Ada banyak hal yg saya sepakat dengan sampeyan. Tapi, tidak usah saya
menyebut kesepakatan saya tersebut. Juga, saya kagak
mempermasalahkan "polemik" sampeyan dengan Adnin Armas. Saya setuju,
menjauhkan sikap "menjawab prasangka dengan prasangka". Jujur, saya
menikmati "polemik" sampeyan dengan Adnin.
Tapi setelah membaca tulisan sampeyan "Rekonstruksi Sejarah Teks
Alquran" (Republika, Senin, 11 April 2005), saya menyimpan kegalauan,
terutama pada alenia-alenia terakhir. Saya tidak mempersoalkan
keontetikan Al-Qur'an, atau mempertanyakan sumber-sumber yang
sampeyan ambil.
Kegalauan saya adalah, setelah Cak Mun'im membuka "lobang" dalam
kajian Alqur'an, terutama di depan masyarakat awam, lantas apa tindak
lanjutnya? Apakah membiarkan lobang itu terus menganga? Saya
berharap, Cak Mun'im tidak sedang "gagah-gagahan", berhasil menyobek
lobang yang selama ini, selama berabad-abad, ditutup-tutupi rapat
sekali oleh ulama-ulama Indonesia. Seperti ditutup-tutupinya sebagian
ajaran Tasawuf kepada masyarakat awam Jawa.
Cak Mun'im, saya jumpai, ternyata sikap "gagah-gagahan" ini sedang
melanda anak-anak muda Indonesia, terutama mereka yang mengklaim diri
mereka sendiri sebagai 'intelektual Islam'. Ini tidak baik. Mereka,
sang intelektual ini, ramai-ramai membuka "lobang" menganga. Yang
disesalkan, mereka mempertontonkan hal tersebut di depan khalayak
awam, lewat kolom, ketimbang di depan kalangan khowas al-khos:
jurnal. Silahkan saja "lobang-lobang" ini diaduk-aduk, kalopun perlu
diobrak-abrik, biar keilmuan Islam kembali hidup, tapi, hemat saya,
harus lewat media yang pas. Gejalanya, mereka yang mengklaim diri
mereka sendiri sebagai intelektual, mengaduk-aduknya di depan mata
awam. Mereka ramai-ramai "gagah-gagahan" lewat kolom opini koran, di
depan orang-orang awam dengan segala tingkatannya. Seandainya suatu
saat ada aksi murtad massal, apakah ini tidak membuat kita merinding?
Membayangkannya, saya ngeri.
Sikap para "Intelektual" muda ini memang bukan datang sekonyong-
konyong, tapi karena contoh yang ada di depan mereka rata-rata adalah
orang-orang besar (mungkin lebih tepat "terkenal") yang melejit
karena memunculkan pandangan berbeda. Ambil contoh, Cak Nur, Gus Dur
dan Said Aqil Siradj. Dalam beberapa dekade terakhir, saya belum
menemukan di Indonesia orang menjadi besar dan melejit karena
berpandangan lurus dan dari kerja keras. Rata-rata melejit karena
jalan pintas dan asal beda. Mungkin Harun Nasution bisa dimasukkan
dalam kategori terakhir, tapi pemikiran Mu'tazilah yang diusungnya
pada masa itu, juga terbilang "nyleneh".
Tetapi, biarpun "nyelenh", Cak Nur dan Gus Dur, saya lihat, adalah
dua orang yang tidak asal beda, yang tidak asal membuat "lobang", dan
selanjutnya terus membiarkan lobang itu menganga. Sejak dulu, pemikir
lokal Indonesia diakui mampu memunculkan pemikiran keislaman yang
dibutuhkan masyarakat setempat dan sesuai dengan zamannya, sejak
Hadlarusy-syaikh Hasyim Asy'ari, Wahid Hasyim, M. Natsir, dll,
sehingga tidak aneh, misalnya, jika ide-ide Maududi diserap kagak
utuh, kecuali menjalani permak sana-sini. Kejeniusan pemikir lokal
Islam Indonesia ini diakui oleh Prof. Kamal Hassan, dan sepintas oleh
Bob Hefner di tulisan Bentara kemaren sewaktu membalas
tulisan 'dahsyat' sunan Sukidi di kolom yang sama sebelumnya tentang
protestanisme Islam.
Yang saya sayangkan, banyak teman-teman kita, sekarang ini, pingin
segera melejit tanpa dengan susah payah dan kerja keras. Mereka asal
beda dan sering membiarkan "lobang-lobang" tersebut terus menganga
secara telanjang di depan mata awam. Namun, saya percaya, dalam
tulisan "Rekonstruksi Sejarah Teks Alquran" (Republika, Senin, 11
April 2005), Cak Mun'im tidak sedang gagah-gagahan, tapi sebagai
tanggapan spontan terhadap Adnin.
Nah, Cak Mun'im, setelah "lobang" tersebut tersibak, karena ini
terkait dengan dampak-dampak negatif pada orang-orang awam,
pertanyaan saya: apa yang akan Cak Mun'im lakukan, apakah akan
membiarkan lobang itu terus menganga di Republika?
Cak Mun'im, Ada banyak hal yg saya sepakat dengan sampeyan. Tapi, tidak usah saya menyebut kesepakatan saya tersebut. Juga, saya kagak mempermasalahkan...
Assalamu'alaikum Wr Wb.... Lumayan seru juga ngeliat "duel" antara adnin dengan Mas Mun'im. Mungkin akan lebih baik dan arif lagi, jika mas Mun'im, dengan ...
salam, pertama buat mas aziz: kalau anda baca posting saya tentang "pakar dan kafir", barangkali sedikit dari pertanyaan anda telah saya jawab. saya memang...
salam semuanya, ada yang bisa membantu saya menjelaskan gramatikal ayat ini : wa al-muqimina al-shalata wa al-muktuna al-zakata (al-nisa': 162). dalam ilmu...
Saya kurang tahu, ini bisa membantu atau tidak... Kalo tidak salah inget waktu ngaji dulu, ada yg makhdhuf sebelum kata al-muqimin, yaitu ahsan atau amdah....
thanks, mas faried. kato terjemahan depag-nya dideret aja tuh, jadi wa al-muktuna diathafkan ke al-muqimina. karena itu, saya bingung. tapi, memang, keanehan...
Tp tafsiran spt ini serasa ga' sreg. Rasanya, hanya utk menutupi keanehan yg sebenarnya tidak perlu terjadi untuk sebuah canon sekaliber Al-Qur'an. Boleh jadi,...
Saya langsung saja membuka Qur'an kecilku yang ada tafsir Jalalayn- nya. Di situ frasa "al-muqimina al-salah" diberi keterangan: "nusiba `ala al-madh, wa...
thanks, syeikh nadir. it is helpful. tampak sekali, bagaimana mereka menafsirkan apa saja agar ayat ini tidak bermasalah secara gramatikal. yang menarik dari...
Dalam al-Itqan bab Nasikh Mansukh Aisyah membuat pernyataan yang sangat mengejutkan. Yakni tentang surat al-Ahzab. Aisyah berkata kuranglebih "Pada masa...
... Ichwan, Semoga diskusi Adnin versus Mun'im mengenai siapa yang lebih dulu mengkritisi Mushaf Usmani --sahabat Nabi atau orientalis-- tidak menjelma menjadi...
Cak Mun'im, Makasih atas jawabannya. Meskipun kegundahan dan kegelisahan saya belum sepenuhnya terjawab, tapi saya cukup puas. Bahkan saya menemukan perspektif...
rizqan, beberapa hari lalu, di sela-sela bicara bacaan kita masing-masing (dan ini memang sering kita lakukan), sukidi dan saya sempat bicara seputar komentar...
salam, terima kasih juga bila tidak harus membawa tulisan-tulisan bagus dan 'kontroversial' melulu dibawa ke jurnal yang periodik (lama) terbitnya, namun ke...
koko -
kokowae@...
Apr 20, 2005 5:14 pm
Salam, Menaggapi isu tulisan yang membongkar khasananh keIslaman dikoran publik. Saya pikir kita sebaiknya memakai jalan tengah dengan meminimalisasi ...