Re: Renungan Reformasi 2009: REFORMASI: Dulu dan Sekarang (Denny T. S.)
Den,
Artikel dikau terpotong, bisa nggak dikirim lagi dalam 2 atau 3 bagian? Thanks
kusumo
--- In
METAMORPHE@yahoogroups.com, Denny Teguh Sutandio <dennyteguhsutandio@...>
wrote:
>
> Renungan
> Reformasi 2009
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> REFORMASI: Dulu
> dan Sekarang
>
> (Signifikansi
> Gerakan Reformasi dan Reformed di Era Postmodern)
>
>
>
> oleh:
> Denny Teguh Sutandio
>
>
>
>
>
>
>
> Nats: 2 Korintus 2:17; 2
> Timotius 4:2-4
>
>
>
>
>
>
>
> “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari
> keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara
> sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di
> hadapan-Nya.”
>
> (2Kor.
> 2:17)
>
>
>
>
>
>
>
> I.
> PENDAHULUAN
>
> Surat Paulus kepada
> jemaat di Korintus yang kedua ini ditulis kira-kira pada tahun 55 Masehi. Ia
> menulis surat ini dari Makedonia untuk mengungkapkan rasa syukurnya atas
> pertobatan dan ketaatan yang diperbarui dari jemaat Korintus (7:5-16). NIV
> Spirit of the Reformation Study Bible memberikan catatan bahwa surat 2
Korintus
> ini adalah surat yang dipenuhi oleh ekspresi emosi yang mendalam dari Paulus.
> Misalnya, penghiburan dan kekuatan Tuhan di tengah penderitaan dan masalah
> (1:1-7:16; lihat khususnya 1:3-7; 7:4, 7, 13) dan kekuatan Tuhan yang
> dinyatakan di dalam kelemahan manusia (10:1-13:14; lihat khususnya
12:9-10).[1]
>
>
>
> Seperti kebanyakan
> suratnya, Paulus memulai surat 2 Korintus ini dengan mengucap syukur (1:3-11).
> Kemudian, dilanjutkan perubahan rencana perjalanan Paulus di ayat 12-2:4.
> Perubahan rencana Paulus ini, yang unik, diawali dengan ayat 12, “Inilah
yang kami megahkan,
> yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di
> dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan
> dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih
> karunia Allah.”
> Di awal suratnya, ia menegaskan bahwa motivasi pelayanannya, khususnya untuk
> jemaat di Korintus dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah yang
> didapat dari kekuatan kasih karunia Allah. King James Version menerjemahkan
> “ketulusan dan kemurnian” sebagai simplicity and godly sincerity
(kesederhanaan dan ketulusan ilahi). New International Version (NIV)
> menerjemahkannya, the holiness and sincerity that are from God (kekudusan dan
> ketulusan yang dari Allah). Kata Yunani yang dipakai untuk kemurnian (NIV dan
> New American Standard Bible memakai kata kekudusan) adalah hagiotes
(kekudusan/kesucian). Teks Yunani yang lain ada yang
> menggunakan kata haplotes yang bisa
> berarti ketulusan/kemurnian (sincerity,
> simplicity, etc). Ayat 12 ini menjelaskan kepada kita tentang motivasi
> murni pelayanan Paulus, yaitu dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah (bdk.
Rm.
> 11:36). Ayat 12 ini menuntun kita untuk menyelidki lebih tajam motivasi
> pelayanan Paulus yaitu di pasal 2 ayat 17, “Sebab kami tidak sama dengan
banyak orang lain
> yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami
> berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah
> dan di hadapan-Nya.”
> Kemurnian motivasi pelayanan Paulus ditandai dengan keengganannya untuk
> memperdagangkan firman Allah. “Mencari keuntungan” di ayat ini di dalam
KJV
> diterjemahkan corrupt (merusak). NASB
> dan NIV menerjemahkannya peddling (menjajakan). Kata Yunani yang dipakai
adalah kapēleuō bisa berarti to
> be a retailer (menjadi pedagang) atau peddle
> (menjajakan/menjual barang dari suatu tempat ke tempat lain). Berarti, mencari
> keuntungan dari firman Allah identik dengan menjajakan firman Allah. Dengan
> kata lain, kebalikannya, seorang hamba Tuhan palsu adalah mereka yang
> memberitakan firman Allah dengan motivasi palsu, yaitu demi keuntungan diri
> sendiri. Sebaliknya, hamba Tuhan asli, seperti Paulus adalah seorang pemberita
> firman yang murni sesuai dengan maksud Allah dan di hadapan-Nya. Berarti,
> pemberita firman sejati adalah mereka yang sungguh-sungguh memberitakan firman
> Allah sesuai dengan maksud asali dari Allah dan mereka melakukannya dengan
> sungguh-sungguh di hadapan-Nya.
>
>
>
> Dari renungan singkat ini, kita belajar bahwa ujian
> apakah seorang hamba Tuhan itu sejati atau palsu adalah ujian motivasi. Apakah
> si hamba Tuhan ini benar-benar melayani Tuhan atau pura-pura melayani Tuhan
> demi mencari keuntungan pribadi?
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> II.
> GERAKAN REFORMASI DAN PEMBERITAAN KEBENARAN FIRMAN
> TUHAN
>
> Pemberitaan kebenaran firman Tuhan sangat
> penting bagi Paulus. Paulus dengan berani mengutuk siapa pun yang memberitakan
> “injil” lain di luar Injil yang ia beritakan (Gal. 1:6-9). Ia juga
> memperingatkan Timotius, anak rohaninya untuk tetap memberitakan firman dalam
> segala situasi dan kondisi, mengingat bahaya penipuan di akhir zaman melalui
> para guru palsu yang akan menipu jemaat (2Tim. 4:2-4). Semangat Paulus inilah
> yang diteruskan oleh para bapa gereja, khususnya Augustinus. Namun, sayang,
> semangat mulia ini pelan-pelan dikikis zaman. Pemberitaan firman Tuhan mulai
> digeser dan diganti oleh tradisi gereja. Bukan hanya diganti oleh tradisi
> gereja, Kekristenan sudah mulai menjadi sekuler. Hal ini ditandai pada Abad
> Pertengahan, ketika dibuatnya Surat Pengampunan Dosa (Indulgensia) demi
> menyokong dana pembangunan untuk Gereja Basilea St. Petrus. Surat ini
> diperuntukkan bagi jemaat gereja pada waktu itu. Surat ini berfungsi sebagai
> tiket masuk Surga bagi mereka yang membelinya baik untuk dirinya maupun
anggota
> keluarganya. Gereja semakin menjauh dari Kebenaran firman Tuhan. Di tengah
> penyelewengan itu, seorang rahib ordo Augustinian, Dr. Martin Luther
(1483-1546)
> dipanggil Tuhan untuk mengadakan reformasi gereja. Pada tanggal 31 Oktober
> 1517, Dr. Luther menempelkan 95 dalilnya melawan Gereja Katolik Roma. Empat
> semboyannya yang terkenal sampai sekarang adalah: Sola Scriptura (hanya
Alkitab), Sola
> Gratia (hanya melalui anugerah), Sola
> Fide (hanya melalui iman), dan Soli
> Deo Gloria (kemuliaan hanya bagi Allah). Gerakan Reformasi ini mendapat
> tantangan yang sangat keras dari pihak Kepausan, bahkan Dr. Luther
> dikejar-kejar mau dibunuh mati oleh Paus. Suatu tragedi yang menyedihkan yang
> dilakukan oleh pemimpin gereja yang mengklaim sebagai penerus Petrus. Bukan
hanya
> dari Kepausan, Reformasi juga mendapat hambatan dari Reformasi Radikal
(Radical Reformation) yang mau
> mereformasi gereja dengan lebih ekstrim. Gerakan ini kemudian menghasilkan
> gerakan Anabaptis yang menolak baptisan anak.
>
>
>
> Selain 4 semboyan di atas, Dr. Luther juga
> memiliki inti theologi, yaitu theologi salib. Artinya, pusat pemberitaan
firman
> yang ditekankan Luther adalah salib dan signifikansi pentingnya. Pertama,
tidak
> ada kemuliaan tanpa salib. Berarti salib mendahului kemuliaan akan datang.
Atau
> dengan kata lain, salib menjamin kemuliaan akan datang. Penderitaan sebesar
apa
> pun tidak menjadi masalah bagi umat-Nya, karena umat-Nya beriman akan
pemeliharaan
> Allah dan kemuliaan kelak bagi mereka yang tetap setia mengasihi-Nya.
>
>
>
> Kedua, paradoks salib. Salib di mata manusia
> adalah suatu kehinaan, kebodohan, dan kelemahan, namun di mata Allah dan
> umat-Nya, salib adalah lambang kemuliaan, kebijaksanaan, dan kekuatan Allah.
> Prof. Mark Shaw, Th.D. di dalam bukunya Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah
> Gereja memaparkan, “Salib meninggikan Sang Raja ilahi yang telah bertindak
> bodoh agar dapat mengakhiri kebodohan dosa dan kematian.”[2]
> Ya, dunia menganggap Allah itu bodoh sekali dengan mengutus Anak-Nya untuk
> disalib, namun “kebodohan” Allah sebenarnya merupakan kebodohan manusia
yang
> TIDAK mengerti rencana agung Allah untuk mengakhiri kebodohan dosa dan
kematian
> itu. Jika Allah tidak menebus manusia melalui salib, dengan cara bagaimana
lagi
> dosa manusia diselesaikan? Ini yang tidak pernah dipikirkan manusia. Oleh
> karena itu, hanya umat pilihan-Nya sajalah yang bisa mengerti signifikansi
> penting dan keagungan salib.
>
>
>
> Ketiga, mengenal Allah melalui salib. Salib
> bukan hanya sebuah paradoks dalam Kekristenan, namun juga sebagai sarana
> mengenal Allah. Tanpa salib, tak mungkin manusia mengenal Allah. Mengapa?
> Karena Kristus yang tersalib itu membukakan jalan bagi umat-Nya untuk mengenal
> Allah yang rela mati menebus dosa manusia. Kristus yang tersalib itu pula yang
> menyadarkan manusia akan kerusakan total manusia yang pasti mati jika tidak
> diselamatkan. Kembali, Dr. Mark Shaw memaparkan di dalam bukunya, “Mengenal
> Allah melalui kelemahan dan kebodohan salib akan menjadikan kita rendah hati,
> karena kelemahan, kebodohan, dan kehinaan kitalah yang sesungguhnya ditanggung
> oleh Allah ketika Ia naik ke atas kayu salib… Mengenal Allah melalui
salib-Nya
> berarti mengenal dosa kita beserta kasih penebusan-Nya.”[3]
> Biarlah ketika kita terus memandang salib, kita melihat betapa jorok, kotor,
> dan rusaknya kita di hadapan-Nya sambil menatap cahaya kemuliaan anugerah
Allah
> itu agar kita diselamatkan-Nya sesuai panggilan-Nya.
>
>
>
> Dari sejarah singkat ini, kita belajar beberapa
> hal, yaitu
>
> A.
> Tuhan Membangkitkan Hamba-Nya
> untuk Memberitakan Firman Tuhan
>
> Ketika Kekristenan
> tertidur karena arus zaman yang begitu mengenakkan dan menguntungkan, Tuhan
> TIDAK tinggal diam meninggalkan umat-Nya. Dr. Martin Luther dibangkitkan untuk
> membangkitkan dan menyadarkan zamannya. Semua ini dilakukan-Nya karena Ia
> mengasihi umat-Nya dan menginginkan umat-Nya terus hidup di dalam Dia dan
> firman-Nya. Bagaimana dengan kita? Tuhan sudah membangkitkan Luther di Abad
> Pertengahan yang sudah tertidur rohani dan menjadi sekuler, maka Tuhan yang
> sama akan terus membangkitkan kita dan hamba-hamba-Nya yang setia untuk
> memberitakan kebenaran firman Tuhan tanpa kompromi di tengah arus zaman
sekarang
> yang juga sama-sama tertidur dan menjadi atheis praktis. Bersediakah kita
> dipanggil-Nya menjadi hamba-Nya yang melayani-Nya di zaman kita? Kiranya Ia
> yang telah memanggil kita kepada Kristus dan untuk melayani-Nya, Ia jugalah
> yang akan memelihara panggilan kita dan memimpin kita terus-menerus untuk
> berada di jalan-Nya.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> B.
> Tantangan/Kesulitan
> Dalam Memberitakan firman Tuhan
>
> Hal kedua yang bisa
> kita pelajari adalah panggilan Tuhan kepada hamba-Nya untuk memberitakan
firman
> Tuhan pasti mendapat banyak tantangan/kesulitan. Panggilan Tuhan TIDAK mungkin
> tanpa kesulitan. Mengapa? Karena: Pertama, Ia memanggil hamba-Nya melayani-Nya
> di tengah dunia yang rusak. Status hamba-Nya adalah status kudus (karena telah
> ditebus Kristus dan disucikan Roh Kudus), meskipun secara kondisi perlu
> terus-menerus dikuduskan oleh Roh Kudus; sedangkan status dunia berdosa adalah
> berdosa dan rusak total. Perbedaan tajam secara status ini mengakibatkan hamba
> Tuhan pasti menemui banyak kesulitan, misalnya godaan, dll. Kedua, Ia
memanggil
> hamba-Nya untuk menjadi garam dan terang bagi dunia. Menjadi garam dan terang
> dunia berarti kita memancarkan sinar kasih dan kemuliaan Kristus di tengah
> dunia. Dengan kata lain, kita dituntut BERBEDA dari konsep dunia. Atau lebih
> tajam, kita dituntut untuk berperang melawan dunia dengan segala konsepnya
yang
> diracuni iblis. Ketika kita dituntut untuk berperang, maka kita pasti harus
> melawan dunia. Dan ketika kita melawan dunia, maka dunia pasti memusuhi kita
> dan kita pasti dicap, “eksklusif”, “sombong”, “sok alim”, dll.
>
>
>
> Meskipun hamba-Nya
> harus mengalami banyak tantangan, Tuhan tetap memelihara hamba-Nya. Ia pasti
> memberikan mahkota kemuliaan bagi hamba-Nya yang setia mengikut-Nya meskipun
> harus menanggung banyak kesulitan. Ia yang memanggil hamba-Nya, Ia jugalah
yang
> akan memelihara hamba-Nya sampai akhir. Inilah kekuatan dan penghiburan Allah
> bagi hamba-Nya. Bagaimana dengan kita? Sudah siapkah kita dipanggil untuk
> menjadi hamba-Nya mengikut dan melayani-Nya dengan sepenuh hati walaupun harus
> menanggung banyak kesulitan? Biarlah Tuhan menguatkan komitmen hati kita dalam
> melayani-Nya.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> III.
> GERAKAN REFORMED: PENEGAKAN DAN PEMBERITAAN
> KEBENARAN FIRMAN TUHAN
>
> Gerakan Reformasi Luther mempengaruhi Philip
> Melanchton, Ulrich Zwingli, dan tentunya Dr. John Calvin. Di antara para
> reformator gereja, Dr. John Calvin yang paling berpengaruh dan dianggap
penerus
> Reformasi Luther. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengajar bahwa Luther dipakai
> Tuhan untuk merobohkan ajaran yang salah dan Calvin dipakai Tuhan untuk
> membangun ajaran yang benar. Mari kita mengenal sosok Calvin,
ajaran-ajarannya,
> dan signifikansinya bagi kita.
>
>
>
> Dr. John Calvin (nama Latinnya: Jean Cauvin[4])
> lahir di Noyon, Prancis pada tanggal 10 Juli 1509 dari seorang ayah, Gérard
Cauvin dan ibu, Jeanne la
> France dari Cambrai. Karena ibunya meninggal di usia yang sangat muda (saat
itu
> Calvin masih berusia 5 tahun), maka ayah Calvinlah yang sangat dominan dalam
> awal kehidupan dan pendidikan Calvin. John Calvin adalah anak tengah dari
> sebuah keluarga dengan lima anak (tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan).
> Ayahnya adalah asisten administrasi di kompleks katedral dekat rumah.[5]
> Sumber Wikipedia menyebutkan kedua anak perempuan Gérard dan Jeanne telah
> meninggal pada waktu lahir, sehingga Gérard mengasuh tiga anak laki-lakinya:
Charles, Jean, dan Antoine.[6] Rev.
> David W. Hall, Ph.D. di dalam bukunya Warisan John Calvin: Pengaruhnya Di
Dunia
> Modern mengutip Prof. Theodore Beza, rekan dan penulis biografi Calvin yang
> pertama, menggambarkan sosok Calvin sebagai “orang yang berperawakan sedang,
> bermuka pucat, dan bermata tajam. Tatapannya yang hidup menyatakan bahwa ia
> memiliki otak yang luar biasa cerdas."[7]
>
>
>
> Pada usia 12 tahun, Calvin sudah dipekerjakan
> oleh bishop setempat sebagai koster gereja (clerk).
> Calvin mendapat bantuan dari seorang keluarga yang berpengaruh, the
Montmors. Melalui bantuannya, Calvin dapat mengenyam
> pendidikan di Collège de la Marche di Paris, di mana dia diajar bahasa Latin
oleh
> salah satu guru Latin terbesar, Mathurin
> Cordier. Kemudian, dia
> meneruskan studinya di bidang philosophia arts di College
> de Montaigu di Paris.[8]
> Di tempat itu, Calvin belajar retorika, logika, dan seni (topik-topik umum
pada
> zaman itu) dan menerima pendidikan klasik. Asumsi-asumsi theologis utamanya
> mengikuti pandangan Augustinus mengenai natur manusia, dosa asal, dan
penolakan
> akan keselamatan karena perbuatan baik.
>
>
>
> Karena ayahnya menginginkan anaknya untuk mendapatkan
> keuntungan lebih besar melalui karier sekular[9],
> maka pada tahun 1525 atau 1526, Gérard menarik anaknya dari Montaigu
> dan mendaftarkan anaknya di University of
> Orléans untuk
> belajar hukum. Setelah beberapa tahun masa studi yang tenang, Calvin
melanjutkan
> studi di University of
> Bourges pada tahun
> 1529 ketika ia mengetahui bahwa pengacara humanis Andreas Alciati ada di
sana. Calvin tinggal di Bourges selama 1.5 tahun (18
> bulan) dan selama dia tinggal di sana, dia mendapat banyak pengaruh khususnya
> di tempat tersebut, dia belajar bahasa Yunani sebagai komponen ilmiah yang
> penting dalam studi Perjanjian Baru.[10] Selama studi di tempat ini, Calvin
bertobat dan
> menerima iman Reformasi. Pada tahun 1532, dia telah menghasilkan karya
> pertamanya yaitu tafsiran atas karya Seneca, De Clementia yang menegaskan
gagasan radikal bahwa “Pangeran tidak
> berada di atas hukum, tetapi hukum berada di atas pangeran.”[11]
>
>
>
> Pada Oktober 1533, Calvin
> kembali ke Paris. Pada waktu itu, University of Paris mengalami ketegangan
> antara humanis/reformator di Collège Royal (kemudian berubah menjadi
Collège de France) dan anggota staf pengajar
> senior yang konservatif. Salah satu reformator, Nicolas Cop adalah teman dekat
> Calvin. Cop dipilih pada musim gugur waktu itu sebagai rektor universitas dan
> pada tanggal 1 November 1533 pada upacara inagurasi/pelantikannya, Cop
> menyampaikan pidato yang berisikan perlunya reformasi dan pembaruan di dalam
> gereja. Hal ini menimbulkan reaksi yang keras dari staf pengajar dan mereka
> mencela pidato tersebut sebagai bidat. Cop dipaksa melarikan diri ke Basel.
Pada tahun berikutnya, Calvin juga pergi ke Basel
> untuk bersembunyi.
> Di Basel, mereka bertemu. Sebagian besar dari masa 1534-1535 didedikasikan
> untuk mencari suatu lingkungan di mana Reformasi akan diterima. Sejak tahun
> 1535, Calvin telah mengadakan hubungan dengan Jenewa. Setelah tahun 1536,
> Calvin tidak memandang dirinya warga Paris. Kemudian, dia berkelana di Jerman
> untuk menghindari perhatian public. Dalam waktu-waktu yang berbeda, Calvin
terpaksa
> menggunakan alias-alias, termasuk: Charles d’Espeville, Martianus Lucanius,
> Carolus Passelius, Alcuin, Depercan, dan Calpurnius. Dia sempat tinggal di
> Basel. Di Basel lah, Calvin memulai edisi pertama dari karyanya yang terkenal,
Institutio Christianae Religionis (Institutes of the Christian Religion) pada
Maret 1536 yang hanya
> terdiri dari 6 bab.[12]
>
>
>
> Segera setelah penerbitan buku pertamanya, Calvin meninggalkan Basel dan
> pergi ke Ferrara di Italia di mana dia melayani sebagai sekretaris dari Ratu
Renée of
> France. Dia tidak tinggal
> lama di sana dan pada bulan Juni dia kembali ke Paris dengan saudaranya,
> Antoine yang sedang mengurus urusan ayahnya. Mengikuti Edict of Coucy yang
> memberikan waktu maksimal 6 bulan bagi kaum bidat untuk berdamai dengan iman
> Katolik, Calvin memutuskan bahwa tidak ada masa depan baginya di Prancis. Pada
> bulan Agustus, Calvin memulai perjalanannya ke Strasbourg, kota kerajaan yang
bebas dari Kekaisaran Roma (the Holy Roman Empire) dan tempat perlindungan bagi
para reformator. Karena
> manuver militer dari kekaisaran dan kekuatan militer Prancis, Calvin dipaksa
untuk
> memutar jalannya ke selatan dan ini membawanya ke Jenewa. Pada mulanya, Calvin
> hanya bermaksud tinggal di Jenewa satu malam, namun William Farel, rekan
> reformator dari Prancis yang tinggal di kota itu, meminta Calvin untuk
melayani di Jenewa. Pada
> waktu itu, Calvin menolaknya. Sebagai reaksi atas tolakan Calvin, Farel
> langsung mengeluarkan kata-kata kutukan yang mengatakan bahwa Allah akan
> mengutuk Calvin jika Calvin tidak pergi ke Jenewa. Pada saat kata-kata Farel
> itu disampaikan, Calvin merasa seolah-olah Allah dari Sorga telah meletakkan
> tangan-Nya yang berkuasa ke atasnya untuk menangkapnya.[13]
>
>
>
>
> Di Jenewa, Calvin melayani selama 2 tahun dan
> kemudian, ia diusir oleh pemerintah setempat yang pada waktu itu terdapat
> kombinasi kekuasaan dari beberapa keluarga bangsawan, sisa simpatisan Katolik,
> dan tekanan politik internal di Jenewa. Para pejabat di Jenewa tersebut tidak
> terlalu bersemangat tentang Reformasi, bahkan beberapa orang secara terbuka
> menentang usaha-usaha bersama Calvin dan Farel. Setelah perubahan
administrasi,
> Calvin dan banyak orang Jenewa menemukan diri mereka berselisih dengan
beberapa
> faksi (kelompok-kelompok kecil yang tidak akur) dan pemimpin di Jenewa. Karena
> terjadinya pertikaian yang luar biasa di antara orang-orang di kota Jenewa,
> maka Calvin menolak untuk memberikan Perjamuan Kudus kepada rakyat yang
> berseteru. Akibatnya, dua hari kemudian, pada tanggal 18 April 1538, Dewan
Kota
> mengasingkan keduanya dengan tuduhan pembangkangan terhadap pemerintah.
Kemudian,
> ia pindah ke Strasbourg. Pada tahun 1538-1541, ia melayani sebagai pendeta di
> gereja yang terdiri dari 400-500 orang pengungsi Protestan di Strasbourg. Di
> Strasbourg, Calvin mendapat bimbingan dan teladan dari para pendidik Reformasi
> yang terkemuka, seperti: Johann Sturm (1507-89) dan Martin Bucer. Ia menemani
> Bucer dalam misi-misi diplomatik, mengajar di Akademi Sturm yang baru saja
didirikan.
> Akademi ini nantinya menjadi model bagi Akademi Jenewa yang Calvin dirikan.
Pada
> tahun 1539, Calvin merevisi buku Institutesnya
> sehingga bukunya 3 kali lebih panjang dari edisi pertamanya.[14]
> Selama di Strasbourg, dua tindakan penting yang dilakukan Calvin. Pertama,
> menulis dan menerbitkan Commentary on Romans (tafsiran Surat Roma,
> tafsiran Alkitab pertamanya) pada bulan Maret 1540. Kedua, menikah dengan
> Idellette de Bure pada tahun 1940.[15]
>
>
>
> Ketika segala sesuatu berjalan lancar, Martin
> Bucer tiba-tiba memanggil Calvin untuk mereformasi gereja di Jenewa, namun
> Calvin sempat menolak. Maka, Bucer persis melakukan seperti yang Farel
lakukan,
> yaitu mengingatkan akan kutukan Allah. Usaha memohon Calvin kembali ke Jenewa
> juga dilakukan oleh pejabat utama di Jenewa, Louis Dufour yang menyampaikan
> undangan yang ditandatangani bersama oleh tiga Dewan Jenewa yang terpilih.
> Bahkan Dufour pergi ke Strasbourg untuk membujuk Calvin yang dibuang. Sebagai
> tambahan, dewan berjanji akan membayar biaya-biaya perpindahan Calvin,
> penghargaan, gaji, dan sebuah rumah dekat Gereja St. Pierre. Akhirnya, Calvin
> menyanggupinya (tentu bukan karena alasan gaji dan iming-iming kedudukan
sosial
> lainnya"tambahan penulis) dan pada tanggal 13 September 1541, Calvin kembali
ke
> Jenewa. Pada tanggal 20 November 1541, Calvin membuat proposal untuk
> mereformasi Jenewa: Ordonnances ecclésiastiques (Ecclesiastical
> Ordinances).
> Di dalam proposal tersebut, Calvin mengklasifikasikan empat urutan pelayan di
> gereja: pendeta untuk berkhotbah dan menjalankan sakramen; doctor untuk
> mengajar orang-orang percaya di dalam iman; tua-tua untuk menetapkan atau
> memberikan disiplin gereja; dan diaken untuk mempedulikan orang yang miskin
dan
> membutuhkan. Pada tahun 1542, Calvin ditugaskan dalam sebuah komisi untuk
> merevisi Maklumat-maklumat Jenewa (Genevan
> Edicts). Sebagai hadiahnya, Philip Schaff, seperti dikutip oleh Rev. David
> W. Hall, Ph.D., mencatat bahwa Calvin dihadiahi satu tong anggur tua sebagai
> pembayaran untuk usaha-usahanya dalam merevisi undang-undang kota itu.[16]
> Pada tanggal 28 Juli 1542, anak laki-laki Calvin, Jacques, lahir, namun
> sayangnya hidup hanya 2 minggu. Pada 1542, Calvin
> juga mengadapsi buku kebaktian yang digunakan di Strasbourg dan dia
menerbitkan La Forme des Prières et Chants Ecclésiastiques (The Form of
Prayers and Church Hymns). Calvin mengakui kekuatan musik
> dan dia bermaksud bahwa musik ini digunakan untuk mendukung pembacaan
Alkitab.[17] Pada tahun 1543, Calvin merevisi kembali buku Institutes-nya dan
menambahkan satu bab
> mengenai Pengakuan Iman Rasuli (the Apostles' Creed).
>
>
>
> Agar gagasan-gagasannya tersebar luas, maka Calvin menggunakan metode
> khotbah sebagai metode yang paling luas dalam menyampaikan gagasan-gagasannya
> kepada masyarakat pada masanya. Di dalam khotbahnya, Calvin menggunakan bahasa
> yang jelas dan kuat dalam menjangkau pikiran-pikiran orang-orang terkemuka
pada
> zamannya. Dan lagi yang lebih mengagetkan kita adalah khotbah-khotbah Calvin
> jauh dari kesan membosankan atau tidak menarik, melainkan menarik
> pendengar-pendengar yang tersebar luas dan konsisten. Bahkan Rev. Dr. David W.
> Hall mengutip surat Prof. Theodore Beza kepada William Farel yang menyebutkan
> bahwa ceramah-ceramah Calvin didengar oleh lebih dari 1000 orang " suatu
> prestasi yang tinggi untuk zamannya. Di dalam berkhotbah, ia menyukai gaya
> khotbah tanpa catatan (extempore).
> Untuk itulah, pada tahun 1549, terutama atas dorongan para pengungsi Prancis
di
> Jenewa, diangkatlah seorang sekretaris untuk mencatat khotbah-khotbah
Calvin.[18]
>
>
>
> Selama masa tinggalnya yang terakhir di Jenewa, Calvin secara teratur
> mengkhotbahkan eksposisi-eksposisi dalam tiga ibadah Minggu. Pada tahun 1549,
> khotbah-khotbah itu begitu terkenal, sehingga khotbah-khotbah itu meningkat
> menjadi eksposisi-eksposisi sehari-hari. Rotasi Calvin mengizinkan dia
> berkhotbah dua kali pada hari Minggu dan setiap hari dalam minggu yang
> berselang-seling. Pada tahun itu jugalah, istrinya, Idellete de Bure
meninggal.
>
>
>
> Pada tahun 1558, Calvin mendirikan Akademi Jenewa di mana Calvin dan
> Beza adalah pemimpin fakultas theologinya. Ibadah peresmiannya dilakukan pada
tanggal
> 5 Juni 1559 di mana 600 orang hadir di Katedral St. Pierre. Akademi yang
> berdekatan dengan Katedral St. Pierre tersebut memiliki dua level kurikulum:
satu
> untuk pendidikan umum bagi para pemuda Jenewa (kolese atau schola private) dan
sebuah seminari untuk mendidik para hamba Tuhan
> (schola publica). Pendidikan di
> Akademi ini menyiapkan banyak mahasiswa untuk pelayanan professional, termasuk
pekerjaan-pekerjaan
> dalam bidang hukum, kedokteran, politik, pendidikan, dan pelayanan.[19]
Melihat usaha Calvin
> mereformasi Jenewa, maka John Knox, seorang reformator, menyebut Jenewa
> sebagai, “sekolah Kristus yang paling sempurna yang pernah ada semenjak
zaman
> para rasul.”[20]
>
>
>
> Pada tahun 1559, Calvin terakhir merevisi dan
> menyelesaikan edisi terakhir dari buku Institutes-nya,
> sehingga bukunya terdiri dari 4 buku yang terbagi menjadi 80 bab dan setiap
> buku diberi judul sesuai pernyataan kredo: Buku 1 diberi judul God
> the Creator (Allah, Pencipta), Buku 2 diberi judul the Redeemer in Christ
(Penebus di dalam Kristus), Buku 3 diberi
> judul receiving the Grace of Christ through the Holy Spirit (Menerima Anugerah
> Kristus melalui Roh Kudus), dan Buku 4 diberi judul the Society of Christ or
the church (Perkumpulan Kristus atau
> gereja).[21]
>
>
>
> Dari sejarah Gerakan Reformed yang ditegakkan oleh Dr. John
> Calvin, kita belajar beberapa hal:
>
> A.
> Gerakan Reformed:
> Menegakkan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Pertama, gerakan Reformed dari Dr. John Calvin dipanggil
> pertama-tama untuk menegakkan kebenaran firman Tuhan. Pdt. Dr. Stephen Tong
> pernah mengatakan bahwa Tuhan memakai Dr. Martin Luther untuk merobohkan
ajaran
> yang salah dan memakai Dr. John Calvin untuk membangun ajaran yang benar.
Berarti,
> Tuhan memakai Calvin untuk membangun ulang atau menegakkan Kekristenan yang
> bersumber pada Alkitab. Melalui bukunya Institutes
> of the Christian Religion yang menurut Calvin tidak boleh dipisahkan dari
> tafsiran-tafsiran Alkitab yang ditulisnya, Calvin menegakkan prinsip-prinsip
> iman Kristen yang berdasarkan Alkitab tentang: Allah, Pemeliharaan Allah,
> Pemilihan Allah, Anugerah, Kristus, Roh Kudus, Manusia, Gereja, dll. Penegakan
> kebenaran firman Tuhan ini memberikan dasar dan arah yang jelas bagi
> Kekristenan pada zamannya dan juga pada zaman sesudah Calvin. Ketika arus
> modernisme melanda dunia dan Kekristenan, bahkan meracuni beberapa seminari
> theologi Reformed, seperti Princeton Theological Seminary, maka para theolog
> Reformed yang setia kembali menegakkan kebenaran firman Tuhan dan mendirikan
> seminari theologi Reformed yang lebih setia. Pada saat itu, Dr. J. Gresham
> Machen, Dr. Robert D. Wilson, Dr. Oswald T. Allis; dkk keluar dari Princeton
> Theological Seminary yang sudah mulai liberal dan mendirikan Westminster
> Theological Seminary.[22] Abad modern sudah berganti dan menjadi
> abad postmodern dengan ide postmodernisme dan merasuk ke berbagai bidang
> kehidupan (postmodernitas). Ketiga istilah ini saya pinjam dari penjelasan
> pembedaan yang dikemukakan oleh Ev. Jimmy Setiawan pada acara Seminar Ibadah
di
> GKA Elyon Pregolan, Surabaya pada tanggal 22 Juni 2009. Di tengah abad yang
> tidak mengakui kebenaran universal/metanarasi, mementingkan pengalaman
> subyektif, dan toleran terhadap berbagai perbedaan, maka theologi Reformed
> kembali menegakkan kebenaran firman Tuhan bahwa ada Kebenaran obyektif dan
> universal yang harus ditaati oleh semua manusia. Perbedaan tidak menjadi
> masalah, asalkan dibangun di atas dasar Alkitab dan doktrin Kristen orthodoks.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> B.
> Gerakan Reformed:
> Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Bukan hanya menegakkan Kebenaran Firman
> Tuhan, gerakan Reformed juga dipanggil untuk memberitakan Kebenaran Firman
> Tuhan. Berarti, gerakan Reformed dipanggil bukan untuk pasif menerima dan
> menegakkan doktrin yang benar, namun juga dipanggil aktif menyuarakan
kebenaran
> itu kepada semua orang. Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan ini saya bagi
> menjadi dua: memberitakan ajaran yang benar sesuai dengan Alkitab beserta
> aplikasinya di dalam kehidupan sehari-hari dan memberitakan Injil Kristus
> kepada mereka yang belum mendengar Injil. Apa yang Calvin lakukan pada
zamannya
> yaitu mereformasi Strasbourg dan khususnya Jenewa yang terkenal itu merupakan
> bentuk pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan kepada orang-orang di zamannya
> sebagai wujud pemberitaan ajaran yang benar sesuai Alkitab beserta aplikasinya
> di dalam kehidupan sehari-hari, yaitu di bidang politik, hukum, seni,
pendidikan,
> dll (mandat doktrin dan mandat budaya). Begitu juga yang dilakukan oleh para
> theolog Reformed di sepanjang zaman. Hal ini juga seharusnya menjadi perhatian
> dan panggilan kita sebagai anak-anak-Nya dan hamba-hamba-Nya penuh waktu untuk
> memberitakan ajaran yang benar sesuai dengan Alkitab. Di tengah arus
> pemberitaan ajaran yang tidak bertanggungjawab, maka kita perlu mendengarkan
> nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya, “Beritakanlah firman,
siap
> sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah
> dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim. 4:2)
>
>
>
> Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan
> juga bisa berupa memberitakan Injil Kristus kepada mereka yang belum mendengar
> Injil. Tidak sering kita mengetahui misi penginjilan yang Calvin lakukan.
Namun
> Rev. Dr. David W. Hall mengemukakan bahwa Akademi Jenewa mengekspor lebih dari
> 100 misionaris ke Prancis, Brazil, Italia, Belanda, dan Inggris sebelum tahun
> 1562.[23] Inilah bukti Calvin tidak
> mengesampingkan mandat penginjilan.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> IV.
> GERAKAN REFORMED DI ZAMAN SEKARANG DAN PANGGILAN
> UNTUK MENEGAKKAN DAN MEMBERITAKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN DENGAN BIJAKSANA
>
> Setelah kita membaca riwayat gerakan Reformasi
> dan Reformed di abad lalu, maka mari kita merefleksi realitas Gerakan
Reformasi
> dan Reformed di zaman sekarang dan apa yang harus kita lakukan untuk
menegakkan
> dan memberitakan Kebenaran Firman Tuhan.
>
>
>
> A.
> Realitas Gerakan
> Reformed Di Zaman Sekarang
>
> Jika gerakan Reformasi dan Reformed di zaman
> dahulu memiliki motivasi dan panggilan yang murni yaitu ingin menegakkan
> Kebenaran dan memberitakan Kebenaran Firman Tuhan tersebut, maka benarkah
> spirit yang sama ini menjiwai para penerusnya? Ternyata kita menjumpai adanya
> kejanggalan ekstrim di kubu Reformasi dan Reformed sendiri. Saya mengamati ada
> dua realitas ekstrim Gerakan Reformed di zaman sekarang:
>
> 1.
> Terlalu
> Kompromi
>
> Realitas ekstrim gerakan Reformasi/Reformed di
> zaman sekarang yang pertama adalah terlalu kompromi. Artinya, gerakan Reformed
> tidak lagi setia menegakkan Kebenaran dan memberitakan Kebenaran, namun sudah
> menyeleweng, bahkan sampai menyeleweng terlalu jauh. Sebenarnya tindakan
kompromi
> ini bisa dilihat dari bibit liberalisme yang mulai meracuni kubu Princeton
> Theological Seminary, U.S.A. Prof. John M. Frame, D.D. di dalam bukunya
> Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya menjelaskan bahwa Dr.
> Cornelius Van Til telah mengajar di Princeton Seminary sejak tahun 1928-1929.
> Princeton Seminary menawarkan posisi di bidang apologetika kepada Dr. Van Til
> di akhir periode, namun Dr. Van Til menolak, karena Dr. Van Til tidak
berhasrat
> untuk ikut dalam reorganisasi Princeton Seminary yang dimandatkan dari General
> Assembly of the Presbyterian Church, U.S.A. Mengapa Dr. Van Til menolak? Dr.
> John M. Frame memberikan alasannya yang begitu mengerikan,
>
> “Reorganisasi ini
> bertujuan untuk menyingkirkan pendirian historis Calvinisme orthodoks yang
> dipegang seminari tersebut dan menjadikannya lebih representatif bagi “semua
> pandangan yang ditemukan di dalam gereja.” Pandangan-pandangan ini mencakup
> sekitar 1300 hamba Tuhan yang pada tahun 1924 menandatangani Auburn
Affirmation yang terkenal buruk
> itu, yang menyatakan bahwa doktrin-doktrin seperti pengilhaman Alkitab,
> kelahiran Kristus dari perawan, penebusan-Nya yang menggantikan, kebangkitan
> Kristus secara badan, dan kedatangan-Nya yang kedua kali dalam pengertian
> literal, merupakan “teori-teori” buatan manusia sendiri dan tidak
diwajibkan
> sebagai keyakinan bagi calon hamba Tuhan.”[24]
>
> Jika calon hamba Tuhan saja sudah tidak lagi
> mengakui dasar-dasar doktrin orthodoks, bagaimana hamba Tuhan tersebut
nantinya
> bisa mengajar jemaat di dalam khotbah? Jika demikian, apa yang para hamba
Tuhan
> khotbahkan di atas mimbar? Tidak heran, gejala kompromi di dalam kubu
Princeton
> Seminary ini telah merusak dan meracuni Kekristenan khususnya mayoritas gereja
> Kristen/Protestan arus utama di zaman sekarang. Jangan heran, di beberapa
(atau
> mungkin mayoritas?) gereja-gereja Protestan arus utama yang mengklaim diri
> beriman (lebih tepatnya: bertradisi) Reformasi/Reformed/Calvinis, kita
> mendapati khotbah-khotbah yang disampaikan pada waktu hari Natal dan Paskah
TIDAK
> lagi membicarakan Kristus, namun hal-hal yang kurang penting, misalnya bencana
> alam, aksi sosial, dll. Coba Anda baca surat kabar, misalnya Jawa Pos,
> khususnya renungan-renungan di hari Natal, Paskah, dll. Lalu, perhatikan,
siapa
> penulis renungan itu. Kalau si penulis dari kalangan Protestan arus utama,
> sudah bisa ditebak, apa yang mereka utarakan tidak lagi bersumber pada
Kristus,
> namun pada hal-hal sosial, dll. Tidak salah jika kita menyinggung hal-hal
> sosial, namun fokusnya bukan hal-hal tersebut. Yang lebih parah lagi, sudah
> bukan barang baru, jika di sebuah surat kabar, kita membaca tulisan seorang
> “pendeta” yang berasal dari gereja yang mengklaim bertradisi
Reformasi/Reformed
> yang meragukan kebangkitan Kristus. Lalu, si “pendeta” ditegur oleh sinode
> gereja di tempat dia melayani dan “terpaksa” sang “pendeta” mengakui
> kesalahannya. Inilah produk-produk gerakan Reformed yang mulai berkompromi.
>
>
>
> Di sisi lain, gerakan Reformasi/Reformed
> diterpa oleh angin spiritualitas yang tanpa dasar, yaitu munculnya gerakan
> Pentakosta dan Karismatik. Gerakan yang dimulai oleh seorang yang bernama
Agnes
> Ozman tepat pada tanggal 1 Januari 1901 di Azusa Street yang mengutamakan
> pentingnya karunia-karunia Roh mulai merembes ke dalam gereja-gereja Protestan
> yang mengklaim bertradisi Reformed. Gerakan Karismatik tidak hanya dibatasi
> oleh gerakan gelombang ketiga (third wave movement) yang mengajarkan
word-of-faith movement (gerakan
> kata-kata iman) dari Dr. C. Peter Wagner yang nantinya memengaruhi gerakan
Toronto Blessing yang terjadi di
> Toronto, Canada sekitar tahun 1994 (saat ini gejala Toronto Blessing sudah
reda), namun juga meluas sampai tidak bisa
> dibedakan jelas dengan gerakan Injili. Tidak heran, beberapa gereja Injili
yang
> lemah doktrinnya bisa dengan mudahnya menerima gerakan dan theologi
Karismatik.
> Sebuah fenomena yang cukup lama beredar, yaitu gerakan Doa Yabes dari Dr.
Bruce
> H. Wilkinson telah menarik banyak gereja termasuk salah satunya adalah sebuah
> gereja Injili Tionghoa di Surabaya yang mengklaim diri Presbyterian/Reformed.
> Gereja ini juga ikut-ikutan mendukung gerakan Doa Yabes tersebut. Doa Yabes
> mulai surut dan digantikan oleh gerakan The
> Purpose Driven, mulai dari The Purpose
> Driven Church, The Purpose Driven Life, dll. Gereja-gereja
> Reformasi/Reformed dengan mudahnya ikut arus. Seorang rekan pendeta mengatakan
> kepada saya bahwa ada seorang hamba Tuhan di sebuah gereja Protestan yang
> bertradisi Reformed rela menghabiskan uang demi mengadakan pembinaan bagi
> jemaatnya dengan memakai buku The Purpose
> Driven Life.
>
>
>
> Itulah sekilas gambaran pudarnya semangat
> Reformasi/Reformed yang menegakkan Kebenaran Firman Tuhan dan memberitakannya.
> Namun, kita juga menghadapi realitas keekstriman model kedua dari gerakan
> Reformasi/Reformed di zaman sekarang.
>
>
>
>
>
> 2.
> Terlalu
> Kaku
>
> Realitas keekstriman kedua dari gerakan
> Reformasi/Reformed zaman sekarang adalah terlalu kaku! Hal ini kebalikan dari
> realitas pertama. Jika di poin pertama, gerakan Reformed ada yang mulai
> berkompromi, maka di poin kedua ini, gerakan Reformed ada yang benar-benar
> ekstrim, yaitu terlalu kaku. Kekakuan ini dimulai dari sosok hamba Tuhannya.
> Hamba Tuhan ini kurang mengerti totalitas pengertian theologi Reformed, namun
> dengan beraninya berkoar-koar di atas mimbar, lalu menuding ajaran yang
berbeda
> sedikit dari theologi Reformed sebagai bidat. Saya pernah mendengar hamba
Tuhan
> ini berkhotbah di atas mimbar, lalu mengajar bahwa gereja yang tidak
> menjalankan baptisan anak itu sesat. Saya sampai terheran-heran mendengar
> pernyataan ini. Sebegitu beraninya si pendeta mengeluarkan pernyataan yang
> kurang bertanggungjawab ini? Saya menantang si pendeta yang mengaku Reformed,
> adakah ajaran Alkitab satu kali pun yang memutlakkan baptisan anak lalu
> mengutuk mereka yang tidak menjalankan baptisan anak itu bidat? Alkitab TIDAK
> pernah satu kali pun melarang baptisan anak dan juga TIDAK pernah satu kali
pun
> memutlakkan baptisan anak. Dengan kata lain, baptisan anak itu doktrin
sekunder
> yang tidak perlu diperdebatkan sampai dicap bidat.
>
>
>
> Corak hamba Tuhan kaku yang saya sebutkan di
> atas ternyata memengaruhi banyak jemaatnya, khususnya para pemuda yang selalu
> mendengar khotbah dan pengajarannya. Saya sendiri menjumpai seorang pemudi
yang
> benar-benar sangat mengagumi si pendeta ini, lalu apa yang dikatakan si
pendeta
> ini ditelannya mentah-mentah sebagai “kebenaran”. Saya juga pernah bertemu
> dengan seorang pemudi di gereja yang sama yang saya dapati terlalu ekstrim.
> Pada waktu itu, saya baru selesai membaca buku When God Writes Your Love Story
dari Eric dan Leslie Ludy, kemudian
> saya sharing buku tersebut kepada
> salah seorang rekan pemuda di gereja tersebut dan betapa kagetnya saya, ketika
> dia bertanya kepada saya, “Apa buku itu Reformed?” Dieng… Saya langsung
kaget,
> ternyata didikan dari si hamba Tuhan kaku tersebut telah mengindoktrinasi
> pemudi ini, sehingga dalam alam pikiran si pemudi ini, di luar buku-buku
> Reformed, dia tidak mau membaca buku apa pun. Akibatnya, Reformed TIDAK lagi
> berpedoman Sola Scriptura (hanya
> Alkitab saja), tetapi mengarah kepada Sola
> Reformed, atau yang lebih parah lagi: Sola
> Pendeta X, seolah-olah jika pendeta X yang berkhotbah dan mengajar Alkitab,
> maka itu adalah kebenaran, padahal si pendeta X kadang-kadang pernah salah
> dalam mengajar Alkitab (meskipun kesalahan ini termasuk kesalahan paling
> sekunder). Reformed tidak lagi kritis dan menyukai kebenaran seperti pada
zaman
> Reformasi, Reformed Calvin, dan Puritan, namun beberapa Reformed secara tidak
> sadar telah kembali kepada semangat Katolik Roma yang mengaminkan semua
> perkataan Paus.
>
>
>
> Reformed yang terlalu kaku mengakibatkan para
> penganut Reformed TIDAK lagi kritis dan bahayanya bisa mengakibatkan
> penganutnya menjadi: FANATIK. Tidak heran, beberapa orang Kristen dan hamba
> Tuhan non-Reformed mencap Reformed sebagai Fundamentalisme[25].
> Reformed SEBENARNYA memang TIDAK sama dengan Fundamentalisme, namun melihat
> beberapa (atau bahkan banyak) orang Reformed yang hanya menyetujui semua
> khotbah di mimbar tanpa benar-benar belajar dari banyak buku dan KRITIS
> mengakibatkan Reformed dicap Fundamentalisme! Nah, panggilan Reformed BUKAN
> untuk menjadi Reformed yang serba kompromi sini sana, namun juga BUKAN untuk
> kaku dan kolot lalu mencap theologi non-Reformed atau bahkan yang tidak
sejalan
> dengan pendeta Reformed tertentu sebagai bidat! Jika ada orang atau bahkan
> hamba Tuhan Reformed masih bersikap demikian, maafkan, saya mengatakan bahwa
> orang atau hamba Tuhan Reformed tersebut masih kekanak-kanakan (childish)!
Rev. Prof. Joseph Tong, Ph.D.
> di dalam Seminar di Universitas Pelita Harapan, Surabaya pernah mengatakan
> bahwa Kekristenan harus kritis, namun jangan terlalu kritis! Dr. Joseph
> Tong mengemukakan bahwa orang Kristen yang terlalu kritis itu persis
> seperti anak kecil yang tidak mau melihat orang lain berbeda darinya. Melihat
> orang lain berbeda sedikit darinya, anak kecil langsung marah dan menangis.
> Yang lebih celakanya, jika konsep ini diimpor di dalam dunia theologi.
> Akibatnya, theologi tidak menjadi theologi yang dewasa, namun theologi yang
> kekanak-kanakan! Biarlah orang Reformed bertobat dari kebiasaan buruk ini! Ada
> hal-hal prinsipil yang harus kita tegakkan dan beritakan, namun ada hal-hal
> sekunder yang tidak perlu kita pertahankan dengan kaku. Hal ini akan saya
bahas
> pada bagian C.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> B.
> Penyebabnya
>
> Lalu, apa yang menyebabkan gerakan Reformed
> dewasa ini seekstrim di atas? Saya mengamati ada dua penyebab utama:
>
> 1.
> Modernisme
> dan Postmodernisme
>
> Gerakan Reformed ada yang sampai ekstrim
> mengkompromikan semua doktrin penting dari theologi Reformed karena adanya
> faktor filsafat dunia di dalamnya. Saya menyoroti adanya pengaruh dua filsafat
> dunia tersebut, yaitu: modernisme dan postmodernisme. Modernisme adalah suatu
> filsafat yang menekankan pentingnya rasio dan pengetahuan manusia sebagai
dasar
> kebenaran. Segala sesuatu harus diuji berdasarkan rasio manusia. Modernisme
ini
> nantinya meracuni Kekristenan dengan munculnya “theologi” liberal yang
mempengaruhi
> metode kritik Alkitab. Metode Kritik Alkitab adalah cara yang dipakai oleh
para
> “theolog” liberal yang menekankan superioritas rasio dan penyelidikan
> ilmiah/historis di atas segalanya, bahkan termasuk di atas Alkitab. “Iman”
> mereka dibangun di atas rasio dan pengalaman empiris manusia berdosa. Tidak
> heran, kalau kita kembali melihat sejarah mengapa Dr. J. Gresham Machen, dkk
> keluar dari Princeton Theological Seminary dan mendirikan Westminster
> Theological Seminary yang lebih setia kepada Alkitab adalah karena Princeton
> Seminary sudah diracuni oleh “theologi” liberal.
>
>
>
>
>
> Zaman modern sudah berhenti dan diganti dengan
> zaman postmodern. Pdt. Dr. Stephen Tong mengajarkan bahwa setiap zaman
memiliki
> semangat zaman (Jerman: zeitgeist;
> Inggris: spirit of the age). Nah,
> zaman postmodern pun memiliki semangat zaman postmodern yang berbeda bahkan
> melawan semangat zaman modern. Jika modernisme menitikberatkan pada
> superioritas rasio, maka postmodernisme tampil melawan modernisme. Apa yang
> postmodernisme ajarkan? Saya meringkaskan dan menjabarkan ide-ide
> postmodernisme dari buku Prof. Stanley J. Grenz, Th.D., A Primer on
Postmodernism: Pengantar untuk Memahami Postmodernisme
> dan Peluang Penginjilan Atasnya[26]:
>
> a)
> Makna
> tidak terdapat di dalam teks, tetapi di dalam para penafsir.
>
> Ide utama postmodernisme adalah ide
> dekonstruksi. Ide ini sebenarnya berkebalikan dari ide strukturalisme.
> Strukturalisme mengajarkan, “bahasa adalah sebuah produk sosial dan manusia
> mengembangkan tulisan-tulisan " teks " sebagai usaha menyusun struktur
makna
> yang dapat menolong memberikan makna dalam pengalaman mereka yang tidak
> bermakna.” Selain itu, strukturalisme juga mengajarkan bahwa semua
masyarakat
> dan kebudayaan memiliki sebuah struktur yang sama. Nah, postmodernisme dengan
> ide dekonstruksi mengajarkan bahwa makna TIDAK terletak pada teks, tetapi pada
> penafsir. Dengan kata lain, “makna sebuah teks bergantung kepada sudut
pandang
> setiap penafsir yang berbeda-beda, maka maknanya juga berbeda-beda dan
beraneka
> ragam.” Pikiran ini diperkuat oleh pemikiran Jacques Derrida yang mengajak
> manusia untuk melenyapkan: onto-teologi (usaha untuk mencari hakikat/esensi
> realitas) dan metafisika kehadiran (konsep mengenai adanya sesuatu yang
> transenden dalam realitas). Karena tidak ada sesuatu yang transenden, maka
> manusia lebih mudah menafsirkan segala sesuatu sesuai dengan pandangannya
> sendiri. Kita mengenal istilahnya: the
> death of the author (kematian si penulis). Tidak heran, akibatnya, di zaman
> postmodern, penafsiran (hermeneutika) menjadi tidak karuan dan kacau balau.
> Banyak orang seenaknya sendiri menafsirkan teks atau perkataan orang lain
> dengan sudut pandangnya sendiri, tanpa mau melihat makna asli dari teks atau
> perkataan orang lain tersebut. Di situlah sebenarnya masalah munculnya
misunderstanding di dalam sebuah
> komunikasi dan tafsiran.
>
>
>
> b)
> Pesimis
> akan pengetahuan
>
> Jika orang modern lebih optimis mengatakan
> bahwa pengetahuan itu baik, maka orang postmodern tidak lagi percaya akan hal
> itu. Dengan kata lain, orang postmodern pesimis bahwa pengetahuan itu baik.
> Mereka sendiri percaya bahwa dunia bukan lebih baik, tetapi lebih buruk. Oleh
> karena itu, jika ingin bertahan di dalamnya, maka manusia harus bekerja sama,
> bukan saling menaklukkan. Konsep postmodernisme ini sedikit mengandung
> kebenaran, yaitu mengajarkan bahwa dunia bukan semakin lebih baik, tetapi
makin
> buruk. Kekristenan yang Alkitabiah jauh lebih dahulu mengajar hal demikian.
> Namun, kelemahan konsep postmodernisme ini adalah kehilangan harapan dan arah
> tujuan hidup di dalam dunia yang makin buruk ini, sedangkan Kekristenan
> menyediakan jalan keluarnya yaitu melalui Tuhan Yesus Kristus: kematian,
> kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke Sorga.
>
>
>
> c)
> Penekanan
> pada keutuhan
>
> Jika orang modern HANYA mengandalkan fungsi
> rasio sebagai jalan menuju pengetahuan, maka orang postmodern mengajarkan
bahwa
> selain rasio, jalan menuju pengetahuan bisa berupa emosi dan intuisi. Tidak
> heran, kita sering mendengar istilah-istilah seperti: SQ, EQ, dll, selain IQ.
> Hal ini ada benarnya, yaitu menyadarkan kita bahwa pintar itu bukan hanya
> masalah otak saja, tetapi juga masalah emosi, spiritual, dll.
>
>
>
> d)
> Pengetahuan
> itu TIDAK obyektif
>
> Jika orang modern percaya bahwa pengetahuan
> itu obyektif, maka orang postmodern percaya bahwa pengetahuan itu TIDAK
> obyektif karena dunia ini bagi mereka: historis, relatif, tidak tetap, dan
> personal. Konsep ini memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah
> memang benar bahwa dunia kita ini relatif dan tidak tetap karena dunia kita
> adalah dunia berdosa. Oleh karena itu jangan terlalu berpaut pada dunia ini.
> Namun, sisi negatif konsep ini adalah ketidakpercayaan orang-orang postmodern
akan
> pengetahuan obyektif. Meskipun dunia kita ini historis dan tidak tetap, kita
> harus tetap percaya akan pengetahuan obyektif entah itu berasal dari Allah
> maupun manusia. Setiap kita pasti memiliki pengetahuan obyektif, misalnya:
> 1+1=2. Jika orang postmodern menyangkali pengetahuan obyektif, bagaimana
mereka
> menjawab pertanyaan 1+1? Lebih tajam lagi, jika orang postmodern menyangkali
> pengetahuan obyektif, maka saya yang adalah seorang Kristen TIDAK perlu
> memercayai orang-orang postmodern dan pandangannya, karena pandangannya itu
> hanya bersifat subyektif dan berlaku benar bagi mereka sendiri. Jika demikian,
untuk
> apa mereka mengajar orang bahwa pengetahuan itu tidak obyektif, jika mereka
> sendiri tidak mengakui adanya kebenaran/pengetahuan obyektif? Inilah
kekontradiksian
> konsep postmodernisme ini.
>
>
>
> e)
> Karya
> para ilmuwan terbatas pada sejarah dan budaya
>
> Jika orang modern yang dipengaruhi oleh Abad
> Pencerahan memercayai bahwa ada seorang pengamat yang otonom dan tidak
> dipengaruhi oleh apa dan siapa pun, maka orang postmodern menyangkal ide
> tersebut dan mengatakan bahwa hasil karya para ilmuwan bersifat terbatas oleh
> sejarah dan budaya, sehingga pengetahuan kita selalu bersifat tidak lengkap
(incomplete). Konsep postmodernisme ini
> ada benarnya. Sains/ilmu pengetahuan meskipun diberi nama ilmu pasti, tetapi
> tetap saja TIDAK pernah pasti, karena sains tetap adalah produk manusia
> berdosa. Oleh karena itu, setiap produk sains itu tidak pernah lengkap karena
> terbatas oleh sejarah dan budaya. Jika teori sains di zaman dahulu dibuktikan
> benar, maka teori sains di zaman sekarang membuktikan bahwa teori sains zaman
> dahulu itu salah. Begitu juga dengan peran budaya dalam membatasi sains. Pdt.
> Sutjipto Subeno, M.Div. pernah mengatakan bahwa ada penemuan yang mengatakan
> bahwa minum kopi itu berbahaya, namun penemuan berikutnya mengatakan hal yang
> sebaliknya yaitu minum kopi itu baik bagi kesehatan. Inilah keterbatasan
sains,
> selalu berubah-ubah. Oleh karena itu, jangan pernah menaruh iman Anda pada
> sains karena sains itu terbatas.
>
>
>
> f)
> Komunitas
> sebagai dasar pemahaman kebenaran.
>
> Terakhir, dunia postmodern ditandai dengan
> semangat komunitas. Bagi orang postmodern, komunitas adalah dasar pemahaman
> kebenaran. Apa yang kita anggap benar dan cara kita mengatakan kebenaran
> tersebut sangat bergantung pada komunitas kita. Atau kalau boleh, saya
meminjam
> istilah gaulnya: geng. Kita memiliki
> geng sendiri untuk melampiaskan apa yang kita percayai sebagai
“kebenaran.”
> Jika kita terus berjuang bagi geng kita, maka kita berpikiran sempit dan tidak
> bisa menjadi berkat bagi orang di luar geng kita. Kekristenan dipanggil BUKAN
> untuk membentuk geng sendiri dengan ciri khas yang berbeda total dari dunia
> lalu mengasingkan diri dari dunia, namun Kekristenan dipanggil untuk menjadi
> garam dan terang bagi dunia dengan prinsip-prinsip Kebenaran Allah. Dengan
kata
> lain, mengutip perkataan Ev. Ivan Kristiono, M.Div. di dalam Seminar:
> Panggilan, Waktu Luang, dan Gaya Hidup di Gereja Reformed Injili Indonesia
> (GRII) Ngagel, Surabaya, Kekristenan seharusnya GAUL!
>
>
>
>
>
> 2.
> Traumatik
>
> Realitas ekstrim kedua dari gerakan Reformed
> di zaman sekarang yang terlalu kaku tersebut disebabkan oleh gejala traumatik.
> Saya menyebut hal ini sebagai traumatik, karena orang-orang ini benar-benar
> trauma dengan dunia berdosa dan filsafatnya, lalu orang-orang ini menyuruh
> orang lain untuk tidak membaca buku-buku dunia, sebaliknya orang-orang ini
> mengajarkan pengikutnya/orang lain untuk hanya mendengar tafsiran si pendeta
> tentang buku-buku dunia. Mengapa mereka bisa trauma? Karena diinspirasi dari
> Roma 12:1-2 yang mengajarkan bahwa ibadah Kristen mencakup pembaharuan akal
> budi. Maka rasio Kristen harus benar-benar diperbaharui sesuai kehendak-Nya
dan
> tidak menuruti konsep dunia. Konsep Roma 12:1-2 itu TIDAK salah, karena itu
> konsep dasar yang penting dan mutlak. Namun jika ada orang Kristen/Reformed
> yang mengEKSRIMkan Roma 12:1-2 lalu mengajar bahwa jangan melihat film ini
itu,
> jangan membaca buku X, dll, maka orang Kristen/Reformed lama-kelamaan akan
> menjadi orang Kristen fanatik yang percaya 100% pada perkataan si pendeta dan
> tafsirannya baik tafsiran akan Alkitab maupun tafsiran akan hal-hal duniawi
> (yang belum tentu 100% bisa dipertanggungjawabkan secara akademis)!
>
>
>
> Bukan hanya menyangkut dunia, untuk urusan
> Kekristenan pun, orang-orang Reformed yang kaku ini juga melakukan hal yang
> sama. Apalagi kalau orang Reformed itu pendeta, bahkan gembala sidang, ia akan
> dengan ketat bahkan dapat dikatakan EKSTRIM mengindoktrinasi dan mengimun
> jemaatnya (eksplisit maupun implisit) agar tidak pergi ke gereja lain (bahkan
> ke gereja yang bertheologi Reformed namun tidak berplang/bernama Reformed).
Pergi
> ke gereja lain dianggap murtad, dll. Bahkan ada seorang pendeta Reformed yang
memblacklist sebuah sekolah theologi awam
> yang juga bertheologi Reformed dikarenakan pimpinan sekolah theologi awam itu
> mengundang pembicara dari golongan Orthodoks Syria yang dianggap oleh si
> pendeta sebagai bidat. Saya pribadi menyelidiki tokoh Orthodoks Syria ini
> ketika orang ini diundang di Universitas Kristen Petra, Surabaya dan saya
> menemukan bahwa tokoh Orthodoks Syria ini TIDAK SESAT secara doktrin dasar
> Kristen (meskipun saya tetap tidak setuju dengan beberapa konsepnya tentang
metode
> penginjilan kepada orang non-Kristen"ini bukan hal mutlak/esensial).
Bukankah
> gejala-gejala ini kalau diperhatikan mirip dengan idenya Katolik Roma dahulu?
Dahulu,
> Dr. Martin Luther dikejar-kejar oleh paus dan mau dibunuh mati karena
> mengadakan reformasi, nah, sekarang, hal serupa bakal terjadi, namun tidak
> secara langsung. Di dalam kubu Reformed, kalau ada orang yang mereformasi,
> nanti orang ini dicap pengacau, pemfitnah, dan orang yang tidak mengerti visi,
> dll. Mengapa beberapa (atau mungkin banyak?) Reformed yang melawan Katolik
> Roma, akhirnya terakhir mengadopsi pandangan Katolik Roma? Mengapa Reformed
> jadi kekanak-kanakan seperti ini? Ah, sungguh mengerikan jika Reformed seperti
> ini. Reformed tidak lagi berjuang menegakkan dan memberitakan Kebenaran sesuai
> misi dan visi John Calvin dan Puritan yang berdasarkan Alkitab, namun sudah
> menyeleweng jadi menegakkan dan memberitakan misi dan visi si gembala sidang
> yang dibalut dengan bungkus “Reformed” di dalamnya.
>
>
>
>
>
>
>
> C.
> Gerakan Reformed:
> Panggilan Untuk Menegakkan dan Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan Dengan
> Bijaksana
>
> Jika gerakan Reformed di zaman ini sudah
> bergerak ke arah ekstrim di atas, maka bagaimana kita bersikap sebagai orang
> Reformed yang bijaksana dalam menegakkan dan memberitakan Kebenaran Firman
> Tuhan bagi zaman kita?
>
> 1.
> Menegakkan
> Kebenaran Firman Tuhan Dengan Bijaksana
>
> Orang Reformed dipanggil pertama-tama untuk
> menegakkan Kebenaran Firman Tuhan dengan bijaksana. Saya menggabungkan dua
> pernyataan, “menegakkan Kebenaran Firman Tuhan” dan “dengan
bijaksana.” Apa
> maksudnya? Maksudnya adalah kita harus menegakkan Kebenaran Firman Tuhan
karena
> kita adalah orang yang beriman kepada Kristus dengan sungguh-sungguh. Iman
> Kristen tanpa dibangun di atas dasar doktrin/pengajaran yang benar
> mengakibatkan iman Kristen itu akan luntur diterpa oleh arus zaman. Namun,
kita
> juga harus menegakkan Kebenaran Firman Tuhan DENGAN BIJAKSANA. Artinya, di
> dalam menegakkan Kebenaran Firman Tuhan, kita harus bijaksana menegakkannya
> sesuai dengan maksud asli Firman Tuhan, tanpa ditambah-tambahi. Pdt. Dr.
> Stephen Tong pernah mengajar satu prinsip bagus: apa yang mutlak jangan
> direlatifkan dan apa yang relatif jangan dimutlakkan! Kecenderungan beberapa
> Reformed yang terlalu kaku seperti yang telah saya kemukakan di atas adalah
> menambahi ajaran Alkitab dan bahkan memutlakkannya (bahkan mencap bidat bagi
> mereka yang tidak berkeyakinan Reformed atau tidak melakukan apa yang
dilakukan
> oleh Reformed), seperti doktrin baptisan anak. Alkitab TIDAK pernah satu kali
> pun melarang baptisan anak dan juga TIDAK pernah satu kali pun memutlakkan
> baptisan anak. Doktrin baptisan anak di dalam theologi Reformed didasarkan
pada
> theologi kovenan/perjanjian yang ditandai dengan sunat di dalam Perjanjian
Lama
> dan baptisan di dalam Perjanjian Baru. Dengan kata lain, doktrin ini dibangun
> di atas theologi sistematika, bukan di atas dasar penggalian Alkitab yang
> eksplisit dan teliti! Dengan demikian, baptisan anak BUKAN hal mutlak!
> Memutlakkan sesuatu yang TIDAK MUTLAK, bagi saya, adalah tindakan yang tidak
> bijaksana!
>
>
>
>
>
> 2.
> Memberitakan
> Kebenaran Firman Tuhan Dengan Bijaksana
>
> a)
> Definisi
> Memberitakan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Kita bukan hanya dipanggil menegakkan
> Kebenaran Firman Tuhan, namun juga memberitakan Kebenaran Firman Tuhan
> tersebut. Saya mendefinisikan memberitakan Kebenaran Firman Tuhan itu sebagai
> tindakan menyatakan doktrin yang telah kita tegakkan kepada orang lain melalui
> perkataan dan perbuatan. Berarti, memberitakan Kebenaran adalah
reaksi/aplikasi
> dari tindakan menegakkan Kebenaran. Menegakkan Kebenaran tanpa mau
memberitakan
> Kebenaran adalah tindakan sia-sia dan konyol, karena Kebenaran itu meskipun
> ditegakkan tidak berdampak apa pun! Oleh karena itu, Reformed dipanggil juga
> untuk memberitakan Kebenaran Firman Tuhan.
>
>
>
> b)
> Isi
> Pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Lalu, apa yang kita beritakan?
>
> (1) Ajaran Alkitab yang
> terintegrasi
>
> Isi berita yang kita sampaikan adalah tentunya
> ajaran Alkitab yang terintegrasi. Kita dipanggil untuk memberitakan Firman
> Tuhan secara utuh, bukan sebagian (parsial). Pemberitaan firman Tuhan secara
> utuh dilakukan dengan mengajar Alkitab ayat per ayat, pasal per pasal, beserta
> aplikasinya di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, khotbah
eksposisi
> lah yang tepat menunjukkan deskripsi di atas. Khotbah eksposisi adalah ciri
> khas Reformed dimulai dari Dr. John Calvin. Melalui khotbah eksposisi, jemaat
> dituntut untuk mengerti Alkitab secara menyeluruh. Khotbah eksposisi dilakukan
> dengan menafsirkan Alkitab secara eksegese
> (dari dalam ke luar). Dengan kata lain, khotbah eksposisi tidak bisa
dilepaskan
> dari eksegese. Namun, ada juga pendeta Reformed yang ikut-ikutan mempopulerkan
> khotbah eksposisi, tetapi menggunakan pendekatan filsafat. Meskipun ini hanya
> menyangkut metode berkhotbah, namun jelas metode seperti itu tidak konsisten
> dengan makna aslinya (yaitu EKSPOSISI; artinya: penjelasan/menjelaskan). Jika
> khotbah itu eksposisi, maka tugas si pengkhotbah adalah benar-benar menggali
> kedalaman ayat Alkitab secara eksegese, bukan dengan pendekatan filsafat
> apalagi pendekatan melankolis, heheheJ.
>
> Saya pribadi menemukan adanya perbedaan pendekatan khotbah eksposisi antara
> pendekatan Biblika/eksegese dengan pendekatan filsafat. Jika khotbah eksposisi
> didekati dengan metode filsafat, percayalah, khotbah eksposisi itu pasti
> membosankan, karena yang ditekankan selalu hal-hal yang sudah dikatakan si
> pengkhotbah beberapa waktu lalu. Atau dengan kata lain, repetisi/pengulangan
> pasti muncul di dalam khotbah eksposisi dengan pendekatan filsafat. Namun jika
> khotbah eksposisi dengan pendekatan eksegese yang teliti dan cermat mungkin
> mengakibatkan si jemaat pertama-tama bosan, namun jika jemaat itu adalah
jemaat
> yang rajin belajar Alkitab, maka jemaat itu akan menemukan kelimpahan firman
> Tuhan yang tidak habis untuk digali.
>
>
>
> (2) Ajaran primer/mutlak
> vs ajaran sekunder/relatif
>
> Kedua, kita perlu
> membedakan mana ajaran yang primer dan sekunder yang perlu kita beritakan.
Ajaran
> yang primer/mutlak harus kita beritakan dengan bertanggungjawab, tegas, dan
> jelas, tanpa kompromi. Misalnya, Allah Tritunggal, finalitas karya Kristus
> sebagai Juruselamat, kelahiran, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke
> Sorga, otoritas Alkitab, dll. Semua doktrin dasar ini harus kita beritakan
> dengan tegas dan tanpa kompromi. Namun, jika menyangkut doktrin/ajaran
> sekunder/relatif, kita tetap memberitakannya dengan jelas, namun tidak boleh
> terlalu tegas! Artinya, kita boleh memberitakan ajaran sekunder itu dengan
> jelas dengan penguraian ayat Alkitab, namun kita harus tetap menghormati
mereka
> yang pandangannya berbeda dari kita. Misalnya, sebagai seorang Reformed, kita
> memegang mayoritas doktrin akhir zaman: Amillenialisme (meskipun ada juga
orang
> Reformed yang memercayai Premillenialisme dan Postmillenialisme). Nah, kalau
> kita memegang doktrin Amillenialisme, maka kita tetap perlu menjelaskan
doktrin
> tersebut disertai ayat-ayat Alkitab, namun kita TIDAK perlu mencap bidat bagi
> mereka yang berkeyakinan Premillenialisme dan Postmillenialisme. Meskipun kita
> menemukan kelemahan-kelemahan pada ajaran Premillenialisme, Postmillenialisme,
> bahkan Dispensasionalisme, kita tetap harus menghormati pandangan mereka TANPA
mencap
> mereka sebagai bidat.
>
>
>
> c)
> Unsur-unsur
> Pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Lalu, apa saja unsur-unsur yang ada di dalam pemberitaan
> firman Tuhan tersebut?
>
> (1) Didactive (mengajar)
>
> Pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan harus
> mengajar/didactive. Artinya, di dalam
> memberitakan Firman Tuhan, kita harus mengajar Firman Tuhan itu. Mari kita
> perhatikan nasihat Rasul Paulus kepada Timotius ini, “Beritakanlah firman,
siap
> sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah
> dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim. 4:2) Bagi
> Paulus, memberitakan Firman dibarengi dengan tindakan mengajar dan secara
> otomatis menegur. Mengapa? Karena di dalam pemberitaan firman, si
pemberita/pengkhotbah
> mendapat mandat dari Tuhan untuk mengajar jemaat akan Allah dan firman-Nya.
> Misalnya, ketika si pengkhotbah memberitakan murka Allah bagi dosa manusia,
> maka di saat yang sama, si pengkhotbah mengajar jemaatnya tentang murka Allah.
>
>
>
> (2) Applicative and affective
>
> Selain mengajar, di
> dalam pemberitaan Firman Tuhan juga harus ada unsur aplikatif dan afektif.
Saya
> pikir, beberapa Reformed kurang menekankan hal ini. Saya menjumpai ada pendeta
> Reformed yang berkhotbah selalu ujung-ujungnya filsafat, antitesis Kristen vs
> dunia, dll, namun sayang KURANG menekankan sisi aplikasi yang praktis dan
> afektif. Bagi si pendeta, khotbah yang terlalu menekankan aplikasi praktis
akan
> berbahaya bagi jemaat. Hal ini memang BENAR, tetapi hal ini TIDAK boleh
> diekstrimkan. Hal-hal praktis jika ditekankan terlalu berlebihan memang
> berbahaya, tetapi tidak berarti tidak perlu ada hal-hal praktisnya. Alkitab
> sendiri penuh dengan konsep-konsep yang jelas, namun juga penuh dengan
aplikasi
> praktisnya, khususnya dari Tuhan Yesus dan para rasul Kristus. Justru dari
> hal-hal praktis yang keluar sebagai reaksi/aplikasi dari doktrin/konsep
> tertentu memberikan teladan bagi si pendengar/penerima untuk mencontoh hal-hal
> praktis tersebut.
>
>
>
> Selain itu,
> pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan juga mengandung unsur afektif. Berarti,
> pemberitaan Firman Tuhan menyentuh afeksi manusia. Pdt. Billy Kristanto, Ph.D.
> (Cand.) menjelaskan afeksi sebagai suatu “perasaan” yang berlangsung lama.
> Afeksi lebih berkaitan dengan urusan hati. Pdt. Joshua Lie, Ph.D. (Cand.) di
> dalam khotbahnya Jonathan Edwards and John Calvin: TRUE AFFECTIONS and
EMBODIED
> DOCTRINE memaparkan bahwa salah satu ciri khas khotbah Calvin adalah afektif,
> di mana Firman membawa hati manusia kepada Allah. Berarti, Firman menyentuh
> kedalaman hati manusia dan membawanya kepada Allah untuk terus-menerus
dimurnikan.
> Khotbah-khotbah seperti ini JARANG kita temui di dalam khotbah-khotbah para
> hamba Tuhan Reformed (khususnya di Indonesia). Mengapa? Karena yang sering
kita
> jumpai di dalam khotbah Reformed adalah khotbah-khotbah doktrinal yang sering
> melupakan aspek afeksi. Tidak heran, banyak orang Reformed menjadi sombong dan
> tidak mau dikoreksi kesalahannya. Atau mungkin sekali kita menemukan khotbah
> Reformed yang seolah-olah afektif, namun sayangnya, si pengkhotbah sendiri
(“Reformed”)
> TIDAK menjalankan apa yang dikhotbahkan bahkan si pengkhotbah (“Reformed”)
dengan
> berani mengatakan, “Siapa yang berani menegur saya?” Semua ini TIDAK
sesuai
> dengan spirit John Calvin. Kembali, khotbah-khotbah afektif ini (yang
mengikuti
> jejak Calvin) saya jumpai ada pada dua orang hamba Tuhan Reformed: Pdt. Yohan
> Candawasa, S.Th. dan Pdt. Billy Kristanto, Ph.D. (Cand.)
>
>
>
> d)
> Cara
> Pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan
>
> Terakhir, jika kita
> sudah mengerti definisi, isi, dan unsur pemberitaan Kebenaran Firman Tuhan,
> maka kita perlu mengerti caranya memberitakan kebenaran tersebut dengan benar:
>
> (1) Tulus
>
> Cara pertama memberitakan Firman Tuhan adalah
> tulus. Tulus artinya tidak berpura-pura. Di dalam seluruh motivasi, cara, dan
> tujuan, si pemberita Firman harus benar-benar tulus, benar-benar ingin
> memberitakan Firman, bukan dengan maksud lain, misalnya ada perasaan khusus
> (menaksir) terhadap seseorang yang kita injili/beritakan Firman. Tulus juga
> harus secara cara kita menyampaikan Firman Tuhan tersebut. Ketika kita
> memberitakan Firman, benarkah cara kita tulus? Ataukah cara kita busuk dengan
> mendiskreditkan gereja/aliran lain demi menonjolkan superioritas aliran kita
> sendiri? Secara tujuan pun kita harus tulus. Apa yang kita mau capai melalui
> pemberitaan Firman Tuhan? Untuk kepentingan diri atau memuliakan Tuhan?
Biarlah
> kita mengintrospeksi diri kita masing-masing baik kita sebagai orang Kristen
> Reformed maupun hamba Tuhan Reformed.
>
>
>
> (2) Jujur
>
> Selain tulus, kita dituntut untuk jujur di
> dalam memberitakan Firman. Jujur berarti terus terang, tidak ada tedeng
> aling-aling. Biasakanlah diri kita memberitakan Firman dengan sejujur mungkin,
> tanpa menggunakan topeng tertentu untuk berkompromi dengan orang lain. Pdt.
> Thomy Job Matakupan, M.Div. mengaitkan kompromi dengan ketaatan. Jika taat
> adalah 100% kebenaran, maka kompromi adalah separuh kebenaran. Saya mengaitkan
> kompromi dengan kejujuran. Seorang yang jujur adalah seorang yang terus terang
> dan tentunya tidak berkompromi sedikit pun untuk hal-hal penting/mutlak.
Misalnya,
> ketika hendak mengeksposisi Alkitab dan pas pada waktu hari Minggu itu, nats
> Alkitab yang dikhotbahkan adalah berkaitan dengan predestinasi, maka si
> pengkhotbah Reformed harus jujur/terus terang mengungkapkan doktrin
> predestinasi dengan jelas. Bedanya dengan pengkhotbah yang tidak
> bertanggungjawab adalah pengkhotbah yang tidak bertanggungjawab tidak berani
> mengeksposisi Alkitab dan ketika menjumpai ayat-ayat Alkitab yang jelas
mengajarkan
> predestinasi, mereka akan melewatinya untuk “menghindari konflik” atau
> istilahnya: “mencari aman” agar tidak menyinggung golongan Kristen lain
yang
> tidak memercayai predestinasi. Itulah jiwa ekumenisme (oikumene) “Kristen”
yang
> sedang didengungkan di zaman postmodern ini dan itulah jiwa kompromi yang
> bertolak belakang dengan kejujuran yang telah saya paparkan di atas.
>
>
>
> (3) Kasih
>
> Terakhir, tulus dan jujur mengarahkan kita
> untuk memberitakan Firman dengan kasih. Kejujuran HARUS disertai dengan kasih.
Kita
> memang harus berterus terang di dalam memberitakan Firman, tetapi sampai di
> mana batas kita berterus terang? Apakah kita berterus terang sampai kita
> menyinggung orang lain? Jelas TIDAK! Kita perlu berterus terang sejauh itu
> dilandasi KASIH! Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. di dalam salah satu khotbahnya
> yang pernah saya dengar ketika mengeksposisi 1 Korintus 8:1-3 di Gereja
Kristus
> Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya pernah menyatakan bahwa orang
> Reformed terlalu banyak menekankan pengetahuan dan kurang menekankan kasih.
> Saya mengaminkan pernyataan ini. Sering kali orang Reformed ribut berdebat dan
> mengkritik ajaran yang salah, namun sayang tidak didasari oleh kasih, tetapi
> kebencian terselubung. Baginya, orang non-Reformed dianggap “musuh” yang
harus
> disikat bahkan dikalahkan. Model Reformed seperti ini, saya percaya, bukan
spiritnya John Calvin dan Puritan. Lalu,
> bagaimana sikap kita seharusnya? Kita harus mengasihi orang lain, namun kasih
> ini harus didasarkan pada Kebenaran Firman. Kepada orang yang berpandangan
> Arminian, Baptis, Methodis, Pentakosta, Karismatik, dan bahkan Katolik, kita
> harus mengasihi saudara seiman kita di dalam Kristus, meskipun berbeda
> pandangan. Wujud kasih kita itu ditandai BUKAN dengan mengkompromikan iman
kita,
> tetapi justru dengan memberitakan kebenaran Firman Tuhan agar mereka juga
boleh
> dicerahkan hati dan pikirannya seperti kita. Inilah yang saya terus jalankan.
> Ketika kita mau berbagi pandangan doktrin dengan orang-orang non-Reformed,
> pandanglah orang non-Reformed itu sebagai saudara seiman kita yang perlu
> dikasihi, bukan sebagai “musuh.”
>
>
>
> Bagaimana dengan kita yang mengaku diri
> Reformed? Apakah kita masih memiliki kasih di dalam memberitakan Firman Tuhan?
> Ataukah kasih kita telah menjadi pudar karena kesombongan pengetahuan
doktrinal
> yang kita pelajari? Berhati-hatilah, jangan sampai iblis memakai pengetahuan
> yang kita miliki untuk menyombongkan diri!
>
>
>
>
>
> Setelah kita merenungkan gerakan Reformasi dan
> Reformed baik di zaman dahulu maupun di zaman sekarang, apa yang menjadi
> respons kita? Apakah kita mengikuti jejak Reformed di zaman dahulu yang setia
> kepada Kebenaran ataukah kita mengikuti jejak beberapa “Reformed” di zaman
> sekarang yang terlalu ekstrim: kompromi dan kaku? Biarlah Tuhan sendiri
> mencerahkan hati dan pikiran kita agar kita makin mencintai firman-Nya
> sungguh-sungguh lebih dari mencintai golongan/theologi apa pun. Amin. Soli Deo
> Gloria.
>
>
>
> Ecclesia Reformata Semper Reformanda
>
> (gereja-gereja Reformed harus terus-menerus
> di-Reformed-kan)
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> [1] New
> International Version Spirit of the Reformation Study Bible (U.S.A.:
> Zondervan, 2003), hlm. 1870.
>
>
>
>
>
> [2] Mark Shaw, Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja, terj. The Boen
Giok
> (Surabaya: Momentum, 2003), hlm. 25
>
>
>
>
>
> [3] Ibid., hlm. 24.
>
>
>
>
>
> [4]
>
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [5] David W. Hall, Warisan John Calvin: Pengaruhnya Di Dunia Modern, terj.
Lanna Wahyuni
> (Surabaya: Momentum, 2009), hlm. 43-44.
>
>
>
>
>
> [6]
>
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [7] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 44.
>
>
>
>
>
> [8]
>
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [9] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 46.
>
>
>
>
>
> [10]
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [11] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 45.
>
>
>
>
>
> [12]
>
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [13]
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin dan David W. Hall, Warisan John
Calvin: …, hlm. 51.
>
>
>
>
>
> [14]
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [15] Mark Shaw, Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja, hlm. 51-52 dan
David
> W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm.
> ix, 53-54, 56.
>
>
>
>
>
> [16] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 61.
>
>
>
>
>
> [17]
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin dan David W. Hall, Warisan John
Calvin: …, hlm. ix, 54.
>
>
>
>
>
> [18] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 63.
>
>
>
>
>
> [19] Ibid., hlm. 4-5, 66.
>
>
>
>
>
> [20] Mark Shaw, Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja, hlm. 52.
>
>
>
>
>
> [21]
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin
>
>
>
>
>
> [22] John M. Frame, Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya
(Surabaya:
> Momentum, 2002), hlm. 24-25.
>
>
>
>
>
> [23] David W. Hall, Warisan John Calvin: …, hlm. 66.
>
>
>
>
>
> [24] John M. Frame, Cornelius Van Til: …, hlm. 24-25.
>
>
>
>
>
> [25] Fundamentalisme sebagai sebuah gejala
> historis adalah suatu ekspresi Kekristenan secara unik pada abad ke-20 di
> Amerika sebagai reaksi terhadap serangan “theologi” liberal yang meracuni
> Kekristenan pada waktu itu dan juga ilmu pengetahuan (yaitu teori evolusi dari
> Charles Darwin). Keunikan Fundamentalisme ini adalah kesatuan Kekristenan dari
> berbagai aliran theologi, yaitu: Calvinis, Arminian, Baptis, dan Presbyterian
> dalam memerangi “theologi” liberal dengan menetapkan dasar-dasar iman
Kristen
> melalui satu seri buku yang terdiri dari 12 jilid yang berjudul The
Fundamentals pada tahun 1909.
> Dasar-dasar iman Kristen yang ditekankan tersebut di antaranya: inspirasi
> Alkitab dari Roh Kudus (dan ketidakbersalahan Alkitab), kelahiran Kristus dari
> anak dara Maria, kematian Kristus adalah penebusan bagi dosa, kebangkitan
> Kristus secara badani, realitas historis dari mukjizat-mukjizat Kristus. Prof.
> Harvie M. Conn, Litt.D. memaparkan kelemahan Fundamentalisme di antaranya:
> berakibat pada gerakan pietistik baru (dan menuntut perfeksionis), pengaruh
> Dispensasionalisme (ajaran Akhir Zaman yang mengajarkan adanya pengangkatan
> gereja secara rahasia sebelum masa kesusahan besar di akhir zaman dan Kerajaan
> 1000 Tahun itu sungguh-sungguh terjadi selama 1000 tahun setelah kedatangan
> Kristus kedua kalinya, di mana pada saat itu, iblis baru dikalahkan), dan
> kekurangtepatan menetapkan formulasi yang tepat bagi iman Kristen yang
> berdasarkan Alkitab. (Harvie M. Conn, Teologia
> Kontemporer, terj. Lynne Newell {Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara,
> 2008}, hlm. 178-180 dan
http://en.wikipedia.org/wiki/Fundamentalism)
>
>
>
>
>
> [26] Stanley J. Grenz, A Primer on Postmodernism: Pengantar
> untuk Memahami Postmodernisme dan Peluang Penginjilan Atasnya, terj. Wilson
> Suwanto (Yogyakarta: ANDI, 2001), hlm. 14-17.
>
>
> "Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah
orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus,
adalah hamba-Nya."(1Kor. 7:22)
>
>
> Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.
Dapatkan IE8 di sini!
>
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer
>