----- Original Message -----From: andryansyah rivaiSent: Tuesday, November 11, 2008 11:15 AMSubject: [IndoEnergy] PLTN, tidak percaya pemerintah, sulit maju???
Saya tidak bermaksud menyerang, hanya ingin menunjukkan betapa sulitnya kita percaya dengan pemerintah negeri sendiri.Ini sengaja saya teruskan (tanpa ijin, salahkah??) untuk memberi masukan, khususnya ke pak Chairul (walaupun besar kemungkinan sudah membacanya), betapa saya sulit sekali bisa percaya dengan hitungan pemerintah khususnya soal PLTN. Juga dengan hasil penelitian dalam negeri. Hal ini dikarenakan pengalaman saya selama ini.Untuk itu, bila ingin mendapatkan data berkaitan dengan layak atau tidaknya PLTN ada di negeri dalam waktu dekat (2016-2017), KITA HARUS MEMPERHATIKAN BANYAK HAL, dan akan sangat baik bila data yang kita dapat diuji ulang atau dikonsulkan ke pihak yang memang ahlinya (dan kalau bisa yang tidak punya kepentingan pribadi, golongan, institusi atau sejenisnya), dan berpikir jauh demi bangsanya.Pengalaman di bawah bukanlah satu-satunya dan boleh dikata terlalu banyak kasus yang sangat tidak pro rakyat. Jadi benarkan negeri ini sulit maju karena tidak percaya pada pemerintahnya? Buat saya yang terjadi adalah sebaliknya, terlalu percaya dan seolah dipaksa oleh pemerintah dan kita diam saja, maka kita menjadi selalu tertinggal.Maaf,andry
From: Harry Eddyarso <harry_e@cbn.net.id>
To: Migas_Indonesia@yahoogroups. com
Sent: Tuesday, November 11, 2008 10:18:10 AM
Subject: [Oil&Gas] Lumpur Lapindo lagi -- was FW: Wawancara Dr. Rudy Rubiandini
For your info aja..
-----------
Selamat siang Pak Rudy,
Ini draft wawancara saya dengan Bapak.
Tulisan ini mau naik cetak nanti malam, saya menunggu foto dari Bapak.
Terima kasih sebelumnya.
Widodo
FOTO: RUDY RUBIANDINI-ISTIMEWA
Dr Rudy Rubiandini
"Kalau Salahkan Alam Kan Nggak Ada Tuntutan"
Ada empat kelompok pendapat dari para ahli geologi dunia tentang pemicu
munculnya lumpur Lapindo. Mayoritas berpendapat, penyebabnya adalah
kesalahan pengeboran.
Sebagai salah satu peserta American Association of Petroleum
Geologists (AAPG) 2008 International Conference and Exhibition di Cape Town,
Afrika Selatan, 26-29 Oktober 2008 lalu, Dr Rudy Rubiandini begitu kecewa
ketika hasil konferensi internasional tersebut diplintir untuk kepentingan
Bakrie Group dalam kasus lumpur Lapindo. Padahal, dalam sesi diskusi "Lusi
Mud Volcano: Earthquake of Drilling Trigger", mayoritas peserta sepakat
bahwa penyebab lumpur Lapindo adalah karena kesalahan pengeboran, bukan
gempa bumi. "Kalau menyalahkan alam kan tidak ada tuntutan. Yang seperti itu
sudah amat gamblang," ujar ahli geologi dari ITB itu kepada Sri Widodo dari
Indonesia Monitor, Rabu (5/11). Berikut ini petikan wawancaranya.
Mengapa dalam diskusi itu tidak dibuat laporan tertulis, berarti
hanya sebatas pertemuan informal?
Bukan begitu, formal itu tidak harus tertulis. Tidak perlu bikin
laporan buat orang Indonesia. Justru kita yang seharusnya kemudian mencari
tahu, apa sih yang sebenarnya terjadi. Apakah pemerintah mau atau tidak
menerima keputusan orang-orang yang tidak punya interest dengan Lapindo,
interest dengan politik Indonesia dan sebagainya.
Bagaimana hasil diskusi itu?
Mereka beranggapan, hasil diskusi sudah panjang karena memakan
waktu dua tahun. Bertemulah mereka di Cape Town sebagai titik puncak,
setelah seminggu sebelumnya di London. Di situ ada empat kelompok. Pertama,
kelompok yang mempercayai bencana Lapindo disebabkan bencana alam. Kedua,
kelompok yang percaya bencana itu akibat dari pengeboran. Ketiga, kelompok
yang percaya akibat dari kedua-duanya. Keempat, kelompok yang mengatakan
data ini inkonklusif sehingga masih harus dikaji ulang. Setelah panjang
lebar dan sebagainya si moderator bilang, 'ini kelihatannya kita harus
akhiri, karena sudah sore'.
Dari situ lalu muncul usul untuk pemungutan suara?
Moderator mengatakan, untuk mengakhiri pertemuan itu, mari kita
lihat petanya seperti apa sih pendapat saudara-saudara. Akhirnya para
hadirin diminta untuk mengacungkan tangan. Kelompok pertama yang setuju
akibat bencana alam, yang ngacung cuma 3 orang. Kelompok kedua yang setuju
akibat dari pengeboran, yang ngacung 42 orang. Kelompok ketiga yang percaya
akibat kedua-duanya yang ngacung ada 13 orang. Lalu kelompok keempat yang
inkonklusif yang ngacung ada 16 orang.
Dari peta 42 orang dan 3 orang, kita mau ambil kesimpulan
seperti apa lagi. Silakan simpulkan, pertemuan itu tidak akan menyimpulkan
apa-apa, biar masyarakat sendiri yang menyimpulkan apakah lumpur Lapindo
terjadi akibat bencana alam atau pengeboran.
Bagaimana tanggapan Lapindo?
Ya pasti menolak. Tapi saya mau katakan, apakah bangsa Indonesia
mau mencari kebenaran atau tidak. Kalau mau mencari kebenaran, dengarkan apa
kata mereka. Mereka itu tingkat keahliannya tinggi, tidak dipengaruhi oleh
apapun. Mereka ilmunya tinggi. Mereka bukan hanya orang Indonesia, mereka
bukan orang idiot, mereka bukan masyarakat biasa, mereka semua mengerti
tentang ilmu minyak dan gas bumi, mereka memahami geologi, mereka berbicara
membahas fakta yang ada, berjam-jam. Masak kita tidak percaya terhadap
analisis mereka. Bahwa kemudian pemerintah tidak menganggap pertemuan itu
pertemuan resmi, silakan saja, bahwa itu nonformal silakan, bahwa DPR tetap
menganggap kasus Lapindo sebagai bencana alam, silakan. Cuma, kasihan sekali
bangsa ini ditertawakan dunia.
Pertemuan yang di London hasilnya juga sama?
Betul. Tapi yang di London memang dibuat press release-nya. Dan
yang membuat release itu teman-teman Lapindo, hasilnya juga sama, tidak ada
kesimpulan.
Berapa yang hadir dalam pertemuan di Cape Town?
Sekitar 90 ahli geologi dari seluruh dunia. Di sana kita tidak
melihat dari mana asal usulnya, yang penting itu adalah international event
yang dilakukan setiap tahun, yang sudah berjalan sekian puluh tahun.
Mereka itu siapa saja?
Itu adalah asosiasi ahli geologi dunia yang kredibilitasnya
tidak diragukan. Saya dengar, di Indonesia katanya mau diadakan lagi.
Pertanyaan saya, apakah bisa lebih kompeten dari mereka? Apakah bisa lebih
netral dari mereka? Apakah bisa lebih hebat kemampuan menganalisisnya dari
mereka? Mari kita berkaca, jangan mengaku sok pinter.
Mereka berdiskusi atas inisiatif siapa?
Orang-orang itu datang tanpa kepala, datang tanpa dasar. Mereka
itu tergabung dalam asosiasi sudah bertahun-tahun. Sekarang dunia melihat
kepada lumpur Lapindo, tanpa diminta. Para ahli geologi interest untuk
datang ke tempat itu, jauh-jauh dari berbagai negara hanya untuk mengikuti
acara itu. Kita harus apresiasi itu. Mereka tidak punya kepentingan apapun.
Mereka bisa datang saja sudah hebat kok, ngapain ada kepentingan- kepentingan
tertentu. Netralitas mereka sangat tinggi, sehingga kalau ada isu bahwa
pertemuan itu dipolitisasi, itu sangat menyesatkan. Tadi saya cerita, itu
hanya polling, memetakan, dan petanya seperti itu, simpulannya silakan
putuskan sendiri.
Anda sendiri melihatnya seperti apa?
Saya justru banyak muncul pertanyaan. Waktu DPR mengatakan bahwa
ini akibat dari bencana alam, waktu BPPT, Aspermigas (Asosiasi Perusahaan
Minyak dan Gas Bumi), maupun IAGI mengatakan ini akibat gempa, ada tidak
media massa yang protes? Ada apa? Caranya bagaimana? Mereka bikin tim
perumus yang orang-orangnya berasal dari Lapindo. Kenapa ketika ada yang
melakukan dengan cara voting di luar negeri, tanpa ada yang mengatur, tanpa
ada tim perumus, kenapa malah diributkan? Aduh, kacau benar bangsa ini.
Rekayasanya sungguh amat telanjang. Janganlah muka buruk cermin dibelah.
Kalau kita berkaca, saat muka kita kelihatan jelek, janganlah cerminnya
dipecahin. Harapan saya terhadap pemerintah tidak terlalu muluk, tolong
dianalisis hasil diskusi itu.
Pihak Lapindo ngotot bahwa lumpur Lapindo akibat gempa?
Ya, kalau menyalahkan alam, kan tidak ada tuntutan. Yang seperti
itu sudah amat gamblang.
Anda menilai media massa sudah dikooptasi untuk kepentingan
Bakrie Group, apa mesti dilakukan?
Ya, akhirnya saya hanya bisa menyarankan, mari kita gunakan hati
nurani. Selama pemimpin tidak memiliki hati nurani dan akal sehat, lumpur
Lapindo tidak akan pernah tuntas. Kita tenang sajalah, wong DPR-nya juga
tidak akan pernah percaya terhadap AAPG. Bakrie tenang saja, wong
presidennya tidak akan pernah percaya terhadap temuan AAPG. Pemerintah juga
tidak akan berpihak pada AAPG. Tenang saja wong kejaksaan juga tidak akan
pernah mengusut. Semua tidur nyenyak.
Kabarnya, ahli geologi yang memihak kepada kepentingan Bakrie
Group akan menggelar pertemuan tandingan di Indonesia?
Berkacalah, apakah Anda lebih hebat dari orang-orang yang
berkumpul di AAPG. Pesan saya cuma satu, berkacalah.
Kalau mereka tidak mau berkaca?
Kita menunggu perubahan hati nurani, terutama para pemimpinnya.
Ini masalahnya sederhana sekali, hanya hati nurani. Itu saja, tidak
sulit-sulit kok. Apalagi yang harus kita usahakan, wong pertemuan tingkat
internasional saja diabaikan, apalagi yang bisa diharapkan kecuali
kembalinya hati nurani. Semua sudah kita lakukan. Semua yang kita lakukan,
halal, berdasarkan keilmuan, tidak ada pesanan-pesanan, rekayasa dan
sebagainya. Tidak ada permainan supaya kasus Lapindo merupakan kesalahan
pengeboran. Semua transparan.
Apa tahun depan AAPG akan menggelar diskusi tentang lumpur
Lapindo lagi?
Tidak mungkinlah. Itu kemarin dijadikan highlight saja,
seharusnya bangsa Indonesia berterima kasih. Itu kan ada enam highlight.
Highlight itu acara yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Pertemuan itu
setara dengan climate change, setara dengan offshore exploration , setara
dengan African change exploration, itu adalah sebuah masalah yang dianggap
penting bagi para ahli. Kita harus berterima kasih terhadap mereka. Kok kita
mau bikin acara tandingan di sini. Ya diketawain, dagelan yang tidak lucu. n
[Non-text portions of this message have been removed]