Search the web
Sign In
New User? Sign Up
IndoEnergy
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want your group to be featured on the Yahoo! Groups website? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
PLTN, tidak percaya pemerintah, sulit maju???   Message List  
Reply | Forward Message #6527 of 8390 |
Re: [IndoEnergy] PLTN, tidak percaya pemerintah, sulit maju???

Rekan Milis Yth.
 
 
Pemerintah memang sulit untuk dipercaya, karena pemerintah menerima masukan dari berbagai kalangan dalam membuat kebijakan energi, bahkan memperhatikan kepentingan investor asing supaya mereka tertarik berinvestasi. Kalau pemerintah pro rakyat pasti menetapkan harga energi bukan dengan harga keekonomisan saja, tetapi memperhatikan daya beli masyarakatnya.
 
Kekurangan listrik di Indonesia bukan karena krisis energi, tetapi lebih karena krisis manajemen energi. Pemerintah lebih suka menjual gas dan batubara daripada menjual listrik ke negara tetangga. Kita harus jual produk yang mempunyai nilai tambah dengan memanfaatkan sumber energi yang kita miliki.
 
Pemerintah hanya berpikir cara mudah saja, rencana mengimpor batubara adalah kebijakan yang sangat merugikan, sementara kita ekspor 150 juta ton batubara, sungguh ironis. Kita tidak bisa menggunakan batubara sendiri, semua sudah dikuasai oleh swasta, pemerintah tidak punya power, padahal ijin penambangan dari pemerintah. Perhatikan perusahaan penambangan batubara yang akan bangkrut, kok bisa bangkrut, lalu saham akan dibeli pemerintah. Kalau pemerintah tegas, swasta yang tidak mampu mengelola tambang diambil alih dengan cara cabut saja ijinnya. Karena sangat merugikan kepentingan rakyat untuk mendapat energi murah.
 
Kita dengan Jepang dan Korea bekerjasama dalam bidang energi dengan cara Indonesia jual gas dan batubara ke Korea dan Jepang. Sebagai imbalannya kita ditawari untuk beli PLTN dari mereka. Apakah ini pengelolaan energi yang benar. Kita periksa kebijakan energi amerika, mereka menjaga sumber daya energi untuk anak cucu. Sementara kita akan mewariskan krisis energi kepada anak cucu, karena saat ini sumber energi sudah digadaikan swasta kepada asing dan pemerintah tidak berdaya, karena kita harus menghormati kontrak yang merugikan rakyat. 
 
Kalau listrik PLTN murah kenapa negara seperti Jepang, Korea, Perancis dan Amerika tidak merencanakan untuk mengganti semua pembangkit listrik dengan PLTN.
Mereka sangat paham biaya pengolahan dan perawatan limbah nuklir sangat mahal, supaya limbah nuklir tidak disalahkan gunakan untuk menjadi bom. Biaya dekomisiong juga mahal, menghancurkan bangunan PLTN tidak sama seperti membongkar PLTU. Menghancurkan gedung dengan dinamit sering kita saksikan, begitu mudah gedung menjadi hancur. PLTN tidak bisa dengan cara ini, karena material radioaktif harus ditangani dengan baik supaya tidak membahayakan manusia dan lingkungan.
 
Negara maju sedang berjuang untuk mengembangkan energi terbarukan karena mereka percaya sumber energi fosil dan uranium akan habis. Bagaimana dengan kita, sepertinya kita akan mengekor saja dengan riset dalam energi terbarukan dari negara lain, saat teknologi energi terbarukan sudah sukses kita tidak punya uang untuk membelinya, sumber energi primer sudah habis diekspor seperti terjadi pada minyak bumi. Kita akan semakin miskin karena tidak punya kemampuan membeli energi.
 
 
Salam,
Iwan Kurniawan
 
 
 
 
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, November 11, 2008 11:15 AM
Subject: [IndoEnergy] PLTN, tidak percaya pemerintah, sulit maju???

Saya tidak bermaksud menyerang, hanya ingin menunjukkan betapa sulitnya kita percaya dengan pemerintah negeri sendiri.
 
Ini sengaja saya teruskan (tanpa ijin, salahkah??) untuk memberi masukan, khususnya ke pak Chairul (walaupun besar kemungkinan sudah membacanya), betapa saya sulit sekali bisa percaya dengan hitungan pemerintah khususnya soal PLTN. Juga dengan hasil penelitian dalam negeri. Hal ini dikarenakan pengalaman saya selama ini.
 
Untuk itu, bila ingin mendapatkan data berkaitan dengan layak atau tidaknya PLTN ada di negeri dalam waktu dekat (2016-2017), KITA HARUS MEMPERHATIKAN BANYAK HAL, dan akan sangat baik bila data yang kita dapat diuji ulang atau dikonsulkan ke pihak yang memang ahlinya (dan kalau bisa yang tidak punya kepentingan pribadi, golongan, institusi atau sejenisnya), dan berpikir jauh demi bangsanya.
 
Pengalaman di bawah bukanlah satu-satunya dan boleh dikata terlalu banyak kasus yang sangat tidak pro rakyat. Jadi benarkan negeri ini sulit maju karena tidak percaya pada pemerintahnya? Buat saya yang terjadi adalah sebaliknya, terlalu percaya dan seolah dipaksa oleh pemerintah dan kita diam saja, maka kita menjadi selalu tertinggal.
 
Maaf,
andry


From: Harry Eddyarso <harry_e@cbn.net.id>
To: Migas_Indonesia@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, November 11, 2008 10:18:10 AM
Subject: [Oil&Gas] Lumpur Lapindo lagi -- was FW: Wawancara Dr. Rudy Rubiandini

For your info aja..

-----------

Selamat siang Pak Rudy,

Ini draft wawancara saya dengan Bapak.

Tulisan ini mau naik cetak nanti malam, saya menunggu foto dari Bapak.
Terima kasih sebelumnya.

Widodo

FOTO: RUDY RUBIANDINI-ISTIMEWA

Dr Rudy Rubiandini

"Kalau Salahkan Alam Kan Nggak Ada Tuntutan"

Ada empat kelompok pendapat dari para ahli geologi dunia tentang pemicu
munculnya lumpur Lapindo. Mayoritas berpendapat, penyebabnya adalah
kesalahan pengeboran.

Sebagai salah satu peserta American Association of Petroleum
Geologists (AAPG) 2008 International Conference and Exhibition di Cape Town,
Afrika Selatan, 26-29 Oktober 2008 lalu, Dr Rudy Rubiandini begitu kecewa
ketika hasil konferensi internasional tersebut diplintir untuk kepentingan
Bakrie Group dalam kasus lumpur Lapindo. Padahal, dalam sesi diskusi "Lusi
Mud Volcano: Earthquake of Drilling Trigger", mayoritas peserta sepakat
bahwa penyebab lumpur Lapindo adalah karena kesalahan pengeboran, bukan
gempa bumi. "Kalau menyalahkan alam kan tidak ada tuntutan. Yang seperti itu
sudah amat gamblang," ujar ahli geologi dari ITB itu kepada Sri Widodo dari
Indonesia Monitor, Rabu (5/11). Berikut ini petikan wawancaranya.

Mengapa dalam diskusi itu tidak dibuat laporan tertulis, berarti
hanya sebatas pertemuan informal?

Bukan begitu, formal itu tidak harus tertulis. Tidak perlu bikin
laporan buat orang Indonesia. Justru kita yang seharusnya kemudian mencari
tahu, apa sih yang sebenarnya terjadi. Apakah pemerintah mau atau tidak
menerima keputusan orang-orang yang tidak punya interest dengan Lapindo,
interest dengan politik Indonesia dan sebagainya.

Bagaimana hasil diskusi itu?

Mereka beranggapan, hasil diskusi sudah panjang karena memakan
waktu dua tahun. Bertemulah mereka di Cape Town sebagai titik puncak,
setelah seminggu sebelumnya di London. Di situ ada empat kelompok. Pertama,
kelompok yang mempercayai bencana Lapindo disebabkan bencana alam. Kedua,
kelompok yang percaya bencana itu akibat dari pengeboran. Ketiga, kelompok
yang percaya akibat dari kedua-duanya. Keempat, kelompok yang mengatakan
data ini inkonklusif sehingga masih harus dikaji ulang. Setelah panjang
lebar dan sebagainya si moderator bilang, 'ini kelihatannya kita harus
akhiri, karena sudah sore'.

Dari situ lalu muncul usul untuk pemungutan suara?

Moderator mengatakan, untuk mengakhiri pertemuan itu, mari kita
lihat petanya seperti apa sih pendapat saudara-saudara. Akhirnya para
hadirin diminta untuk mengacungkan tangan. Kelompok pertama yang setuju
akibat bencana alam, yang ngacung cuma 3 orang. Kelompok kedua yang setuju
akibat dari pengeboran, yang ngacung 42 orang. Kelompok ketiga yang percaya
akibat kedua-duanya yang ngacung ada 13 orang. Lalu kelompok keempat yang
inkonklusif yang ngacung ada 16 orang.

Dari peta 42 orang dan 3 orang, kita mau ambil kesimpulan
seperti apa lagi. Silakan simpulkan, pertemuan itu tidak akan menyimpulkan
apa-apa, biar masyarakat sendiri yang menyimpulkan apakah lumpur Lapindo
terjadi akibat bencana alam atau pengeboran.

Bagaimana tanggapan Lapindo?

Ya pasti menolak. Tapi saya mau katakan, apakah bangsa Indonesia
mau mencari kebenaran atau tidak. Kalau mau mencari kebenaran, dengarkan apa
kata mereka. Mereka itu tingkat keahliannya tinggi, tidak dipengaruhi oleh
apapun. Mereka ilmunya tinggi. Mereka bukan hanya orang Indonesia, mereka
bukan orang idiot, mereka bukan masyarakat biasa, mereka semua mengerti
tentang ilmu minyak dan gas bumi, mereka memahami geologi, mereka berbicara
membahas fakta yang ada, berjam-jam. Masak kita tidak percaya terhadap
analisis mereka. Bahwa kemudian pemerintah tidak menganggap pertemuan itu
pertemuan resmi, silakan saja, bahwa itu nonformal silakan, bahwa DPR tetap
menganggap kasus Lapindo sebagai bencana alam, silakan. Cuma, kasihan sekali
bangsa ini ditertawakan dunia.

Pertemuan yang di London hasilnya juga sama?

Betul. Tapi yang di London memang dibuat press release-nya. Dan
yang membuat release itu teman-teman Lapindo, hasilnya juga sama, tidak ada
kesimpulan.

Berapa yang hadir dalam pertemuan di Cape Town?

Sekitar 90 ahli geologi dari seluruh dunia. Di sana kita tidak
melihat dari mana asal usulnya, yang penting itu adalah international event
yang dilakukan setiap tahun, yang sudah berjalan sekian puluh tahun.

Mereka itu siapa saja?

Itu adalah asosiasi ahli geologi dunia yang kredibilitasnya
tidak diragukan. Saya dengar, di Indonesia katanya mau diadakan lagi.
Pertanyaan saya, apakah bisa lebih kompeten dari mereka? Apakah bisa lebih
netral dari mereka? Apakah bisa lebih hebat kemampuan menganalisisnya dari
mereka? Mari kita berkaca, jangan mengaku sok pinter.

Mereka berdiskusi atas inisiatif siapa?

Orang-orang itu datang tanpa kepala, datang tanpa dasar. Mereka
itu tergabung dalam asosiasi sudah bertahun-tahun. Sekarang dunia melihat
kepada lumpur Lapindo, tanpa diminta. Para ahli geologi interest untuk
datang ke tempat itu, jauh-jauh dari berbagai negara hanya untuk mengikuti
acara itu. Kita harus apresiasi itu. Mereka tidak punya kepentingan apapun.
Mereka bisa datang saja sudah hebat kok, ngapain ada kepentingan- kepentingan
tertentu. Netralitas mereka sangat tinggi, sehingga kalau ada isu bahwa
pertemuan itu dipolitisasi, itu sangat menyesatkan. Tadi saya cerita, itu
hanya polling, memetakan, dan petanya seperti itu, simpulannya silakan
putuskan sendiri.

Anda sendiri melihatnya seperti apa?

Saya justru banyak muncul pertanyaan. Waktu DPR mengatakan bahwa
ini akibat dari bencana alam, waktu BPPT, Aspermigas (Asosiasi Perusahaan
Minyak dan Gas Bumi), maupun IAGI mengatakan ini akibat gempa, ada tidak
media massa yang protes? Ada apa? Caranya bagaimana? Mereka bikin tim
perumus yang orang-orangnya berasal dari Lapindo. Kenapa ketika ada yang
melakukan dengan cara voting di luar negeri, tanpa ada yang mengatur, tanpa
ada tim perumus, kenapa malah diributkan? Aduh, kacau benar bangsa ini.
Rekayasanya sungguh amat telanjang. Janganlah muka buruk cermin dibelah.
Kalau kita berkaca, saat muka kita kelihatan jelek, janganlah cerminnya
dipecahin. Harapan saya terhadap pemerintah tidak terlalu muluk, tolong
dianalisis hasil diskusi itu.

Pihak Lapindo ngotot bahwa lumpur Lapindo akibat gempa?

Ya, kalau menyalahkan alam, kan tidak ada tuntutan. Yang seperti
itu sudah amat gamblang.

Anda menilai media massa sudah dikooptasi untuk kepentingan
Bakrie Group, apa mesti dilakukan?

Ya, akhirnya saya hanya bisa menyarankan, mari kita gunakan hati
nurani. Selama pemimpin tidak memiliki hati nurani dan akal sehat, lumpur
Lapindo tidak akan pernah tuntas. Kita tenang sajalah, wong DPR-nya juga
tidak akan pernah percaya terhadap AAPG. Bakrie tenang saja, wong
presidennya tidak akan pernah percaya terhadap temuan AAPG. Pemerintah juga
tidak akan berpihak pada AAPG. Tenang saja wong kejaksaan juga tidak akan
pernah mengusut. Semua tidur nyenyak.

Kabarnya, ahli geologi yang memihak kepada kepentingan Bakrie
Group akan menggelar pertemuan tandingan di Indonesia?

Berkacalah, apakah Anda lebih hebat dari orang-orang yang
berkumpul di AAPG. Pesan saya cuma satu, berkacalah.

Kalau mereka tidak mau berkaca?

Kita menunggu perubahan hati nurani, terutama para pemimpinnya.
Ini masalahnya sederhana sekali, hanya hati nurani. Itu saja, tidak
sulit-sulit kok. Apalagi yang harus kita usahakan, wong pertemuan tingkat
internasional saja diabaikan, apalagi yang bisa diharapkan kecuali
kembalinya hati nurani. Semua sudah kita lakukan. Semua yang kita lakukan,
halal, berdasarkan keilmuan, tidak ada pesanan-pesanan, rekayasa dan
sebagainya. Tidak ada permainan supaya kasus Lapindo merupakan kesalahan
pengeboran. Semua transparan.

Apa tahun depan AAPG akan menggelar diskusi tentang lumpur
Lapindo lagi?

Tidak mungkinlah. Itu kemarin dijadikan highlight saja,
seharusnya bangsa Indonesia berterima kasih. Itu kan ada enam highlight.
Highlight itu acara yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Pertemuan itu
setara dengan climate change, setara dengan offshore exploration , setara
dengan African change exploration, itu adalah sebuah masalah yang dianggap
penting bagi para ahli. Kita harus berterima kasih terhadap mereka. Kok kita
mau bikin acara tandingan di sini. Ya diketawain, dagelan yang tidak lucu. n

[Non-text portions of this message have been removed]




Tue Nov 11, 2008 6:08 am

iwan@...
Send Email Send Email

Forward
Message #6527 of 8390 |
Expand Messages Author Sort by Date

Saya tidakĀ bermaksud menyerang, hanya ingin menunjukkan betapa sulitnya kita percaya dengan pemerintah negeri sendiri. Ini sengaja saya teruskan (tanpa ijin,...
andryansyah rivai
andryansyah@...
Send Email
Nov 11, 2008
4:58 am

Pak Andry tidak bermaksud mengaitkan kasus Lapindo dengan rencana PLTN kita kan :). Kalau iya, wah bisa panjang ceritanya dan tidak akan habis-habis. Saya...
Chairul Hudaya
chairul_hudaya
Offline Send Email
Nov 11, 2008
5:42 am

Pak Chairul dan Pak Arnold coba mengeles nih kalau ditanya soal komponen biaya pembangunan PLTN. Ga bisa jawab pertanyaan ini maka ganti melontarkan pertanyaan...
James Wiyanto
james.indo@...
Send Email
Nov 11, 2008
6:15 pm

Terima kasih Pak James, Wah seru juga ya kalau dalam sebuah diskusi ada wasit yang menilai. Tapi sayang kok wasitnya hanya menilai salah satu pihak saja ya,...
Chairul Hudaya
chairul_hudaya
Offline Send Email
Nov 11, 2008
7:07 pm

Pak James, bukanya aku ingin berkelit atau menghindar, tetapi memang bukan porsiku lagi untuk bicara masalah komponen biaya. Karena jelas aku akan mendapatkan...
arnold_batan@...
Send Email
Nov 12, 2008
6:29 am

Pak Arnold Investasinya sangat menggiurkan dengan nilai tukar saat ini (BCA), harga 4 PLTN 1000 MWe, U$ 8 milyar dikonversi dalam rupiah 95,6 Trilyun rupiah....
Iwan Kurniawan
iwan@...
Send Email
Nov 12, 2008
12:58 pm

Yth. Pak Iwan, US$ 8 milyar itu omongan politikus Mc. Cain waktu kampanye, yang nyalon presiden Amerika tapi nggak kepilih. Biar agak ilmiah sedikit ambillah ...
disart@...
esartono
Offline Send Email
Nov 13, 2008
3:22 am

Yth. Pak Edi, Pak Arnold tulis biaya PLTN 2000 USD/kWe, kalau saya hitung untuk 4 PLTN maka hasilnya: 4.000.000 kWe ( 4 PLTN masing masing 1000 MWe) X 2000...
Iwan Kurniawan
iwan@...
Send Email
Nov 13, 2008
3:52 am

Dear Pak Iwan, Biaya investasi awal PLTN memang mahal, tetapi kan sasaran akhirnya adalah harga pembangkitan listriknya, dan 5-6 cent/kWh di tahun 2018 adalah...
arnold_batan@...
Send Email
Nov 13, 2008
7:42 am

Terus terang saya bingung dengan pernyataan Pak Iwan dibawah ini : *" **15 persen dari total investasi sudah cukup untuk memuluskan pembangunan PLTN, 1.000.000...
Chairul Hudaya
chairul_hudaya
Offline Send Email
Nov 13, 2008
5:24 am

Rekan Milis Yth. Pemerintah memang sulit untuk dipercaya, karena pemerintah menerima masukan dari berbagai kalangan dalam membuat kebijakan energi, bahkan...
Iwan Kurniawan
iwan@...
Send Email
Nov 11, 2008
6:11 am

Salam, Dari awal saya mendukung habis pemikiran Pak Iwan Kurniawan dan kawan-kawan, macam kalimat di bawah ini. Maju terus Pak, bravo! Mari kita...
iwan piliang
iwan.piliang@...
Send Email
Nov 11, 2008
6:56 am

Ikut urun rembug ya pak, IMHO, hanya menyalahkan Pemerintah atas kebijakan yang telah diambilnya, bukanlah langkah yang bijak. Para pengamat juga dituntut...
Chairul Hudaya
chairul_hudaya
Offline Send Email
Nov 11, 2008
7:15 am

Lha yang ditulis oleh Dr Rudi yang disebut safety culture yang tdk atau belum dimiliki oleh Bangsa ini .... ini pertanyaan mendasar yang belum dan sptnya akan...
eriell@...
Send Email
Nov 11, 2008
8:25 am

pemilihan PLTN atau tidak, berdasarkan untung ruginya tidak akan pernah selesai. tidak ada yang benar mutlak diantara 2 pilihan tersebut, dari jaman saya...
Ari Muladi
gimtaro
Offline Send Email
Nov 12, 2008
4:36 am

Politis juga lho pak Ari. Buktinya hanya gara-gara masalah politik, kita pernah diembargo suku cadang pesawat tempur yang harganya mahal juga yang akibatnya...
andryansyah rivai
andryansyah@...
Send Email
Nov 12, 2008
6:52 am

Kalo baca diskusi ttg nuklir di milis ini dari bertahun2 lalu selalu saja pro-kontra-nya ga beres2 (dan kadang2 mengarah ke personal), jadi pantes juga kalo...
Zaki
zaki9576
Offline Send Email
Nov 13, 2008
6:09 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help