inspirasi
> Alkitab dari Roh Kudus (dan ketidakbersalahan Alkitab), kelahiran Kristus dari
> anak dara Maria, kematian Kristus adalah penebusan bagi dosa, kebangkitan
> Kristus secara badani, realitas historis dari mukjizat-mukjizat Kristus. Prof.
> Harvie M. Conn, Litt.D. memaparkan kelemahan Fundamentalisme di antaranya:
> berakibat pada gerakan pietistik baru (dan menuntut perfeksionis), pengaruh
> Dispensasionalisme (ajaran Akhir Zaman yang mengajarkan adanya pengangkatan
> gereja secara rahasia sebelum masa kesusahan besar di akhir zaman dan Kerajaan
> 1000 Tahun itu sungguh-sungguh terjadi selama 1000 tahun setelah kedatangan
> Kristus kedua kalinya, di mana pada saat itu, iblis baru dikalahkan), dan
> kekurangtepatan menetapkan formulasi yang tepat bagi iman Kristen yang
> berdasarkan Alkitab. (Harvie M. Conn, Teologia
> Kontemporer, terj. Lynne Newell {Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara,
> 2008}, hlm. 178-180 dan http://en.wikipedia.org/wiki/Fundamentalism)
>
>
>
>
>
> [26] Stanley J. Grenz, A Primer on Postmodernism: Pengantar
> untuk Memahami Postmodernisme dan Peluang Penginjilan Atasnya, terj. Wilson
> Suwanto (Yogyakarta: ANDI, 2001), hlm. 14-17.
>
>
> "Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah
orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus,
adalah hamba-Nya."(1Kor. 7:22)
>
>
> Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.
Dapatkan IE8 di sini!
> http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
>





Tue Oct 27, 2009 7:02 pm

kusumorestu
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #9243 of 9372 |
Expand Messages Author Sort by Date

Renungan Reformasi 2009         REFORMASI: Dulu dan Sekarang (Signifikansi Gerakan Reformasi dan Reformed di Era Postmodern)   oleh: Denny Teguh Sutandio ...
Denny Teguh Sutandio
dennyteguhsu...
Offline Send Email
Oct 27, 2009
4:04 am

Den, Artikel dikau terpotong, bisa nggak dikirim lagi dalam 2 atau 3 bagian? Thanks kusumo...
kusumorestu
Offline Send Email
Oct 30, 2009
3:05 am
Advanced

Copyright 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help