Skip to search.

Breaking News Visit Yahoo! News for the latest.

×Close this window

Diskusi-Pembebasan · Kibarkan Enam Panji Kemenangan Rakyat

The Yahoo! Groups Product Blog

Check it out!

Group Information

  • Members: 664
  • Category: World Politics
  • Founded: Sep 22, 2002
  • Language: Indonesian
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Messages

Advanced
Messages Help
Messages 2080 - 2109 of 3079   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Messages: Show Message Summaries Sort by Date ^  
#2080 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Sun May 3, 2009 5:14 pm
Subject: UPDATE LENTERA on ADB (Asian Dectructive Bank)
mataharikusatu
Send Email Send Email
 
#2081 From: Icas Jakarta <icas.jakarta@...>
Date: Sat May 2, 2009 10:20 am
Subject: Reschedule: Bedah Buku "Ketika Persahabatan Tidak Lagi Bersahabat"
icas.jakarta
Send Email Send Email
 

AGENDA BEDAH BUKU MINGGU INI


"KETIKA PERSAHABATAN TIDAK LAGI BERSAHABAT"



Minggu, 3 Mei 2009, Pukul 13.00 - 15.00 WIB

Toko Buku Leksika Lenteng Agung
Jln. Raya Lenteng Agung No. 101
(Depan Sekretariat/Kantor Pusat PDIP)


1. Masagus Fauzan Yayan
(Penulis "Ketika Persahabatan Tidak Lagi Bersahabat")
2. Abu Ali
(Penulis "Pawang Manusia: Strategi Jitu Menaklukkan
dan Memengaruhi Orang Lain")



Abstraksi :

Apa arti persahabatan??? Bagaimana membangun hubungan yang harmonis dengan sahabat??? Apakah teman anda benar-benar sahabat anda???
Temukan lika-liku dalam hubungan persahabatan dan cara membangun hubungan yang harmonis dengan sahabat dalam acara bedah buku ini.


ACARA INI GRATIS DAN TERBUKA UNTUK UMUM


Untuk informasi, hubungi :
1. Toko Buku Leksika, u.p. Bp. Yos Swastono
(021) 780 6566
2. ICAS Jakarta, u.p.. Bpk. Max Hendrian Sahuleka
(021) 765 1534

Contact Person :
1. Max Hendrian Sahuleka ( 99174815 )
2. Yos Swastono ( 0858 7836 7167 )

 



#2082 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Fri May 1, 2009 5:38 pm
Subject: UPDATE LENTERA on ADB (Asian Dectructive Bank)
mataharikusatu
Send Email Send Email
 
#2083 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Mon May 4, 2009 9:09 am
Subject: Polisi 'Menahan' Rombongan Asian People Movement Against ADB
mataharikusatu
Send Email Send Email
 

Laporan dari Bali : Rombongan Asian People Movement Against ADB  Dihadang  Polisi di 4 Titik di Bali

Pagi ini Senin, 4 Mei 2009, kelompok sipil dari 8 negara Asia dan kelompok masyarakat serta non goverment organisation (NGO) baik level nasional maupun lokal dari Indonesia yang akan menyuarakan hasil-hasil deklarasi dari pertemuannya beberapa hari di Denpasar mengenai praktek jerat hutang ADB, ketika menuju Lapangan Mumbul daerah Nusa Dua Bali tertahan oleh pihak kepolisian dengan alasan yang tidak jelas serta mengada-ada.

 

Kelompok pertama dari rombongan Walhi dan Seafish yang berasal dari 5 negara, tertahan di Polsek Kuta Selatan, negosiasi yang dilakukan nyaris tidak membuahkan hasil, walaupun kelompok ini sudah memberkan nama-nama partisipan dan tujuan keberangkatan kali ini adalah untuk menyuarakan hasil-hasil deklarasinya. Awalnya di cek poin pertama Nusa Dua rombongan yang memang terjebak dalam arus lalu lintas menuju Nusa Dua, ketika akan berbalik arah menuju Lapangan Mumbul tiba-tiba polisi langsung memberhentikan rombongan yang terdiri dari 3 mobil tersebut, dan hendak mengambil perlengkapan rombongan. Karena negosiasi alot dan menimbulkan perhatian bagi para partisipan yang hendak menuju acara ADB, kemudian mereka langsung mengawal untuk dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan.  

Selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/rombongan-asian-people-movement-against.html



Asian People’s Movement Against ADB : DEKLARASI BALI

Kami, perwakilan petani, buruh, nelayan, perempuan, pembela HAM, pembela lingkungan, mahasiswa dan gerakan masyarakat sipil yang tergabung dalam Asian People’s Movement Against ADB, berkumpul di Bali bersamaan waktu pertemuan Annual Governors Meeting (ADB AGM) tanggal 2 – 5 Mei 2009. Kami meyakini ADB tak mungkin menjawab krisis yang terjadi saat ini.

Selama empat puluh tahun lebih, kami menyaksikan dan merasakan kehadiran dan keterlibatan ADB telah melahirkan krisis pangan, krisis iklim, krisis energi, krisis sosial dan krisis keuangan. Kami menyaksikan bahwa dukungan penuh ADB kepada sektor swasta dan mengarahkan pemerintah kami mengikuti kebijakan pro pasar bebas, sistem yang telah terbukti bangkrut saat ini. Operasi proyek-proyek utang ADB justeru menjadi sebab meningkatnya jumlah orang miskin di Negara-negara di Asia.

Kami, rakyat Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand, Timor Leste, Sri langka, Kamboja, Vietnam, India dan Pakistan berkumpul dalam Asian People’s Movement Against ADB Summit di Renon Bali, mendiskusikan krisis-krisis yang lahir akibat jeratan utang dan proyek-proyek ADB di negara-negara kami. Kesaksian-kesaksian dalam pertemuan ini telah menyatukan suara dan tuntutan kami untuk:

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/deklarasi-bali-asian-peoples-movement.html

 

 

Silah kunjung untuk informasi terkait kampanye masyarakat sipil terkait pertemuan ADB sejak tanggal 30 April 2009

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/search/label/a-PEOPLES%20%20AGAINST%20ADB




#2084 From: "fikar w.eda" <fikar_wed@...>
Date: Wed May 6, 2009 1:28 pm
Subject: Re: Polisi 'Menahan' Rombongan Asian People Movement Against ADB
fikar_wed@...
Send Email Send Email
 

Harian serambi indonesia

ADB Bikin Bangkrut Negara di Asia

5 May 2009, 08:58 Ekonomi | Bisnis Administrator

NUSA DUA - Asian Development Bank (ADB) dituding telah membuat bangkrut negara-negara di Asia. Organisasi yang didirikan pada 1966 itu juga dinilai menjadi seponsor perusak lingkungan. Pernyataan keras terhadap peran ADB itu tertuang dalam “Deklarasi Bali” yang dikeluarkan oleh jaringan Asian People’s Movement Against ADB di Nusa Dua Bali, Senin (4/5). Jaringan LSM ini hadir di Bali berbarengan dengan pertemuan tahunan Dewan Gubernur ADB.

Dari Indonesia tercatat Koalisi Antiutang, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Serikat Petani Indonesia, Solidaritas Perempuan, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, Jaringan Advokasi Tambang, dan Crisis Center yang mendatangani deklarasi tersebut. Para penandatangan Deklarasi Bali mendesak pembubaran ADB. Kepala Departemen Advokasi dan Jaringan Eksekutif Walhi, M Teguh Surya mengatakan, selama berdirinya ADB sudah banyak proyek-proyek yang dibiayainya berdampak pada kerusakan lingkungan yang cukup serius. “Kami meyakini ADB tak mungkin menjawab krisis yang terjadi saat ini,” kata Teguh.

Ditegaskan, pinjaman dana dari ADB merupakan bentuk penjajahan, karena sumber daya alam yang tereksploitasi dan utang menjadi beban masyarakat. Ia menyebut contoh lahan mangrove 1,3 hektare musnah, karena proyek ADB untuk perluasan lahan tambak. “Tak hanya itu, di Papua Barat, proyek LNG Tangguh juga menyebabkan kerusakan lingkungan,” ungkapnya.

Diserukan, masyarakat Asia harus mencermati kenyataan tersebut, dan diperlukan pula kemauan politik pemimpin-pemimpin negara Asia, untuk tidak bergantung kepada ADB dalam pembiayaan pembangunannya. Deklarasi Bali menyoroti pula peran Jepang sebagai negara salah satu pemegang saham terbesar. Jepang didesak untuk tidak lagi menanamkan dananya di ADB. Alasannya, Jepang adalah negara terbesar kedua pemilik saham ADB dan memiliki kuota suara sebesar 12,75 persen dari total anggota ADB, dan 19,6% persen total anggota di regional Asia Pasifik. Karena itu, ucap Teguh, keputusan ADB sangat dipengaruhi suara Jepang. “Termasuk keputusan-keputusan yang menguntungkan negaranya, korporasi dan konsultan mereka,” ucapnya.(fik)
Copyright © 2009 Serambinews

--- On Mon, 5/4/09, andre andreas <mataharikusatu@...> wrote:

From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Subject: [Diskusi-Pembebasan] Polisi 'Menahan' Rombongan Asian People Movement Against ADB
To: kerja.pembebasan@...
Date: Monday, May 4, 2009, 4:09 PM

Laporan dari Bali : Rombongan Asian People Movement Against ADB  Dihadang  Polisi di 4 Titik di Bali

Pagi ini Senin, 4 Mei 2009, kelompok sipil dari 8 negara Asia dan kelompok masyarakat serta non goverment organisation (NGO) baik level nasional maupun lokal dari Indonesia yang akan menyuarakan hasil-hasil deklarasi dari pertemuannya beberapa hari di Denpasar mengenai praktek jerat hutang ADB, ketika menuju Lapangan Mumbul daerah Nusa Dua Bali tertahan oleh pihak kepolisian dengan alasan yang tidak jelas serta mengada-ada.

 

Kelompok pertama dari rombongan Walhi dan Seafish yang berasal dari 5 negara, tertahan di Polsek Kuta Selatan, negosiasi yang dilakukan nyaris tidak membuahkan hasil, walaupun kelompok ini sudah memberkan nama-nama partisipan dan tujuan keberangkatan kali ini adalah untuk menyuarakan hasil-hasil deklarasinya. Awalnya di cek poin pertama Nusa Dua rombongan yang memang terjebak dalam arus lalu lintas menuju Nusa Dua, ketika akan berbalik arah menuju Lapangan Mumbul tiba-tiba polisi langsung memberhentikan rombongan yang terdiri dari 3 mobil tersebut, dan hendak mengambil perlengkapan rombongan. Karena negosiasi alot dan menimbulkan perhatian bagi para partisipan yang hendak menuju acara ADB, kemudian mereka langsung mengawal untuk dibawa ke Polsek untuk dimintai keterangan.  

Selengkapnya

http://lenteradiata sbukit.blogspot. com/2009/ 05/rombongan- asian-people- movement- against.html



Asian People’s Movement Against ADB : DEKLARASI BALI

Kami, perwakilan petani, buruh, nelayan, perempuan, pembela HAM, pembela lingkungan, mahasiswa dan gerakan masyarakat sipil yang tergabung dalam Asian People’s Movement Against ADB, berkumpul di Bali bersamaan waktu pertemuan Annual Governors Meeting (ADB AGM) tanggal 2 – 5 Mei 2009. Kami meyakini ADB tak mungkin menjawab krisis yang terjadi saat ini.

Selama empat puluh tahun lebih, kami menyaksikan dan merasakan kehadiran dan keterlibatan ADB telah melahirkan krisis pangan, krisis iklim, krisis energi, krisis sosial dan krisis keuangan. Kami menyaksikan bahwa dukungan penuh ADB kepada sektor swasta dan mengarahkan pemerintah kami mengikuti kebijakan pro pasar bebas, sistem yang telah terbukti bangkrut saat ini. Operasi proyek-proyek utang ADB justeru menjadi sebab meningkatnya jumlah orang miskin di Negara-negara di Asia .

Kami, rakyat Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand, Timor Leste, Sri langka, Kamboja, Vietnam, India dan Pakistan berkumpul dalam Asian People’s Movement Against ADB Summit di Renon Bali, mendiskusikan krisis-krisis yang lahir akibat jeratan utang dan proyek-proyek ADB di negara-negara kami. Kesaksian-kesaksian dalam pertemuan ini telah menyatukan suara dan tuntutan kami untuk:

selengkapnya

http://lenteradiata sbukit.blogspot. com/2009/ 05/deklarasi- bali-asian- peoples-movement .html

 

 

Silah kunjung untuk informasi terkait kampanye masyarakat sipil terkait pertemuan ADB sejak tanggal 30 April 2009

http://lenteradiata sbukit.blogspot. com/search/ label/a-PEOPLES% 20%20AGAINST% 20ADB





#2085 From: Icas Jakarta <icas.jakarta@...>
Date: Thu May 7, 2009 5:29 am
Subject: Undangan Terbuka STUDIUM GENERALE "Relation between Islamic Philosophy and Modern Civilization"
icas.jakarta
Send Email Send Email
 

UNDANGAN TERBUKA

 

STUDIUM GENERALE

 

“RELATION BETWEEN ISLAMIC PHILOSOPHY

AND MODERN CIVILIZATION”

 

Bersama :

Prof. Mohammad Hassan Shojaee

(Presdient of ISAE)

 

Jum’at, 8 Mei 2009

Pukul 09.00 – 11.30 WIB

 

Mulla Sadra Room

Kampus ICAS Lt. 4

Plaza Pondok Indah III Blok F5,

Jln. TB SImatupang,

Jakarta Selatan

 

Untuk informasi, hubungi :

 

Kampus ICAS Jakarta

Telp. :  (021) 76513534 u.p. Mrs. Elma, Mr. Max

Contact Person :  Max  ( 99174815, 32959478, 081385446785 )

 

 

 

ICAS Jakarta

 

m e m b u k a

 

PENERIMAAN MAHASISWA BARU

TINGKAT MAGISTER (S2)

Jurusan Islamic Philosophy dan Islamic Mysticism

 

Pendaftaran paling lambat 9 Mei 2009

 

TERSEDIA BEASISWA BAGI YANG MEMENUHI SYARAT

 

Untuk informasi :

Kampus ICAS Jakarta

Plaza Pondok Indah III Blok F5,

Jln. TB Simatupang, Jakarta Selatan

Telp. :  (021) 76513534 u.p. Mrs. Elma, Mr. Max

Contact Person :  Max  ( 99174815, 32959478, 081385446785 )

 



#2086 From: Ted Sprague <ted_sprague@...>
Date: Sun May 10, 2009 6:24 am
Subject: Kaum Proletar dan Revolusi (Leon Trotsky 1913)
ted_sprague
Send Email Send Email
 

Kaum Proletar dan Revolusi

 

Leon Trotsky (1904)

 

Kaum pekerja bukan hanya harus mengadakan sebuah propaganda revolusioner. Kaum pekerja sendiri harus harus bergerak menuju sebuah revolusi.

 

Untuk bergerak menuju sebuah revolusi bukan serta merta berarti menetapkan sebuah tanggal untuk sebuah pemberontakan dan bersiap-siap menghadapi hari tersebut. Kita tidak akan pernah bisa menetapkan sebuah hari dan jam untuk sebuah revolusi. Rakyat tidak pernah membuat sebuah revolusi berdasarkan perintah.


....


Baca selengkapnya di


http://www.marxists.org/indonesia/archive/trotsky/1904-KaumProletar.htm




#2087 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Sat May 9, 2009 6:58 am
Subject: Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur
mataharikusatu
Send Email Send Email
 

refleksi pedih peradaban dan kemanusiaan kita

mohon maaf bila tak berkenan...


Bagi saya karya-karya Haris Purnomo dalam pameran Kaum Bayi : Alegori Tubuh-tubuh yang Patuh ini adalah kritik atas peradaban, kekerasan dunia orang dewasa, kekerasan tatanan masyarakat baik di lapangan politik, ekonomi, budaya, teknologi terhadap alam dan sesama manusia. Bumi air tanah tumbuh bayi-bayi mungil dengan tato sekujur tubuh, dalam bedong ber-pisau sangkur. Hangat kepompong dalam proses metamorfosis menjadi bentuk lain, kepribadian lain. 


Mereka Menunggu Aba-aba!!!!


(untuk karya-karya haris purnomo dan renungan budayawan sindhunata silah kunjung

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/menunggu-aba-aba-bayi-bertato-kepompong.html)


grekgrek, grekgrek, grengkek, grekgrek

grek grek suara motor penggerak pisau sangkur menghipnotis ruang bentara budaya yang temaram itu, mencabik kenyamanan, membuat ngeri, seperti dengkur pasukan perang, tentara pembunuh ...... alien, mutan, monster...

 

atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

 

Mereka Mnunggu Aba-aba!!!

bayi-bayi lelap dan jaga yang menimbulkan kasih dan haru itu, menyembul harap dan bahagia dan kengerian yang dicetakan padanya, di sekitarnya...

kontradiksi pedih dan kegilaan  abad ini....

 

silah kunjung pula Gallery Foto Lentera

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/galery-foto-lentera-kota-tua-jakarta.html



#2088 From: ztowishes@...
Date: Sun May 10, 2009 2:48 pm
Subject: Communication Skills
ztowishes@...
Send Email Send Email
 
#2089 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Tue May 12, 2009 2:22 am
Subject: plazademayo : ibu anak-anak yg dihilangkan, ibu revolusioner
mataharikusatu
Send Email Send Email
 

Mothers of the Disappeared
persembahan U2 untuk ibu-ibu Plaza de mayo

Midnight, our sons and daughters
Were cut down and taken from us
Hear their heartbeat
We hear their heartbeat

In the wind, we hear their laughter
In the rain, we see their tears
Hear their heartbeat
We hear their heartbeat

Ooooh...

Night hangs like a prisoner
Stretched over black and blue
Hear their heartbeat
We hear their heartbeat

In the trees, our sons stand naked
Through the walls, our daughters cry
See their tears in the rainfall.


Atas perjuangan ibu-ibu Plaza de Gayo yang luar biasa grup musik terkenal, U2 membuat lagu khusus untuk mereka berjudul “Mothers of the Disappeared” dalam albumnya, The Joshua Tree. Hal serupa dilakukan oleh musisi lainnya Sting, yang mengabadikan Ibu-Ibu tersebut dalam lagunya yang berjudul ”They Dance Alone”. Joan Baez penyanyi ballad perempuan legendari juga membuat dokumentari untuk mereka dengan judul ”There But for Fortune”. Pada rangkaian tur musiknya di kawasan Amerika Latin, U2 dan Sting mengajak Ibu-Ibu itu ke atas panggung dan bersama-sama membacakan nama-nama keluarga mereka yang hilang di hadapan para penonton (sumber Kontras)

 

Siapakah ibu-ibu Plaza De Mayo ini?

 

The Mothers mendefinisikan diri sebagai ”ibu”, sekaligus ”revolusioner”, dan tidak menganggap dua hal itu sebagai kontradiktif. Mereka menggunakan politik pengibuan untuk melawan. Penggunaan simbol berbentuk popok sebagai penutup kepala dari kain katun putih berbentuk segitiga yang diikatkan ke dagu, bersulam nama anak mereka yang dihilangkan, adalah bagian strategi politik pengibuan.

Mereka menentang dan mengubah interpretasi tradisional dari ”pengibuan” dengan mendefinisikan ulang secara kolektif dan politis. Mereka mendeskripsikan dirinya sebagai ibu dari semua korban yang dihilangkan dan ibu dari generasi muda Argentina .

Seperti dipaparkan Marguerite Guzman Bouvard dalam Revolutionizing Motherhood: The Mothers of the Plaza de Mayo (1994), mereka bertindak sebagai mentor politik bagi anak muda yang mendukung mereka. Seperti halnya anak-anak mereka yang dihilangkan, anak-anak muda itu terhubung melalui kehendak akan reformasi politik dan perhatian kepada yang terpinggirkan. Terkait dengan itu, The Mothers mendeskripsikan diri mereka sebagai ”hamil permanen” untuk melahirkan generasi baru pemimpin politik.

Mereka membawa pengalaman otentik mereka sebagai ibu untuk melawan dan menentang pemikiran dan tindakan politik yang didefinisikan laki-laki. Realitas yang diciptakan The Mothers, juga tidak terdapat dalam berbagai aliran dari teori feminis kontemporer pada masa itu. Model gerakan itu kemudian diadopsi banyak gerakan perempuan di luar Amerika Latin.


Dipetik dari artikel Maria Hartiningsih PLAZA DE MAYO Kekuatan Politik Pengibuan di harian Kompas 8 Mei 2009


dan di negeri ini.......

Imparsial dalam salah satu press release Politik yang Tuna Sejarah mengecam dinamika politik kekuasaan hari ini yang didominasi partai-partai dan elit politik yang abai terhadap penyelesaian kasus-kasus penghilangan paksa, kejahatan ham berat masa lalu dan juga kasus pembunuhan aktivis ham munir.


Karena itu pelajaran yang bisa dipetik ibu-ibu Plaza de Mayo adalah  memang perlu perjuangan yang lebih panjang lagi, kegigihan yang lebih panjang lagi bagi keluarga korban, dan munculnya dukungan lebih luas lagi untuk mampu menggebrak elite dan tatanan politik yang menjadi bagian dari rezim masa lalu, rezim pelaku kejahatan ham berat dan kejahatan kemanusiaan.


Untuk kisah  selengkapnya dan link U2, Sting, Joan Baez silah kunjung

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/ibu-ibu-plaza-de-mayo-ibu-anak-anak.html





#2090 From: Solidaritas Nusa Bangsa <snb2010@...>
Date: Tue May 12, 2009 11:06 am
Subject: undangan peringatan Mei
snb2010@...
Send Email Send Email
 

Undangan

 

Dalam rangka memperingati 11 tahun Tragedi Kemanusiaan 13 – 15 Mei 1998, Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Forum Keluarga Korban Mei 1998 (FKKM) bersama Panitia Rumah Kenangan Mei (RKM) mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i pada:

 

Hari/Tanggal       :  Jumat/15 Mei 2009

Waktu                :  14.00 wib s/d selesai

Tempat              :  Kampung Jati RT.01/RW.08, Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung

                            Jakarta Timur - 13250

 

 

Besar harapan kami atas kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i pada acara ini. Terima kasih.

 

 

                                                                        Jakarta, 11 Mei 2009

   

                                                                            Hormat Kami,

 

Solidaritas Nusa Bangsa    Forum Keluarga Korban Mei 1998    Panitia Rumah Kenangan Mei

 

 

Contact Person:

1. Ibu Ruminah : (021) 489 6681

2. Ria : 08 11111 2410

3. Meiti : 0815 956 5374

 


Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. Rasakan bedanya!

#2091 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Tue May 12, 2009 10:17 am
Subject: WOC Sarat dengan Pelanggaran HAM
mataharikusatu
Send Email Send Email
 

Siaran Pers Bersama

WOC Sarat dengan Pelanggaran HAM

 

Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) yang mengusung tema "Climate Change Impacts to Ocean and The Role of Ocean to Climate Change" berlangsung di Manado, Sulawesi Utara, 11-14 Mei 2009, dan dilanjutkan dengan Coral Triangle Initiative (CTI) pada tanggal 15 Mei 2009. Diadakannya CTI, ditujukan untuk melindungi terumbu karang, sumber daya perikanan yang berkelanjutan, dan ketahanan pangan.

WOC sarat dengan pelanggaran hak sipil dan politik (Sipol),  baik sebelum pelaksanaan dimana suara nelayan tradisional tidak diberikan tempat untuk menyuarakan hak-hak dasarnya, tindakan repressif aparat kepolisian yang membubarkan penyelenggaraan kegiatan masyarakat sipil untuk mengkritisi kebijakan, penangkapan terhadap aktifis dan deportasi kepada nelayan dan aktifis lingkungan yang sedang menyuarakan hak-hak dasar dan krisis yang dialami oleh masyarakat nelayan yang tidak pernah menjadi perhatian WOC. Praktek-praktek yang dilakukan oleh aparat keamanan mencerminkan bahwa Negara telah mengabaikan hak atas kemerdekaan berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat dimuka umum sebagaimana yang dijamin dan dilindungi oleh konstitusi.

Indikasi pelanggaran hak sipil dan politik juga berpotensi kuat akan terjadi, ketika negara dan delegasi negara-negara mengambil kesepakatan yang tidak pernah melibatkan masyarakat pesisir atau nelayan, dan nelayan akan terancam kriminalisasi oleh aparat keamanan karena melanggar kesepakatan yang dibuat oleh negara. Padahal selama ini, nelayan tradisional diabaikan dan hak-hak kelola tradisionalnya tidak diakui oleh negara dan actor-aktor yang terlibat dalam WOC.

WOC juga melakukan pelanggaran hak ekonomi, social dan budaya (ekosob). Ini dapat dilihat dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, yang melarang nelayan melaut sepanjang pelaksanaan WOC. Jika demikian, jargon WOC sebagai forum dunia untuk kepentingan rakyat jauh dari kenyataan. WOC justru jauh dari potret krisis kelautan dan krisis yang dirasakan oleh nelayan.

Persoalan-persoalan pokok yang dilupakan dalam kedua pertemuan internasional ini bertolak dari hak-hak konstitusional nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, baik laki-laki maupun perempuan. Jika WOC melenggang mulus dengan agendanya, nasib nelayan yang menjadi lumbung dan penyedia protein tersingkir dari ruang hidupnya dan semakin menenggelamkan nelayan dalam kemiskinan.

Bagi gerakan masyarakat sipil, khususnya gerakan lingkungan dan nelayan di Indonesia, WOC tidak lebih hanya menjadi alat untuk melegitimasi liberalisasi sumber daya laut dan semakin memiskinkan nelayan oleh berbagai kebijakan pembangunan. WOC merupakan ancaman yang serius bagi kedaulatan negara-negara maritim seperti Indonesia. Proyek CTI sesungguhnya menjadi legitimasi oleh pengurus Negara untuk “menjual”  kekayaan laut Indonesia.

CTI, sebagai sebuah inistiatif yang semakin menghilangkan kedaulatan Negara kepulauan seperti Indonesia dan Negara-negara dunia ketiga, khususnya nelayan tradisional. WOC - CTI mengarahkan pada pasar bebas konservasi. Terakhir, terbukti dari perluasan konservasi laut Sawu dari 40 ribu ha menjadi 400 ribu ha, dan rencananya menjadi 4 juta hektar, yang akan diumumkan pada ajang WOC. Inilah hasil kerjasama The Nature Conservancy (TNC) beserta Departemen Kelautan dan Perikanan. Mereka bahkan melarang masyarakat Bajo Lamalera menghentikan tradisi mereka berburu tradisonal paus sejak April 2009, ini menjadi indikator untuk menjelaskan nelayan dijauhkan dari akses dan kontrolnya terhadap sumber daya laut mereka.

Indikasi pasar bebas konservasi ini terkait dengan pengembangan program BBOP-Business and Biodiversity Offsets Programme, kerjasama WWF, TNC dan CI dan lainnya dengan lembaga keuangan internasional dan perusahaan tambang migas seperti Shell, Rio Tinto, Nwmont dan Anglo American. Program ini akan menjadi pemakluman pembongkaran kawasan konservasi menjadi kawasan pengerukan bahan tambang melalui skema kompensasi keragaman hayati (biodiversity offset).  Melihat dari sini jelas, agenda WOC juga semakin melegalkan pembuangan limbah atau tailing ke laut negara-negara kepulauan dan Negara-negara dunia ketiga.

Dewan Nasional WALHI, Khalisah Khalid menyatakan bahwa “WOC sarat dengan pelanggaran HAM dan memiliki agenda penggerusan kedaulatan sebuah negara melalui kesepakatan yang dihasilkan dalam WOC tersebut,. karenanya gerakan masyarakat sipil di Indonesia yang terdiri dari gerakan lingkungan, hak asasi manusia dan organisasi petani dan organisasi nelayan menyerukan kepada negara-negara yang terlibat dalam WOC menarik delegasinya dari World Ocean Conference (WOC). Kami dari masyarakat sipil menyatakan tidak menyetujui deklarasi Manado yang akan disepakati dalam WOC”.

Gerakan masyarakat sipil di Indonesia juga mengutuk keras tindakan repressif orde baru yang masih dipraktekkan oleh pemerintah SBY-JK, untuk membungkam suara kritis rakyat yang menyampaikan pendapatnya dimuka umum yang sesungguhnya dijamin dan dilindungi oleh konstitusi Negara.

 

Cp:

  1. Ade Fadli: 0815 2055331
  2. Iki Dulagin: 08153913179
  3. Pius Ginting 081932925700

 

Jakarta, 12 Mei 2009

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)- Friends of The Earth Internasional (FOEI),  Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Koalisi Keadilan Rakyat untuk Perikanan (KIARA), AMMALTA, YSN, PKP2M, COMMIT, Koalisi Anti Utang, SINAR, SEAFish, Perkumpulan Kelola, KPNNI, Institut Hijau Indonesia, Sarekat Hijau Indonesia, KontraS, LBH Jakarta, IHCS, PBHI, Konsorsium Pembaruan Agraria, Sawit Watch dan KpSHK



#2092 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Tue May 12, 2009 7:17 am
Subject: Sisi Gelap & Bahaya dibalik WOC & CTI
mataharikusatu
Send Email Send Email
 
Menggusur Nelayan, Menenggelamkan Keadilan Iklim


Berbagai media massa nasional memberitakan tentang represi yang dilakuan aparat kepolisian terhadap peserta pertemuan rakyat untuk menyikapi hajatan Konferensi Kelautan Internasional-WOC.. Bahkan tindakan polisi sampai kepada penangkapan aktivis Walhi Berry Nahdian Furqon (direktur Walhi Nasional) dan Erwin Usman. Selain itu pihak kepolisian juga mendepotasikan belasan delegasi masyarakat sipil dari luar negeri diantaranya dari Filipini.

Penangkapan kedua aktivis Walhi karena dianggap merekalah yang menjadi penanggungjawab rangkaian kegiatan dan aksi unjuk rasa yang di lakukan oleh Aliansi Manado (terdiri dari NGO, Ormas dan Komunitas Nelayan dari berbagai negara). Aliansi Manado dibentuk untuk menyuarakan kepentingan nelayan dan keperdulian mereka terhadap terwujudnya keadilan iklim.

Untuk mengetahui dan memahami lebih jauh apa yang menjadi keprihatinan mereka, silah unduh kertas posisi yang disusun oleh  KIARA, JATAM, WALHI, KAU, SEAFish, KELOLA, Komite Persiapan Organisasi Nelayan Nasional Indonesia (KPNNI), Institut Hijau Indonesia, COMMIT

 

Silah unduh di

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/sisi-gelap-bahaya-dibalik-woc-cti.html



#2093 From: "Pius Ginting" <pius.ginting@...>
Date: Fri May 15, 2009 3:49 am
Subject: newsalert: Polisi air Manado mengawasi parade perahu nelayan tadisionil. Direktur WALHI dihukum pindana 1 bulan
pilipius
Send Email Send Email
 
Newsalert:15 Mei 2009 (10.30 WIB)

Manado

1. Siang ini, Aliansi Manado berencana mengadakan parade perahu
tradisionil sebagai bagian menunjukkan WOC-CTI telah berlaku tidak adil
terhadap nelayan miskin. Namun 3 motor boat polisi air Manado telah
bersiap-siap berjaga di lokasi.
2. Pengadilan menjatuhkan hukuman terhadap Berry Nahdian Forqan
(Direktur Eksekutif Nasional WALHI) dan Erwin Usman (Kepala Departemen
Regional WALHI) pidana 1 bulan, dan putusan percobaan selama 2 bulan, dan
membayar perkara Rp.1000  Berry dan Erwin langsung menyatakan banding.





Jakarta

Solidaritas terhadap perjuangan nelayan miskin, penyalaman lingkungan dan
dukungan terhadap Berry dan Erwin terus dilakukan oleh masyarat sipil di
Jakarta. Mereka diantaranya berasal dari Serikat Petani Indonesia (Via La
Campesina), KAU (Koalisi Anti Utang) dan WALHI Jakarta mengadakan aksi
demontrasi di Bundaran Hotel Indonesia, mulai pukul 10.00 WIB











Informasi  di Manado bisa menghubungi Luluk Uliyah (Jatam), 08159480246

Informasi di Jakarta, bisa menghubungi Ade Fadli (WALHI), 08152055331



www.walhi.or .id

1 of 1 File(s)


#2094 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Fri May 15, 2009 4:46 am
Subject: Kedaulatan Digadaikan, Kuasa Modal & Kapitalis Hijau (Konservasi) Berjaya
mataharikusatu
Send Email Send Email
 
Kritik dan otokritik untuk kawan-kawan gerakan sosial dan masyarakat sipil Indonesia pada umumnya (belajar dari advokasi ADB dan WOC-CTI)

Dalam waktu yang berdekatan telah berlangsung peristiwa pertemuan internasional di Indonesia. Pertama adalah Pertemuan Tahunan ADB di Bali dan kedua adalah Konferensi Kelautan Internasional  di Manado. Dalam bacaan kami kedua momen tersebut adalah kisah tentang kooptasi yang dilakukan oleh negara-negara kapitalis maju  untuk mencari jalan keluar (sesungguhnya outlet krisis lainnya) atas krisis kronis kapitalisme yang kini mereka hadapi.

Dalam kasus WCO-CTI ini adalah kisah tentang kedaulatan yang digadaikan di satu sisi dan  kemenangan kapitalisme hijau (konservasi) dan Kuasa Modal Internasional di sisi lain. Percayakah anda ada solusi kapitalisme untuk persoalan krisis pemanasan global (perubahan iklim) juga krisis ekonomi global (lelucon jeruk makan jeruk?).

Bagi saya pada akhirnya pesta pora internasional ini hanya akan semakin meminggirkan kaum tani, nelayan, buruh, miskin kota, masyarakat adat juga masyarakat Indonesia pada umumnya. Lagi-lagi wong cilik menjadi tumbal!!!!

Kami sesungguhnya prihatin pula atas minimnya keperdulian dan partisipasi masyarakat sipil, gerakan sosial pada umumnya (yang tidak memiliki fokus langsung pada isu kelautan-lingkungan hidup dan utang).

Kalau partai-partai politik tidak perduli, kita sudah maklum karena mereka lebih senang membicarkan kursi atau dagang sapi kekuasaan. Ironis memang  begitu banyak perbincangan (paling tidak di mailing-list) terkait isu pemilu, koalisi partai, capres-cawapres, sementara sunyi sepi terkait WCO dan ADB (soal penggadaian kedaulatan, obral sumber daya alam, ketergantungan, rakyat kecil yang jadi tumbal kesepakatan-kesepakatan internasional)

Memang memahami soal-soal yang dibincangkan di pertemuan ADB maupun WOC-CTI bukan soal mudah. Contoh saja tentang dampak utang luar negeri terhadap perekonomian Indonesia, apalagi soal-soal pelik dan kompleks terkait perubahan iklim (sebut saja istilah-istilah semacam carbon trading).

Ini barangkali juga perlu menjadi refleksi kawan-kawan yang terlibat dalam Aliansi Manado atau Asian People Movement Against (saya termasuk di dalamnya; mayoritas anggotanya untuk level organisasi nasional terlibat dalam kedua aliansi ini dan juga sebagian besar menggeluti isu agraria/sumber daya alam/lingkungan) untuk lebih gencar lagi membumikan agenda-agenda kampanye dan advokasi atau secara khusus disemasi informasi dan pendidikan di kalangan publik luas (juga tak kalah penting konsolidasi di kalangan organisasi gerakan sosial lainnya baik yang bergerak pada isu-isu luas maupun isu spesifik).

Saya paham betul memang pekerjaaan yang tidak mudah berhadapan dengan gelontoran dana mega dari perusahaan dan pemilik modal yang sama giatnya melakukan kampanye. Dalam dunia gerakan lingkungan hidup dikenal dengn praktek GREEN WASH (cuci otak publik untuk membangun citra perusahaan atau negara yang ramah lingkungan). Jangan dilupakan pula represi dari aparat negara dan kriminalisasi terhadap rakyat yang trendnya semakin menguat belakangan ini.

Belum lagi bila kita telusuri bagaimana negara-negara maju gencar pula melakukan kooptasi dan hegemoni dunia pendidikan di negeri ini. Kami teringat sinisme Revrisond Baswir yang menyatakan perguruan tinggi pada umumnya adalah pusat pengkaderan AGEN-AGEN KOLONIAL.

Dengan rendah hati (kami bukan apa-apa tanpa keterlibatan masyarakat sipil yang luas), sudi kiranya anda mengunjungi suara perlawanan/wacana tanding atas Pesta Pora WOC-CTI dan Pertemuan ADB, kritik kami untuk memajukan gerakan, tentukan sikap anda. Tentunya bukan untuk sekedar mensikapi peristiwa-peristiwa, tetapi membangun wacana dan kekuatan rakyat yang massif secara berkelanjutan (baik menyangkut kualitas maupun kuantitasnya, maupun bangun organisasinya) untuk perubahan jangka panjang di negeri ini.

WOC (Double VOC) Watch
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/search/label/WOC%20(Double%20VOC)%20Watch

a-People Against ADB
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/search/label/a-PEOPLES%20%20AGAINST%20ADB

Nb. Semoga kami bisa sesegera mungkin membuat resume atas wacana-wacana dan pengalaman belajar yang sangat berharga yang kami peroleh di bali maupun manado ini.

salam pembebasan

andreas iswinarto
anggota sarekat hijau indonesia, dinamisator nasional walhi institute dan redaksi jurnal bersatu, dalam hal ini adalah atas nama diri sendiri

Blog Personal :
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com

Newsalert:15 Mei 2009 (10.30 WIB)

Manado

1. Siang ini, Aliansi Manado berencana mengadakan parade perahu tradisionil sebagai bagian menunjukkan WOC-CTI telah berlaku tidak adil terhadap nelayan miskin. Namun 3 motor boat polisi air Manado telah bersiap-siap berjaga di lokasi.
2. Pengadilan menjatuhkan hukuman terhadap Berry Nahdian Forqan (Direktur Eksekutif Nasional WALHI) dan Erwin Usman (Kepala Departemen Regional WALHI) pidana 1 bulan, dan putusan percobaan selama 2 bulan, dan membayar perkara Rp.1000  Berry dan Erwin langsung menyatakan banding.

Jakarta
Solidaritas terhadap perjuangan nelayan miskin, penyelamatan lingkungan dan dukungan terhadap Berry dan Erwin terus dilakukan oleh masyarat sipil di Jakarta . Mereka diantaranya berasal dari Serikat Petani Indonesia (Via La Campesina), KAU (Koalisi Anti Utang) dan WALHI Jakarta mengadakan aksi demontrasi di Bundaran Hotel Indonesia , mulai pukul 10.00 WIB

Palangkaraya
Hari ini, 7 aktivis yang ditangkap dalam aksi solidaritas atas represi aksi di manado dan mengecam pertemun WOC-CTI dinyatakan hakim bersalah. Spanduk, Megaphone dan bendera di rampas untuk dimusnahkan. masing2 dihukum pidana denda rp. 10 rb rupiah atau bila tdk sanggup membayar kurungan 2 hari. para aktivis memilih bayar denda. selesai.







#2095 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Sun May 17, 2009 8:43 pm
Subject: Imajinasi Zapatismo dan Kegigihan Ibu Plaza de Mayo
mataharikusatu
Send Email Send Email
 
resist! revolt! resist! revolt!

selamat pagi sahabat, kita memang bukan ksatria baja hitam

tentu ada saat kita mengalami kelelahan, melempem seperti krupuk diguyur air....
tak ada salahnya, tak usah enggan jeda sejenak, temukan oase, charge battery lagi.........

saya mengalaminya beberapa kali, dan tetap berusaha tegak dan bangkit

atau kita sampai pada simpulan gerakan sosial makin kehabisan gagasan, kekeringan imajinasi

atau sekedar ingin mendengarkan musik dan film (dokumenter) pembebasan

silah kunjung antologi dibawah ini (memang sudah lawas, tapi semoga masih relevan), serap kegigihan dan daya tahan ibu-ibu plaza de mayo (meminjam maria hartiningsih-kompas; ibu-ibu yang anaknya dihilangkan, ibu-ibu generasi muda argentina sekaligus ibu-ibu revolusioner), dan zapatista (kaum underground, kaum adat yang tak pernah kehilangan gagasan dan imajinasi)

AIKONISASI ZAPATISTA (EZLN) : Menyaksikan Pesona Muchas Trampas Politicas

Persembahan musisi RAGE AGAINTS THE MACHINE (Album Battle Of Mexico) untuk Gerakan Masyarakat Adat Zapatista

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/aikonisasi-zapatista-ezln-menyaksikan.html

Persembahan Musisi Dunia U2, Sting, Joan Baez untuk Ibu-ibu Plaza de Mayo

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/persembahan-musisi-dunia-u2-sting-joan.html

salam hangat
andreas



#2096 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Mon May 25, 2009 5:18 pm
Subject: Fakta Kekejian Sistem Sosial Neoliberal dan Mesin-mesinnya
mataharikusatu
Send Email Send Email
 

mohon maaf untuk yang satu ini dan semoga bermanfaat.

 

Silah simak film dokumenter tatanan sosial dunia dan  keterpurukan Indonesia dalam Jerat Neoliberalisme (Penjajahan Baru)

 

John Pigler – The New Rules of The World
(subtitle bahasa Indonesia dalam 6 bagian)

Beserta kompilasi 10 artikel terkait Neoliberalisme : Pengertian, Asal Mula dan Perkembangannya

 

Revrisond Baswir : Neoliberalisme; B Herry-Priyono : Neoliberalisme – Kolonisasi Homo Ekonomikus dan Homo Finansialis; B Herry Priyono : Neoliberalisme dan Sifat Elusif Kebebasan; Yanuar Nugroho : Rekayasa Merawat Neoliberalisme: Menggagas Kembali Peran Teknologi untuk Akumulasi Laba; Kwik Kian Gie “Apa Neoliberalisme Itu? ; Revrisond Baswir : Jalan Neoliberal Pak Bud; Fahmy Radhi : Analisis Pasangan Yudhoyono – Boediono; Sri Edi Swasono : Mewaspadai Neoliberalisme, Dr George Aditjondro Track Record : Bisnis Capres Cawapres

Seri Khusus
Belajar dari Pengalaman Amerika Latin :
Siklus Politik Neoliberal: “Penyesuaian” Amerika Latin Menuju Kemiskinan dan Kemakmuran di Era Pasar Bebas (James Petras)

Selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/neoliberalisme-pengertian-dan.html






#2097 From: "Rusdi Mathari" <rusdi_man@...>
Date: Sun May 24, 2009 9:15 pm
Subject: Pak Boed yang Tidak Saya Kenal (3)
rusdi_man
Send Email Send Email
 
Merujuk kepada Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 junto Perpres No. 111 /2007 tentang Daftar Negatif Investasi, investasi asing pada bisnis telekomunikasi jaringan tetap (fixline) ditetapkan maksimal sebesar 45 persen. Namun Indosat rupanya merupakan pengecualian. Kali pertama Indosat dijual kepada STT (Temasek) 15 Desember 2002, menteri BUMN waktu itu dijabat oleh Laksamana Sukardi (sekarang menjadi petinggi di Partai Demokrasi Pembaruan, pecahan PDIP, yang sekarang juga merapat ke Yudhoyono) dan Boediono sebagai menteri keuangan.

oleh Rusdi Mathari
Sebelum reformasi, tak ada yang memerhatikan nama Boediono, kecuali majalah Ummat yang menjelang runtuhnya kekuasaan Soeharto di tahun 1998, pernah menempatkannya sebagai orang yang pantas menjadi Gubernur Bank Indonesia. Saat itu Boediono adalah Direktur II (Bidang Akuntasi) BI. Dia kemudian mulai menarik perhatian ketika Presiden B. J. Habibie melantiknya sebagai Kepala Bappenas.

Nama Boediono semakin menjadi perhatian, saat dia lantik Presiden Megawati sebagai menteri keuangan, Jumat 10 Agustus 2001. Habis masa jabatan Megawati, Boediono dipercaya menjadi Menko Perekonomian oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lalu tahun silam, setelah dua calon Yudhoyono masing-masing Dirut Bank Mandiri Agus DW Martowardojo dan Wakil Dirut Perusahaan Pengelola Aset (metamorfosis BPPN) Raden Pardede yang diajukan untuk menggantikan Burhanudin Abdullah sebagai Gubernur BI ditolak oleh anggota parlemen, Boediono dipilih oleh Yudhoyono untuk maju sebagai kandidat.

Hasilnya dalam uji kepatutan dan kelayakan di DPR, Senin 7 April 2008, Boediono mengantongi 45 suara dari 46 suara sah. Satu-satunya suara yang menolak Boediono adalah Dradjad Hari Wibowo, anggota DPR dari Fraksi PAN, yang kini bergabung menyokong pencalonan Jusuf Kalla-Wiranto. Boediono yang mendapat "restu" dari Senayan saat itu, untuk kali pertama telah menyelamatkan muka Yudhoyono.

Dengan menempati posisi penting dalam tiga pemerintahan era reformasi itu, Boediono nisacya memang banyak berurusan dengan seluk beluk keuangan negara, termasuk berurusan dengan BPPN dengan penjualan aset-asetnya. Bank Central Asia yang dijual kepada Farallon Capital Partners, 14 Maret 2002 adalah salah satunya.

Catatan tentang Boediono, akan tetapi tak hanya bersangkutpaut dengan aset-aset yang dikuasai BPPN. Rabu 28 April 2004, di depan Komisi IX DPR-RI, Boediono mengajukan usulan agar privatisasi sejumlah BUMN bisa dilakukan pada tahun itu. Ada 28 BUMN yang diusulkan Boediono untuk dijual, tujuh diantaranya diminta diprioritaskan pada tahun itu juga. Ketujuh BUMN itu adalah Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (Bank BNI), PT Tambang Timah, PT Aneka Tambang, PT Tambang Batubara Bukit Asam, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, dan PT Merpati Nusantara Airlines.

Kalangan DPR waktu itu mengingatkan agar Boediono, menunda penjualan semua BUMN itu. Alasannya, waktu privatisai dinilai kurang tepat karena menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden 2004. Jika penjualan BUMN itu tetap dilakukan, orang-orang di Senayan mengkhawatirkan hasilnya kurang optimal. Pada tahun itu, yang akhirnya dijual adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk.

Sebanyak 30 persen saham BNI dilepas melalui penawaran umum kedua (secondary public offering). Ini adalah teknik "penjualan" yang paling aman, ketimbang penjualan melalui strategic sale yang sering menimbulkan lebih banyak penolakan.

Bank BNI semula merupakan bank terbesar di Tanah Air tapi sekarang hanya menempati urutan keempat dari sisi aset. Duduk di kursi Direktur Utama saat ini adalah Gatot Mudiantoro Suwondo yang menggantikan Sigit Purnomo. Gatot adalah suami dari adik perempuan Ani Yudhoyono.

Majalah Trust menulis, ketika menjadi direktur Bank Danamon, Gatot pernah dijadikan tersangka oleh polisi dalam skandal pembobolan bank itu sebesar Rp 110 miliar. Skandal itu melibatkan Edi Karsanto (pejabat di departemen keuangan). Oleh majalah yang sama disebutkan, sebagian dana itu disumbangkan untuk kepentingan pencalonan Yudhoyono pada Pemilu Presiden 2004 (lihat "Misteri Rekening Edi Karsanto," Trust, 16-23 Agustus 2004). Namun sesuai catatan KPU, pada putaran pertama Pemilu Presiden 2004, Gatot "hanya" menyumbang Rp100 juta kepada pencalonan kakak iparnya itu.

Temasek
Dalam hal penjualan BUMN itu, yang paling menimbulkan kontroversi tentu adalah penjualan 41,94 persen saham PT Indonesia Satelit Tbk. alias Indosat. Penjualan itu secara resmi terjadi pada Minggu, 15 Desember 2002. Terungkap dalam siaran pers Kementerian Negara BUMN hari itu, saham Indosat telah dijual kepada Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd. (STT) dan share purchase agreement telah diteken pada tanggal tersebut.

Belakangan diketahui pihak Singapura sebagai pembeli menggunakan mekanisme special vehicle yaitu STTC meskipun katanya saham STTC 99 persen dimiliki STT. Hal itu tentu saja menimbulkan kecurigaan alias kurang transparan. Misalnya, mengapa pihak pembeli bukan STT seperti yang diatur dalam share purchase agreement dan harus menggunakan special vehicle?

Yang mungkin menarik dari penjualan Indosat itu, adalah lobi-lobi tingkat tinggi yang lalu lalang mendahuluinya. Lobi-lobi itu terutama dilakukan oleh pejabat-pejabat dari STT dan Telkom Malaysia Bhd yang juga ikut tender. Lewat Temasek Holdings, induk usahanya, STT ketika itu dikabarkan mendekati Taufiq Kiemas, suami Megawati. Sementara pejabat Telkom Malaysia masuk melalui jalur Hamzah Haz, Wakil Presiden. Begitu sengitnya upaya lobi itu, Taufiq disebut-sebut mendesak Megawati untuk memilih Temasek.

Setidaknya begitulah yang pernah disebutkan oleh situs laksamana.net. Sempat berganti nama menjadi parasindo.com, situs laksamana.net saat ini telah berganti berisi konten tentang asuransi.

Lalu ketika Temasek akhirnya menjadi pemenang, gelombang protes mewarnai penjualan Indosat. Pemerintahan Megawati waktu itu dinilai gagal melindungi aset-aset strategis, termasuk Indosat yang bergerak di bidang jasa telekomunikasi dan satelit.

Temasek adalah raksasa telekomunikasi berpengaruh di Singapura. Pemegang saham terbesar Temasek adalah Lee Hsien Liong, Menteri Keuangan Singapura putra Lee Kuan Yew, bekas PM Singapura, yang mewakili pemerintah Singapura.

Di Indonesia, konglomerasi ini sudah cukup lama dikenal karena keterlibatan bisnisnya dengan sejumlah taipan dan usahanya memburu sektor telekomunikasi. Nama Temasek paling tidak sudah dikenal ketika membentuk PT Bukaka Sing Tel pada tahun 1996. Perusahaan ini, kala itu, memenangkan tender pembangunan 403 ribu sambungan baru selama tiga tahun dengan nilai Rp 1,1 triliun.

Lewat STT pula, pada tahun 2001 Temasek termasuk investor yang paling sigap menawar saham PT Telkomsel. Usaha itu kemudian berbuah dengan mengantongi saham operator seluler terbesar di republik ini sebesar 35 persen. Temasek yang menguasai saham STT sampai 67,65 persen, dengan kalimat lain, secara tidak langsung juga menggenggam 23,7 persen saham Telkomsel.

Bersama Cargill Golden Agri Resources, Temasek juga masuk dalam pengelolaan dan pengembangan perkebunan minyak kelapa sawit di Indonesia. Bisnis ini semula hanya dimonopoli konglomerat seperti Eka Tjipta Wijaya, yang antara lain bekerja sama dengan Liem Sioe Liong dan Ciputra.

Cargill adalah salah satu perusahaan pengolah minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Luas perkebunannya lebih dari dari 258 ribu hektar dengan 16 fasilitas penambangan minyak kelapa sawit mentah. Tak mengherankan karena itu, Cargill memiliki posisi dan reputasi kuat dalam perdagangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Karena keperkasaan Cargill itulah, Temasek tertarik terjun di pengelolaan kelapa sawit Indonesia. Temasek berharap dari kerjasama dengan Cargill bisa membuka pasar kelapa sawit, setidaknya di Asia.

Ketertarikan Temasek masuk ke Cargill, karena di sana juga ada saham Liem Sioe Liong. Nama yang dianggap oleh Temasek dianggap sebagai jaminan nomor wahid. Lewat Salim Group, Liem memiliki 20 persen saham Camerlin Group, di mana Temasek juga mempunyai saham besar di dalamnya.

Camerlin adalah sebuah perusahaan investasi global yang aset terbesarnya ditanam pada Southern Steel Bhddan Brierley Investments Limited. Keluarga Liem dan juga Suharto, bekas Presiden RI sama-sama memiliki 24,4 persen saham Brierley Investments, yang mayoritas sahamnya juga dimiliki oleh Temasek.

Di luar Indonesia, gurita bisnis Temasek juga melilit di banyak negara, termasuk di Belgia dan Filipina. Di Thailand dengan membeli saham Advanced Info Service, sebuah perusahaan seluler yang memiliki 9,75 juta pelanggan. Di Hong Kong, Temasek mengantongi kepemilikan saham APT Satelite, penyedia jasa satelit telekomunikasi untuk kawasan Asia Pasifik. Temasek juga masuk di India melalui Bharti Grup, perusahaan yang bergerak di sektor jasa telepon seluler, telepon tetap, hingga satelit. Keikutsertaan Temasek itu, semuanya lewat STT.

Lalu sejak Sabtu 7 Juni 2008, Indosat dijual oleh Asia Mobile Holding Pte.Ltd kepada Qatar Telecom alias QTel seharga Rp 16 triliun atau melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan harga penjualan Indosat kepada STT yang Rp 5 triliun. Asia Mobile merupakan anak perusahaan Temasek. Perusahaan itu merupakan kongsi yang didirikan oleh Qatar Telecom dan STT dengan sebagian besar sahamnya (75 persen) dimiliki STT.

Dengan kata lain dalam waktu lima tahun, modal Temasek bukan saja telah kembali tapi bahkan sudah menangguk untung berlipat. Jika rata-rata setiap tahun Indosat membukukan laba Rp 1 triliun bisa dibayangkan, keuntungan yang dikantongi oleh Temasek selama lima tahun.

Indosat
Ada pun Indosat adalah perusahaan telekomunikasi yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia, Jakarta dan New York Stock Exchange, Amerika Serikat. Sebagai operator seluler terbesar kedua di Indonesia, Indosat menguasai 28,6 persen pangsa pasar seluler GSM atau lebih dari 36,5 juta pelanggan.

Setelah dijual kepada STT, berdasarkan laporan tahunan resmi yang dikeluarkan Indosat, pajak yang diterima negara dari Indosat diketahui terus menurun. Semula Rp 724 miliar (2004), lalu menjadi Rp 697 miliar (2005) dan akhirnya Rp 576 miliar (2006). Dalam surat somasi bernomor 134/SAA-AWA/VII/08, yang ditujukan kepaa STT, pengacara A. Wirawan Adnan dan Iwan Priyatno dari Law Firm Sholeh.Adnan & Associates menyebutkan, penurunan itu ditengarai disengaja dan merupakan kejahatan sistematis akibat transfer pricing sesama perusahaan induk Temasek.

Disebutkan dalam surat somasi itu, dalam tiga tahun tersebut, auditor eksternal Indosat juga menemukan transaksi derivatif yang dilakukan oleh Indosat sebesar US$ 275 juta atau sekitar Rp 2.5 triliun. Transaksinya meliputi 17 kontrak perjanjian dengan berbagai institusi keuangan. Antara lain Goldman Sachs Capital New York, Standard Chartered Bank Jakarta, JP Morgan Chase Bank Singapore, Merril Linch Capital, Barclays Capital London, ABN Amro Bank, dan HSBC.

Akibat transaksi itu, Indosat dikabarkan menderita kerugian hingga Rp 652 miliar selama tiga tahun dimaksud. Pemerintah sebagai pemegang saham 14,29 persen Indosat (minoritas), karena itu juga dirugikan Rp 93 milliar, dan negara berpotensi kehilangan pemasukan pajak sebesar 30 persen (setara Rp 196 milliar). Mengingat Indosat adalah perusahaan public, publik pun dirugikan Rp 283 miliar akibat transaksi tersebut.

Law Firm Sholeh.Adnan & Associates adalah pengacara dari Marwan Batubara (Anggota DPD RI, Anggota ILUNI UI Jakarta), Chandra Tirta Wijaya (Anggota ILUNI UI Jakarta), Bagus Satrianto (Anggota ILUNI UI Jakarta), Venny Zano (Anggota ILUNI UI Jakarta), Ismed Hasan Putro (Pengurus Masyarakat Profesional Madani/MPM), Agus Salahuddin (Anggota ILUNI UI Jakarta) dan Taufik Amrullah (Pengurus KAMMI). Mereka mengeluarkan somasi, menyusul pernyataan Kuan Kwee Jee, Senior Vice President Strategic Relations and Corporate Communication STT yang dimuat Investor Daily, Kamis, 19 Juni 2008 berjudul "STT Tak Ingin Permalukan RI."

Dalam wawancara itu, Kuan antara lain mengatakan, dalam lima tahun STT untung lima kali lipat dari saham Indosat. Dia mengatakan, banyak kalangan menilai, STT juga investor asing lainnya, meraih untung besar karena membeli perusahaan bagus di Indonesia tapi sebenarnya tidak melakukan apa-apa, hanya sekadar menaruh uang.

"Siapa bilang STT tidak melakukan apa-apa dan hanya menaruh modal. Kami melakukan banyak hal. Anda tahu, saat kami masuk di Indosat tahun 2002, perusahaan itu tidak bisa berkembang, tidak punya dana untuk ekspansi. Mau pinjam dana ke bank, credit rating-nya rendah, jadi sulit. Kami masuk lalu membenahi manajemen, memperbaiki struktur keuangan, dan melakukan banyak hal. Hasilnya anda lihat sendiri. Bagaimana keuangan Indosat tahun 2002 dibanding sekarang. Bagaimana lonjakan pelanggannya.," Begitulah kutipan langsung dari Kuan.

Pernyataan Kuan menurut kantor pengacara itu bertolak belakang dengan fakta. Karena sebelum diambil-alih Temasek, Indosat sebetulnya merupakan BUMN yang terus berkembang sejak 1980. Dalam tiga tahun terakhir sebelum dijual, pendapatan Indosat terus tumbuh, masing Rp 2,992 triliun (2000), Rp 5,138 triliun (2001), dan Rp 6,767 triliun (2002).

Kini kepemilikan BUMN strategis itu sebagian besar sudah tidak di tangan pemerintah. Sejak Maret tahun ini QTel sebagai pemilik baru Indosat, telah melakukan pembelian atas 1.314.466.755 saham seri B, termasuk saham seri B yang mendasari American Depositary Shares dari Indosat. Kedua jenis saham itu mewakili 24,19 persen dari jumlah keseluruhan saham publik yang diterbitkan Indosat.

Dikutip oleh Antara, Ketua QTel Group, Sheikh Abdullah Bin Mohammed Bin Saud Al-Than mengatakan, penguasaan saham mayoritas di Indosat setelah tender offer sukses dilakukan serentak di Indonesia dan Amerika Serikat, sejak Kamis 26 Februari 2009. Tak lupa Al-Thani memastikan dengan tuntasnya akuisisi tersebut, Qtel akan menjadi salah satu 20 perusahaan telekomunikasi terbaik di dunia pada tahun 2020.

Dalam pembelian itu, Qtel menetapkan harga penawaran tender (tender offer) atas setiap lembar saham Indosat sebesar Rp 7.388. Harga tersebut setara dengan harga pembelian Qtel terhadap 40,81 persen saham Indosat dari STT, 22 Juni 2008. Dengan demikian, Qtel saat ini sudah menguasai 65 persen saham Indosat atau menjadi pemegang saham mayoritas.

Merujuk kepada Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 junto Perpres No. 111 /2007 tentang Daftar Negatif Investasi, investasi asing pada bisnis telekomunikasi jaringan tetap (fixline) ditetapkan maksimal sebesar 45 persen. Namun Indosat rupanya merupakan pengecualian. Kali pertama Indosat dijual kepada STT (Temasek) 15 Desember 2002, menteri BUMN waktu itu dijabat oleh Laksamana Sukardi (sekarang menjadi petinggi di Partai Demokrasi Pembaruan, pecahan PDIP, yang sekarang juga merapat ke Yudhoyono) dan Boediono sebagai menteri keuangan. (bersambung)

Tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi GoBlog .


#2098 From: Ted Sprague <ted_sprague@...>
Date: Wed May 20, 2009 7:25 am
Subject: Meluruskan Revolusi Permanen
ted_sprague
Send Email Send Email
 

Meluruskan Revolusi Permanen

 

Oleh Ted Sprague

20 Mei 2009

 

Sejak diterbitkannya Revolusi Permanen di Indonesia beberapa bulan yang lalu, beberapa tanggapan telah dilontarkan yang isinya adalah kurang lebih: Revolusi Permanen tidaklah cocok untuk Indonesia dan bahwa rumus baku Revolusi Permanen tidak memperhatikan kondisi objektif dan konteks politik Indonesia yang unik. Kawan Rudi Hartono dari PRD/PAPERNAS dan kawan Danial Indrakusuma dari KPRM-PRD, keduanya boleh dibilang ahli teori dari kedua organisasi tersebut, mengambil posisi yang serupa seperti tertera di atas tetapi dari sudut pandang yang agak berbeda. Artikel ini akan lebih mengfokuskan pada pendekatan kawan Rudi, terutama balasannya untuk “Pengantar Untuk Revolusi Permanen Edisi Bahasa Indonesia” tertanggal 5 Januari 2009 di milis sastra-pembebasan

 

Masalah prospek revolusi Indonesia dan arah yang harus diambil adalah masalah yang serius dan artikel ini bukan dimaksudkan untuk sebagai debat kusir saja, akan tetapi sebagai upaya untuk mengorientasikan arah gerakan Indonesia. Meminjam istilah yang digunakan oleh PRD/PAPERNAS, kita perlu banting stir. Tetapi sebelum banting stir, kita perlu menginjak rem, sejenak turun dari mobil supaya kita bisa melihat lebih jelas dimana kita berada, keluarkan peta kita dan rencanakan kembali bagaimana kita bisa mencapai tujuan kita: sosialisme.

 

Untuk mereka aktivis-aktivis yang sudah tidak percaya lagi bahwa sosialisme adalah jalan keluar satu-satunya dari kesengsaraan kapitalisme, apalagi di hadapan krisis kapitalisme sekarang ini, mungkin ada baiknya kita tinggalkan mereka untuk sementara di pinggir jalan supaya tidak menjadi halangan bagi kita yang sekarang ingin maju dan memilih jalan perjuangan.

 

Apa itu sebenarnya Revolusi Permanen? Ini adalah pertanyaan pertama yang akan sekali lagi saya coba luruskan dari pelintiran-pelintiran yang secara sadar maupun tidak sadar dilakukan oleh banyak orang, termasuk kawan Rudi dan Danial. Lalu, apakah prospek revolusi Indonesia?

 

Berdebat secara jujur

 

Bila ada dua orang yang berdebat, kondisi pertama untuk bisa berdebat dengan efektif adalah kedua belah pihak saling mengerti (tetapi bukan berarti setuju) posisi dari pihak yang lainnya. Misalkan, si A berpendapat bahwa “anjing adalah sepintar lumba-lumba”, dan si B berpendapat “anjing lebih pintar dari lumba-lumba.” Si A tahu pendapatnya si B, dan si B tahu pendapatnya si A, dan dari sini mereka bisa berdebat dengan efektif. Tetapi bila si B mengatakan bahwa A berpendapat “anjing tidak sepintar lumba-lumba”, maka debat antara si A dan B tidak akan bisa berlangsung dengan efektif, karena si B sudah salah paham akan pendapat si A yang sesungguhnya.

 

Inilah yang kerap terjadi di antara mereka-mereka yang berbeda pendapat dengan Trotsky dan teori revolusi permanennya. Mereka biasanya memulai dengan premis-premis utama sebagai berikut:

  1. Trotsky ingin segera menuju sosialisme dan mengabaikan tugas-tugas revolusi demokratik
  2. Revolusi Permanen adalah ide bahwa “revolusi harus segera mengarah pada sosialisme”
  3. Trotsky mengabaikan peran kaum tani

Mereka tidak setuju dengan ketiga poin di atas, dan jujur saja Trotsky sendiri dan para pendukung Trotsky juga tidak akan setuju dengan poin-poin di atas karena ini bukan posisi Trotsky yang sesungguhnya.

 

Ketiga poin di atas adalah representasi yang sangat keliru mengenai teori Revolusi Permanen. Bagaimana kita bisa berdebat kalau satu pihak sudah salah paham terhadap posisi dari pihak yang lainnya? Tetapi, tentu saja kalau tujuan dari satu pihak tersebut adalah bukan untuk berdebat guna memajukan teori di dalam gerakan, tetapi tujuannya adalah untuk mencemarkan nama pihak yang lain dan menggunakan metode-metode kotor, maka cara di atas adalah cara yang paling ampuh. Ini seperti kaum borjuis yang memfitnah ajaran-ajaran Marx dan Engels karena mereka tidak ingin (dan tidak mampu) berdebat dengan jujur. Ini seperti ulah kaum birokrat Stalinis yang menggunakan fitnah dan kekerasan untuk merepresi pemikiran Trotsky.

 

Misalkan, kawan Rudi Hartono di dalam balasannya untuk “Pengantar Untuk Revolusi Permanen Edisi Bahasa Indonesia” tertanggal 5 Januari 2009 di milis sastra-pembebasan mengatakan bahwa revolusi permanen berarti “revolusi harus segera mengarah pada sosialisme”, “kepemimpinan [revolusi] harus diserahkan kepada klas pekerja”, “menapikan revolusi demokrasi nasional … dan pembebasan nasional”, dan “Menggabungkan dua revolusi sekaligus (demokrasi nasional dan sosialis)”. Ia tidak setuju dengan ini, dan saya juga tidak setuju dengan ini.

 

Untuk kawan-kawan di Indonesia, yang banyak sekali belum pernah membaca karya-karya Trotsky secara langsung karena banyak yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, saya percaya kebanyakan ini adalah karena masalah kurangnya informasi dan bukan karena sengaja ingin menjatuhkan seseorang dengan fitnah dan metode debat yang kotor. Artikel ini dimaksudkan sebagai satu upaya untuk meluruskan apa sebenarnya Revolusi Permanen itu. Penerjemahan dan penerbitan buku Revolusi Permanen ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi basis di dalam upaya tersebut. Buku Revolusi Permanen sendiri ditulis oleh Trotsky pada tahun 1929 (sesudah dia dipecat dari Partai Komunis Uni Soviet dan lalu diasingkan dari negaranya sendiri) untuk berpolemik dengan Radek dan ahli-ahli teori Stalinis yang gemar memelintir isi teori Revolusi Permanen sesungguhnya.

 

Apa itu Revolusi Permanen?

 

Di dalam paragraf ke dua dari “Pengantar Untuk Revolusi Permanen Edisi Bahasa Indonesia” yang ditulis oleh Alan Woods, tertulis:

 

“Revolusi Permanen, walaupun menerima fakta bahwa tugas-tugas objektif yang dihadapi oleh kelas buruh Rusia adalah tugas-tugas revolusi borjuis demokratrik, menjelaskan bahwa bagaimana di sebuah negara yang terbelakang di dalam era imperialisme, kaum "borjuis nasional" tidak mampu memainkan peran yang progresif.”

 

Jadi jelas sekali kalau Revolusi Permanen tidak mengabaikan tugas-tugas revolusi borjuis demokratik seperti yang ditulis oleh Rudi di dalam balasannya. Tetapi, mari kita maafkan kawan Rudi karena mungkin dia terburu-buru membacanya dan tidak melihat paragraf ini. Akan tetapi, jangan kita mengandalkan pendapat kawan Alan Woods saja, mari kita kembali lagi ke sumber utama dari teori Revolusi Permanen.

 

Revolusi Permanen tidaklah mencampurkan revolusi demokratik dan revolusi sosialis seperti yang dipaparkan oleh Rudi. Cara pandang ini adalah cara pandang yang melihat revolusi (dan tugas-tugasnya) sebagai satu skema yang statis dan bukan sesuatu yang bisa mengalir dari satu sama lain. Trotsky mengatakan bahwa di dalam Revolusi Rusia, “sejarah menggabungkan isi utama revolusi borjuis dengan tahapan pertama revolusi proletar – tidak mencampurnya namun menggabungkannya secara organik.”.

 

Menurut Rudi, Trotsky langsung ingin segera menuju sosialisme. Tapi tunggu sebentar, ternyata kalau kita membaca buku Revolusi Permanen dengan seksama, Trotsky tidak pernah mengatakan atau berpandangan seperti itu:

 

"Kita telah menunjukkan bahwa syarat-syarat objektif untuk sebuah revolusi sosialis telah diciptakan oleh perkembangan ekonomi negara-negara kapitalis maju ... Dapatkah kita mengharapkan bahwa pemindahan kekuasaan ke tangan kaum proletar Rusia akan menjadi permulaan dari transformasi ekonomi nasional kita menjadi ekonomi sosialis? ... 'Kaum pekerja Paris,' kata Marx, 'tidak menuntut keajaiban dari Komune mereka.' Kita juga tidak boleh mengharapkan keajaiban yang segera dari kediktatoran proletar. Kekuatan politik bukanlah mahakuasa. Akan sangat menggelikan untuk berpikir bahwa kaum proletar hanya perlu mengambil kekuasaan dan kemudian menyerukan beberapa dekrit untuk menggantikan kapitalisme dengan sosialisme. Sebuah sistem ekonomi bukanlah produk dari aksi pemerintahan. Apa yang dapat dilakukan oleh kaum proletar adalah untuk menggunakan kekuasaan politiknya dengan seluruh tenaga guna mempermudah dan memperpendek jalan perkembangan ekonomi menuju kolektivisme. Kaum proletar akan memulai reformasi-reformasi ini yang terkandung di dalam apa yang disebut program minimum; dan langsung dari sini, logika posisinya akan mendorongnya ke kebijakan-kebijakan kolektivisme." (Hasil dan Prospek, Bab 8. Sebuah Pemerintahan Buruh di Rusia dan Sosialisme)

 

Dari kutipan ini, dan juga paragraf-paragraf selanjutnya yang menjelaskan lebih detil, sangat jelas kalau Trotsky tidak menganjurkan langsung segera menuju sosialisme. Adalah sebuah kegilaan kalau kita mengira kita bisa langsung menerapkan sosialisme dengan dekrit-dekrit negara. Menurut Trotsky kaum proletar dengan kekuasaan politiknya harus mengambil sejumlah langkah-langkah sosialis yang praktikal (ini berbeda dengan tuduhan segera menuju sosialisme). Trotsky memberikan sebuah contoh di paragraf selanjutnya, yakni "sosialisasi produksi akan dimulai dari cabang-cabang industri yang memberikan kesulitan-kesulitan paling kecil."

 

Bagaimana dengan kaum tani yang diabaikan oleh Trotsky? Ternyata Trotsky tidak pernah mengabaikan kaum tani.

 

"Hal pertama yang harus diatasi oleh rejim proletar setelah berkuasa adalah solusi masalah agraria, yang mana nasib mayoritas populasi Rusia tergantung padanya. Di dalam solusi untuk permasalahan ini, seperti halnya dengan masalah-masalah yang lain, kaum proletar akan dibimbing oleh tujuan fundamental dari kebijakan ekonominya, yakni untuk memimpin bidang pertanian sebesar mungkin guna melaksanakan organisasi ekonomi sosialisme. Akan tetapi, bentuk dan tempo dari eksekusi kebijakan agraria ini harus ditentukan oleh sumberdaya material yang dimiliki oleh kaum proletar, dan juga dengan memperhatikan supaya sekutu-sekutu potensialnya tidak terlempar ke pangkuan kaum konter-revolusioner." (Hasil dan Prospek, Bab 8. Sebuah Pemerintahan Buruh di Rusia dan Sosialisme) 

 

Dari kutipan pendek ini saja, jelas kalau Trotsky tidak mengabaikan kaum tani. Semoga setelah eksposisi pendek ini, pemelintiran ide-ide Trotsky tidak akan terulang lagi dan kita bisa berdiskusi lebih efektif mengenai prospek revolusi di Indonesia.

 

Indonesia bukan Rusia

 

Indonesia bukanlah Rusia. Ini adalah titik tolak yang juga harus kita ambil. Akan tetapi, tidak seperti mereka yang lalu mengagung-agungkan keunikan Indonesia sebagai alasan untuk mengajukan proposal “strategi revolusi ala Indonesia” atau “sosialisme ala Indonesia”, kita justru harus melihat keunikan ini sebagai bagian dari perkembangan kapitalisme di dunia. Dari spesifik ke umum dan kembali lagi ke spesifik.

 

Rudi benar dalam eksposisinya bahwa kapitalisme di Indonesia tidaklah lahir dari perjuangan kelas borjuis nasional dalam menumbangkan feodalisme. Kelas borjuis Indonesia tiba terlambat di dalam sejarah (karena kolonialisme Belanda di Indonesia), dan oleh karena itu tidak pernah memainkan peran historisnya yang progresif. Corak feodalisme masih mendominasi budaya Indonesia walaupun corak produksi dominan di Indonesia adalah kapitalisme.

 

Tetapi analisa Rudi berhenti di sini. Ini Rudi gunakan hanya untuk menunjukkan keunikan Indonesia (yang sebenarnya secara umum juga terjadi di banyak negara-negara ketiga dalam takaran dan tahapan yang berbeda, ini termasuk Rusia pada jamannya Lenin dan Trotsky). Rudi dengan telaten mengatakan bahwa “hal ini, terutama sekali sedikit banyak mempengaruhi kesadaran kelas pekerjanya” tetapi tidak menyebutkan bagaimana ini mempengaruhi karakter kelas borjuis nasional Indonesia.

 

Karena sejarah Indonesia yang “unik” ini, kelas borjuis nasional Indonesia lahir di dalam periode imperialisme, dan oleh karena itu secara ekonomi tergantung pada kapital asing. Selain itu, kaum borjuis nasional lebih terikat pada feodalisme dibandingkan dengan “seorang pekerja di pabrik [yang] punya sawah di kampung” karena kepentingan ekonominya. Kaum borjuis di Indonesia biasanya juga adalah pemilik tanah di desa-desa dan berhubungan dekat dengan para tuan tanah. Keterikatannya pada kapital asing dan feodalisme membuatnya tidak mampu memainkan peran historisnya: menghancurkan feodalisme dan melakukan pembebasan nasional.

 

Kita mulai saja dengan sejarah “unik” kaum borjuis nasional Indonesia. Dari permulaan saja, sejak masih bayi mereka sudah mencoba menjual Indonesia ke Belanda lewat perjanjian Linggar Jati, Renville, dan akhirnya KMB pada tahun 1949 dimana seluruh perusahaan Belanda dikembalikan dan Indonesia harus membayar 4.9 Milyar Guilders ke Belanda. Lalu pada tahun 1950an di bawah pemerintahan Soekarno terjadi nasionalisasi terhadap perusahaan milik Belanda dan AS, tetapi ini adalah karena tekanan dari massa rakyat pekerja dan tani dan bukan karena inisiatif kaum borjuis nasional Indonesia. Mereka terlalu lemah. Pada saat kudeta Soeharto, apa yang dilakukan oleh kaum borjuis nasional? Mereka berbaris di belakang Soeharto dengan rapi dan menjadi office-boy kaum imperialis. Selama 32 tahun, kekuatan yang secara konsisten melawan Soeharto bukanlah kaum borjuis nasional. Mereka sibuk mengeruk keuntungan yang besar di atas darah jutaan rakyat Indonesia.

 

Rudi mengatakan bahwa kaum borjuis nasional adalah korban dari imperialisme neo-liberal dan oleh karena itu harus dirangkul. Ini adalah pragmatisme yang utopis. Dalam merangkul seorang kawan dan sekutu, kita harus melihat latar belakang mereka. Kaum borjuis nasional secara keseluruhan wataknya lemah dan secara historis sudah tidak progresif. Mereka hanya menggerutu terhadap tuan imperialisnya karena mereka tidak kebagian kue yang lebih besar, dan lalu menggunakan sentimen-sentimen pembebasan nasional hanya untuk menegosiasikan pendapatan penjarahan yang lebih besar.

 

Sesuatu yang Konkrit

 

Saya setuju dengan anda bung Rudi kalau “jalan menuju sosialisme … harus menyelesaikan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mendasar rakyat”. Bagaimana kita akan mencapai ini dengan konkrit?

 

Rudi mengajukan beberapa proposal:

1.Pabrik-pabrik, maskapai penerbangan, perkebunan, pengangkutan, dan lain lain harus diambil alih/nasionalisasi

Diambil oleh siapa? Oleh negara di bawah kendali siapa? Kalau oleh negara di bawah kendali kaum borjuis nasional, maka nasionalisasi ini tidak akan menguntungkan rakyat sama sekali. Kita hanya menggantikan majikan yang hidungnya mancung dengan majikan yang hidungnya pesek. Tetapi mungkin kapitalis hidung pesek adalah “unik” dan akan memperhatikan kesejahteraan buruhnya lebih baik, bahwa kapitalis Indonesia yang progresif tidak ingin membuat laba yang terlalu besar. Sungguh suatu khayalan.

2.Pekerja harus dilepaskan dari sistem kontrak

Kaum borjuis nasional yang progresif dalam skema Rudi adalah majikan yang baik karena mereka akan memperkerjakan buruhnya dengan tetap.

3.Upah yang lebih tinggi

Karena kaum borjuis Indonesia yang progresif itu murah hati dan mengerti ekonomi, maka mereka akan membayar buruhnya gaji yang lebih tinggi

 

Dari ketiga hal di atas saja sudah terlihat bahwa adalah utopis untuk bisa bekerja sama dengan kaum borjuis nasional. Satu-satunya cara untuk bisa bekerjasama dengan mereka adalah dengan mengubur dalam-dalam tuntutan-tuntutan buruh dan tani atau membuatnya sedemikian impoten sehingga tuntutan-tuntutan tersebut tidak ada lagi nilainya sama sekali di dalam realitas.

 

Kemandirian Kelas

 

Kita hanya bisa mengandalkan kekuataan kita sendiri, yakni kekuatan buruh, tani, dan rakyat miskin. Satu-satunya kelas yang secara historis bisa memimpin perjuangan pembebasan nasional dan sosialisme adalah kelas buruh karena posisi ekonomi dan sosialnya. Kelas borjuis nasional bukanlah sekutu yang strategis sama sekali. Tidak ada lagi kelas borjuis nasional yang progresif. Inilah salah satu esensi dari teori Revolusi Permanen.

 

Kelas buruh harus bisa merangkul sekutu-sekutunya yang strategis: yakni kelas tani dan rakyat miskin lainnya. Seperti kata Trotsky di dalam Program Transisional: “Kaum pekerja yang termaju harus mempelajari bagaimana memberikan solusi yang jelas dan konkrit terhadap masalah-masalah yang disodorkan oleh kaum tani dan borjuis kecil yang kelak akan menjadi sekutunya.” Buruh harus bisa memasukkan tuntutan-tuntutan kaum tani dan borjuis kecil (pedagang-pedagang kecil; ini berbeda dengan kelas borjuis nasional) ke dalam perjuangannya, tetapi jangan jatuh ke dalam prasangka-prasangka borjuis kecil; bukan mengekorinya tetapi memimpinnya.

 

Kelas borjuis nasional terikat dengan kapital asing dan tuan-tuan tanah. Kepentingan mereka bukan hanya berseberangan dengan buruh, tetapi juga dengan tani dan borjuis kecil Indonesia yang merupakan sekutu terbesar dari buruh. Kerangka program anti-neoliberalisme yang ingin ditawarkan Rudi ke kaum borjuis nasional adalah program yang sudah diompongkan, yang ketika dikonkritkan akan hancur berkeping-keping karena kepentingan buruh dan tani berseberangan secara fundamental dengan kepentingan kaum borjuis, asing maupun domestik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




#2099 From: wahyudi yudi <wahyudibaca@...>
Date: Sat May 23, 2009 3:21 pm
Subject: Korban Politik Timtim Dapat Rp 5 Juta
wahyudibaca
Send Email Send Email
 
Lumayan untuk nambahi modal usaha.
dan saya kumpul pada hari sabtu di SMP 6 Klaten dengan surat pernyataan tidak menuntut apapun dari pemerintah.
 
Korban Politik Timtim Dapat Rp 5 Juta
Laporan: Tuahta Arief

*Jakarta, RMonline.* Warga yang menjadi korban politik pada saat
desintegrasi Timor Timur yang kini tinggal di Kotawaringin Timur (Kotim)
mendapat bantuan Rp 5 juta setiap kepala keluarga.
Dikatakan Kepala Kantor Pos Sampit Tris Sunarso, bantuan tersebut
dikirim dari Sekretariat Kementerian Kesejahteraan Rakyat.
Bantuan tersebut berdasarkan surat pengajuan yang dilakukan oleh
organisasi Komite Nasional Korban Politik Timor Timur (Kokpit) DPW
Kalteng yang telah mendaftarkan anggotanya untuk mendapatkan bantuan.
Kepala Kantor Pos Sampit bersama Camat Seranau menyerahkan dana bantuan
kepada 50 kepala keluarga yang ada di Desa Seragam Jaya Kecamatan
Seranau di Aula Kecamatan Seranau, Kamis (21/5).
“Penerima di Kotim ada 415 orang. Sedangkan warga yang menetap di desa
Seragam Jaya, Kecamatan Seranau, ada 50 kepala keluarga,” katanya
seperti yang dilansir /Radar Sampit/.
Dia melanjutkan, penerima bantuan harus mempunyai surat keterangan dari
Organisasi Komite Nasional Korban Politik Timor Timur Cabang Sampit.
Koordinator Komite Nasional Korban Politik (Kokpit) warga eks Timor
Timur Cabang Sampit Antonio menyampaikan, dana bantuan dari pusat
tersebut sudah terealisasi 2003 lalu, namun untuk Kalteng baru sekarang
bisa dicairkan.
”Kami sangat senang karena ajuan itu disetujuinya. Dana ini bisa sedikit
meringankan beban kami,“ ungkapnya.
Camat Seranau A Sarwo Oboy berharap, dana tersebut bisa membantu
meringankan beban warga yang saat ini dihimpit kesulitan.
”Dana tersebut hendaknya dipergunakan sebaik-baiknya,“ pungkasnya. *[hta]
my facebook:


Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.

#2100 From: "arif.harsana@..." <arif.harsana@...>
Date: Tue May 26, 2009 9:24 am
Subject: Re: [LISI] TEMPO PUNYA DATA???
arif.harsana@...
Send Email Send Email
 
Belakangan terdengar agak santer perdebatan antara sementara rekan milis
dengan para pekerja "Tempo" dalam masalah garis ekonomi Neoliberal.


KUTIPAN:
** Saya yakin di Indonesia juga begitu.
Saya sendiri juga pernah punya pikiran supaya media2 kita keluar dulu
dan masuk kembali sebagai PMA supaya ada perlindungan usaha yang lebih
baik dan tidak di tutup begitu saja seperti Tempo, dan Detik waktu dulu.

TANGGAPAN:
Saya kira bung Hok An hanya ingin meledek saja kan ?
Mungkin yang dimaksud adalah mengubah aturan perundang-undangan
yang sampai sekarang mempersulit PMDN dan mengabdi kepentingan PMA.

Kunci persoalannya, rezim Orba / Suharto dan rezim-rezim penggantinya
masih tetap menjalankan garis ekonomi yang sama y.i. Neoliberalisme.
Krisis ekonomi dunia saat ini menuntut perubahan fundamental sistem
perekonomian Indonesia. Langkah-langkah tambal sulam yang hanya
bersifat memperbaiki sistem Neoliberal / Kapitalisme Casino tidak
akan bisa diharapkan mencapai hasil yang diinginkan.

Era Reformasi, yang dalam batas tertentu mendatangkan kemajuan
dibidang politik, ternyata belum menyentuh sama sekali Reformasi
dibidang kebijakan Ekonomi. Sebaliknya, aktivitas ekonomi yang
berwatak Neoliberal justru semakin dahsyat pada Era Reformasi.

Hal ini menurut saya bisa terjadi karena dua hal :
1. Belum adanya kekuatan politik alternativ yang mampu memimpin
perjuangan melawan tekanan luar (neo imperialis) yang didukung
oleh kaum birokrat komprador dalam negeri.
2. Tekanan dari IMF, Bank Dunia dsb , yg mendektekan resep-resep
Neoliberal
untuk "mengatasi" krisis ekonomi dengan cara menjual BUMN, utang,
penghapusan subsidi dsb , yang hasilnya justru memperparah krisis,
mengakibatkan meledaknya angka pengangguran dan kemiskinan.

Saya kira ada benarnya bila diutarakan tentang perlunya pembangunan
Kekuatan politik alternativ dari Aliansi kekuatan pro demokrasi yang
luas
- pro Ekonomi Kerakyatan.
Tanpa adanya kekuatan politik alternativ yang solid, sulit untuk
bisa memperjuangakn hari depan yang baik.

Program Ekonomi Kerakyatan mesti disertai dengan program penegakan HAM.

Kebangkitan Nasionalisme yang berwatak patriotik anti Neoimperialis di
Indonesia
mesti didukung dengan tidak boleh melupakan perjuangan penegakan HAM.
Hanya dengan menyertakan program penegakan Hak Asasi Manusia didalam
pelaksanaan program Ekonomi Kerakyatan akan bisa dicegah bahaya
Neofasisme anti demokrasi, yang bisa menyalahgunakan Nasionalisme
demi kepentingan segelintir golongan konglomerat korup.

Salam,

Arif Harsana

---------------------------------------------------------

-----Original Message-----
Date: Tue, 26 May 2009 09:41:49 +0200
Subject: Re: [LISI] TEMPO PUNYA DATA???
From: Hok An
To: LISI@yahoogroups.com

Sedikit tambahan pertimbangan,

dilihat statistik international ternyata negara2 kelas menengah
kesulitan untuk menanam modal didalam negeri, sebab itu dana dari
negara2 ini mengalir deras sekali ke USA dan negara2 maju lainnya.
Dana ini adalah salah satu sumber gara2 bunga rendah di USA yang
seterusnya memacu krisis ekonomi disana.
Kemudian sebagian kecil dari dana itu kembali sebagai FDI dsbnya.

Saya yakin di Indonesia juga begitu.
Saya sendiri juga pernah punya pikiran supaya media2 kita keluar dulu
dan masuk kembali sebagai PMA supaya ada perlindungan usaha yang lebih
baik dan tidak di tutup begitu saja seperti Tempo, dan Detik waktu dulu.

Selama ada masalah2 dalam investasi untuk PMDN selama itu mereka cuci
uang dulu di LN untuk masuk lagi.
Soalnya enak sekali masih ingat kasus LAPPINDO?

Salam damai

Hok An

A Nizami schrieb:
>
>
> Mas Bambang,
> Kalau pengusaha lokal itu paling uangnya tetap berada di Indonesia.
> Dia beli rumah, rumahnya di Indonesia, uangnya balik ke Indonesia..
> Dia beli mobil, paling tidak belinya di indonesia. Jadi tetap membuka
> lapangan kerja.
>
> Nah kalau perusahaan asing, itu uangnya lari ke negara asing.
>
> Berapa uang yang lari ke luar negeri oleh perusahaan minyak asing.
> Yang jelas 7 perusahaan terkaya dari Forbes 500 itu adalah perusahaan
> migas yang di antaranya beroperasi di Indonesia seperti Chevron,
> Exxon, Conoco, dsb.
>
> Silahkan baca data2 sbb:
>
http://infoindonesia.wordpress.com/2009/03/18/parpol-dgn-ekonomi-rakyat-vs-kapit\
alis-neoliberalis-gerindra-ajukan-sosialisme/

>

>
> 6 dari 10 perusahaan dengan pendapatan terbesar versi majalah Forbes
> adalah perusahaan Migas yang di antaranya beroperasi di Indonesia.
> (contoh pendapatan Exxon Mobil tahun 2007 US$ 452 milyar / Rp 5.420
> Trilyun) Perusahaan Migas tersebut jadi perusahaan terkaya sementara
> rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan karena migas yang sebetulnya
> milik rakyat Indonesia sebagian besar diambil mereka.
>
> Rp 5.420 trilyun itu baru dari Exxon, belum dari perusahaan migas
> lainnya. Jika 10 perusahaan termasuk Tambang seperti Freeport, bisa
> jadi pendapatan mereka Rp 50.000 trilyun di mana rp 2000-5000
> trilyun/tahun dari kekayaan alam Indonesia.
>
> Dengan uang sebesar itu, mereka bisa menggelontorkan receh kecil
> sekitar rp 20 trilyun untuk antek2 mereka di sini guna membela
> kepentingan mereka.
>
> Mengenai pajak, saya sempat baca di Media bahwa pajak yang dibayarkan
> BUMN sebesar rp 200 trilyun/tahun. Jadi kalau cuma mengharap pajak,
> tidak perlu menyerahkan kekayaan alam ini ke perusahaan asing. Semua
> rakyat Indonesia juga bayar pajak (mis: PPN dan PPH) termasuk BUMN.
>
> Kita butuh orang2 yang membela kepentingan rakyat. Bukan antek asing
> yang membela kepentingan asing...
>
> ===
> Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
> http://media-islam.or.id
>
> --- Pada Sen, 25/5/09, bambang@...
> > > menulis:
>
> > Dari: bambang@...
> >
> > Topik: RE: [LISI] TEMPO PUNYA DATA???
> > Kepada: LISI@yahoogroups.com
> > Tanggal: Senin, 25 Mei, 2009, 8:06 PM
> > Mas, multinasional asing umumnya jauh
> > lebih baik dalam membayar royalti, pajak dsb dibandingkan
> > konglomerat lokal seperti Sinar Mas, RAPP dsb.
> > Powered by Telkomsel BlackBerry
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Achmad Huzairin > >
> >
> > Date: Tue, 26 May 2009 10:46:34
> > To: >
> > Subject: [LISI] TEMPO PUNYA DATA???
> >
> >
> > Dear Mas bambang,,,> >
> >
> > apakah TEMPO punya data atau hasil investigasi :
> >
> > 1. Jumlah Emas dan Tembaga yang telah di ekspoitasi dan di
> > boyong keluar oleh FREEPORT selama 35 tahun terakhir???? ?
> >
> 2. Jumlah Emas dan Tembaga yang telah di eksploitasi dan di
> > boyong keluar oleh NEWMONT Nusa Tenggara 15 tahun
> > terakhir????
> >
> > 3. Jumlah gas dan minyak bumi yang telah di boyong oleh
> > CEVRON, BP
> >
> > Petroleum, Exxon Mobile, Conoco Philips, ARCO, Shell dsb
> > dalam kurun waktu 35 tahun terakhir??
> >
> > 4. Jumlah mineral tambang lainnya, seperti batubara,
> > timah, nikel, biji besi, cromate dll yang telah di eksploitasi
dalam
> > kurun waktu 35 > > tahun terakhir????
> >
> > DARI HASIL TERSEBUT BERAPA YANG KEMBALI SEBAGAI PENERIMAAN
> > NEGARA UNTUK KESEJAHTARAAN RAKYAT????
> >
> > BANDINGKAN DENGAN:
> > BERAPA BESAR HUTANG KITA DAN BERAPA BESAR SISA CADANGAN
> > SUMBER DAYA ALAM YANG AKAN DIWARISKAN KE PADA ANAK CUCU
> > KITA?????
> >
> HARUSKAN REZIM NEOLIBERALISME INI DITERUSKAN?? ????
> >
> > REFORMASI TELAH GAGAL...
> >
> > SALAM
> >
> > HIDUP RAKYAT...!!! !!
>



------------------------------------

===========================================================================
Lingkar Ilmuwan Sosial Indonesia (LISI) adalah forum untuk menggagas dan
mempertukarkan ide-ide baru serta mengembangkan ilmu pengetahuan sosial.
Dalam LISI, topik-topik diskusi ditinjau dan dianalisis dari beragam
perspektif yang memungkinkan proses pembelajaran secara kolektif demi
pengembangan wawasan anggota dan masyarakat Indonesia umumnya.
===========================================================================
1. Untuk berhenti berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke:
LISI-unsubscribe@yahoogroups.com
2. Untuk berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke:
LISI-subscribe@yahoogroups.com
3. Untuk menghindari penyebaran virus, pengiriman attachment file
tidak dimungkinkan melalui milis ini.
4. Bahasa Resmi LISI: Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
5. Netters LISI diminta sebisa mungkin menghindari "posting a la
chating".
---------------------------------------------------------------------------
Dear LISIers...."you may disagree with somebody's way of thinking...but
please be careful of what you are writing in order not to hurt
somebody's feelings...".. The moderator is always wishing you an
enjoyable and inspiring discussion with LISI...:-) Selamat beradu
argumentasi di tataran logika....:-)
---------------------------------------------------------------------------Yahoo\
!
Groups Links

#2101 From: Mulia Hati Mulia Hati <ahmadirun@...>
Date: Thu May 28, 2009 5:57 am
Subject: Mensesneg Moerdiono
ahmadirun
Send Email Send Email
 
Saya lagi mencari buku biografi mantan mensesneg orba Moerdiono. Jika kalian tahu informasi tentang buku tersebut, mohon kabar aku, please

--- Pada Jum, 30/1/09, wahyudi yudi <wahyudibaca@...> menulis:

Dari: wahyudi yudi <wahyudibaca@...>
Topik: [Diskusi-Pembebasan] Badri
Kepada: 1001buku@yahoogroups.com, advokasi_anggaran@yahoogroups.com, advokasi_demokratik@yahoogroups.com, agraria@yahoogroups.com, anti-imf@yahoogroups.com, apresiasi-sastra@yahoogroups.com, bhinneka_tunggal_ika@yahoogroups.com, budaya_tionghua@yahoogroups.com, cafe_filsafat@yahoogroups.com, cfbe@yahoogroups.com, cikeas@yahoogroups.com, Diskusi-Pembebasan@yahoogroups.com, forum_inovasi_daerah@yahoogroups.com, forum_lingkarpena@yahoogroups.com, forumsosialindonesia@yahoogroups.com, gerakanmasyarakatsipil@yahoogroups.com, globalwarming_indonesia@yahoogroups.com, gus-dur@yahoogroups.com, halo-indonesia@yahoogroups.com, halo-indonesianwritersociety@yahoogroups.com, imajio@yahoogroups.com, indo-marxist@yahoogroups.com, indonesiamembaca@yahoogroups.com, indonesianwritersociety@yahoogroups.com, Info_Madani@yahoogroups.com, islam-pluralisme@yahoogroups.com, IslamProgresif@yahoogroups.com, jpl_indonesia@yahoogroups.com, jurnalisme-sastra@yahoogroups.com, jurnalisme@yahoogroups.com, jurnalismepublik@yahoogroups.com, kajianbudaya@yahoogroups.com, kebudayaan@yahoogroups.com, klub-sastra@yahoogroups.com, komunitas_merapi@yahoogroups.com, koran-sastra@yahoogroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com, kultur_tandingan@yahoogroups.com, kwk@yahoogroups.com, ldp-forum@yahoogroups.com, lintaseni@yahoogroups.com, lisi@yahoogroups.com, lkisgroup@yahoogroups.com, lsm-lsm@yahoogroups.com, masyarakatmerdeka@yahoogroups.com, mayapadaprana@yahoogroups.com, membaca_pramoedya@yahoogroups.com, politik_lokal@yahoogroups.com, ppiindia@yahoogroups.com, puisi-indonesia@yahoogroups.com, puisi@yahoogroups.com, puisicinta2000@yahoogroups.com, puisikita@yahoogroups.com, puisimania@yahoogroups.com, puisisaja@yahoogroups.com, rumahkitabersama@yahoogroups.com, sabili@yahoogroups.com, santri-garut@yahoogroups.com, sarikata@yahoogroups.com, sastra-melayu@yahoogroups.com, sm_indonesia@yahoogroups.com, sukasukamu@yahoogroups.com, wartawangaul@yahoogroups.com, yayasan-obor@yahoogroups.com, yok_bacabuku@yahoogroups.com
Tanggal: Jumat, 30 Januari, 2009, 2:07 AM

Badri

Setitik air menetes ke kepalanya, dan sejak saat itu Badri seakan-akan dilahirkan kembali. Ia jadi seseorang yang baru.
Kisahnya saya baca dalam Kompas 19 Januari yang lalu. Kisah itu membuat saya percaya bahwa ja­ngan-jangan ada mukjizat, kata lain dari sesuatu yang menakjubkan. Mukjizat dalam versi ini tak datang ke dunia secara spektakuler. Ia menyusup dalam berkas-berkas kecil.
Badri tinggal di sebuah kampung yang merupakan bagian dari Desa Tugu Utara, di Kecamatan Cisarua, Bogor. Bertahun-tahun lamanya, lelaki yang kini berumur 60 tahun itu jadi tukang babat hutan. Bersama beberapa temannya, ia keluar-masuk kawasan Puncak yang waktu itu rimbun dan sejuk. Dengan gergaji dan parang mereka tebangi pohon-pohon untuk dipotong-potong dan dijual sebagai kayu bakar. Empat tahun lamanya, sejak tahun 1975, sejak ia berumur 36 tahun, Badri mendapatkan nafkahnya dengan merusak hutan.
Tapi sesuatu terjadi di sebuah hari di bulan Oktober tahun 1979.
Siang itu ia tak pergi bersembahyang Jumat. Sejak pagi ia terus saja menebangi pohon. Di tengah hari, ketika siang jadi terik, ia beristirahat sejurus. Ia duduk. Mendadak, katanya, seperti dikutip Kompas, setetes air jatuh ke kepalanya.
”Hanya setetes,” katanya, ”tetapi membuat badan saya segar. Keletihan saya menebang pohon dan memikul kayu langsung hilang.”
Ia pun melihat ke sekeliling, mencari dari mana tetes air itu datang. Ternyata, butir bening yang sejuk itu jatuh dari pokok yang baru ditebangnya. ”Saya terkejut,” kata Badri. ”Saya duduk terdiam, merenungkan tetes air itu.”
Sejak hari itu—ia ingat tanggalnya dengan persis, 6 Oktober 1979—ia gundah. Ia kembali masuk-keluar hutan, tapi kali ini tidak untuk menebang, melainkan untuk membuktikan bahwa pohon-pohon memang me­nyimpan air di tubuh mereka, di akar mereka yang masuk ke tanah. Setelah ia menemukan kenyataan itu sendiri, ia pun yakin. Ia pun bertekad. ”Sejak tahun itu pula saya berjanji tidak lagi menebang pohon,” tuturnya. Bahkan ia bersumpah akan terus menanam sampai akhir hidupnya.
Maka hampir tiap hari ia membawa coredan, alat pembuat lubang kecil di tanah tempat akan dipendamnya bibit. Hampir tiap hari, dengan tubuhnya yang tua, kurus tapi liat, dilapisi kulit yang hitam legam terbakar matahari, Badri mengembalikan ke bukit-bukit di Puncak daun dan dahan dan akar hutan tropis. Ia menebus. Ia memulihkan. Ia tak mau lelah. Kakek itu menampik sakit.
Janji itu tak mudah. Ia kehilangan sumber nafkahnya: sang pencuri kini jadi sang pemberi. Istrinya marah. Hidupnya sendiri tak selamanya aman. Badri menciptakan musuh. Beberapa kali ia ditangkap dan dianiaya para spekulan tanah dan petugas keamanan vila-vila di kawasan Cisarua. Sebab ia tak ragu untuk menanam pohon apa saja di tanah kosong mana saja—yang tak jarang kepunyaan orang tapi dibiarkan telantar atau sedang dibidik untuk diperjualbelikan.
Ia melakukan itu sejak 1979. Sampai sekarang: sebuah kesetiaan non-institusional. Yang mengarahkannya bukanlah satu program, satu lembaga, atau ajaran, melainkan sebuah ”kejadian”.
Kata ”jadi”—sebuah kata dalam bahasa Indonesia yang tak mudah diterjemahkan—menggambarkan perubahan yang-potensial ke dalam yang-aktual, yang-belum ke dalam yang-sudah. ”Kejadian” juga mensugestikan se­suatu yang tak rutin dan terkadang menakjubkan. Jika yang dialami Badri dan yang membuat dirinya berubah kita sebut sebuah mukjizat, itu karena semuanya berlangsung di sebuah masa ketika hal demikian sungguh tak lazim. Inilah masa ketika orang berbuat segala se­suatu konon dipacu oleh kepentingan- diri.
Kita bayangkan Badri: tetesan air itu membuatnya terguncang, tapi dengan segera jadi sebuah tekad, pada 6 Oktober 1979 itu. Dengan itu Badri tak merasa perlu bertanya untuk siapa dia menanam pohon tiap hari selama tiga dasawarsa.
Ia seorang militan. Tapi seorang militan lain mungkin akan mengorbankan dirinya untuk sesuatu yang tertutup, misalnya kaum atau pihaknya sendiri. Militansi Badri tidak demikian: ia bekerja untuk sesuatu yang tak berpuak. Ia menjangkau sesuatu yang secara universal terbuka. Pohon-pohon itu tumbuh dan hutan itu akan kembali rimbun untuk siapa saja, bahkan untuk manusia dalam geografi dan generasi yang tak akan ia kenal.
Mungkin orang akan mencemooh Badri: ia naif. Ia tak berpikir bahwa bila Puncak jadi hijau kembali, bila hutan tumbuh dan menyimpan air, yang akan menikmatinya terutama orang yang berduit dan berkuasa. Pendeknya, niat untuk menjangkau sesuatu yang universal itu bodoh, melupakan bahwa ”sesama” tak pernah ”sama”, kecuali sebagai angka statistik.
Tapi saya tak akan mencemooh Badri. Ia mungkin tahu tapi mungkin juga tidak bahwa orang-orang kaya di Jakarta adalah perusak hutan yang lebih buas ketimbang para pencuri batang pohon seperti dia sebelum 1979. Orang-orang berduit dan berkuasa membangun vila dan membedah lereng, memakai mobil dengan karbon di­oksida yang paling ganas, dan mengkonsumsi sandang-­pangan dengan rakus hingga segala yang alami dikorbankan. Tapi salahkah Badri bila ia terus menanam pohon di bukit itu?
Saya kira kita perlu melihat bahwa kisah orang ini, yang bernama lengkap Badri Ismaya (dan ”Ismaya” adalah Semar dalam wayang, jelata yang juga dewata), adalah sebuah cerita penebusan yang lebih mendasar: di zaman yang dibentuk oleh keserakahan manusia, Badri memberikan dirinya. Ia ingin kita tak bunuh diri, karena saling menghancurkan dan putus asa setelah melihat diri sebagai unsur yang keji di atas bumi. Saya kira Badri ­ingin manusia jadi seperti pohon hutan: makhluk yang luka tapi layak diberi ucapan terima kasih.
Goenawan Mohamad


 


New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!


Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya!

#2102 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Wed May 27, 2009 11:57 am
Subject: Tanpa Tanda ! : Refleksi Persoalan Gurita Neoliberalisme
mataharikusatu
Send Email Send Email
 

gudang (link-link) artikel tentang Jerat Neoliberalisme (Penjajahan Baru) dan Wacana Tandingnya

 

Silah kunjung  untuk link-link serial  bacaan kritis ini

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/search/label/lawan-neoliberalisme

 

(Don Marut, Bonnie Setiawan, Puthut EA, I Gusti Agung Ayu Ratih, R. Herlambang Perdana Wiratraman,  Eric Hiariej)

 

serial paper sebelumnya

Kompilasi paper Neoliberalisme : Pengertian, Asal Usul dan Perkembangnya di Indonesia (Revrisond Baswir, Herry B Priyono, Kwik Kian Gie, Yanuar Nugroho, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras dan Film Dokumenter John Pilger  The New Rulers of The World - subtitle bahasa indonesia)  

 

salam pembebasan

andreas iswinarto

pengumpul bacaan kritis

 

NB

- mohon bantuannya untuk menyebarluaskan informasi ini.

- serial ini akan terus dimutakhirkan hingga 3 bulan ke depan

 

Neoliberalisme dan Kapitalisme Bencana

 

Kapitalisme bencana menjadi ekonomi baru dewasa ini. Bencana bisa dalam berbagai bentuk: persenjataan yang menghancurkan pusat tenaga listrik dan rumah sakit, alam yang menghancurkan infrastruktur, badai yang menyapu bersih kota dan desa, konflik ideologis, tsunami, gempa, Lumpur lapindo, dan sebagainya. Naomi Klein mengatakan bahwa “dewasa ini ketidakstabilan global tidak hanya menguntungkan pedagang senjata; juga membawa keuntungan yang luar biasa besarnya bagi sector keamanan yang menggunakan high technology, perusahaan konstruksi besar, perusahaan rumah sakit swasta, perusahaan minyak dan gas, perusahaan produksi pangan, dan tentu saja para kontraktor industri pertahanan.

Rekonstruksi bencana alam dan bencana perang atau konflik dewasa ini menjadi bisnis yang sangat besar dan sangat menguntungkan. Perusahaan-perusahaan besar merasa gembira jika ada bencana (perang atau bencana alam), dan jika tidak ada bencana mereka akan memicu terjadinya bencana. Untuk rekonstruksi Iraq, dana yang digelontorkan sebesar $ 30 milyard, untuk rekonstruksi tsunami di Asia sebesar $ 13 milyar, dan untuk New Orleans dan Gulf Coast sebesar $ 110 milyar.

Pendapatan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam rekonstruksi cukup untuk memicu boom ekonomi. Perusahaan-perusahaan gas dan minyak sangat dekat dengan ekonomi bencana, baik sebagai penyebab utama bencana maupun sebagai penerima manfaat utama dari bencana tersebut. Saking besarnya pengaruh perusahaan minyak dan gas dan besarnya keuntungan yang diperoleh dari bencana, Naomi Klein menyebut perusahaan-perusahaan minyak dan gas ini sebagai “honorary adjunct of the disaster-capitalism complex”.


Dipetik dari artikel Don Marut KAPITALISME BENCANA DAN BENCANA KAPITALISME di tikarpandan.org

Neoliberal dan Kejahatan Multinasional

 

Untuk memahami Globalisasi dan mekanisme dunia sekarang, orang perlu memahami Neo-Liberalisme. Inilah ideologi mutakhir kapitalisme yang saat ini sedang jaya-jayanya, terutama slogan TINA (There is No Alternatives) dari mulut Margaret Thatcher. Semenjak 1970-an hingga kini, Neo-Liberalisme mulai menanjak naik menjadi kebijakan dan praktek negara-negara kapitalis maju, dan didukung oleh pilar-pilar badan dunia: Bank Dunia, IMF dan WTO. Neo-Liberal tidak lain adalah antitesa welfare state, antitesa neo-klasik, dan antitesa Keynesian. Dengan kata lain antitesa kaum liberal sendiri, yaitu Liberal Baru atau kaum Kanan Baru (New-Rightist).

Dengan memahami Neo-Liberal, maka kita dapat memahami berbagai sepak terjang badan-badan multilateral dunia; kita dapat memahami perubahan kebijakan domestik di negara-negara maju; kita dapat memahami mengapa terjadi krisis moneter dan ekonomi yang tidak berkesudahan; kita dapat memahami mengapa Indonesia didikte dan ditekan terus oleh IMF; kita dapat memahami mengapa Rupiah tidak pernah stabil; kita dapat memahami mengapa BUMN didorong untuk di-privatisasi; kita dapat memahami mengapa listrik, air, BBM, dan pajak naik; kita dapat memahami mengapa impor beras dan bahan pangan lain masuk deras ke Indonesia; kita dapat memahami mengapa ada BPPN, Paris Club, Debt Rescheduling dan lain-lain; dan banyak lagi soal-soal yang membingungkan dan memperdayai publik.

Nama dari program Neo-Liberal yang terkenal dan dipraktekkan dimana-mana adalah SAP (Structural Adjustment Program). Program penyesuaian struktural merupakan program utama dari Bank Dunia dan IMF, termasuk juga WTO dengan nama lain. WTO memakai istilah-istilah seperti fast-track, progressive liberalization, harmonization dan lain-lain. Intinya tetap sama. Di balik nama sopan "penyesuaian struktural", adalah "penghancuran dan pendobrakan radikal" terhadap struktur dan sistem lama yang tidak bersesuaian dengan mekanisme pasar bebas murni. Neo-Liberal adalah ideologinya, dan SAP adalah praktek atau implementasinya. Sementara tujuannya adalah ekspansi sistem kapitalisme global


Dipetik dari artikel Bonnie Setiawan (IGJ) Neoliberal dan Kejahatan Multinasional

 

Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi

Nenek Moyangku Orang Pelaut

 

Mengapa hutan-hutan bakau itu dibabat habis berubah menjadi bangunan manis dipandang lalu cahaya indah menerobos dari rekahan jendela kristal. Mengapa juga pulau-pulau kecil yang kadangkala menjadi tempat peristirahatan kami, menjadi tanda-tanda bagi kami, mulai hilang, lenyap, tenggelam meninggalkan air keruh mengusir ikan-ikan untuk semakin menjauh. Dan kapal-kapal itu? Ratusan kapal-kapal dengan bendera dan wajah asing, kapal-kapal yang rakus dengan alat tangkap ikan yang juga rakus, kenapa dibiarkan berkeliaran mengumbar kehendak? Ikan-ikan semakin menjauh, sementara perjalanan kami juga telah semakin jauh. Bahan bakar semakin mahal. Di darat, harga-harga yang lain juga semakin mahal sementara jaring-jaring kami terlihat semakin ringkih, kapal memucat tanpa muatan yang memberat. Di atas sana, bendera dwi warna memudar karena waktu dan cuaca.

Di darat, anak-anak kami masih menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dengan semangat masih juga bernyanyi,"Nenek moyangku, orang pelaut…". Tentu, kami ingin mewariskan ke mereka ilmu perbintangan dan ketajaman mata ketika melihat dalam gelap lanskap dan dalam gelap air laut. Ingin kami bagikan ilmu sederhana agar mta kita tajam dengan cara memakan mata ikan yang masih segar.

Kami ingin mengajarkan bagaimana menyikapi badai dan gelombang, membaca musim, merapal mantra. Ingin kami kabarkan tentang bagaimana mengolah, memanggang dan mengasap ikan dengan sempurna. Tapi dewa-dewa telah pergi, ikan-ikan semakin menjauh dan tanda-tanda sudah tidak lagi cermat. Akankah kami mewariskan sesuatu yang segera menjadi binasa? Akankah kami mewariskan sesuatu yang dulu diwariskan oleh moyang kami, tetapi sebentar lagi hanya akan menjadi dongeng bahkan sederajat dengan omong kosong? Alangkah malangnya ketika rantai pengetahuan yang kukuh itu, yang dibangun dari ratusan tahun pengalaman, tiba-tiba bagi sebuah generasi hanya tak lebih menjadi bualan? Dan mungkin kami hanya akan merintih dalam hati, ketika dengan jujur anak cucu kami bernyanyi,"Nenek moyangku, orang pelaut…"

Dipetik dari tulisan Puthut EA, Prosa Tanpa Tanda Seru : Refleksi Persoalan Globalisasi

Fundamentalis Pasar Bebas dan Posisi Perempuan

 

Saya tidak berbicara tentang satu dua kasus. Kalau BPS mencatat bahwa jumlah total pekerja di bidang industri utama sebesar 102.049.857 juta jiwa dan hampir 50% diantaranya adalah perempuan, kita berurusan dengan jutaan buruh perempuan yang setiap hari berhadapan dengan ketidakpastian. Semakin banyak perusahaan yang menggunakan sistem kerja kontrak karena sistem ini memberi mereka keleluasaan memilih jenis buruh seperti apa yang sesedikit mungkin membebani biaya produksi dan mudah dikendalikan. Kita perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apa dampak sistem kerja kontrak terhadap kesehatan perempuan, termasuk kesehatan reproduksinya, sejak perusahaan tidak lagi menanggung biaya perawatan kesehatan, meniadakan cuti haid dan cuti hamil.

Ibu dan pengurus rumah tangga tidak mengalami nasib lebih baik. Pemotongan subsidi terhadap BBM dan layanan publik (istilah yang tidak tepat lagi digunakan di masa privatisasi ini) menambah beban luar biasa bagi pengeluaran rumah tangga sehari-hari. Mi instan dan gorengan dalam jumlah terbatas menjadi menu utama sehari-hari. Slogan 4 Sehat 5 Sempurna sudah lama tak terdengar. Para ibu yang suami-suaminya di PHK menanggung beban berlipat ganda karena harus mencari pekerjaan alternatif sambil tetap menjalankan tugas-tugas kerumahtanggaan. Tak jarang mereka menjadi sasaran keputusasaan suami yang tak kunjung memperoleh pekerjaan dalam bentuk kekerasan verbal pun fisik.

Di tengah suasana kecemasan, pemiskinan dan kekerasan meluas serupa ini kampiun-kampiun pasar bebas menebar ilusi dan mimpi tentang melimpah dan beragamnya komoditi pelengkap gaya hidup modern melalui industri hiburan. Sementara itu institusi finansial yang resmi pun tak resmi berlomba-lomba menawarkan kredit dengan bunga mencekik. Sudah bukan rahasia lagi bahwa masyarakat urban lebih memilih membeli telpon selular atau krim pemutih wajah daripada vitamin C. Ini seperti 'pepatah' lama 'Biar tak ada nasi, asal aksi.' Industri periklanan juga mengkooptasi ide-ide feminis tentang pemberdayaan perempuan dengan mendorong kemandirian dan kebebasan perempuan untuk membeli barang-barang kesenangannya.


Dipetik dari Pidato Kebudayaan I Gusti Agung Ayu Ratih Kita, Sejarah dan Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan*

Neoliberalisme dan Mitos Good Governance

 

Bila secara sistematik dilakukan dengan teknologi perundangan, maka telah terang bahwa good governance yang sangat menekankan proseduralisme melahirkan proses-proses pelanggaran hak asasi manusia yang difasilitasi oleh hukum yang ada atau dibentuknya (legalized violations of human rights). Dengan mitos ketatanegaraan (dan mantramantranya) good governance yang mengusung agenda-agenda pembaruan, menjelaskan pada kita bahwa hukum ditempatkan sekadar alat kekerasan dan sekaligus pelumas menuju mekanisme pasar bebas. Inilah apa yang publik percayai tentang kebaikankebaikan dalam good governance, yakni ‘GOOD for GOVERning Neoliberal performANCE.’

Dipetik dari artikel R. Herlambang Perdana Wiratraman Good Governance dan Mitos Ketatanegaraan Neoliberal

 

Formasi Negara Neoliberal dan Kebangkitan Komunalisme

 

Neoliberalisme yang selama ini dibayangkan pro pasar, pro indvidualisme, anti komunal, dan meminggirkan peran negara, pada kenyatannya kini mengalami kontradiksi-kontradiksi. Fenomena sosial politik mutakhir memperlihatkan bagaimana gerakan neoliberalisme justru mendorong kebangkitan komunalisme, sebagaimana diperlihatkan oleh pemimpinpemimpin negara maju. Kampanye anti fundamentalis oleh Bush di Amerika, atau kampanye anti pendatang yang diserukan oleh Howard di Australia, diakui atau tidak, berdampak pada menguatnya ikatan komunal antar sesama sebangsa. Kecurigaan berlebihan, yang bahkan mengarah ada rasisme, menjadi efek lanjutan yang tak terhindarkan. Aspek politis dan etis seringkali terlewatkan.

Dipetik dari dari artikel Eric Hiariej (Pengajar di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta) FORMASI NEGARA NEOLIBERAL DAN KEBANGKITAN KOMUNALISME di Jurnal Mandatory.

Silah kunjung  untuk link-link serial  bacaan kritis ini

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/search/label/lawan-neoliberalisme

 

 

 



#2103 From: "qusthan_abqary" <qusthan_abqary@...>
Date: Sat May 30, 2009 2:27 pm
Subject: Presiden: "Government is Broke"
qusthan_abqary
Send Email Send Email
 
Presiden: "Government is Broke"

Rabu, 11 Maret 2009 | 08:05 WIB

Laporan wartawan KONTAN Hans Henricus B

JAKARTA, KOMPAS.com Krisis keuangan global bukan saja menimpa pengusaha nasional, pemerintah pun juga turut terkena imbasnya. Lantaran krisis itu, pemerintah terpaksa menggelontorkan sejumlah insentif di sektor pajak kepada industri yang berujung pada melorotnya penerimaan negara.

"Government is broke. Penerimaan pemerintah berkurang karena pajak yang masuk berkurang," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat membuka Sidang Pleno I Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta, Selasa (10/3).

Menurut Presiden, pemberian insentif yang berujung pada melorotnya penerimaan negara dari sektor pajak memang tidak terhindarkan dalam kondisi krisis ekonomi. Pasalnya, pemberian insentif memang menjadi tugas utama pemerintah menjaga roda perekomian nasional tetap bergerak. "Di masa krisis ekonomi sulit bisa win-win, tapi win-loose. Pemerintah yang pertama loose, yang penting rakyat kita win. Setelah krisis ini kita lalui, semua akan win kembali," ujarnya.

Di sisi lain, lanjut SBY, saat penerimaan berkurang, justru pengeluaran negara bertambah tinggi. Anggaran untuk subsidi, pembangunan, dan keperluan jaring pengaman sosial ditambah demi mengurangi dampak krisis.
"Penambahan anggaran misalnya pada Departemen Pekerjaan Umum (PU) serta Departemen Perhubungan untuk membangun berbagai proyek infrastruktur. Pada saat sama pemerintah menaikkan nilai UMR, gaji PNS, TNI dan Polri juga harga beli gabah dari petani," ujar SBY.

KONTAN Hans Henricus B

12 maret 2009
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/03/11/08050639/Presiden.Government.is.Broke


#2104 From: ztowishes@...
Date: Sat May 30, 2009 2:16 pm
Subject: Top 100 Richest Persons In The World
ztowishes@...
Send Email Send Email
 
Accounts
http://accountts.blogspot.com/
Accountant
http://accoutant.blogspot.com/
Advertising
http://adverrttising.blogspot.com/
Ambition
http://ambiition.blogspot.com/
Apparel
http://apparrel.blogspot.com/
Architecture
http://archittecture.blogspot.com/
Astronomy
http://astronnomy.blogspot.com/
Automotive
http://automottive.blogspot.com/
Ayurveda
http://ayurrvedic.blogspot.com/
Baby
http://baabbyy.blogspot.com/
Beauticians
http://beautiicians.blogspot.com/
Beverage
http://beverrage.blogspot.com/
Bikes
http://bikkeess.blogspot.com/
Books
http://bookks.blogspot.com/
Care
http://caarre.blogspot.com/
Calendar
http://calenndar.blogspot.com/
Cards
http://carddss.blogspot.com/
Children
http://childdren.blogspot.com/
Collectables
http://collecttables.blogspot.com/
Company
http://comppany.blogspot.com/
Cooling
http://cooliing.blogspot.com/
Crafts
http://craftts.blogspot.com/
Data
http://daatta.blogspot.com/
Dealer
http://deaaler.blogspot.com/
Designer
http://desiigner.blogspot.com/
Detectives
http://dettectives.blogspot.com/
Developer
http://develloper.blogspot.com/
Diving
http://diviing.blogspot.com/
E Cards
http://ecardds.blogspot.com/
Electronics
http://electroniics.blogspot.com/
Employment
http://empollyment.blogspot.com/
Fashion
http://fasshion.blogspot.com/
Garden
http://garrden.blogspot.com/
Hardware
http://hardwware.blogspot.com/
Industries
http://industriies.blogspot.com/
Jewelry
http://jeweellery.blogspot.com/
Kids
http://kiidds.blogspot.com/
Law
http://laaww.blogspot.com/
Machinery
http://machiinery.blogspot.com/
Nature
http://naturre.blogspot.com/
Obesity
http://obesiity.blogspot.com/
Packers and movers
http://packerrsandmovers.blogspot.com/
Politics
http://politiics.blogspot.com/
Quality Control
http://qualiitycontrol.blogspot.com/
Radio
http://radiioo.blogspot.com/
Sample Business Plans
http://samplebusinnessplans.blogspot.com/
Security
http://securiity.blogspot.com/
Tailoring
http://tailoriing.blogspot.com/
Top 100 Richest Persons In The World
http://top100richesstpersonsintheworld.blogspot.com/
Unions
http://uniions.blogspot.com/
Voice
http://voiicce.blogspot.com/
Weather
http://weatther.blogspot.com/
X-rated
http://x-ratteed.blogspot.com/
Yoga
http://yoogga.blogspot.com/
Zones
http://zonnes.blogspot.com/

#2105 From: "Rumah Kiri" <rumahkiri@...>
Date: Tue Jun 2, 2009 11:33 am
Subject: Undangan June Rally Rumah Kiri dan Ultimus
rumahkiri
Send Email Send Email
 
Undangan June Rally Rumah Kiri dan Ultimus

Pemutaran Film
Amazon Oil Pipeline: Pollution, Corruption and Poverty
Sutradara: Joan Pablo Barragan dan Ivonne Ramos
Produser: Accion Creativa, Rainforest Information Centre, Equador 2002
Waktu: Jumat, 5 Juni, Pukul 19.30 WIB - 20.00 WIB
Tempat: Toko Buku Ultimus, Jl. Rangkasbitung No. 2A Bandung

Pengantar Diskusi Film

Pengantar diskusi: Harga minyak bumi di pasar, bukanlah harga sebenarnya.
Industri
migas, yang banyak didanai lembaga keuangan internasional dan dukungan politik
penuh
negara utara, tak hanya menghasilkan minyak dan gas bumi. Tapi juga kerusakan
sistematis lingkungan, sosial, ekonomi dan budaya lokal, bahkan ekonomi
negara-negara selatan, yang bergantung migas. Ujungnya adalah perbedaan pola
produksi dan konsumsi antara negara utara dan selatan. Amerika Serikat yang
hanya 4%
penduduk dunia, menghabiskan lebih 30% energi fosil dunia. Dari sinilah
tingginya
akumulasi gas rumah kaca, pemanasan global dan perubahan iklim. Itulah
ongkos-ongkos yang disembunyikan industri migas. Ongkos yang telah membiayai
kemakmuran negara-negara utara. Itulah utang ekologis industri migas.

Diskusi Isu
Utang Industri Migas
Pembicara: Siti Maemunah (Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang)
Moderator: Setiaji Purnasatmoko
Waktu: Jumat, 5 Juni, Pukul 20.00 WIB - Selesai
Tempat: Toko Buku Ultimus, Jl. Rangkasbitung No. 2A Bandung

Pengantar Diskusi
Image Film ini menceritakan bagaimana Ekuador, sebuah negara di
Amerika Latin, mengalami resource coursemenjadi miskin dan terbelit utang
justru
karena kekayaan alamnyaakibat eksploitasi alam yang telah berlangsung selama
lebih
dari 30 tahun oleh banyak perusahaan minyak transnasional serta lembaga
perbankan
internasional yang serakah. Kemanakah sebenarnya kekayaan itu mengalir?

Diskusi Buku
Soekarno: Biografi Politik, Karya Kapitsa M.S dan Matelin N.P.
Pembahas: Kemal Asmarahadi dan Rahmat Jabaril
Waktu: Minggu, 7 Juni, Pukul 19.30 WIB - Selesai
Tempat: Toko Buku Ultimus, Jl. Rangkasbitung No. 2A Bandung

Pengantar Diskusi
Buku Prof. Dr. Kapitsa M. S. dan Dr. Maletin N. P. adalah sebuah langkah pertama
dalam literatur Soviet yang menganalisa riwayat hidup dan kegiatan politik Bung
Karno, yang mereka nilai sebagai salah seorang yang terkemuka dari para pejuang
pembebasan nasional Indonesia, sosok yang telah memberikan andil yang sangat
besar
baik dalam perkembangan kesadaran kebangsaan rakyat Indonesia maupun dalam
perjuangan untuk kemerdekaan negerinya. Bersandar kepada sumber-sumber yang
cukup luas pada masa itu (1980), para penulis mampu menyajikan analisa-analisa
yang cukup menarik dan pantas mendapat perhatian. Mereka telah bisa melukiskan
potret Bung Karno, khususnya dari segi kehidupan perjuangan politiknya, yang
sepenuhnya telah beliau abdikan kepada bangsa dan negaranya tercinta. Ini adalah
sebuah analisa kehidupan politik Bung Karno dari para penulis yang bertolak dari
ajaran sosialisme-ilmiah dan tentunya cukup menarik untuk bahan perbandingan
dengan pandangan-pandangan lain yang sudah banyak beredar di negeri kita,
mengingat pada zaman "orba" berlaku larangan beredar bagi tulisan semacam ini.

Pameran Foto Bung Karno
5-7 Juni 2009
Tempat: Toko Buku Ultimus, Jl. Rangkasbitung No. 2A Bandung

Acara Lainnya
1. Apresiasi seni
2. Jamming

Acara diselenggarakan oleh Ultimus dan Rumah Kiri

GRATIS!!!

#2106 From: antun j susmana <ajsusmana@...>
Date: Wed Jun 3, 2009 9:05 pm
Subject: Papernas: Bangun Persatuan Nasional Untuk Melawan Neoliberalisme
ajsusmana
Send Email Send Email
 
http://papernas.org/berdikari/index.php?option=com_content&task=view&id=307&Itemid=1


BERDIKARI
ONLINE, Jakarta: Di tengah hiruk pikuk Pemilu Presiden (Pilpres), wacana mengenai neoliberalisme pun semakin menguat. Dari ketiga pasangan capres, hampir semuanya menolak dikatakan sebagai pengikut neoliberalisme. “Isu Neoliberalisme telah menciptakan polarisasi politik, bahkan sudah menjadi wacana yang diperbincangkan oleh massa rakyat, sehingga para pendukung neoliberal pun mulai ketakutan,” kata Agus Jabo Priyono, ketua umum Papernas, kepada wartawan pada acara konferensi pers di kantor DPP Papernas, siang tadi (3/6).

 

 Pro-kontra neoliberalisme, bagaimanapun, telah menandai babak baru dalam kontestasi ideologi di Indonesia. Kini, bacaan-bacaan mengenai neoliberalisme dan anti neoliberalisme telah menjadi konsumsi publik, bahkan menghiasi berbagai forum-forum diskusi. Tidak heran, para pendukung kubu neoliberal akhirnya mencoba menghindar dan bersembunyi pada retorika palsu. “ ini adalah sebuah kemenangan politik bung,” tandasnya.

 

Menurut Agus Jabo, dari ketiga capres itu, memang tidak seluruhnya sungguh-sungguh anti-neoliberalisme dan memperjuangkan ekonomi kerakyatan. “ada yang mengaku ekonomi kerakyatan, tapi isinya berbau kepentingan neoliberal. Jadi, hanya menggunakan “ekonomi kerakyatan sebagai “cover”  biar tidak kena timpuk gerakan anti neoliberal,” kata Agus Jabo Priyono.

 

“Sebetulnya, pemerintahan yang menganut neoliberalisme punya ciri yang jelas. Secara ringkas, penganut neoliberalisme dicirikan dengan empat hal; pertama,  liberalisasi perdagangan dan financial. Kedua, membiarkan pasar yang menentukan harga. Ketiga, mengakhiri inflasi (stabilisasi makro ekonomi). keempat, privatisasi dan penjualan asset-aset strategis. Jadi, siapapun tidak bisa mengelak dan berpura-pura anti neolib,” tegas Agus Jabo.

 

Bagi Papernas, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jelas menganut neoliberalisme. Buktinya, SBY begitu aktif mendorong liberalisasi ekonomi secara agressif di segala sektor ekonomi, bahkan dengan payung perundang-undangan. UU No 25/2007 tentang penanaman modal, misalnya, itu memberikan kesempatan kepada asing untuk menanamkan modalnya hingga 100%, serta sangat mengabaikan aspek kedaulatan ekonomi nasional.

 

Melalui paket liberalisasi ekonomi yang agressif, Pemerintahan SBY membuka kesempatan kepada perusahaan multinasional dan swasta asing untuk menguasai perekonomian nasional. Di sektor migas, misalnya, pihak asing mengontrol hingga 85-90% pengelolan migas nasional, akibatnya 85% produksi migas nasional dikontrol oleh pihak asing. Sebanyak 65% kepemilikan saham di pasar modal adalah asing. Sebesar 14 milyar dollar AS kepemilikan SBI dan SUN adalah asing. Di sektor perbankan, karena UU 22 tahun 1999 menginjinkan kepemilikan asing hingga 99%, maka pihak asing semakin menguasai dan mengontrol perbankan nasional. Di bidang telekomunikasi, karena SBY benar-benar mematuhi keinginan WTO, maka kepemilikan asing terhadap penyelenggaraan jasa telekomunikasi di Indonesia bisa mencapai 35%.

 

Sementara untuk privatisasi, SBY juga tidak kalah agressifnya dengan pemerintahan sebelumnya. Periode 1991-2001, pemerintah Indonesia 14 kali memprivatisasi BUMN. Yang terprivatisasi 12 BUMN. Sedangkan dibawah SBY, situasinya cukup menggemparkan, bayangkan, hanya dalam setahun 44 BUMN dilego. Apalagi, privatisasi kali ini disertai penjualan seluruh saham 14 BUMN industri, 12 BUMN kepada investor strategis, dan beberapa BUMN lainnya kepada asing. “Fakta ini kan memang memperlihatkan bahwa SBY itu menganut neoliberalisme,” kata Agus Jabo.

 

Untuk itu, menurut Agus Jabo, momentum pilpres kali ini tidak bisa ditinggalkan. Medan politik pilpres 2009 adalah medan yang jelas bagi rakyat untuk melawan praktek neoliberalisme. Dan bagi Papernas, SBY-Budiono adalah penganut jalan neoliberalisme dan menjadi agen utama imperialisme saat ini, sehingga harus dilawan secara bersama-sama.

 

Terhadap capres lain, Jabo mengatakan, “ kita hanya akan berjuang bersama dengan mereka yang berjuang untuk kepentingan bangsa dan seluruh rakyat, serta memperjuangkan ekonomi kerakyatan dan anti neoliberalisme secara sungguh-sungguh, bukan karena kepentingan memenangkan pemilu semata”.

 

Mengenai gerakan anti neoliberalisme, Agus Jabo Priyono menilai bahwa gerakan seperti ini sudah manifes dan berkembang dimana-mana, baik perlawanan yang diinspirasikan oleh sektor-sektor rakyat yang menjadi korban langsung neoliberalisme, maupun pengusaha nasional yang kepentingannya berkontradiksi dengan perusahaan multinasional. Hanya saja, menurutnya, perlawanan-perlawanan itu belum punya artikulasi politik yang menusuk kepentingan neoliberalisme, karena belum dipersatukan dalam sebuah alat politik persatuan dan platform yang sama. “Kunci untuk melawan Imperialisme dan neoliberalisme adalah persatuan nasional,” kata Agus Jabo Priyono.

 

Dalam konteks ini, Papernas akan memainkan perannya untuk mendorong terbentuknya persatuan nasional anti-neoliberalisme. Di samping itu, Papernas akan berusaha menyakinkan seluruh kekuatan politik untuk menempuh jalan mobilisasi rakyat dalam menghadapi neoliberalisme. “Kekuatan neoliberal memang sungguh perkasa. Tapi dia tidak akan berdaya berhadapan dengan kekuatan rakyat,” ujarnya.  

 

RUDI HARTONO dan ULFA ILYAS



#2107 From: "Rusdi Mathari" <rusdi_man@...>
Date: Wed Jun 3, 2009 7:42 am
Subject: Sohibul Barokah, Berkah Yudhoyono
rusdi_man
Send Email Send Email
 
KPU menyebutkan dana kampanye terbesar untuk pasangan SBY-Boediono berasal dari PT Sohibul Barokah, PT Trimanunggal Cipta Abadi dan PT Sohibul Experindo Internasional. Siapa pemiliknya dan bergerak di bidang apa tiga perusahaan itu?

oleh Rusdi Mathari
KOMISI Pemilihan Umum, KPU, kemarin mengumumkan dana kampanye dari masing-masing kandidat presiden dan pasangannya yang akan bertarung pada Pemilu Presiden 2009, 8 Juli. Pengumuman itu didasarkan kepada laporan jumlah dana kampanye dari tiga kandidat lengkap dengan sumber pemberi sumbangan, yang masuk ke KPU hingga Senin 1 Juni 2009.

Terungkap dari pengumuman KPU, pasangan Megawati-Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yuhoyono-Boediono melaporkan dana kampanye mereka sekitar Rp 20 miliaran, dan dana kampanye Jusuf Kalla-Wiranto dilaporkan sebesar Rp 10,25 miliar. Ketua KPU Abdul Hafiz Ansyari  menjelaskan, dana kampanye Mega-Pro bertambah sekitar 30 persen dari laporan awal dana kampanye mereka yang disampaikan ke KPU tiga hari sebelumnya.Hal yang sama juga terjadi pada pasangan SBY-Boediono dan JK-Win.

Untuk SBY-Boediono meningkat sebesar Rp 225 juta, dan JK-Win bertambah  Rp 250 juta. Hafiz akan tetapi menolak menyebutkan asal-usul dana kampanye masing-masing kandidat secara rinci.

Dia hanya mengatakan penyumbang terbesar untuk Mega-Pro adalah Prabowo (Rp15 miliaran) sisanya disumbang oleh Mega. Untuk JK-Win, dananya sebagian berasal dari Partai Golkar (Rp 7 miliar), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Rp 3 miliar).

Yang menarik adalah dana kampanye untuk pasangan SBY-Boediono. Menurut Hafiz, donatur utama SBY-Boediono adalah termasuk PT Sohibul Barokah (Rp 5 miliar), PT Trimanunggal Cipta Abadi (Rp 3,5 miliar) dan PT Sohibul Experindo Internasional (Rp 3,5 miliar). Ada pun Partai Demokrat menyumbangkan Rp 50 juta. Perusahaan apa sebetulnya Sohibul Barokah, dan Sohibul Internasional itu, dan siapa pemiliknya?

Dua perusahaan itu tampaknya dikendalikan oleh orang yang sama, yaitu  H. Zainal Abidin. Di Jakarta dia dikenal sebagai pengusaha minyak, di kota asalnya Pandeglang, orang-orang menyebutnya sebagai Raja Minyak. Di Pandeglang itu pula, Zainal dikenal memiliki pondok pesantren Riyadul Mubtadiin, yang beralamat di Bendungan, Cikeusik, Pandeglang. Pesantren ini terdaftar di Daftar Identitas Pondok Pesantren 2006-2007, Provinsi Banten dengan nomor  042360104005.

Empat tahun silam, Presiden Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono pernah mengunjungi Riyadul Mubtadiin. Lalu dua tahun lalu, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Soepari menyumbangkan dua ambulans untuk digunakan pesantren milik Zainal itu.

Bendahara
Selain di dua Sohibul tadi, nama Zainal juga tercantum di Trimanunggal. Menurut data KPU, Trimanunggal ikut memberikan sumbangan Rp 5 miliar kepada tim kampanye Demokrat dalam pemilu legislatif lalu. Dia pribadi juga tercatat menyumbangkan Rp 1 miliar untuk keperluan yang sama.

Baik Sohibul Barokah, Sohibul Inspektindo, dan Trimanunggal berkantor di alamat yang sama di Graha Kirana Building, Yos Sudarso No.88 Jakarta Utara 14350. Ketiga perusahaan itu terlibat dalam bisnis jasa transportasi. Sohibul Inspektindo, misalnya, bergerak  di bidang bisnis kargo, dan  Trimanunggal dikenal sebagai distributor.

Dua perusahaan itu, oleh sebagian orang disebut-sebut juga bergerak di bidang minyak dan gas bumi. Sementara Sohibul Barokah, bergerak di bisnis peralatan dan perlengkapan bank. Benarkah?

Meski pun terdaftar di lembaran Yellow Page, tapi sama sekali tak ada penjelasan peralatan apa saja yang dihasilkan Sohibul Barokah. Tak juga nama-nama bank, yang pernah menggunakan produk mereka.

Ada pun Zainal saat ini tercatat sebagai bendahara di Tim Sukses SBY-Boediono, yang diketuai Mensesneg Hatta Radjasa. Di luar, nama  Zainal dikenal sebagai bendahara Demokrat.

Audit Asal-Usul
Penjelasan KPU tentang dana kampanye dari masing-masing kandidat presiden dan wakilnya itu, tentu bukan untuk dipercaya atau tak dipercaya. Karena faktanya, dana kampanye masing-masing kandidat itu bisa melampaui dari yang dicatatkan ke KPU. Yang harus diperhatikan menyangkut dana kampanye yang disebutkan oleh Hafiz itu sebetulnya adalah, di mana masing-masing kandidat menempatkan dana mereka?

Hal itu penting karena dana kampanye dari setiap kandidat diprediksi bakal melampaui dari jumlah dana yang dilaporkan kepada KPU. Pasangan SBY-Boediono misalnya, dipercaya memiliki dana kampanye US$ 100 juta. Pasangan itu juga diketahui memiliki belasan organisasi, termasuk yayasan dan gerakan ini-itu.  Antara lain misalnya Majelis Dzikir Nurussalam.

Persoalannya sekarang, lembaga berwenang seperti KPU juga Badan Pengawas Pemilu, Bawaslu, sedikit sekali memberi perhatian terhadap asal-usul sumbangan-sumbangan semacam itu. Padahal untuk memperjelas dari mana sumbernya, sebetulnya sangat sederhana. Antara lain, bisa dilihat dari laporan keuangan masing-masing penyumbang, baik perusahaan maupun pribadi. Dari sana akan diketahui nilai penjualan dan keuntungan, juga jumlah pajak yang mereka bayarkan.

Baik KPU dan Bawaslu, akan tetapi lebih memilih untuk hanya menyoroti batas maksimal sumbangan, Rp 5 miliar dari perusahaan dan Rp 1 miliar dari pribadi itu. Kalau audit itu tidak dilakukan, maka jangan harap akan ada reformasi pada kegiatan politik di Indonesia. Itu pula semakin akan menjauhkan angan-angan untuk membuat negeri ini terbebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, seperti amanat reformasi 1998.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi Goblog , Politikana.com dan Kompasiana.com 


#2108 From: andre andreas <mataharikusatu@...>
Date: Thu Jun 4, 2009 5:52 pm
Subject: Momentum Tersebunyi di Balik Sengketa Prita Mulyasari dan RS Omni Internasional.
mataharikusatu
Send Email Send Email
 

Walau mungkin dianggap menyimpang dari kontroversi terkait sengketa Prita Mulyasari vs RS Omni yang menyangkut kebebasan berekspresi dan hak konsumen, bagi saya ini juga  momentum tepat  untuk menyoal kesehatan sebagai hak asasi manusia atau dunia pelayanan/jasa  kesehatan di Indonesia pada umunya.

Praktek-praktek privatisasi,  liberalisasi dan komersialisasi di sektor jasa kesehatan dan farmasi hingga soal subsidi kesehatan dan buruknya pelayanan kesehatan untuk orang miskin adalah soal yang cukup penting dan mendasar bagi kehidupan bernegara. Kepitalisme Neoliberal yang debatnya lagi naik daun di kancah politik tingkat tinggi, adalah ancaman terbesar bagi pemenuhan hak atas kesehatan sebagai hak asasi manusia. Bahkan Eko Prasetyo sampai menuliskan buku satir pedih ORANG MISKIN DILARANG SAKIT!

Bung George Aditjondro di Kongres Nasional I Hukum Kesehatan di Jakarta, 27-29 Mei 2009 mempresentasikan makalah yang cukup baik untuk menilik kait mengkait antara dunia kesehatan, demokrasi dan hak asasi manusia (KESEHATAN, DEMOKRASI & HAK-HAK EKOSOSBUD: BELAJAR DARI RINTISAN DOKTER ”CHE”).

Berikut saya petikan bagian artikel ini dimana ditunjukkan perbandingan indikator kesehatan masyarakan di Kuba dan AS (sebagai komparasi antar model sosialis/kerakyatan dan kapitalistik/liberal dalam pelayanan  kesehatan) . George Aditjondro kemudian mengangkat hikmah atau pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman Kuba dengan pelayanan kesehatan terbaik di dunia.

Berbagai indikator kesehatan di Kuba, sama atau lebih tinggi dari AS. Harapan hidup di Kuba rata-rata 77 tahun, hanya setahun lebih rendah dari harapan hidup orang AS. Tahun 2007, angka kematian bayi di Kuba 5,3 per seribu kelahiran, lebih rendah dari angka kematian bayi di AS yang 6,37 per seribu kelahiran. Ada 6,5 orang dokter per seribu orang penduduk di Kuba, dibandingkan dengan 2,4 orang dokter per seribu orang penduduk di AS. Digambarkan dengan cara lain, di Kuba tersedia seorang dokter bagi 155 orang penduduk, sedangkan di AS, tersedia seorang dokter bagi 417 orang penduduk (Hughes 2007; Brouwer 2009).

Hebatnya lagi, tingkat kesehatan masyarakat begitu tinggi di Kuba, dicapai dengan pelayanan kesehatan (health care) yang hanya 250 dollar AS per kapita, dibandingkan dengan 6000 dollar per kapita di AS, dan sekitar 3000 dollar per kapita di kebanyakan negara kaya (Hughes 2007).

Ironisnya, ketika topan Katrina memporakporandakan sejumlah negara bagian AS, dokter-dokter Kuba spontan datang membantu korban-korban topan itu. Walaupun rezim George Bush masih mempertahankan embargo ekonomi terhadap Kuba, mereka diminta memperpanjang masa pengabdiannya di AS. Padahal, Kuba sendiri belum lama sebelumnya dihantam topan yang menghancurkan ½ juta rumah dan jaringan listrik, namun hanya tujuh orang dari 10 juta penduduk yang meninggal. Bukti kecanggihan Kuba dalam siaga bencana menghadapi topan di seputar Laut Karibia sudah juga dibuktikan brigade-brigade medis Kuba, waktu topan George dan Mitch menghantam Haiti, Honduras, dan Guatemala (Brouwer 2009; www.oxfamblogs.org/fp2/?p=102, diakses 3 Mei 2009).

….. tingkat kesehatan Kuba tidak akan setinggi itu, seandainya seorang dokter tidak ikut memimpin Revolusi 1959, untuk mengubah Kuba dari negara kapitalis yang rasis, yang dibangun dari produsen tebu yang mengandalkan buruh keturunan budak dari Afrika, menjadi sebuah negara sosialis. Orang itu adalah Che Guevara.

 

Selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/sisi-lain-che-guevara-dokter-peletak.html

Sesungguhnya binatang apakah neoliberalisme itu? silah kunjung juga …..

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/neoliberalisme-pengertian-dan.html

 



#2109 From: "Rusdi Mathari" <rusdi_man@...>
Date: Thu Jun 4, 2009 2:47 pm
Subject: Prita, Khoe, dan Ibas
rusdi_man
Send Email Send Email
 
Laporan terbaru Amnesty International menyebutkan, sepanjang tahun lalu  pemerintahan Indonesia telah terus-menerus membatasi kebebasan berekspresi secara ketat. Jumlah orang yang ditangkap dan ditahan karena mengekspresikan pendapat mereka secara damai meningkat setidaknya menjadi 32 orang. Di luar itu ada 85 orang yang dipenjarakan di tahun sebelumnya dan masih tetap berada di penjara.

oleh Rusdi Mathari
GEGAP gempita kasus Prita Mulyasari rupanya telah mengesampingkan kasus yang kurang lebih serupa yang menimpa Khoe Seng Seng, yang sudah berlangsung hampir tiga tahun. Khoe adalah seorang pedagang yang membeli salah satu kios di ITC Mangga Dua, Jakarta. Kawasan belanja itu dibangun oleh PT Duta Pertiwi Tbk. Pengembang yang bernaung di bawah bendera Grup Sinar itu, dikendalikan oleh Muktar Widjaja, anak dari Ekta Tjipta Wijaja, konglomerat yang besar di zaman Orde Baru.

Bersama dengan sejumlah pedagang lain, Khoe belakangan merasa ditipu oleh Duta Pertiwi. Mereka mengira ketika membeli kios dari Duta Pertiwi akan memperoleh sertifikat hak guna bangunan (HGB) murni dan bukan menerima sertifikat HGB di atas hak pengelolaan lahan. Karena merasa dirugikan itulah, Khoe bersama Fiti Tanang, Kwee Meng Luan alias Winny, dan Pan Esther berinisiatif menulis surat pembaca ke beberapa media.

Kompas memuat keluhan Khoe, 21 September 2006, dan Suara Pembaruan, 26 November 2006. Maksudnya agar kasus pedagang dengan pemilik ITC mendapat perhatian dari pihak yang berwenang. Dalam surat pembaca tersebut, Khoe sebagai pedagang di ITC Mangga Dua menganggap Duta Pertiwi sebagai pengembang ITC  telah melakukan penipuan kepada para pedagang.

Surat pembaca Khoe itulah, yang belakangan menyulut amarah manajemen Duta Pertiwi. Mereka menganggap surat pembaca dari Khoe sebagai pencemaran nama baik dan mereka karena itu memerkarakan Khoe. Persidangan kasusnya sudah berlangsung sejak dua tahun lalu ketika Duta Pertiwi menggugat Khoe secara perdata pada 6 Juli 2007 ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Dalam sidangnya, Selasa 6 Mei 2008, majelis hakim menjatuhkan hukuman kepada Khoe berupa denda Rp 1 miliar tapi Khoe menolaknya. Melalui LBH Pers, Khoe menyatakan banding. Pan Esther juga dituntut serupa. "Keputusan itu belum berkekuatan tetap," kata Hendrayan, pengacara Khoe dari LBH Pers (lihat "Raja Petra dan Khoe Seng Seng," Rusdi Goblog, 7 Mei 2009)

Memenangkan tuntutan itu, akan tetapi belum memuaskan pihak Duta Pertiwi. Mereka melaporkan para pedagang itu termasuk Khoe ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, 24 November 2006 dengan tuduhan telah mencemarkan nama baik. Hari ini, Kamis 4 Juni 2009, Hendraya mengirimkan pesan singkat, SMS, jaksa yang menangani perkara itu di PN Jakarta Timur menuntut Khoe dengan kurungan penjara setahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun.

Kasus yang menimpa Khoe dkk. berawal saat dia membeli kios di lantai blok B42 ITC Mangga Dua pada 2003 seharga Rp 421 juta. Tiga tahun kemudian, saat Khoe hendak memperpanjang HGB, pengelola menyatakan tanah tempat pusat perbelanjaan itu milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sehingga pemilik kios dikenakan biaya sewa lahan Rp 3 juta lebih.

Tentu saja Khoe dan pembeli yang lain tak puas. Mereka lantas melaporkan kasus itu ke Polda Metro Jaya. Namun di kemudian hari, kata Khoe, kasus ini dihentikan penyidikannya. Khoe karena itu berinisiatif menulis surat pembaca yang lalu direspons oleh Duta Pertiwi dengan tuntutan perdata dan pidana.

Fifi juga bernasib sama dengan Khoe. Perempuan itu, dijatuhi hukuman enam bulan penjara dengan masa percobaan selama satu tahun oleh majelis hakim PN Jakarta Selatan dalam sidang 8 Mei 2009. Majelis menganggap Fifi terbukti mencemarkan nama baik Duta Pertiwi melalui surat pembaca di harian Investor Daily pada 2-3 Desember 2006.

Padahal menurut Fifi, dirinya sama sekali tak mengirimkan surat pembaca ke Investor Daily kecuali ke harian Warta Kota pada 4 November 2006. Surat pembaca Fifi berjudul "Hati-hati terhadap Modus Operandi Penipuan PT Duta Pertiwi Tbk."

Dan inilah yang menggelikan dan kemudian terbukti dalam persidangan: saksi dari Investor Daily mengaku memperoleh "surat pembaca" itu dari internet. Tuntutan lain pada Fifi adalah gugatan perdata sebesar Rp 17 miliar.

Satu-satunya pembeli kios ITC yang diputus bebas adalah Winny. Hendrayana mengatakan, meski sama-sama di sidang di PN Jakarta Utara, tapi hakim yang menangani perkara Khoe berbeda dengan hakim yang menangani perkara Khoe dan Pan Esther.

Iwan dan Bersihar
Sebelum heboh kasus Prita, ada pula kasus Narliswandi Piliang atau Iwan Piliang dan Bersihar Lubis. Dua nama terakhir adalah wartawan profesional. Iwan dikenal sebagai wartawan freelancer yang banyak menulis di blog dan milis, sementara Bersihar wartawan eks Tempo dan kini tercatat sebagai Pemimpin Redaksi Medan Bisnis, Medan.

Kasus Iwan bermula dari tulisan berjudul "Hoyak Tabuik Adaro dan Soekanto." Dalam tulisannya itu, Iwan menyebut anggota DPR-RI Alvin Lie diduga menerima sejumlah uang agar terhindar dari hak angket pembatalan penerbitan saham perdana Adaro. Alvien tak terima, dan melaporkan kasus Iwan ke Satuan Cyber Crime Polda Metro Jaya. Oleh Alvin, Iwan dituduh telah mencemarkan nama baiknya.

Alvin mendasarkan laporannya pada UU ITE yang ancaman pidananya 6 tahun dan denda 1 miliar rupiah (pasal 27 UU No.11/2008 tentang Informasi dan transaksi Elektronik). Profil Adaro bisa dilihat di "Manuver Adaro."

Sebelumnya, Bersihar juga diadukan oleh Kejaksaan Agung karena dianggap mencemarkan nama baik lewat tulisannya yang dimuat di Koran Tempo 17 Maret 2007 berjudul "Kisah Interogator yang Dungu." Tulisan itu merupakan refleksi Bersihar dari kasus pemusnahan 1.247 buku sejarah kurikulum 2004. Secara demonstratif buku-buku itu dibakar oleh Kepala Kejaksaan Negeri Depok Bambang Bachtiar, Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda. Buku itu disita dari lima SMP dan tiga SMA di wilayah Depok.

Lewat tulisan opini di Koran Tempo, Bersihar memandang pembakaran buku sebagai perbuatan orang bodoh dan tulisan itulah yang menyinggung pihak Kejaksaan Agung. Dia diadukan ke pengadilan karena dianggap melakukan pencemaran nama baik.

Dalam sidangnya 20 Feberuari 2008, PN Depok  menjatuhkan vonis bersalah kepada Bersihar. Majelis hakim menghukum jurnalis senior itu satu bulan penjara dengan masa percobaan tiga bulan tanpa harus menjalani penahanan. Alasan majelis, Bersihar melanggar Pasal 207 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penghinaan terhadap penguasa atau pejabat negara. Hakim juga menilai Bersihar telah menghina Kejaksaan Agung melalui tulisan opininya.

Kasus teranyar menimpa wartawan Upi Asmaradhana di Makasar, Sulawesi Selatan. Upi dilaporkan pidana karena menggalang koalisi yang menentang pernyatan Kapolda Sulawesi Selatan Sisno Adhiwinoto yang menyatakan wartawan bisa langsung dipidanakan tanpa harus menempuh mekanisme penyelesaian sengketa pers. Dalam gugatannya, Sisno meminta PN Makassar untuk menghukum Upi dengan membayar ganti rugi materiil Rp 25 juta , menyita rumah milik Upi, menuntut ganti kerugian imateriil Rp 10 miliar dan uang paksa Rp 100 per hari. Oleh LBH Pers, tuntutan Sisno dianggap sebagai bentuk nyata represi yang dilakukan pemerintah untuk mengekang kemerdekaan pers.

Sisno adalah jenderal polisi yang kontroversial. Pernyataan-pernyataannya sering tak mencerminkan bahwa dia adalah pejabat publik.

Pasal Karet
Laporan terbaru Amnesty International menyebutkan, sepanjang tahun lalu (2008) pemerintahan Indonesia telah terus-menerus membatasi kebebasan berekspresi secara ketat. Jumlah orang yang ditangkap dan ditahan karena mengekspresikan pendapat mereka secara damai meningkat setidaknya menjadi 32 orang. Di luar itu ada 85 orang yang dipenjarakan di tahun sebelumnya dan masih tetap berada di penjara.

Pernyataan dari Amnesty International itu melengkapi laporan laporan serupa yang pernah dikeluarkan oleh Aliansi Jurnalis Independen AJI, dan LBH Pers. AJI mencatat selama kurun 2008 kekerasan terhadap jurnalis terus terjadi di Indonesia. Di dalamnya termasuk 60 kasus kekerasan meliputi serangan fisik (21 kasus), ancaman (19 kasus), pengusiran dan larangan meliput (9 kasus), tuntutan hukum (6 kasus), sensor (3 kasus), demonstrasi (1 kasus), dan penyanderaan (1 kasus).

Tahun ini, kekerasan terhadap jurnalis itu menimpa Anak Agung Gede Prabangsa, wartawan Radar Bali (Grup Jawa Pos). Prabangsa ditemukan tewas  dalam kondisi mengapung di tengah laut Pelabuhan Padang Bai, Karangasem, 16 Februari 2009. Ditemukan luka berat di bagian kepala dan wajahnya. Di tubuhnya ditemukan  sejumlah titik. Diketahui belakangan, pembunuh Prabangsa adalah Nyoman Susrama, adik Bupati Bangli.

Polda Bali memastikan kasus kematian Prabangsa sebagai pembunuhan berencana. Latar belakangnya  sakit hati,  terutama karena  rangkaian pemberitaan tentang penyimpangan sejumlah proyek di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli, Bali, senilai lebih dari Rp 40 miliar yang ditulis Prabangsa di Radar Bali.

Yang kemudian juga sering terjadi, kebebasan berekspresi itu pada gilirannya tak hanya dianggap sebagai pencemaran nama baik. Dalam beberapa kasus, ketika berhadapan dengan penguasa, misalnya, sering kali pula kebebasan mengungkapkan pendapat warga dianggap sebagai penghinaan kepada kepala negara.

Dulu sekali, Sri Bintang Pamungkas dibui 10 bulan penjara setelah hakim memutus dirinya bersalah karena dianggap menghina kepala negara. Bintang dituduh melecehkan Presiden Soeharto dalam sebuah ceramah di Technische Universitet Berlin pada 9 April 1995. Lalu ada  Fachrul Rachman, mahasiswa UIN Jakarta yang juga dipersalahkan oleh rezim Susilo Bambang Yudhoyono dengan tuduhan yang sama: menistakan presiden. Demikian seterusnya.

Tentang penghinaan terhadap kepala negara itu, Mahkamah Konstitusi sebetulnya sudah mencabut pasal 154 dan pasal 155 tentang  penghinaan terhadap kepala negara yang tercantum di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Raden Panji Utomo yang mengajukan permohonan uji materi terhadap dua pasal tadi, dua tahun silam. Dia seorang dokter yang dijatuhi kurungan penjara tiga bulan karena dianggap menghina Yudhoyono di pengujung 2006 menyusul aksi unjuk rasa di depan Kantor BRR di Banda Aceh.

Sebelum permohonan Panji itu, dua pasal itu kerap digunakan  pemerintahan  kolonial untuk menangkap musuh politiknya. Bersama lima pasal lainnya dalam Bab V  KUHP yang mengatur "Kejahatan Mengenai Ketertiban Umum" pasal-pasal itu dijuluki sebagai pasal penabur kebencian (hatzaai artikelen). Sejumlah aktivis pergerakan Indonesia pernah jadi korban pasal ini termasuk Soekarno, Gatot Mangkupradja, Maskun, dan Supriadinata.

Setahun setelah  Indonesia merdeka, pasal 153 bis, yang digunakan menjerat Soekarno dan rekan-rekannya dicabut pemerintah meskipun pasal-pasal "penabur kebencian" yang lain tetap hidup. Lantaran sifatnya yang lentur dan multi tafsir itu pula, kedua pasal ini juga dijuluki pasal karet.

Lalu pada masa kampanye Pemilu Legislatif 2009, polisi bergerak super cepat ketika  menangani kasus pengaduan politik uang di Ponorogo. Karena yang dituduh adalah  Edhie Baskoro, anak presiden oleh polisi, pelapor politik uang itu dianggap telah  melecehkan keluarga presiden. Dua jenderal polisi berbintang dua perlu langsung ikut turun tangan meski soal pengaduan pelanggaran dalam pemilu mestinya cukup ditangani polisi di tingkat sektor. Tak ada kabar kelanjutan soal kasus yang melibatkan nama Ibas panggilan untuk Edhie Baskoro itu.

Dengan semua kejadian itu, saya teringat dengan Fahrenheit 911, film karya Michael Moore. Di film itu Moore menggambarkan George W Bush, Presiden Amerika yang berkuasa  ketika itu sebagai seorang yang bodoh, pembohong dan tidak kompeten. Film yang diedarkan beberapa bulan sebelum pemilu tahun lalu di negara itu niscaya memang mendapat bantahan sengit dari pihak Bush meski mereka tak sanggup mencegah penurunan ketenaran Bush di musim kampanye dan juga kubu Partai Republik.

Adakah Moore kemudian dituntut karena tindakannya itu? Tidak. Pihak Bush sebaliknya juga membuat film tandingan. Alasannya sederhana, film Moore  jika pun harus dianggap sebagai fakta yang dikemas fiksi, tak lebih hanya sebuah ungkapan kekecewaan seorang warga negara terhadap presidennya. Dan itu sah menurut undang-undang.

Soalnya sekarang, di sini, di Indonesia memang akan selalu ada alasan untuk menempatkan kepala negara sebagai lembaga yang tak bebas nilai. Juga akan selalu ada alasan untuk mendahulukan pasal-pasal pencemaran nama baik, seperti yang dilakukan RS Omni International terhadap Prita dan Duta Pertiwi kepada Khoe, itu.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi GoBlog , Politikana.com dan Kompasiana.com


Messages 2080 - 2109 of 3079   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help