Mantan TNI Dukung PA, Eks TNA Dukung Irwandi
Banda Aceh - Jika kubu Partai Aceh (PA) didukung oleh mantan Pangdam Iskandar Muda, kubu Irwandi juga punya pendukung kalangan militer, yaitu mantan Tentara Nanggroe Aceh (TNA), seperti Muksalmina, Muharram, mantan panglima sagoe Lhoknga, Tgk Jailani, dan beberapa ule sagoe diseluruh Aceh.
Dalam rapat tertutup Tim Irwandi-Muhyan di Asrama Haji, Senin (13/2), menyepakati bahwa TNA akan melakukan konsolidasi di masing-masing sagoe. "Tugas eks TNA adalah menjadi pendukung tim Seuramoe, dan juga akan berusaha bersama-sama aparat kepolisian untuk memberikan rasa aman dan nyaman dan memastikan tanpa intimidasi bagi masyarakat Aceh dalam memberikan pilihan dalam pilkada nanti," ujar Humas Seramoe Irwandi pusat, Thamren Ananda, Senin (13/2).
Kata Thamren, mereka juga akan membentuk wadah baru bagi eks TNA sebagai tempat berkumpul dan berorganisasi. Sementara Irwandi yang juga hadir dalam rapat tersebut kata Thamren juga mengatakan akan menbentuk partai politik terbuka, yg akan di dukung oleh eks TNA, ulama, politisi, aktivis dan intelektual.
Setelah pertemuan inti tersebut para mantan TNA ini akan melakukan pertemuan-pertemuan ke daerah-daerah. "Pertemuan konsolidasi eks TNA ini akan dilakukan di seluruh wilayah yang akan dipimpin oleh masing-masing panglima wilayah nantinya," tukas Thamren.
Terkait Deklarasi PA yang menghadirkan belasan ribu massa kemarin, dan didukung mantan purnawirawan, bagi Thamren itu sudah lumayan untuk bertanding dalam pesta demokrasi ke depan."Saya rasa sudah lumayan untuk ikut kompetisi, semoga mereka bisa berkompetisi secara demokratis, fair. Sebagai warga negara yang baik bisa saja memberikan dukungan politik kepada kandidat tertentu secara aktif, kecuali PNS,"tukas Sekjen Partai Rakyat Aceh itu.
"Kalau menurut teman-teman timses PA mengajak purnawirawan sebagai langkah strategis itu adalah hak mereka, tapi kami lebih baik bersama ulama. Jadi kalau mereka didukung Mantan TNI biarlah kami didukung oleh ulama dan rakyat,"katanya.
Dalam rapat tertutup Tim Irwandi-Muhyan di Asrama Haji, Senin (13/2), menyepakati bahwa TNA akan melakukan konsolidasi di masing-masing sagoe. "Tugas eks TNA adalah menjadi pendukung tim Seuramoe, dan juga akan berusaha bersama-sama aparat kepolisian untuk memberikan rasa aman dan nyaman dan memastikan tanpa intimidasi bagi masyarakat Aceh dalam memberikan pilihan dalam pilkada nanti," ujar Humas Seramoe Irwandi pusat, Thamren Ananda, Senin (13/2).
Kata Thamren, mereka juga akan membentuk wadah baru bagi eks TNA sebagai tempat berkumpul dan berorganisasi. Sementara Irwandi yang juga hadir dalam rapat tersebut kata Thamren juga mengatakan akan menbentuk partai politik terbuka, yg akan di dukung oleh eks TNA, ulama, politisi, aktivis dan intelektual.
Setelah pertemuan inti tersebut para mantan TNA ini akan melakukan pertemuan-pertemuan ke daerah-daerah. "Pertemuan konsolidasi eks TNA ini akan dilakukan di seluruh wilayah yang akan dipimpin oleh masing-masing panglima wilayah nantinya," tukas Thamren.
Terkait Deklarasi PA yang menghadirkan belasan ribu massa kemarin, dan didukung mantan purnawirawan, bagi Thamren itu sudah lumayan untuk bertanding dalam pesta demokrasi ke depan."Saya rasa sudah lumayan untuk ikut kompetisi, semoga mereka bisa berkompetisi secara demokratis, fair. Sebagai warga negara yang baik bisa saja memberikan dukungan politik kepada kandidat tertentu secara aktif, kecuali PNS,"tukas Sekjen Partai Rakyat Aceh itu.
"Kalau menurut teman-teman timses PA mengajak purnawirawan sebagai langkah strategis itu adalah hak mereka, tapi kami lebih baik bersama ulama. Jadi kalau mereka didukung Mantan TNI biarlah kami didukung oleh ulama dan rakyat,"katanya.
Sent: Sunday, February 12, 2012 11:07 AM
Subject: «PPDi» Zaini Abdulah: Hidup Soenarko...! Hidup Soenarko...! Hidup Soenarko... ! Hidup Semua Pembunuh Bangsa Aceh !
Zaini Abdullah: Hidup Soenarko….! Hidup Soenarko…!
- “Kalau kita lengah dalam mengawal perjanjian MOU Helsinki, maka akan sia-sia pengorbanan pahlawan yang sudah rela memeberikan nyawanya demi tanah Aceh”, ungkap calon Gubernur Aceh Zaini Abdullah dalam kata sambutannya pada acara deklarasi calon Gubernur dan Bupati/Walikota dari Partai Aceh, Minggu
(12/2), di stadion Dimoerthala Lampineung Banda Aceh.
Zaini juga menekankan bahwa penandatanganan kesepakatan damai antara RI dan GAM 15 Agustus 2005 adalah peristiwa penting, karena itu landasan lahirnya UUPA Nomor.11 Tahun 2011 tentang Pemerintahan Aceh yang
menjadi dasar menyelenggarakan pemerintahan Aceh. Menurutnya, UUPA adalah aturan tertinggi setelah UUD 1945, itu adalah hajat dan cita-cita yang telah dicapai oleh bangsa Aceh.
Zaini Abdullah juga menghimbau masyarakat agar kiranya sudi berdo’a untuk kemenangan Partai Aceh dalam Pilkada Nanti, karena itu adalah amanah dari Tgk. Hasan Di Tiro http://www.youtube.com/watch?v=sZrEONMLKHE yang telah berhasil meningkatkan nilai
tawar kita sebagai orang Aceh. Namun, kita juga harus berhati-hati, karena banyak orang-orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan dan dalam situasi seperti ini.
“Dari awal kita sudah mengenyampingkan saudara-saudara kita yang jadi-jadian, tapi disini kita perlu orang-orang yang siap berkorban harta dan nyawanya untuk bangsa Aceh”, ungkap Zaini.
Selanjutnya, ia menekankan, bahwa perjuangan harus dengan niat yang lahir dari sanubari yang bersih, tidak hanya sekedar lip service saja. Dan itu harus kita lakukan, semua tantangan dalam perjuangan akan kita hadapi bersama.
Zaini Abdullah juga menyinggung tentang pemerintahan Aceh lima
tahun kebelakang yang sudah berjalan, yang menurutnya belum mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat Aceh secara menyeluruh.
Dalam pidatonya, Zaini juga berjanji, jika nanti masyarakat Aceh memberikan kepercayaan kepadanya, ia akan memberikan sesuatu kepada Aceh, namun ia tidak menjelaskan apa yang
akan diberikannya.
Disana, sedikit Zaini juga mengulas tentang perjuangan Gerakan Lamteh dan DI-TII yang telah hilang karena ketidak hati-hatiannya dalam membangun gerakan dan banyak masyarakat yang tidak tahu tentang gerakan tersebut.
“Gerakan Lamteh hilang kisahnya seperti dibawa angin, dan kalau kita tidak berhati-hati, perjuangan Partai Aceh akan sama nasibnya seperti gerakan Lamteh”, ungkapnya mengingatkan.
Tentang tidak mendaftarnya pasangan calon dari Partai Aceh beberapa waktu lalu juga menjadi pembahasannya, menurutnya, Partai Aceh
saat itu tidak mendaftar karena pilkada sudah diluar jalur hukum dan belum ada qanun tentang itu. Dan karena itu,
masyarakat di seluruh pelosok Aceh sudah risau dan bertanya-tanya kenapa PA belum mendaftarkan calonnya pada pilkada ini.
“Karena niat kita benar, makanya Allah bersama kita dan berbaliklah semua sehingga jadwal pilkada pun bergeser. Dan kita tidak niat memboikot pilkada, tapi menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi”, jelasnya.
Beberapa saat sebelum berakhir pidatonya, ia juga mengatakan bahwa masih ada point-point MOU yang belum terjabarkan ke dalam UUPA, dan untuk itu akan diperjuangkan sehingga kehendak Aceh dapat tercapai sebagaimana tertuang dalam MoU Helsinki.
Terkhusus kepada Jenderal Purnawirawan Soenarko, mantan Panglima Kodam Iskandar Muda, Zaini
mengucapkan terima kasih karena sudah bergabung sebagai tim sukses pemenangan pasangan Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf.
“Hidup Seonarko…! hidup Soenarko…! hidup
Seonarko…!” teriak Zaini Abdullah di atas podium mengakhiri pidatonya disambut teriakan ribuan massa pendukung. (Atjehlink. zamroe)|
BÈK DJAK PUBLOË2 NAN WALI KEU ALAT NGON MITA ASOË-PRUËT, PANGKAT BAK SIPA-I DAN KEU MEUKEUSUD2 DJEUHEUËT LA-ÉN !
| ||||||
|
*Pada hakikatnya OTONOMI buat aceh hanyalah pengekalan status kita sebagai bangsa terjajah"
|
![]() A family returns to its burned-out house by Indonesian military A mass grave has been unearthed "The darkest chapter in Indonesia's history" Grim evidence of the army's campaign against separatism in Aceh is only now being uncovered. Only now can the real grieving begin. The BBC's Jonathan Head: |
One of the sixty burned-alive Achehnese civilians by Indonesian army in the village of Lancok, Syamtalira Bayu, North Acheh, on 19/03/2002 ![]() Investigators have found a number of mass graves in Acheh committed by the Indonesian regime |
||||
![]() Indonesian troops shot dead up to 60 peopleand wounded 10 last Friday in two villagesin Beutong Ateuh of West Aceh. And the bodies were thrown into an abandoned wel 2-7 Achehnese killed everyday by Indonesian Colonialism Regime | |||||








KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh 




KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh



















