Skip to search.
JMF_UGM · jamaah muslim fisipol UGM

Group Information

  • Members: 79
  • Category: Students
  • Founded: Dec 12, 2005
  • Language: English
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Messages

  Messages Help
Advanced
DJI SAM SOE, EMPING, DAN IMIGRASI   Message List  
Reply Message #1 of 2604 < Prev |
DJI SAM SOE, EMPING, DAN IMIGRASI
 
Hari minggu siang (20/2) saya sangat bersyukur sekali dan sesegera mungkin melompat keluar dari selongsong pesawat GIA 718 tujuan Denpasar-Melbourne. Perjalanan menggunakan pesawat kali ini adalah perjalanan saya yang paling tidak menyenangkan. Bukan karena pelayanan garuda yang memburuk karena pilotnya banyak lompat pagar ke maskapai penerbangan swasta, atau pramugari yang kurang cantik dan sigap. Bukan karena itu, tapi ini lebih disebabkan karena kondisi badan saya yang sedang tidak enak badan. Sudah tiga hari ini saya terserang flu. Dan masya Allah! Sepanjang perjalanan kuping dan hidung saya sakit bukan main, terutama pada saat take off dan landing. Jika kita pernah naik bis AC yang tertutup dan kurang udara, kuping kita pasti kurang nyaman dan tertekan. Rasa sakit yang saya rasakan bisa dibilang berlipat-lipat dari sekedar perjalanan naik bis AC jelek Merak-Yogya. Pada saat kondisi tubuh normal saja, kuping terasa ada yang menusuk saat pesawat landing atau take off, apalagi ini disaat tubuh tidak bisa diajak kompromi barang sebentar saja. Sepanjang perjalanan Jakarta-Denpasar dan Denpasar-Melbourne sangat menyiksa sekali. Maka dari itu, begitu tanda sabuk pengaman dimatikan, saya langsung bergegas melompat menuju pintu keluar, minta pintu segera dibuka, dan menghirup udara segar. Setidaknya lebih baik dibanding di dalam pesawat.
 
Setelah menempuh perjalanan selama 9 jam, akhirnya saya kembali menjejakkan kaki di negeri benua ini. Perjalanan bermula dari Jakarta pukul 20 wib (19/2) dan tiba di Denpasar pukul 22 wib atau 23 wita, dilanjutkan kembali ke Melbourne pukul 23 wib atau 24 wita. Sampai di tujuan, jam Indonesia Barat yang saya pasang di tangan kanan saya menunjukan pukul 04.22 wib (20/2). Sengaja saya tidak merubah jam berdasarkan jam Bali atau jam Melbourne, agar saya bisa mengukur waktu perjalanan dan memperkirakan waktu di Serang sementara saya terbang. Sedangkan waktu setempat menunjukan pukul 08.22 (20/2). Melbourne lebih cepat 4 jam dibanding Serang dengan menit yang nyaris sama pada musim gugur ini.
 
Saya menemukan bandara internasional Tullamarine Melbourne merupakan bandara yang sangat sibuk tapi tidak terkesan sedak. Desain yang minimalis dan warna yang ramah menyambut setiap mata yang lelah baru turun dari pesawat. Layaknya tempat ramai pada umumnya, space kosong tidak akan terlewat dari iklan-iklan atau pesan layanan masyarakat. Namun bedanya, di Tullamarine, setiap iklan yang dipajang di dinding atau di sudut ruangan ditata dengan rapi dan elegan. Lebih menonjolkan unsur estetik dan keunikan dari foto, tinimbang jargon-jargon bombastis ala spanduk kota. Jika anda pernah sebelumnya mengunjungi Tullamarine, ada yang khas dan berbeda kali ini. Di beberapa sudut terlihat dominan warna hijau muda dan jingga tua, baik dalam bentuk pita-pita, kain-kain, selebaran gratis, atau poster-poster. Saya memutuskan untuk mencabut satu buku panduan turis gratis Melbourne 2006 dari rak tumpukan buku yang berjejal dan mencari tahu event apa yang akan diselenggarakan pada musim ini.
 
O, tidak perlu repot mencari rupaya, karena di sampul buku gratis itu sudah tercetak besar-besar: “MELBOURNE 2006 XVIII COMMONWEALTH GAMES”. Rupaya pesta olah raga antarnegara-negara persemakmuran Inggris ini kali akan diselenggarakan di Melbourne Australia 15-26 Maret 2006. Saya kembali ke Indonesia insya Allah bulan Mei, berarti masih ada kesempatan untuk menyaksikan hajatan Negara-negara bekas jajahan Inggris ini. Sekitar 71 negara akan turut serta dalam perhelatan besar ini, termasuk Malaysia, Singapura dan Brunei.
 
Sudah sejak berbulan-bulan media massa di Australia menayangkan iklan Commonwealth Games. Pemerintah federal Australia sampai menyebarkan buku panduan acara Commonwealth Games, beragam brosur, dan tentu saja publikasi-publikasi di sudut-sudut kota. Bahkan majalah penerbitan mahasiswa pun tak luput dari iklan ini.Herald Sun—sebuah media cetak harian di Negara bagian Victoria—sampai mengupas secara eksklusif para pembawa obor Commonwealth Games (baton). Foto-foto para pembawa obor dipajang setiap hari di Herald Sun dari mulai anak-anak, atlit, sampai lansia dan para pengguna kursi roda sedang tersenyum lebar memegang obor kebanggaan. Atmosfer even olah raga terbesar yang pernah diselenggarakan Melbourne ini sangat terasa di setiap sudut kota.
 
Tak lama setelah mata saya dihibur dengan pemandangan di bandara Tullamarine yang sangat berwarna-warni, mata saya tiba-tiba menubruk antrian panjang berkelok di ujung jalan sana. Saya kembali harus menghadapi kenyataan, ternyata urusan saya tidak segera habis begitu keluar dari selongsong pesawat, tapi masih harus menghadapi antrian panjang keimigrasian dan pemeriksaan barang. Saya tahu, saya harus masuk jalur khusus, jalur declare. Karena saya membawa rokok Djisamsoe tiga bos dan sekresek emping. Barang-barang yang saya sebutkan terakhir memang harus mendapatkan pemeriksaan khusus. Maklum, begitu tahu saya hendak terbang ke Australia, para kolega bapa dan ibu banyak menitipkan barang untuk dibawa serta. Khusus rokok, ini adalah titipan kawan bapa yang pecandu rokok Djisamsoe. Rokok di Australia adalah barang mahal. Selain karena pajak rokok yang tinggi,  rokok Djisamsoe hampir-hampir tidak dijual di Australia. Konon pajak rokok yang selangit diterapkan untuk menekan asap rokok yang konon tidak baik untuk kesehatan. Tidak hanya pajak, Negara bagian Victoria dengan sangat ketat meregulasi peredaran rokok, ditambah dengan iklan layanan masyarakat yang menakutkan tentang rokok dan pemerintah mengkampanyekan anti-rokok dan konsultasi berhenti merokok besar-besaran. Tak heran, Victoria dengan sangat bangga menyebut dirinya, “A Better State of Health.”
 
Jalur declare adalah jalur istimewa. Memang siapapun yang lewat jalur ini tidak perlu menghadapi antrian yang panjang untuk keluar dari bandara, tapi pemeriksaan yang dilakukan jauh lebih detail. Bahkan sampai isi koper kita dibongkar untuk mengetahui apa saja isi di dalamnya. Sedangkan jalur biasa, cukup discan sinar-X dan selesai. Tadinya saya sempat berpikir tidak melewati jalur declare dan mengabaikan peraturan yang berlaku, supaya cepat, pikir saya. Akan tetapi, bayangan tertangkap tangan membawa rokok kebanyakan, dituduh yang macam-macam, apalagi saya pemegang paspor Banten, saya mengurungkan niat “nakal” itu dan mendorong troli ke arah jalur declare.
 
Dan semuanya berjalan sesuai dugaan. Djisamsoe yang saya bawa jauh melebihi batas maksimum. Paling banyak rokok yang diizinkan masuk ke Australia hanya 200 batang. Sedangkan saya membawa tiga boss, yaitu sama dengan 600 batang. Jelas saja terlalu banyak! Pemeriksaan berlangsung cukup alot. Negosiasi pun terjadi. Ternyata saya tidak sendiri. Orang Malaysia di sebelah saya pun melakukan negosiasi yang sama agar rokoknya diizinkan masuk ke Australia. Petugas bilang, keimigrasian Australia akan menyita rokok Djisamsoe itu atau saya diharuskan membayar denda USD 140 yang setara dengan Rp.980.000. Demi Dzat yang jiwaku ada digenggaman-Nya, mahal sekali dendanya! Dan saya pun tidak membawa uang sebanyak itu. Saya meminta satu boss untuk saya bawa, dua boss lainnya silakan disita. Petugas bilang tidak bisa. Dengan berat hati, saya relakan rokok titipan bapa itu lepas dari tangan.
 
Selanjutnya giliran emping. Petugas rokok memanggil temannya yang saya pikir lebih mengerti tentang makanan tropis. Seperti biasa petugas itu menyapa saya dengan ramah dan kemudian memulai pemeriksaan. “What’s this?” tanyanya sambil membaui emping. Saya mencoba menjelaskan itu emping. Agak konyol memang, tapi saya sulit mencari padanan kata melinjo dalam bahasa Inggris. Saya mencoba gnetum gnemon nama lain melinjo dalam penamaan latin bilogi (taksonomi), petugas itu tetap tidak mengerti. Saya bilang, itu makanan khas daerah Banten. Ia pun tetap tidak mau mengerti dan turut menyita sekresek emping itu. Ah, mengapa saya tidak bilang saja, “its made from potato.” Supaya pemeriksaan itu berjalan lancar. Tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, tinggal bagaimana menjadikan bubur itu sebagai bubur ayam special.
 
Kadang saya berpikir, agak repot memang membawa macam-macam barang yang aneh-aneh. Kalau bukan karena titipan dari kolega bapa dan ibu di Indonesia dan pesanan dari Australia, barang-barang yang sekiranya akan mempersulit keimigrasian, sudah saya tinggal di Indonesia.
 
Saya kembali mendorong troli yang berisi koper padat dengan langkah yang semakin lemah. Saya sedang tidak enak badan dan ditambah dengan pengalaman kurang mengenakan di keimigrasian tadi, membuat troli ini rasanya berat sekali. Lorong menuju pintu keluar sudah didepan mata. Sinar matahari perlahan mulai sangat jelas dan terang. Sinar matahari yang menyilaukan disusul teriakan dari suara yang saya kenal dan lambaikan tangan membuat saya reflek mengarahkan pandangan ke asal suara.
 
Di sana sudah ada bapa, ibu, dan adik-adik dengan senyuman yang merekah penuh dan lambaian tangan kerinduan. Awalnya terasa seperti sedang bermimpi melihat mereka demikian dekat. Tapi ternyata saya sudah terjaga. Saya sudah ada di Melbourne dan ini bukan mimpi menyaksikan keluarga kami kembali berkumpul utuh.***
 
Melbourne, 22 Feb2006
Kisah selanjutnya: Ebiet G. Ade di Princess Highway


Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.

Mon Mar 13, 2006 2:05 am

aad_sidqi
Offline Offline
Send Email Send Email

Message #1 of 2604 < Prev |
Expand Messages Author Sort by Date

DJI SAM SOE, EMPING, DAN IMIGRASI Hari minggu siang (20/2) saya sangat bersyukur sekali dan sesegera mungkin melompat keluar dari selongsong pesawat GIA 718...
aad sidqi
aad_sidqi Offline Send Email
Mar 13, 2006
2:05 am

Ha ha ternyata bule2 gak ngerti emping.... Harusnya aad ngomong kalau itu bumbu masakan khas sunda... :-) Dsini kabarnya baik... cuman ada musibah.. Bapaknya...
Dendi Pratama
moshack001 Offline Send Email
Mar 14, 2006
4:17 pm

inalillahi... aad dah dikabari sama ruri pada hari wafatnya bapaknya pak aulia. alhamdulillah dah sms. akh, saya pengen bicara sama udhi. ini penting. bisa...
aad sidqi
aad_sidqi Offline Send Email
Mar 15, 2006
10:46 pm

Afwan baru bales... Ifo milis dah tak tuls di buku pesan/.. kalau mau ngomong sama hudi sabtuabis subuh gmana? nanti saya usahakan skypea...........
Dendi Pratama
moshack001 Offline Send Email
Mar 16, 2006
10:48 pm

oke insya Allah. nanti sabtu abis subuh kita skypean yah. kalo bisa ngajak teman2 yang lain juga. wicak TP juga pengen ikutan katanya. thx b4 c u aad sidqi ......
aad sidqi
aad_sidqi Offline Send Email
Mar 16, 2006
11:40 pm
Advanced

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help